"Walaikumsalam," jawabku pelan, menenangkan diri.
"Nak Bisma, sudah cuci-cuci tubuh? Sebaiknya mandi dulu di belakang baru masuk ke dalam kamar, ndak baik untuk rumah tangga kalian. Biasakan cuci tubuh dulu baru masuk kamar biar rumah tangga kalian langgeng cepet dikasih keturunan," kata Mbah Uti dengan nada tegas.
Mbah uti memang tak sungkan menegur Mas Bisma sedari dulu. Akunya saja yang terkadang takut Mas Bisma tersinggung.
"Nggeh, Mbah. Bisma tak mandi dulu."
Mas Bisma meletakkan ranselnya lalu keluar dari kamar. Dengan cepat Mbah uti memegang ke dua bahuku erat. "Nur omongke sama mbah apa yang sebenernya terjadi?"
Mataku menatap dalam mbah, kuhembuskan napas berulang kali.
Dengan berat hati aku menjawab, "Sepertinya dalang kematian Mbak Seruni adalah keluarga terdekatnya sendiri, Mbah."
"Ndak, Nur. Ndak mungkin. Seruni yatim piatu dia ndak ada sodara disini, dia cuma tinggal bareng suaminya. Tapi ndak mungkin kalau suaminya yang ngebunuh! Wong keluarga mereka harmonis, Nur ... Nur ...."
"Mbah inget betul waktu si Tatang ngelapor ke polisi istrinya hilang, Tatang koyo wong gemblung. 24 jam di kantor polisi ndak makan ndak minum. Mbah uti dan mbah kakung yang nganterin dia pulang baru dia mau pulang."
Aku mengangkat bahu, "Itu hanya dugaan Nur saja, Mbah. Soalnya Mbak Seruni bilang dia ndak hilang."
"Apa lagi yang dia jelasin, Nur?" tanya Mbah uti
"Dia hilang waktu Mas Bisma pulang," ucapku kecewa.
Mbah Uti mengerutkan kening keriputnya, terlihat khawatir. "Eneng opo iki kabeh?" desisnya.
***
Sejak pulang tadi, Mas Bisma tidak menyapaku, raut wajahnya muram. Habis mandi pun langsung tidur. Tidak seperti biasanya. Apa Mas Bisma tersinggung atas perkataan Mbah Uti?
Beberapa menit kemudian, saat aku sedang memikirkan tentangnya, Mas Bisma bertanya sembari menggoyangkan bahuku. "Nur, aku arep takon?" tanya Mas Bisma dengan tubuh yang berbalik ke arahku.
"Hemm, opo Mas?" jawabku dengan mata yang terpejam, berpura-pura tidur padahal di dalam kepalaku berisik.
"Kalo boleh tau, apa yang tadi kamu omongin sama Mbah Uti saat aku sedang mandi?" tanya Mas Bisma dengan nada tegang.
DEGH!
Ingin jujur tapi aku bingung mulai dari mana.
"Inget ya, Nur. Aku ndak setuju dengan semua ini! Jin leluhur jin leluhur apa lah itu! Omong kosong! Aku ndak percaya dengan itu semua!" ucapnya dengan suara lantang tak seperti biasanya.
"Hust, Mas! Kalo ngomong jangan sembarangan, pamali kaya gitu." Mataku membulat takut jika ucapan Mas Bisma ada yang tersinggung.
"Nur ... besok kita pulang, Mas khawatir dengan keadaanmu," tambahnya.
Aku hanya bisa terdiam, mengangguk.
Tidak ada yang bisa kulakukan disini selain menghindari kegaduhan, apa lagi sampai membuat Mas Bisma tersulut emosinya karena jawabanku.
Sedetik kemudian, lampu tiba-tiba mati. Aroma bunga kuburan menyeruak memenuhi ruangan.
Sreeeeekk ....
sreeeeek ....
Suara cakaran pada dinding yang terbuat dari anyaman itu begitu menyeramkan.
Namun, gagahnya Mas Bisma beranjak dari ranjang menentang suara itu dalam kegelapan, "Siapa kamu? Aku nggak takut!" tantangnya.
"Brak!!!" Lampu mendadak pecah dan semburan bulir-bulir entah dari mana nyaris masuk ke dalam mataku.
"Argh!" teriak Mas Bisma.
Dengan keadaan panik aku mengambil ponsel untuk menghidupkan senter, lalu kutarik Mas Bisma keluar kamar.
Mbah Uti juga lari terbirit-birit melihat keadaan Mas Bisma yang ternyata tubuhnya sudah dipenuhi dengan tanah berwarna merah seperti tanah kuburan, lalu dipunggungnya ada luka cakaran yang memanjang dari pundak sampai ke pinggang.
"Apa yang terjadi disini?" pekik Mas Bisma, napasnya tersengal tak beraturan.