Ilmu Warisan
Bab 5
"Siapa kamu?" teriakku lantang sembari terus melantunkan ayat suci Alquran. Tiba-tiba angin yang tadi berputar mengelilingi tubuh sekarang berhenti seperti gumpalan asap berwarna hitam tepat di hadapanku.
"Mbak ... tolong, aku sakit."
Suaranya merintih pilu, aku mengenal rintihan itu. Aku tak tahan, muak dengan segala terornya!
"Denger ya, Mbak! Kalau kamu terus-terusaan menerorku, Demi Allah aku ndak akan menolongmu sedikit pun! Kubilang kan nanti! Aku butuh waktu untuk beradaptasi! Bukan begini caranya!" Aku meninggikan suara.
"Maaf, Nurrrrrrrrr."
Suaranya pelan dan sangat lembut, terdengar dari arah selatan.
"Maaf, Mbak Seruni ...," jawabku dengan nada pelan juga. Tiba-tiba keadaan kembali sepi, angin atau kabut hitam dan sebagainya hilang seketika.
Hatiku luluh, tak sengaja air mata terjatuh. Kasihan dia ... apa yang sebenarnya terjadi padanya? Rasanya pikiranku terus melayang memikirkan Mbak Seruni.
"Ndok ... magriban yuk bareng mbah," panggil Mbah uti yang tiba-tiba masuk ke kamar.
Terperanjat sangking pikiranku terus memikirkan Mbak Seruni, Adzan berkumandang pun aku aku tak dengar.
"Astaghfirullah." Buru-buru kuhapus bulir-bulir air mata yang berjatuhan tak sengaja deras.
"Kuwe ngopo, Nur?" tanya Mbah uti.
Aku menggeleng ....
"Yasudahlah, sana ambil wudhu. Mbah tunggu disini. Kita sholat bareng."
Aku melangkah keluar menuju kamar mandi. Baru saja keluar dari kamar selibat bayangan hitam terbang di depan mata. Astaghfirullah! Apa tadi?
Buru-buru aku melangkah dan membuka keran dengan membaca niat lalu membaca doa wudhu. Belum juga tuntas aku wudhu selibat bayangan hitam terbang lagi melewatiku.
'Apa itu mbak Seruni' pikirku terus tertuju padanya. Bukannya tadi sudah kuingatkan jangan menggangguku dulu.
Tak ingin lama membuang waktu aku berjalan cepat, takut jika mbah uti menungguku terlalu lama.
Sesampainya di dalam kamar Mbah uti sudah menggunakan mukenah, aku menyusul. Kami membaca niat hingga bacaan-bacaan sholat.
Hingga sampai di tahyat akhir, nyaris saja aku teriak. "Assalammualaikum warahmatullah." Salam ke kiri dan ke kanan.
Saat bacaan salam terakhir, terlihat ada wanita berambut panjang menutupi wajahnya mengikuti gerakan sholat di samping Mbah uti.
"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah," kulantunkan istighfar dan mencoba untuk berdziki dengan khusyuk.
Berusaha mengabaikan tapi tak bisa.
Siapa sebenarnya dia? Apa Mbak Seruni atau jin yang katanya suka mengganggu orang sholat?
Setelah Dzikirku selesai, aku menghusap wajah lalu membuka mukenah. Saat aku menengok ke arah Mbah uti, wanita itu masih ada di sampingnya.
Aku mengerutkan kening dan menatapnya tajam tapi ia masih menunduk dan berdiam diri. Tak bergeser sesenti pun.
"Nur, ngopo?" lirih Mbah uti.
"Ndak Mbah ...," jawabku sambil beranjak bangun siapa tahu wanita itu mengikutiku.
Tapi, alih-alih mengikuti wanita itu masih saja berdiam diri duduk di samping Mbah uti.
"Nur, kuwe ojo nutup-nutupi dari mbah. Walaupun mbah ndak bisa ngeliat makhluk-makhluk lembut, Mbah sudah terbiasa kalau ada hawa dingin koyo gini pasti ada yang lain selain kita berdua kan, Ndok?"
Aku menelan ludah, bola mataku mengarah pada wanita berambut panjang duduk sambil menunduk tak tergerak sama sekali.
"Bener kan, Nur?" tanya Mbah uti.
Rahangku mengeras, rasanya sulit sekali untuk mengiyakan.
"Nur?" tanya Mbah uti lagi.
Aku mengangguk.
"Dimana?" tanya mbah uti responnya biasa saja, seolah sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
"D-duduk di samping sebelah kanan mbah," jawabku terbata pelan.
Mbah uti terdiam sejenak, lalu menoleh ke sebelah kananya. Diam cukup lama memperhatikan. "Apa dia wanita, Nur?"
Aku mengangguk.
"Seruni?" ucap mbah air matanya tergenang sambil menghadap ke arah kanannya.