Ilmu Warisan

Bab 11

Warning!!! Di bab ini ada mantra yang tidak boleh asal dipraktekkan.

 
****
 
 
Degh!
 
Aku menatap tajam wajah Asri yang masih terlihat
meski ruangan gelap gulita. Setidaknya ada celah
cahaya masuk dari lantai atas yang lampunya tidak
dipadamkan. Hawa dingin menyelimuti, membuat
bulu kudukku berdiri.
 
Tiba-tiba saja terdengar suara berat seorang laki-laki. "GEMEPAK GEBLANG ENG LEMAH TUMINDAK
JERUJI, ENG SASWORO LORO GUNO 0JO TANGI,
JENENGANE SIRAH LUMPOH YIN TANGI LORO YEN
LORO GEBLAKO YEN GEBLAK MATIO."
 
Tak ... tak ... tak ....
 
Suara langkah besar seperti datang mendekat.
Jantung berpacu, berdetak tak karuan. Tubuhku
kaku, tak mampu bergerak, seperti ada yang
menahanku di tempat. 
 
Dari balik kegelapan, seorang laki-laki muncul, turun dari tangga dengan gerakan yang mengerikan. Tubuhnya menekuk ke belakang, merayap turun dengan posisi kayang, sorot matanya menatap benci ke arahku.
 
"GEBLAK ONO ENG AWAK, MATI LAN TURUO MERGO,
LORO GETIH-GETIH IRENG, SENG MBOK PANGKON,
GETIH PUTIH SENG MBOK SUWON SI JABANG BAYI.
AINUR!!!"
 
Suara itu terus membaca mantra tanpa jeda,
bergema mengerikan di seluruh ruangan. Setiap
kata yang terucap seolah meremas jantungku,
membuat napasku tersengal. 
 
Dalam kegelapan. Desah napasnya terdengar berat
dan menyeramkan.
 
Tiba-tiba, lampu di lantai atas padam, membuat
kegelapan semakin pekat. Hanya ada suara mantra
yang terus bergema, mengisi ruangan dengan rasa
takut yang mencekam. 
 
Aku merasa seperti berada di ambang batas antara hidup dan mati melangkah mundur dengan bibir yang terus meminta tolong konon katanya jin leluhur itu melindungi keluarganya.
 
"Siapa pun kamu, tolong aku."
 
"Tolong ...." 
 
"Tolong ...."
 
"Tolong aku, Mbah." Reflekku teriak setengah menangis, tidak ada siapa pun disini Asri pun entah kemana. Aku tak menyangka dia setega ini padaku. 
 
"HAHAHAHAHA ... kuwe wedi, Nur? Akhire keturunan Mangun Kesumo ono seng wedi karo aku," suara berat itu terdengar lagi, diiringi tawa yang mengerikan.
 
"Panggil jin-jin iku sak puasmu, jin iku ora bakal nulungi kuwe." Deg! Suaranya kini betul-betul terasa dekat. Aroma anyir yang berhembus dari dalam mulut seseorang pun tercium begitu jelas.
 
"Kuwe kok bingung? Aku loh neng ngarepmu." 
 
Jantungku seakan berhenti, saat sorot mata muncul tepat di depan wajahku hanya hidung sebagai pemisahkan kami. 
 
Aku melompat mundur berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya.
 
Brak!
 
Tubuhku menghantam pintu, sialnya pintu itu kuat sama sekali tidak terbuka.
 
"HAHAHAHA, keturunan Mangun Kesumo wedi tenanan." 
 
Dia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya pada tubuhku, membuat jarak di antara kami semakin menipis. Sorot matanya yang penuh kebencian membuat darahku membeku. Tanpa berpikir panjang, aku bangun dan berlari tanpa arah.
 
Lantai yang licin dan lengket membuat langkahku goyah. Aku terjatuh, tangan dan lututku terasa sakit menghantam lantai. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit lagi, tapi hanya untuk jatuh lagi bebeberapa langkah kemudian, suara tawa mengerikan itu terus menggema, seolah mengejar setiap langkahku.
 
"HAHAHAHA ... Kuwe ora bakal iso mlayu, Nur."
 
Setiap kata yang terucap dari mulutnya seperti duri yang menusuk jantung. Aku terus berlari, mencoba menjauh meski tahu tidak ada jalan keluar. Kegelapan ruangan ini seperti labirin tanpa akhir, dinding-dindingnya seakan menutup setiap harapan untuk kabur.
 
Aku terjatuh lagi, kali ini lebih keras. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh.
 
 Dalam kepanikan, aku merasakan sesuatu yang lengket di tanganku, aroma anyir darah menyengat hidung. Mataku membelalak, darah hitam pekat mengalir di lantai.
 
