Saat Mbah Estu masuk ke rumah, suasana mendadak hening.
Dirinya terus menabur garam di sepanjang ia melangkah, hingga akhirnya Mbah Estu menemui kami.
"Enek jin kiriman uwong di depan! Ora ngerti opo maksute," ucap Mbah Estu mendudukkan tubuhnya sambil menyalakan rokok yang asapnya beraroma kemenyan memenuhi ruangan.
Lalu dengan tegas ia berdiri mendatangi setiap sudut rumah, menghembuskan asap rokoknya dengan gerakan bibir membaca mantra. "Wis, iki wis selesai," ucapnya dengan nada serak.
Kemudian Mbah Estu berpamitan pulang dan meminta ditemani untuk ke depan. Sesampainya di depan Mbah Estu menepuk bahuku, "Nur, kuwe seng kuat yo ... enek roh seng pengen minta tolong kuwe. Tapi sayang roh iku keiket ilmu hitam."
Deg! Apa Roh Mbak Seruni?
Aku mengerutkan kening, "Memang enek sih, Mbah. Tapi Nur rapaham. Besok Nur bakal cari tau," ucapku tegas.
Mbah Estu tersenyum menepuk bahuku dua kali, "Mbah pulang dulu. Nur, satu lagi ... jaga suamimu untuk beberapa hari ini biarkan dia di rumah jangan kemana-mana."
Aku mengangguk, meski rasa bingung dan khawatir telah memenuhi isi kepala.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," jawabku dengan bibir merekah.
***
Tengkuk leher terasa berat, rasanya darah rendahku kambuh. Kulirik Mas Bisma sudah tertidur lelap setelah mengigau panjang semalaman.
Tiba Adzan berkumandang, aku sebenarnya ragu untuk membangunkan Mas Bisma mengingat dirinya baru tertidur pulas. Tetapi kewajibanku sebagai seorang istri untuk membangunkannya sholat subuh.
"Mas, Mas ... Mas bangun. Sholat subuh!" panggilku sembari menggoyangkan tubuhnya.
"Iyaaaa ... Nur," jawab Mas Bisma membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Astaghfirullah!" Aku terkejut tak sengaja terjatuh.
Kedua tanganku menutup mulut, mata membulat, seluruh tubuh gemetaran. Wajah Mas Bisma berubah seperti dikuliti, menyeruak bau busuk dan banyak bel^tung mengghigapi wajahnya.
Tiba saat Adzan selesai berkumandang, pandangan seketika berubah. Mas Bisma ternyata masih terlelap nyenyak, suara ngoroknya pun terdengar jelas.
"Astaghfirullah," Aku meraup wajah, buru-buru melangkah ke dapur mengambil wudhu.
Menunaikan sholat subuh di kamar Mbah Uti, kali ini tidak ada gangguan apa-apa seperti kemarin.
Setelah sholat aku duduk menemani Mbah Uti yang memang senang menghirup udara pagi, duduk di sofa dengan pintu terbuka lebar.
Sepanjang obrolan kami, tiba-tiba aku terfokus pada seseorang yang memperhatikan kami dari kejauhan, bersembunyi dibalik semak belukar.
Mataku menyipit mencoba fokus mencari tahu siapa disana.
Dan ternyata setelah kusadari, ternyata Roh Mbak Seruni. Aku paham bagaimana bentukannya. Namun ... mengapa ia hanya bersembunyi?
"Ngopo, Nur? Enek seng aneh-aneh lagi? Tutup Wae pintune rapopo," kata Mbah Uti membuyarkan fokus.
"Ndak, Mbah." Aku menoleh padanya. "Oh iya, Mbah. Nur pengen nanya, apa mbah tau suaminya Mbak Seruni nganut ilmu hitam?" tanyaku serius.
Sontak Mbah Uti terkejut. "Lah ya kok kuwe ngawur, Nur ... Nur. Yo ndak mungkinlah. Orang suami Seruni iku alimnya minta ampun," tegas Mbah Uti.
"Peci, sarung, tasbih ora pernah lepas, pergi ke mesjid wae teratur. Kok ya kuwe takon ngono, ojo sembarang, Nur!" tambah Mbah Uti lagi.
"Amit, Mbah. Nur ndak bermaksut. Yoweslah, Nur pengen jalan pagi sambil beli sayuran."
"Inget! Ojo sembarang!" tegas Mbah Uti lagi.
Hanya kubalas dengan senyuman, Kepalaku pusing memikirkan kata Mbah Estu semalam, tapi pagi ini Mbah Uti yakin jika suami Mbak Seruni tidak melakukan hal itu.
Dengan helaan napas panjang sembari menghirup udara pagi, aku melangkah ke arah warung Buk Tarjo. Sudah banyak ibuk-ibu yang duduk memilih sayuran sambil bercerita hal-hal yang membuat mereka terhibur.
Sampai akhirnya ada salah satu mereka nyeletuk. "Kalian diundang gak sih sama si Tatang? Opening toko buah baru, lebih besar, lebih mewah, trus murah ... harga grosir."
"Heleh, aku sih emmoh! Sakit loroku, kecewa. Bukannya nyari Seruni malah buka toko baru," timpal ibuk-ibuk yang lain.
"Coba duit iku kanggo nggoleki Seruni, paling ndak berusaha dulu."
Aku diam, sambil menatap roh Mbak Seruni yang ikut duduk di antara ibuk-ibuk.