Ilmu Warisan

Bab 10

Saat dalam perjalanan pulang setelah jengah telingaku mendengar obrolan ibuk-ibuk yang masih pagi sudah memakan B^ngkai saudaranya sendiri! Nauzubillah Minzalik. 

 

Mataku terpaku pada seorang remaja perempuan yang berdiri di kejauhan. Kulitnya pucat, putih kebiruan, seperti tak ada tanda kehidupan di tubuhnya. 

 

Meski demikian, dia berbaur dengan yang lain seolah semuanya normal. Mereka bercerita, tertawa bersama, saling menyentuh seperti remaja pada umumnya. Namun, ada sesuatu yang janggal. Mengapa tubuhnya putih kebiruan, seperti es di tengah musim panas?

 

Rasa penasaran menguasai diriku. Aku melangkah mendekat ke arah kerumunan remaja ceria yang pagi itu mengenakan seragam sekolah menengah pertama.

 

"Assalamualaikum, Adik-adik. Mau sekolah ya? Semangat banget," sapaku dengan nada bersahabat, meski hati terasa tak tenang.

 

"Walaikumsalam, iya dong ...," jawab mereka serempak, penuh antusias.

 

Mereka melangkah lagi, saling merangkul bahu satu sama lain, termasuk remaja putri yang tubuhnya tampak seperti mayat hidup. 

 

Aku tersenyum kaku, menghembuskan napas berat. 

 

Kasihan, pikirku, mungkin dia memang menderita penyakit yang membuat tubuhnya terlihat seperti itu. 

 

Tak lama teman dekatku di SMA bernama Asri memanggilku sembari berlari mendekat. "Nur, kebetulan ketemu neng kene. Aku wedi sampeyan kudu nginep ing kene kanggo ngancani Mbah Uti," ucapnya ngos-ngosaan. 

 

"Ngomong opo Sri ... Srii," jawabku.

 

Asri menghela napasnya, mengatur napasnya secara perlahan. "Ih iki tenanan, Nur. Mbah Uti ora ngomong?" tanyanya serius, nadanya bergetar.

 

Aku menggeleng bingung, perasaanku mulai tak enak.

 

Kemudian Asri menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar kami. Lalu ia mendekat membisikkan sesuatu di telinga kiriku. "Ing desa iki ana wong sing nindakake pesugihan, saben wulan ana wong sing mati ora wajar." 

 

Aku ternganga, pupil membesar tak percaya. "Sampeyan ngerti sapa iku, Sri?"

 

Asri menggaruk tengkuk leher, lalu menggeleng. "Ndak ada yang berani nyari tau, Nur. Wedi jadi korban." 

 

Keningku mengerut, kepalaku dipenuhi berbagai pikiran. "Trus Mbak Seruni, kuwe kenal ora? Opo ...." belum sempat aku bertanya Asri menutup mulutku dengan cepat.

 

 "Sussstt ... ojo ngomong iku!" kata Asri dengan menaruh jari telunjuk di bibir, matanya tajam penuh peringatan.

 

Bola mataku menyipit menatap Asri.

 

"Aku curiga karo bojone," bisiknya nyaris tak terdengar.

 

Mataku membulat mendengar perkataan Asri, berarti dugaanku selama ini benar tentang suami Mbak Seruni.

 

"Bengi iki, apa kowe arep ngintip ing omahe Pakde Tatang? Yen kowe gelem, mengko tak jemput." 

 

Aku mengangguk pelan dengan ajakan Asri rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Lagi pula, aku sudah berjanji untuk menolong roh Mbak Seruni.

 

"Oke, Nanging kuwe janji ora bakal ngomong karo Mbah Uti." 

 

Lagi-lagi aku mengangguk setuju.

 

Sesampainya di rumah, Mbah Uti masih duduk di sofa menghadap pintu. 

 

"Beli opo wae, Nur?" tanyanya sambil menyeruput segelas teh.

 

"Kangkung karo iwak asin, Mbah." 

 

Mbah Uti terkekeh, "Suamimu wong kota memang mangan iwak asin," ledek Mbah Uti.

 

"Ora seneng ... yo rapopo, Nur mangan kabeh! ehh ... kanggo loro ding, karo Mbah. " jawabku sambil tertawa kecil. 

 

Menaruh kresek belanjaan, mengistirahatkan tubuh ke sofa, "Mbah, kenal ndak dengan anak SMP yang rumahnya di ujung pohon pisang dekat warung buk Tarjo?" tanyaku menoleh kecil ke arah Mbah Uti.

 

"Sapa jenenge? Mbah ngerti kabeh," Mbah Uti menanyakan balik.