Dengan tubuh gemetar, aku mencoba bangkit lagi. Tapi suara itu semakin dekat, napas dinginnya terasa di leherku.
 
"HAHAHAHA... Ora ono sing iso nulungi kuwe."
 
Aku berlari lagi, meski tubuhku sudah hampir tak mampu. Setiap langkah terasa seperti perjuangan hidup atau mati!
 
 Kegelapan dan bayangan menyeramkan terus mengejarku, menciptakan ilusi menakutkan di setiap sudut ruangan.
 
Akhirnya, aku tersudut di pojokan, tak ada lagi tempat untuk lari. Tubuhku gemetar hebat, keringat dingin membasahi wajahku. Sosok itu mendekat, tawa menyeramkannya semakin keras, seakan merayakan ketakutanku.
 
"Dheweke bakal ndelok piye mbok mati."
 
Aku menutup mata dengan napas tersengal, tubuh gemetar tak karuan, aku berusaha mengumpulkan keberanian. 
 
Terus berdoa di dalam hati. Aku tahu yang kuhadapi ini bukan jin, iblis atau syaiton. Namun, hidupku sepenuhnya hanya milik Allah SWT dialah yang memberi perlindungan dari sebaik-baiknya perlindungan.
 
"Nur, delok kene ... tebak aku gowo opo?" suaranya berat, penuh dengan ancaman.
 
Perlahan aku membuka mata, alangkah terkejutnya aku melihat sosoknya berdiri tegap dengan kapak besar, panjangnya sekitar satu setengah meter di tangan. Ia tersenyum menatapku, senyuman yang tidak membawa kedamain.
 
Bola mataku membulat dan sebelum aku bisa bereaksi, dia mengayunkan kapaknya ke arahku. Namun, sebelum kapak itu mencapaiku, tubuhnya terlempar keras ke dinding.
 
BUGH! Suaranya begitu kuat membuat lututku semakin lemas.
 
Tiba-tiba, tubuhku terseret dengan kekuatan yang tak terduga, tanpa ampun, seolah-olah ditarik oleh kekuatan gaib.
 
Bugh! Tubuhku terlempar ke luar, jatuh di halaman dengan sisa-sisa kesadaran. Di depan pintu yang terbuka lebar, aku melihat sosok perempuan yang selama ini kukenal. Ya, dia roh Mbak Seruni. Di balik wajahnya yang hancur, dia tersenyum.
 
Dengan sisa-sisa tenaga, aku tergopoh meraih gerbang dan membukanya. Lalu, berlari ke tengah pepohonan rimbun. Jalan yang tadinya tampak biasa kini penuh dengan makhluk-makhluk aneh.
 
Di sepanjang jalan, terlihat kaki yang mengayun di atas pohon. Aku mendongak dan melihat anak perempuan berambut panjang, lebih panjang dari tubuhnya dan bola mata yang mencelat keluar. Dia mengayunkan kakinya dengan ritme yang mengerikan.
 
Tuyul-tuyul kecil iseng mengganggu setiap langkahku, mereka tidak segemas yang sering digambarkan di internet. Mereka kecil seperti botol Aqua, telanjang dan tidak memiliki alat kelamin. Wajah mereka pucat dengan mata merah menyala, tertawa kecil dengan suara yang menggema.
 
Hutan itu sesak, penuh dengan makhluk-makhluk yang ramai sekali. Aneh... padahal ketika aku dan Asri berjalan di sini tadi tidak ada halangan. Dan lebih aneh lagi, kemana perginya nenek-nenek yang sering mengikutiku?
 
Aku terus berlari, mencoba memecah keramaian di hutan ini. Kuabaikan mereka, mencoba berpura-pura bahwa aku tidak melihat apa-apa.
 
Hingga akhirnya tubuhku menabrak sesuatu yang dingin dan lembab, kain putih kotor yang terbentang memanjang, sepanjang tiang listrik. 
 
Deg! Sekali lagi aku mengabaikannya. Aku hanya fokus untuk berlari keluar dari hutan ini!
 
Sekitar setengah jam aku berlari, terlihat pijar lampu jalan dari kejauhan. Itu tandanya sebentar lagi aku akan keluar dari perbatasan desa. 
 
Bibirku mengembang, semangat kembali memuncak. Kulajukan kecepatan lari dengan semaksimal mungkin. 
 
Hingga saat aku berhasil keluar dari hutan perbatasan desa, Aku terengah memegang lutut.
 
"Fyuh! Akhirnya." Aku menarik napas lega.
 
Kemudian aku menyadari di bawah pijar lampu jalan yang menyorot ke arahku baju yang kukira dibasahi keringat, ternyata sekujur tubuhku penuh dengan darah! Ada ratusan ulat bel^tung kecil merayap di tubuhku.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!