Ilmu Warisan

Bab 19

[Halo semuanya, terima kasih sudah mampir. Maaf menunggu lama. Author mau cerita sedikit huhu ....

ternyata menulis romance lebih mudah ketimbang horor, dari kemaren nulisnya beberapa kata berhenti lalu diteruskan kembali. Si Author sudah mulai diganggu, mungkin makhluk-makhluk tak kasat mata yang lain pengen dijadikan cerita juga hehehe]

****

 

"Mas?" tanyaku sambil menatap balik wajahnya.

 
Mas Bisma masih terpaku menatap dengan senyuman kaku.
 
Tak lama ada bunyi kendaraan di depan pagar, buru-buru aku melangkah membuka gorden untuk melihat siapa yang datang. Terlihat Mbah Estu turun dari kendaraan, bergegas aku turun ke lantai bawah. 
 
Rasanya hati ini lega setelah melihat kedatangannya, bibirku merekah. Tanpa sadar tubuh ini berhambur memeluk Mbah Estu. 
 
"Assalamualaikum, kuwe ora opo-opo?" tanya Mbah Estu yang mendorong tubuhku pelan sambil menyibak rambutku. Setetes air mata terlihat mengalir.
 
"Walaikumsalam, Mbah. Akeh kedadean sing ora masuk akal. Aku meh mati mergo kedadean iku." Suaraku sumbang. Namun, bibir masih terus merekah. Senang tak terkendali.
 
Mbah Estu tertawa kecil. "Ojo ceroboh." 
 
Aku terdiam mempersilahkan masuk, lalu bola mataku mengedar mencari Mbah Uti. Dimana dirinya? Jika Mbah ditinggal sendirian, siapa yang akan menjaganya di desa? 
 
Perasaan khawatir tertuju pada Mbah Uti. "Mbah, dimana Mbah Uti?" tanyaku.
 
Mbah Estu menunduk lalu mengangkat wajahnya kembali, menatapku. "M-mbahmu ...." Perkataan Mbah Estu terhenti.
 
Sedangkan aku menunggu jawabannya dengan gusar.
 
Mbah Estu menelan salivanya ... dengan tarikan napas panjang ia melanjutkan perkataannya kembali. "M-mmbah Uti sak kepulanganmu, ora sadar diri nganti saiki."
 
Jantungku seperti lepas dari tempatnya, tubuhku ambruk seketika. Inilah yang kutakutkan. Mbah Uti jadi mangsa selanjutnya. 
 
"Ojo khawatir, Nur. Mbah Uti wis di tempat sing aman." Mbah Estu membangunkanku. Lalu mengenalkan pria sepuh di sampingnya. "Iki Mbah Sugi, kawan Mbah kakungmu uga siji perguruan." 
 
Aku menyalami pria yang bernama Mbah Sugi, ia berpakaian serba putih dengan jenggot panjang hampir 30 cm.
 
"Nur, iso langsung mangkat? Kita ora duwe wektu sing akeh," ucap Mbah Sugi, wajahnya sendu bercahaya bak seorang ustadz.
 
Aku mengangguk, memimpin jalan mereka menunjukkan keadaan Mas Bisma. Kami berjalan terburu-buru naik ke lantai dua. 
 
Cklek ....
 
Mempersilahkan Mbah Estu lebih dulu masuk, "Astaghfirullah." Mbah Sugi menggeleng begitu juga Mbah Estu.
 
Saat masuk, Mas Bisma yang tadi terbaring tidur kini duduk dengan wajah menunduk di atas ranjang, menghadap pada pintu kamar. 
 
Lampu yang sebelum kutinggalkan terang menderang kini berubah menjadi gelap. Meski dalam keadaan gelap, kulit pucat Mas Bisma begitu jelas terlihat. Kulitnya putih kebiru-biruan bak mayat hidup.
 
Aku menyalakan lampu, membuat tubuh Mas Bisma terlihat semakin mengenaskan. "Kuwe kabeh, ora bakal iso ngalahke aku! Delok wae siji-siji soko kuwe bakal mati ing tanganku." Suara Mas Bisma terdengar berat. 
 
Tiba-tiba angin berhembus kencang entah dari mana, bayangan hitam melayang terbang begitu cepat mengitari kami.
 
Mbah Sugi terus berdzikir, Mbah Estu mengusap wajah Mas Bisma sedangkan aku berdiam diri mematung penuh dengan rasa khawatir.
 
Tubuh Mas Bisma melawan, giginya menggretak saling mengadu, perutnya terangkat seperti ada yang menarik dari atas, bibirnya terbuka lebar dengan bola mata yang berubah menjadi putih.
 
"Astaghfirullah. Estu ... iki wis ora duwe wektu akeh maneh kanggo muleh. Kepaksa kudu nindake ritual saiki! Yen ora, kita bakal kalah! Kabeh masalah bakal tambah gede," ujar Mbah Sugi dengan memutar tasbih di tangan kanannya terus menerus.
 
Mas Bisma masih mengamuk, mulutnya terus meracau. "Opo sing dadi duwekku, bakal tetep dadi duwekku." Diiringi dengan tawa terbahak-bahak.
 