 

Aku menggeleng, "Lupa nanya, Mbah. Nur cuma kasihan, tadi waktu dia sama anak-anak yang lain berangkat sekolah kami papasan. Tubuhnya pucet banget, putih biruu-biru ngono loh mbah." 

 

"Kayak duwe penyakit," lanjutku.

 

Sontak mata Mbah Uti melebar dengan alis yang terangkat melengkung. "Innalillahi wa innailaihi rojiun."

 

Jawaban Mbah Uti membuatku mengerutkan kening, menyondongkan tubuh ke depan mendekat pada Mbah Uti. 

 

"Nur, kuwe harus paham. Terkadang apa yang kamu lihat itu berbeda dengan pikiranmu. Enek seng menampakkan bentuknya menjadi wong biasa, padahal iku roh gentayangan! Enek seng iku wong beneran tapi bentukkanne koyok dedemit! Seng Nur lihat tadi, iku bener-bener wong. Tapi umurnya sebentar lagi."

 

Aku menarik napas panjang, "Mbah ... Mbah, Nur paham. Tapi ndak semuanya dikaitkan dengan mistis kan Mbah." 

 

Mataku terpejam lalu beranjak dari sofa meninggalkan Mbah Uti sendiri, melangkah ke dapur, memetik kangkung. Lalu menyiapkan masakan yang telah dimasak ke meja makan. 

 

Namun, saat ingin meletakkan makananan yang telah matang di meja makan, ada nenek-nenek memakai kebaya kuning dipadu rok batik duduk menghadap meja.

 

Deg! Aku berhenti, seketika bulu kuduk berdiri. 

 

"Siapa lagi?" pikirku.

 

"Nur, kowe ojo lungo, ojo percoyo karo sopo wae kejobo Mbahmu."

 

Suaranya begitu lembut, lalu tubuhnya memudar seperti angin yang melintas. 

 

Kuabaikan, sekarang aku sudah mulai semakin terbiasa dengan hal yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang.

 

----

 

Pukul menunjukkan jam 10 malam, Mbah Uti sudah masuk ke dalam kamar, Mas Bisma sedari pagi memang mengurung diri di dalam kamar, tidak mau mandi, makan, mau pun sholat.

 

Krieett ... suara pintu kubuka dengan pelan. Terlihat Asri sedang duduk di samping rumah mengenakan baju gamis berwarna hitam. 

 

"Kuwe siap, Nur?" tanya Asri.

 

Aku mengangguk pelan, "Insha Allah, aku siap Sri."

 

Asri tersenyum menggandeng lenganku, kami berjalan di tengah pepohonan besar, gelap gulita hanya senter yang dipegang Asri satu-satunya menjadi penerang jalan kami.

 

Sosok nenek-nenek berkebaya kuning yang kulihat siang tadi berjalan mengekoriku dari belakang, "Nur, Mulih. Iki ndak bener," lagi-lagi suara itu terdengar lembut. 

 

Aku menoleh ke belakang, menggeleng.

 

Sekitar setengah jam berjalan, kami tiba di sebuah pagar besar, rumah berwarna putih megah, mewah seperti di film-film rumah orang kaya.

 

Terpukau kagum penuh pesona, rumah itu begitu indah, tak menyangka ada rumah semewah ini ditengah hutan desa.

 

"Nur, pakai ini!" Asri menggosokkan sesuatu ke seluruh tubuhku. Bau aneh menyeruak dari cairan tersebut.

 

"Iku opo, Sri?" tanyaku heran.

 

"Wis! Ojo keakehan cangkem!" jawab Asri mendadak ketus.

 

Didepan gerbang, Asri menarik lenganku kuat. Membuka gerbang seolah sudah sering bolak-balik ke rumah ini.

 

Kutengok ke belakang nenek-nenek berkebaya kuning tadi sudah hilang, syukurlah dia tidak mengacaukan urusanku.

 

Semakin masuk lebih jauh semakin kuat tarikan Asri, "Argh sakit, Sri!" rintihku.

 

Asri mengabaikanku, dia berjalan cepat membuka pintu rumah yang kebetulan tidak terkunci. Kami masuk ke dalam, lantainya basah dan lengket. Namun, tak terlihat apa-apa gelap gulita senter Asri yang menjadi penerang kami satu-satunya tertinggal di halaman depan.

 

Baru masuk isi lambungku terasa ingin keluar. Bau anyir, bau busuk menyeruak masuk ke dalam hidung menjadi satu.

 

Cklek.

 

Bunyi pintu terkunci, sontak aku menoleh. Asri mengunci pintu sembari berteriak. "PAKDE IKI MUSUH BEBUYUTANMU, KUBAWA SESUAI PERMINTAAN."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!