Ilmu Warisan

Bab 21

Wah ... gak berasa 1 bab lagi bakal tamat, huhu ... terima kasih yaa ... yang sudah mengikuti ceritanya sejauh ini. 

Semoga kalian terus diberi rezeki dan kesehatan selalu. Aminn.

.....

Pandanganku kini tertuju pada pintu kedua dari ruang bawah tanah ini. Ada rasa takut yang melintas di benakku saat membayangkan harus turun sendiri ke bawah.

 

"Takon marang aku, ora bakal enek sing macem-macem. Mbak enteni kene," kata Mbak Seruni dengan suaranya yang lembut, mencoba menenangkanku.

 

"Semangat, Nur!" serunya lagi sambil mengangkat satu tangan yang terkepal, memberi dukungan penuh semangat.

 

Aku melangkah hati-hati turun dari anak tangga yang begitu licin, tamat sudah riwayatku jika aku terjatuh disini. 

 

Semakin jauh aku melangkah, tempat ini semakin terang dengan beberapa obor kecil yang menyala. 

 

Suara bising anak kecil bermain mulai terdengar. Bola mataku mencari sumber suara, mencoba memahami siapa anak-anak yang terkurung di sini namun terdengar begitu bahagia?

 

Terus melangkah lebih dalam, suara anak-anak itu berlarian semakin jelas. Betapa terkejutnya aku saat melihat mereka ternyata hanyalah roh tanpa jiwa.

 

Mereka tampak seperti bayangan, tetapi lebih pekat dan jelas. Anak-anak itu bermain seperti anak pada umumnya bermain tanah, berlarian, bermain petak umpet dan tak jarang berguling-guling di lantai ruang bawah tanah ini.

 

"Satu, dua, tiga, empat, lima, eee-nam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas." Aku berhenti menghitung roh anak-anak tersebut, mereka ternyata tak lagi bisa terhitung. Jumlahnya begitu banyak. Sepertinya mereka korban janin yang diambil oleh Pak Tatang dan besar di alam gaib. Ya! mereka tidak mati.

 

Kini, bola mataku mencari dimana jiwa Mbah Uti, Mas Bisma dan Mbak Asih berada. Terus aku berjalan, hingga dada sebelah kiriku terasa sakit seperti ditusuk-tusuk.

 

Napasku tersendat, namun kuabaikan dan tetap melanjutkan perjalanan. Sampai tiba-tiba terlihat tiga gundukan tanah dari kejauhan. Bola mataku menyipit memperhatikan.

 

Kepala? Buru-buru aku mendekat dan ternyata benar, jiwa suamiku, Mbah Uti dan Mbak Asih terkubur hanya menyisakan bagian kepala mereka saja.

 

Aku merunduk, memastikan sekali lagi dan benar itu memang mereka. Orang-orang terkasihku.

 

"Mas, Bisma, ini aku ...."

 

"Mbah ...."

 

"Mbak!" teriakku mendekati mereka, setetes air mata jatuh.

 

Mas Bisma perlahan membuka matanya, tampak begitu lemas namun terkejut. "Sayang? Mengapa kau di sini? Hah? Pulang sekarang cepat! Tinggalkan tempat ini. Cukup kami yang menjadi korban," hardik Mas Bisma dengan nada suara parau yang melemah, ia menangis memandangku.

 

Aku menggeleng. "Ndak ... Ndak, Mas! Kita pulang bareng-bareng!" jawabku tegas sambil menghapus air matanya.

 

"Nur, betul kata bojomu. Mulih wae, nduk ... masa depanmu luwih apik, timbang kudu mati ora ono gunane ning kene."

 

Aku lagi-lagi menggeleng mendengar ucapan Mbah Uti. Aku terus menggali tanah merah basah itu dengan kedua tangan kosong tanpa alat bantu apa pun.

 

Semakin aku menggali, napasku semakin cepat, dada ini semakin sakit tak tertahan. Mas Bisma mulai melantunkan ayat kursi, membuatku semakin semangat. Hingga tak terasa kini kedua tangannya terlihat.

 

Dengan sekuat tenaga aku menariknya. "Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar!" teriakku sembari menarik tubuh Mas Bisma keluar.

 

Bugh! Aku dan Mas Bisma terpental jatuh bersamaan. Mas Bisma tersenyum, memelukku, lalu dengan semangat ia membantuku menggali gundukan tanah Mbah Uti dan mengeluarkannya.

 

Berbeda dengan Mas Bisma, tubuh Mbah Uti lemah dan semakin menipis seperti bayangan.

 

"Nur, kita ndak punya waktu banyak! Ayo pulang!" seru Mas Bisma, menarik lenganku sambil memapah Mbah Uti.

 

Aku menolak, lalu menggeleng. "Aku ndak bisa pulang sebelum menyelamatkan Mbak Asih," jawabku pelan sambil menunjuk satu gundukan tanah yang agak berjauhan dari mereka.