Mbah Estu terus merapalkan mantra, begitu juga Mas Bisma mulutnya seperti komat-kamit tiada henti. Sesekali tubuhnya menegang kesakitan, lalu terfokus kembali menghadapi Mbah Estu.
 
"Bagaimana, Mbah?" tanyaku pada Mbah Sugi.
 
"Jiwa bojomu bener-bener wis dikuasai 100 persen karo wong sing nganut ilmu ireng," jawab Mbah Sugi pelan.
 
Degh! Aku menangis, rasanya tak tega melihat Mas Bisma seperti ini. Aku tidak tahu pasti ... tubuhnya bisa kuat sampai kapan.
 
Jari telunjuk Mbah Sugi memanggilku, ia meminta segelas air putih, dengan cepat aku melangkah ke dapur melewati sosok perempuan yang hanya duduk di atas kitchen set sepanjang waktu.
 
Ya! Dia hanya duduk tak bergeser sedikit pun, kakinya terayun-ayun, sesekali dia tertawa memantau situasi.
 
"Iki, Mbah." 
 
Terlihat Mbah Sugi melantunkan surah suci Alquran pengusir jin dengan jari telunjuk yang diputar-putar ke dalam air minum. 
 
"Allahhu Akbar!" 
 
Tanpa isyarat Mbah Sugi melempar segelas air putih di tubuh Mas Bisma, ia lunglai seketika. Terjatuh tidak sadarkan diri di atas ranjang.
 
"Alhamdulillah," ucap kami serempak. 
 
Setelah itu Mbah Estu dan Mbah Sugi saling melirik, kemudian mereka mengangguk seolah sudah paham apa yang di sampaikan meski hanya sebatas lirikan.
 
Mbah Estu dan Mbah Sugi membaringkan tubuh Mas Bisma ke lantai, tubuh Mas Bisma sekarang benar-benar bak mayat hidup. Tubuhnya dingin, kaku dan pucat. Hanyalah denyut nadi yang menandakan ia masih hidup. 
 
Tangan kami membentuk lingkaran, saling berpegangan memutari tubuh Mas Bisma. 
 
"Nur ... ritual iki kabeh intine yaiku ana ing awakmu. Kuwe bakal mlebu menyang jagad gaib kanggo mbantu kabeh jiwa sing kejebak." 
 
"Dalane kudu tetep lurus, ojo meneng meneng mring mburi, ojo ngetutke sopo wae kejobo Mbah buyut lan roh Seruni," kata Mbah Estu menjelaskan padaku serius.
 
"Ngerti?" tanya Mbah Estu lagi.
 
Aku mengangguk kecil. 
 
"Apik, iso kita mulai sak iki." 
 
Kami bertiga saling melirik, mengangguk mengiyakan. Jemari yang saling menggenggam pun semakin erat.
 
Namun, disaat kami baru menutup  mata. Terdengar teriakan Mbak Asih meraung, menjerit, tertawa menjadi satu. Disusul suara suami mbah Asih teriak meminta tolong.
 
Sontak bola mataku terbuka lebar, tubuhku reflek beranjak bangun.
 
"Wis dablek!!!" hardik Mbah Estu, "Opo wae sing kelakon, aja ninggalake ritual iki," tegas Mbah Estu.
 
"Mbah ... maaf, Mbah! Nur lali cerita, iki salah Nur! Nur harus tanggung jawab!" jawabku gemetaran. 
 
Aku menjelaskan secara mendetail pada Mbah Estu dan Mbah Sugi. Kemudian mereka menggeleng, lagi-lagi mengucap istighfar.
 
"Si Tatang kebangeten!" ujar Mbah Sugi dengan nada tinggi.
 
Kemudian, Mbah Sugi membaca mantra ke seluruh tubuh Mas Bisma. Setelah itu kami bergegas menuju ke rumah Mbak Asih. 
 
Sesampainya disana. Astaghfirullah pemandangan yang luar biasa kami dapatkan.
 
Tubuh Mbak Asih merayap ke dinding menyerupai cicak, lidahnya menjulur, bola matanya hitam menatap kedatangan kami dengan tajam.
 
"Siapa kalian?" tanya suami Mbak Asih.
 
Belum sempat kami menjawab, Mbak Asih menunjuk kami. "Iku musuh-musuhku." 
 
"Lan kuwi mungsuh bebuyutanku." Tunjuknya lagi, kini jari telunjuknya mengarah pas di depanku.
 
Mbah Sugi berdzikir dengan tasbih di tangannya, sedangkan aku dan Mbah Estu merapalkan mantra mengarah pada Mbak Asih.
 
Angin kencang mulai menghantam, suara-suara aneh mulai terdengar mengganggu khusyuknya kami. Suasana mendadak menjadi panas luar biasa, keringat pun mulai bercucuran. 
 
Tak lama suara yang keluar dari mulut mbak Asih berubah menjadi erangan kesakitan, dia berteriak sekuat tenaga hingga memperlihatkan urat-urat besar di lehernya.
 
Lalu, Mbak Asih terjatuh berbarengan dengan segumpalan darah yang terjatuh dari sela-sela kakinya. Sergap aku menangkap segumpalan darah itu yang ternyata jika dilihat lebih dekat ialah segumpalan daging yang baru saja berbentuk J*NIN.
 
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!