Hujan Tengah Malam
Kalung Cahaya Misterius
Laki-laki tua pergi entah ke mana, Firman hanya melihatnya berjalan masuk dan menghilang begitu saja di kegelapan. Firman melemparkan senyuman pada wanita di hadapannya, dia cukup canggung hanya ditinggalkan berdua seperti itu. Kemudian Firman memalingkan wajahnya, melihat ke luar rumah yang mana keadaan masih saja sama. Hujan deras dengan suara petir yang terus menyambar.
Tiba-tiba suara petir yang cukup besar membuat Firman terperanjat. Saat berbalik arah lagi, Firman sudah menemukan laki-laki tua berjalan ke arahnya tanpa suara langkah kaki. Wajahnya tersorot kilat guntur, yang membuat Firman bisa melihat ekspresi datar darinya.
“Saya benar-benar berharap kamu mampu melakukannya, Nak. Saya percaya kamu bisa menyampaikan pesan dari kami untuk putri kami di luar sana,” ucapnya yang membuat Firman tampak tersenyum kecil.
Mereka tampak berharap banyak pada Firman, seolah mempercayakan sesuatu yang berharga pada pemuda di depan mereka. Sampai akhirnya terlihat laki-laki tua itu menyimpan sebuah kotak di atas meja. Yang Firman sendiri tidak tahu apa isinya, itu seperti sebuah peti yang sudah tua.
Laki-laki tua mengeluarkan sebuah kalung dari dalam peti. Kalung liontin itu tampak bersinar di gelapnya ruangan, Firman bisa melihatnya dengan jelas saat cahaya petir kembali menerobos masuk ke rumah.
Firman mengerutkan keningnya, matanya memicing, dia melihat sebuah nama tertulis di liontin itu. Firman menerima kalung tersebut bersamaan dengan suara petir yang menggelegar. Di luar sana terdengar sangat bising, suara petir saling bersahutan dengan derasnya hujan yang disapu angin. Belum lagi suara burung dan serangga ikut meramaikan.
Tangan Firman mengamati liontin itu, kemudian mendongak menatap keduanya yang terlihat memamerkan gigi putih mereka di tengah kegelapan. “Saya harus mengantarkan ini pada putri kalian, kan? Dia ada di mana sekarang?” tanya Firman.
Firman menatap, menunggu jawaban, berharap kalau jaraknya tidak begitu jauh agar dia bisa segera memberikan kalung tersebut. Laki-laki tua itu mengeluarkan secarik kertas yang tampak sudah usang juga. Firman membacanya dan baru tahu kalau itu sebuah alamat.
“Apa putri kalian tinggal di sini?” tanya Firman yang mendapat anggukan mereka.
“Tolong saya, Nak Firman. Saya mohon berikan kalung ini pada Calya. Temui dia dan katakan kami sangat merindukannya,” ucapnya yang membuat perasaan Firman tersentuh.
Alamatnya cukup jauh, bahkan berada di luar kota. Pantas saja kalau mereka jarang bertemu. Namun, tetap saja salah kalau membiarkan dia orang tua di rumah hanya berduaan seperti ini. Bagaimana kalau mereka sakit, siapa yang akan mengurus mereka?
Firman teringat dengan ibunya, yang mana beberapa Minggu saja tidak bertemu dia sudah rindu. Firman hanya diam, bingung harus menerima permintaan ini atau tidak, secara alamat yang dituju cukup jauh dari tempatnya saat ini.
Akan tetapi, tatapan mata kedua orang tua itu membuat Firman mengingat ibunya. Wanita itu menyentuh tangan Firman, tatapannya penuh dengan permohonan, membuat Firman tak ada pilihan lain selain mengangguk kecil.
“Kamu beneran bisa, Nak Firman?”
“Kami juga tidak akan menyuruh kamu dengan percuma. Ada imbalan yang akan kamu dapatkan kalau bersedia,” ucap wanita itu lagi yang membuat jantung Firman sedikit tidak nyaman.