 

Mbak Asih hanya terdiam tak sadarkan diri. Mas Bisma menggeleng, terus menarik lenganku, khawatir Mbah Uti tidak bisa tertolong.

 

Aku berlari, melepaskan genggaman Mas Bisma dengan cepat aku menggali tanah. Mas Bisma akhirnya membantuku. 

 

Sesekali kami menoleh ke arah Mbah Uti yang bayangannya semakin menipis, membuat kami mempercepat galian.

 

Setelah terlihat tangan Mbak Asih, dengan sekuat tenaga aku dan Mas Bisma menarik tubuh Mbak Asih keluar.

 

Napasku semakin tersendat, dadaku semakin sakit, dan sekarang bayanganku pun semakin menipis. Mas Bisma menggenggam lenganku dan kami bergerak ke luar.

 

Kami berjalan tergopoh-gopoh, Mas Bisma memapah Mbah Uti sambil menyeret tubuhku yang semakin melemah. Aku menyeret tubuh Mbak Asih yang bobotnya lumayan besar, tetapi tumpuan utamanya tetap pada Mas Bisma.

 

Perlahan melangkah menaiki tangga yang licin, tanpa aba-aba kami terpleset dan terjatuh bersamaan.

 

Bugh!

 

Kami terjatuh tepat di samping batu nisan bertuliskan "Istriku tercinta."

 

Aku tahu sekarang, ternyata tubuh Mbak Seruni dikuburkan di sini.

 

"Nur, apa kita sudah mati?" tanya Mbak Asih yang tiba-tiba sadar.

 

"Ndak, Mbak, kita pulang!" jawabku tersenyum menatapnya.

 

Mbak Asih kini bisa beranjak bangun, sedang aku dan Mbah Uti bayangannya semakin tipis, sekarang hanya seperti asap.

 

Mas Bisma menarik lenganku sekuat tenaganya, kami berusaha keluar dari tempat ini secepat mungkin, langkahnya seperti berlari. 

 

Hingga sampailah kami di depan pintu, Mbak Seruni tersenyum menyambut kami. "Alhamdulillah tugasmu wis rampung, Nur." Bola matanya tergenang menatapku. 

 

Ia memeluk Mbah Uti, dengan sisa-sisa kesadaran Mbah Uti ia membalas pelukan Mbak Seruni. 

 

"Kowe sing tentrem ing kono, insya Allah urusan bojomu ing dunia bakal tak rampungke," ucap Mbah Uti pelan.

 

Aku mengangguk, "Aku wis ngerti ing endi Mbak Seruni dikubur, aku janji bakal bali neng kene maneh karo warga liyane. Kanggo makamke Mbak Seruni kanthi layak." 

 

Bibir Mbak Seruni bergetar. "Matur nuwun, Nur. Matur nuwun, Mbah." 

 

Dan Mbak Seruni tersadar bayanganku dan Mbah Uti semakin tipis. Dirinya panik menyuruh kami untuk menggenggam erat tangannya, lalu ia berlari tak menyentuh tanah begitu cepat. Hingga berhentilah kami di depan jalan setapak dengan cahaya yang terang menderang. 

 

"Masuklah, Nur ... lan berjanji karo aku kanggo tetep ing jalan sing bener, ora percaya karo hal gaib bakal nulungmu. Karena kebahagiaan sing sesungguh'e yaiku keluargamu, bukan duit! Ngerti?"

 

Aku mengangguk pelan mengiyakan, "Janji." Kami berpelukan lagi, lalu masuk ke dalam jalan yang terlihat begitu terang.

 

Sedang Mbak Seruni mengantar kami dengan lambaian tangannya sembari tersenyum memandang kami penuh kebahagiaan dan tubuhnya perlahan menghilang di telan cahaya.

 

****

 

Telingaku mendengar ayat-ayat suci Al-quran dilantunkan, mendengar Mas Bisma juga terus memanggilku. 

 

Begitu terasa tubuh ini digoncang dengan kuat, terasa tubuhku juga dipeluk dengan erat, tapi rasanya bola mata ini begitu enggan untuk terbuka. Dadaku semakin sakit, napasku semakin enggan untuk ditarik.

 

Setetes air mata terjatuh, aku tidak ingin mati sekarang. Mengingat betapa Mas Bisma mencintaiku dan mbah Uti yang harus kujaga.

 

Lama kelamaan, napasku bukan hanya susah untuk ditarik. Tapi benar-benar tak dapat ditarik. Setiap tarikan bagaikan kawat duri yang menghantam langsung jantungku. 

 

AKU TIDAK INGIN MATI ....

 

AKU KUAT ....

 

KUAT ....

 

Aku masih merasakan sentuhan mereka ... aku masih mendengar mereka menangis, terus memanggil namaku berkali-kali. Tubuhku digoncang hebat, hingga akhirnya aku mendengar mereka menyebut.

 

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun." 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!