Humanbot Terkuat

Malfunction

Aku bisa mendengar dengan sangat jelas suara mesin pemotong itu. Dapat kurasakan getarannya di persendian lututku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi karena mataku tidak bisa terbuka. Meskipun aku yakin, aku sepenuhnya tersadar saat ini. Namun, semua perintah yang diberikan otakku seakan-akan ditolak mentah-mentah dan membuatku tergeletak pasrah di atas alas besi yang datar.

Aku berusaha menajamkan seluruh indraku seperti biasanya, namun yang berfungsi saat ini hanyalah telinga. Beruntung aku bisa mendengar apa pun yang sedang terjadi di sekitar, termasuk suara tetesan peluh orang-orang yang sedang mengelilingi tubuhku.

Samar aku mendengar suara yang sangat kukenal.

“Subjek 888 masih dalam mode Tidur. Waktu kita tersisa lima belas menit!”

Suara wanita yang sangat dekat denganku.

Ah, mode Tidur. Itulah kenapa aku tidak bisa menggunakan indraku yang lain, terutama mata. Meskipun begitu, sepertinya mereka lupa kalau telingaku tidak pernah tertidur.

“Dia akan mengalami sengatan listrik sebentar lagi.” Suara lain, seorang pria yang sepertinya sudah cukup berumur, terdengar.

Aku tidak tahu apa yang ia maksud. Yang aku tahu, sesuatu sedang mereka lakukan pada persendian lututku. Entah apalagi kali ini yang mereka ubah dari tubuhku. Mereka tidak pernah merasa cukup.

“Dari skala nol sampai sepuluh, berapa rasa sakitnya?” suara wanita itu lagi, membuat tubuhku terasa lebih rileks setiap ia mengucapkan sesuatu.

“Sebelas.”

“AAAAAGGGHHH!!!”

Aku tidak bisa merasakan tubuh bagian bawahku. Tubuhku rasanya seperti terpenggal menjadi dua. Aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan padaku, tapi rasanya membuat otakku nyaris pecah saking sakitnya.

Aku meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari kekangan rantai yang mengikatku ke atas tempatku berbaring saat ini.

Berhasil.

Kubuka mata. Cahaya yang amat sangat terang di atas terasa membakar mataku seketika. 

Sakit.

Aku meraung sampai tenggorokanku terasa sangat kering dan membuatku berujung terbatuk dan muntah. Mengeluarkan isi perutku yang sudah tercerna sempurna.

Saat mataku sudah bisa beradaptasi dengan cahaya di ruangan yang amat sangat kukenal itu. Kulihat tujuh orang berpakaian serba putih sedang berdiri menjaga jarak dari tempatku berada. 

Tidak.

Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku dengan wajah cemas.

Wanita itu.

“Gilang, kamu pasti bisa menahannya,” ucap wanita itu dengan suara yang membuatku nyaman.

Tangannya yang hangat mulai meraih tanganku dan menggenggamnya. Berhasil membuat rasa sakit luar biasa yang sedang kualami sedikit berkurang.

“AAAAAGGGHHH!”

Aku masih berteriak kencang, tidak peduli meskipun air liur menyembur ke mana-mana.

Sakit.

Sakit.

Aku bisa merasakan perubahan suhu pada tubuhku.

Rasanya sungguh tidak nyaman. Aku bisa merasakan demam, namun di sisi lain aku pun merasa kedinginan dan menggigil. Aku tidak tahu apakah suhu tubuhku saat ini lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu normal.

Mata kiriku bereaksi dan seperti sedang menonton film, aku bisa melihat sebuah layar berukuran mini muncul di sana.

WARNING! 

SYSTEM ERROR!

Ziiinggg ….

Ziiinggg ….

Suara alarm tiba-tiba keluar tepat dari lubang telingaku sendiri. Rasanya seperti alarm itu memang sengaja dipasang di dalam sana dan sedang berbunyi karena ada yang tidak beres.

Iya, ada yang salah.

Kulihat wajah wanita itu semakin cemas dan keringatnya mulai mengucur deras dari pelipisnya.

Detik berikutnya, sekali lagi, aku kehilangan kontrol atas tubuhku.

Aku bisa mendengar orang-orang yang tadi menjaga jarak mulai berkerumunan di sekitarku. Mereka melakukan hal-hal yang tidak bisa kupastikan dengan mata tertutup. Meskipun panca indraku telah ditingkatkan, kalau semuanya dalam mode Tidur yang mutlak, aku hanyalah sebuah rongsokan robot.