Bagaimana bisa Firman biasa saja, saat diperlihatkan dengan setumpuk uang yang dikeluarkan mereka. Entah sejak kapan uang itu ada di sana, yang pasti sekarang ini Firman melihat tumpukan uang yang dia sendiri tidak tahu berapa banyak jumlahnya.
Firman hanya mengambil kalung liontin itu, dia mengabaikan tumpukan uang di depannya yang terlihat menggiurkan. Apalagi untuk seukuran dia yang hanya butuh pabrik. Firman tersenyum pada mereka sembari berkata, “Saya berjanji akan mencari putri kalian dan memberikan kalung ini. Tidak perlu membayarnya, saya ikhlas, ya hitung-hitung ucapan terima kasih karena kalian sudah membantu saya malam ini.”
“Bapak sama Ibu tenang ya, saya juga akan minta putri kalian untuk pulang menengok kalian di sini,” ucap Firman menambahkan.
Saat janji itu selesai Firman ucapkan, hujan seketika berhenti seolah habis dalam sekejap. Benar-benar tak ada lagi air yang turun dari langit, bahkan angin yang semula terasa menembus kulit pun kini hilang.
Firman tak merasa aneh dengan itu, dia menganggapnya hal yang biasa saja. Melihat di luar sudah tak lagi hujan, Firman pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Dia juga sudah cukup lama berada di sana, takut mengganggu kedua orang tua itu untuk beristirahat.
“Kalau begitu saya pamit ya, kalian tidak perlu khawatir dengan ini. Insyaallah saya bisa memegang amanat ini dengan baik. Kalian sebaiknya istirahat, ini sudah larut.”
“Tunggu dulu, Nak Firman!” ucap laki-laki itu sembari ikut bangun.
Dia menahan Firman untuk tidak pergi saat itu juga. Firman pun menghentikan langkahnya dan kembali berbalik untuk melihat laki-laki tersebut.
“Saya ada pesan lainnya dan tolong kamu ingat semua kata-kata saya ini, Nak.”
Firman membuang napasnya ke udara secara perlahan, tetapi dia masih memasang wajah ramah dengan sedikit memberikan senyuman. Firman kembali duduk, diikuti keduanya yang juga kembali ke tempat mereka.
“Setelah bertemu dengan Calya, pertama tolong katakan padanya untuk ambil surat yang tertinggal di bagasi mobil tua kami.”
Mendengarnya Firman mengangguk kecil.
“Baik, apa ada lagi?”
Kini giliran wanita itu yang membuka mulutnya dengan berkata, “Kedua berikan kalung itu pada Calya. Tolong berikan langsung ke tangannya ya, Nak.”
“Ketiga, minta Calya untuk hubungi sopir lama kami Pak Lukman namanya. Dia akan tahu dan mengerti dengan semua pesan ini,” ucapnya menambahkan pesan ketiga.
Firman masih diam, menunggu pesan terakhir yang akan diucapkan laki-laki dan wanita tua di hadapannya itu. Firman bisa melihat raut kesedihan di wajah mereka, apalagi wanita itu yang tampak menyeka air matanya.
“Terakhir, tolong sampaikan pada Calya kalau kami sangat menyayanginya. Tolong sampaikan permintaan maaf kami juga, karena kami belum bisa membahagiakannya, kami tidak lagi bisa menjaganya,” ucapnya yang membuat mereka saling menunduk.
Kesedihan terasa jelas di sana, membuat Firman pun tersentuh. Firman mengiyakan semua itu dan beranjak dari sana. Firman keluar rumah besar itu dan menaiki motornya kembali. Kendaraan roda dua itu pun melaju ke arah jalan pulang.
Namun, Firman baru menyadari ada sesuatu yang janggal. Setelah beberapa ratus meter dia melakukan kendaraannya, dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda kalau tempat itu terkena hujan. Aspal terlihat kering dan dedaunan pun tampak kering seolah tak terjamah hujan setetes pun. Seperti hujan hanya terjadi di tempat tadi saja.
Firman tak berpikir yang aneh, dia terus melajukan kendaraannya beranggapan kalau memang terkadang hujan sering turun di beberapa tempat saja. Jadi dia menarik gas motor metiknya itu agar bisa segera sampai ke rumah dan bertemu dengan ibunya.