“Gilang, bertahanlah!” serunya.

Suara itu menguatkanku, aku pun bisa tertidur dengan tenang setelah mendengarnya.

 

Tujuh hari setelah kejadian itu ….

“Psssttt, Gilang!”

Seseorang berbisik dari jarak jauh, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Memanggil namaku.

Tunggu, dari jauh?

Ah, sepertinya aku sudah pulih.

Perlahan kubuka kelopak mataku yang terasa ringan, mengerjap sebentar untuk terbiasa dengan cahaya lampu. Baru kusadari bahwa aku berada di ruangan yang berbeda dengan sebelumnya. Tapi, kabar baiknya, aku tidak merasakan sakit lagi. Segera kusibak selimut yang menutupi sebagian tubuhku untuk memeriksa apakah aku memang terpenggal menjadi dua atau tidak.

“Fyuuuh ….”

Masih di sana, kedua kakiku, tidak ada yang berubah.

Aku pun mencoba bergerak dan semuanya normal. Aku tidak berubah jadi tribrid ataupun sejenisnya.

Seketika aku teringat apa yang membuatku terbangun. Seseorang memanggilku.

Aku pun dengan cepat bisa menemukan di mana ia bersembunyi menggunakan sistem radar mesin dan panas yang tertanam dalam tubuhku.

Iya, mesin dan panas. Karena orang yang memanggilku adalah orang yang sama denganku.

Setengah mesin dan setengah manusia.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku penasaran ke arah kegelapan di balik lemari, tempatnya bersembunyi.

Subjek 123, seorang laki-laki yang seusia denganku, muncul dari kegelapan dan memamerkan sederet gigi putihnya ke arahku. Ia memiliki nama, Toni.

“Anak-anak mengadakan pesta, kau harus ikut!” Ia berseru dengan suara tertahan.

Saat ia mengatakan anak-anak, ia sedang berbicara tentang orang-orang yang sama sepertiku dan dirinya. Anak-anak berusia 16 tahun yang sengaja dilahirkan untuk kepentingan para orang dewasa. Anak-anak yang lahir bukan karena takdir Tuhan, tapi takdir yang mereka sendiri ciptakan, manusia.

“Mereka baru saja memotong tubuhku jadi dua dan sekarang kau sudah mengajakku pergi ke pesta?” 

Toni menatapku dengan alis terangkat, mengamati tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian mengangguk.

“Jangan mengada-ada, tubuhmu masih utuh. Ayo!” 

Toni memiliki postur badan yang lebih tinggi dan berisi daripada aku. Saat tangan kuatnya yang berotot menarik, aku langsung terhuyung turun dari tempat tidur.

Mau tak mau, aku pun ikut berlari mengimbangi langkahnya. Saat itulah aku merasa kakiku lebih ringan daripada sebelumnya.

Menyadari hal itu, aku pun segera memeriksa kembali kakiku, apakah masih di sana ataukah tertinggal di ruangan tadi. Karena, bagaimanapun juga, aku merasa seperti terbang rendah dengan kecepatan yang lebih cepat dari Toni.

Toni tampak tercengang ketika melihatku mendahuluinya. Aku tersenyum layaknya remaja normal yang suka pamer. Toni yang merasa tersaingi pun berusaha membalapku, namun ia tidak bisa melampauiku kali ini.

Aku tertawa puas. Apa pun yang telah manusia-manusia itu lakukan padaku kemarin, sepertinya tidak terlalu buruk untukku.

Tempat diadakan pesta oleh orang-orang sejenisku selalu sama, tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang dewasa. Waktu pengadaannya pun selalu sama, yaitu waktu di mana orang-orang dewasa masih tertidur.

Aku menghentikan langkah saat sudah sampai di lokasi tujuan. Beberapa detik berikutnya, Toni pun muncul dengan napas tersengal.

“Apa mereka mengganti kakimu dengan kaki binatang tercepat?” tanyanya penasaran.

“Mereka memotong tubuhku jadi dua,” jawabku meyakinkan.

Meskipun tercipta dari metode yang sama, kekuatan yang kami miliki bervariasi, tergantung dari gen yang berhasil teraktivasi dan berekspresi di tubuh masing-masing. Dari seratus orang anak, hanya aku yang paling beruntung.

Ya, beruntung karena seluruh gen yang telah disisipkan ke dalam tubuhku menjelang kelahiran bisa aktif dan berekspresi dengan sempurna. Membuatku lebih unggul dibandingkan anak-anak lainnya. Tapi, keunggulan itu membuatku menjadi satu-satunya bahan penyiksaan orang-orang dewasa yang tak pernah merasa puas dengan ciptaannya.

“Mereka sudah memulai pestanya,” ujar Toni sambil berjalan masuk mendahuluiku.

Aku pun berjalan di belakangnya.

Toni adalah satu-satunya anak yang mau berteman denganku, sementara yang lainnya kebanyakan takut padaku. Atau mungkin sebenarnya bukan takut, tapi iri.

“Hai semua, kita sudah lengkap!” seru Toni, berhasil menyita perhatian orang-orang di sekitar yang sedang sibuk menikmati minuman berwarna-warni. Sepertinya mengandung zat fluorescent yang dapat memancar.

Sesuai dugaanku, aku tidak diundang. Orang-orang melemparkan tatapan jijik, risi, atau bahkan muak ke arahku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menikmati pesta seperti sebelum aku datang.

“Pesta adalah ide terburuk yang pernah ada,” ucapku.

Toni menyodorkan segelas minuman berwarna hijau tosca, memaksaku untuk meminumnya. Namun, aku tidak melakukan itu.

Sampai seseorang yang lebih memancarkan cahaya berjalan di hadapanku. Subjek 8.

“Toni, apa yang kau lakukan?” Ia memarahi Toni dengan bola matanya yang bulat dan indah.

Meskipun aku tahu alasannya memarahi Toni adalah karena mengundangku, aku tetap memberikan senyuman terbaik pada gadis itu.

“Hai, Amel!” sapaku sambil mengangkat gelas minuman yang belum kucicipi rasanya.

Amel adalah satu-satunya anak dengan nomor sampel rendah yang berhasil dilahirkan. Di antara Subjek 1 sampai 100, hanya ia yang berhasil bertahan sampai sejauh ini. Bukankah itu artinya ia juga spesial? Tapi, entah kenapa, hanya aku yang mendapatkan diskriminasi dari teman-teman, atau, bisakah kusebut saudara?

Aku merasa keberadaan Amel membuat hormon laki-lakiku aktif dan berkembang. Aku tidak tahu gen apa yang telah manusia-manusia itu sisipkan ke dalam tubuh indahnya. Yang aku tahu, setiap ada di dekatnya, aku bisa mencium aroma atraktan yang menarikku untuk selalu berjalan mendekatinya.

“Amel, apa kamu tambah tinggi?” godaku.

Gadis itu memutar bola mata indahnya, tampak sangat terganggu dengan tingkahku. Namun, ia tidak mengabaikan atau menganggapku tidak pernah ada, seperti yang dilakukan oleh anak-anak lain.

“Gilang, apa yang kau lakukan di sini?”

“Toni menyeretku,” jawabku jujur.

Amel menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kau harus pergi sekarang juga! Kalau mereka mencarimu, mereka akan tahu tempat persembunyian kami di sini.”

“Baiklah, aku juga tidak suka dengan pesta ini. Apa kamu mau pergi denganku?” Aku mengulurkan tangan kanan yang bersih ke hadapannya. Ia hanya menatapnya sekilas kemudian melotot. “Aku pergi sekarang!” Aku buru-buru memutuskan, tidak mau membuatnya semakin kesal.

Gelas yang ada di tanganku, aku meminum isinya dalam sekali teguk. Rasanya sungguh asam. Membuat lidahku yang sangat sensitif terasa seperti mengkerut.

Aku menggoyangkan kepala yang terkena efek samping minuman itu sebelum akhirnya bisa fokus kembali.

“Suatu hari nanti, kamu pasti membutuhkanku,” ucapku pada Amel. Ingin sekali-kali mengancam gadis yang sangat atraktif itu. “Kau! Kau bisa nikmati pestamu! Aku akan kembali ke tempat tidurku!” ucapku pada Toni yang hanya memasang wajah menyesal.

Tanpa menunggu orang lain mencemooh dan mengusir, aku pun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat yang seharusnya tak pernah kudatangi itu.

Aku tidak lari. Kunikmati udara lembap dan jalanan yang kosong dengan pencahayaan remang-remang di sekitarku dengan langkah santai. Sesekali kuangkat wajah tinggi-tinggi untuk menatap langit yang gelap dan penuh misteri. Tidak tahu ada apa di atas sana, kenapa begitu gelap.

Sekilas ingatan tentang masa kecil kembali berputar dalam kepalaku. Masa kecil bersama teman-teman, tidak, saudara-saudaraku yang terlahir di hari yang sama meskipun warna kami berbeda-beda. Ingatan pertama yang kumiliki adalah suara tangisan bayi yang membuat telingaku nyaris pecah meskipun penutup lubang telinga sedang kupakai. Setiap hari berulang seperti itu, membuatku mengalami kesulitan tidur. Dan akhirnya mereka memisahkan tempat tidurku.

Sejak mereka memisahkan tempat tidurku dari yang lainnya, sejak saat itulah mereka memperlakukanku secara berbeda dari yang lain. 

Tidak kuketahui alasannya saat itu, sampai aku tumbuh menjadi seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Begitulah ingatan yang kumiliki, melompat-lompat seperti puzzle yang beberapa kepingannya hilang. Aku tidak tahu apakah itu karena orang dewasa sengaja menghapusnya atau karena memang ingatanku payah. Yang jelas, mereka—orang dewasa itu—sangat mengerikan. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan mendapatkannya dengan mudah.

Kepalaku tiba-tiba terasa berputar dan sakit saat aku berusaha semakin dalam mengingat kembali masa laluku. Ingatan kenapa teman-temanku membenciku, menatapku dengan jijik, dan tidak mau menerima keberadaanku. 

Aku memegangi kepala yang semakin sakit. Rasanya ada yang tidak beres di dalam otakku.

Aku mengerang.

Sakit.

Berat. Kepalaku terasa berat, namun aku masih ingin mengingatnya lebih jauh.

Ah, aku melihatnya.

“Subjek 888, kenapa kamu menangis?” Itu Amel kecil, aku sangat ingat potongan rambutnya.

“Jangan menangis.”

Apa itu kenyataan atau hanya halusinasi yang aku sendiri ciptakan?

“Semuanya akan baik-baik saja.” Amel berjalan menghampiriku. Tatapan matanya iba. Bukan penuh kebencian seperti sekarang. Ia mengulurkan kedua tangan mungilnya ke hadapanku.

Ah, apa itu yang ia pakai? Baju lusuh? Aku tidak ingat kita pernah memakai pakaian yang lusuh seperti itu.

“Subjek 888, apa mereka membuatmu sakit?” tanyanya. Suaranya yang mungil membuatku gemas. Ia sudah cantik sejak anak-anak. Aku tidak tahu siapa orang tuanya. Kalau aku tahu, mungkin aku akan mengucapkan terima kasih pada mereka karena telah memberikan skin cells berkualitas tinggi untuk penciptaan Amel.

Aku yang saat itu, bicaralah! Katakan padanya kalau kau menyukainya.

Ayolah!

“AAAGH ….”

Sakit.

Aku tidak tahu apa salahnya mengingat masa lalu. Apakah itu tabu?

Kepalaku terasa sangat sakit hingga aku terhuyung dan berlutut di atas tanah yang keras.

Kedua tanganku menjambak rambut yang ternyata sudah panjang, entah kapan terakhir kalinya wanita itu memangkas rambutku.

Sakit.

Aku menghantamkan kepalaku yang sekeras baja ke atas tanah. Membenturkannya berkali-kali, berharap bisa meringankan rasa sakit.

Sakit ….

“AAAAAGGGHHH!”

Aku tidak peduli meskipun teriakanku bisa membangunkan orang dewasa yang mungkin sedang terlelap di sekitarku.

Aku tidak peduli lagi pada mereka.

“AAAAAHHH!”

Denyut di kepalaku semakin menjadi-jadi. Rasanya sangat sakit seperti sedang digergaji dari dalam. Apa otakku sedang memprogram dirinya untuk self-destruction?

ZING ….

ZING ….

“AAAAAGGGHHH!”

Lagi. Suara alarm itu membuatku benar-benar muak. Andai bisa, sudah kurogoh lubang telingaku untuk melepaskan alarm itu.

ZING ….

Beep ….

Sebuah layar mini keluar dari bola mata sebelah kiriku. Kali ini layar tersebut berwarna merah, menandakan sesuatu yang buruk sedang terjadi padaku.

Beep ….

WARNING!

SUBJECT 888

SUBJECT MALFUNCTION

Beep ….

SYSTEM REBOOT!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!