HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA
4. PERMINTAAN LELAKI VIP
“E-eh kenapa aku ditarik-tarik gini?” seru Numayra yang mendadak kehilangan keseimbangan itu. Tubuhnya oleng dan tiba-tiba saja dirinya sudah berada di dalam pelukan lelaki itu. Seringai penuh hasrat pun terlihat di wajahnya.
“Lepaskan,” ujar Numayra sambil menahan marah.
“Aku meminta uang itu sekarang. Sekarang!” kata lelaki itu dengan penuh penekanan.
“Bukan nanti.”
GLEK
Numayra terdiam. Dia segera memutar otaknya. Gadis itu akhirnya mencoba untuk mendinginkan kepalanya.
“Aku tidak akan bisa berpikir jika amarah ini masih saja terasa di dada. Tenang. Aku harus tenang menghadapi lelaki seperti ini,” batin Numayra. Dia pun tersenyum tipis sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan lelaki itu.
“Bagaimana kalau kita bicara sambil duduk di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah sofa. Merasa Numayra sudah lebih tenang, lelaki itupun melepaskan pegangannya dan berjalan ke arah sofa.
“Sebagai salah satu pemilik saham di sini, kamu pasti paham dengan semua peraturan untuk para lady escort seperti aku,” kata Numayra perlahan. Lelaki itu memicingkan sebelah matanya dan mengangguk.
“Aku bukan lady escort yang bisa memberi pelayanan lebih. Tidak. Aku hanya pelayan biasa saja. Jadi tolong hapus keinginan liar itu dari diri kamu,” pungkas Numayra. Lelaki itu bukannya memahami tetapi malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Itu urusan kamu, gadis nakal,” sahutnya singkat.
“Aku akan minta uang kamu di antar ke sini. Tunggulah. Kumohon kamu bisa melepaskan aku, oke?” pinta Numayra setengah memohon. Lelaki itu menatap Numayra dan menganggukkan kepalanya.
“Sepuluh menit,” ujarnya. Numayra menatapnya kesal tetapi mau bagaimana lagi. Dia pun dengan cepat menghubungi Ripin dan memintanya mengambilkan amplop berisi uang yang disimpan di laci mejanya.
“Aku cuma punya waktu sepuluh menit, Cak. Bisa ngebut ya?” pinta Numayra.
“Aku sudah di depan, Num,” jawab Ripin.
“Hah? Serius Cak? Beneran nih?” tanya Numayra tak percaya. Dia pun segera meminta ijin untuk keluar menemui Ripin. Lelaki itu mengijinkan tetapi dengan diikuti oleh anak buahnya tadi. Jadilah Numayra keluar dikuntit oleh lelaki yang tadi membukakan pintu untuknya.
Ripin terkejut melihat Numayra keluar mengenakan pakaian yang sangat minim itu. Apalagi seorang lelaki berbadan kekar mengikutinya. Firasat akan sesuatu yang tidak beres pun menguatkan prasangkanya.
“Kamu kenapa pake baju nggak bener seperti ini to, Num?” protes Ripin. Dia memalingkan wajahnya begitu melihat Numayra keluar tadi.
“Ya itu masalahnya, Cak,” jawab Numayra.
“Mana uangnya?” tanyanya lagi. Tanpa banyak tanya, Ripin pun memberikan bungkusan plastik kresek putih kepada Numayra yang melihatnya dengan sejuta tanya di kepala. Tanpa banyak bicara pula, Numayra segera membalikkan badannya dan kembali berjalan masuk ke klub.
“Num,” panggil Ripin. Numayra berhenti dan menoleh. Plastik berisi uang itu dia dekap di dadanya.
“Apa, Cak,” jawab Numayra. Ripin menggelengkan kepalanya tanpa bicara. Numayra hanya bisa menatapnya dengan pandangan pasrah. Kemudian dia pun meneruskan langkahnya untuk kembali menemui lelaki yang telah menunggunya di dalam.
“Ini. Bahkan aku belum membukanya,” kata Numayra sambil meletakkan bungkusan tadi di hadapan lelaki itu. Dengan isyarat mata, lelaki itu meminta pengawalnya untuk mengecek isi amplop. Tak lama kemudian dia mengangguk dan mengatakan jumlah uang yang ada di sana. Lelaki itu tersenyum menyeringai.
“Kamu membuatku semakin penasaran. Itu artinya aku semakin menginginkan kamu,” bisiknya lirih di telinga Numayra.
“Kamu tahu berapa aku harus membayarmu untuk bisa datang kemari?” tanyanya sambil duduk di meja persis di hadapan Numayra. Tangannya menelusuri wajah cantik Numayra. Pakaian Numayra yang terbuka membuat tangannya leluasa bergerak di atas kulit mulus gadis itu. Numayra menahan diri sekuat mungkin agar tidak terbawa emosi. Kemarahan sudah berada di ubun-ubunnya.
Tetapi dia sadar, jika menggebrak laki-laki itu sekarang sama saja dengan bunuh diri. Maka Numayra pun menahannya dengan sekuat tenaga. Padahal tidak sulit bagi pemegang sabuk hitam seperti Numayra untuk melumpuhkan lelaki itu.
“Baiklah. Aku tidak akan melakukannya,” katanya kemudian. Numayra menghela napas lega.
“Tapi aku tak akan melepasmu begitu saja,” lanjutnya.
“Sebagai gantinya, aku minta kamulah yang melayaniku setiap aku datang ke sini,” perintahnya. Numayra tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Dia pun bergegas keluar dari ruangan itu saat melihat isyarat yang diberikan oleh lelaki itu.
“Alhamdulillah. Akhirnya lewat juga,” gumam Numayra sambil berjalan cepat menuju ruang ganti. Dia pun melepas pakaian itu dan menggantinya dengan pakaian yang biasa dia kenakan. Celana panjang dan kaos ketat tanpa lengan. Numayra melirik jam dinding.
“Masih banyak waktu,” gumamnya. Tiba-tiba dia teringat Ripin. Bergegas Numayra keluar dan berusaha mencari lelaki muda itu di parkiran. Tepat seperti perkiraannya, Ripin masih di sana.
“Cak!” serunya sambil melambai. Ripin menoleh dan turun dari motornya. Numayra mengajaknya duduk di taman belakang.
“Jadi gimana, Num? Bisa lolos dari lelaki itu?” tanya Ripin penasaran. Numayra menganggukkan kepalanya.
“Nggak sepenuhnya lolos sih, Cak. Tapi yang penting aku nggak sampe nglekuin hal itu,” jawab Numayra. Ripin pun menghela napas lega.
“Eh tapi gimana kamu bisa tahu, Cak? Kok kamu bisa bawa uangnya?” tanya Numayra penasaran.
“Tahulah. Tadi kulihat mobil hitam semalam itu di parkiran. Aku bisa langsung menebak, makanya aku cepat balik dan mencari uang yang kamu dapat semalam, pinjam kunci master Pakdhe,” jawab Ripin panjang lebar. Numayra hanya mengangguk sambil tersenyum mendengarnya. Dia pun mendekap lengan Ripin dengan nyaman.
“Ish, Num. Lepaskan,” ujar Ripin yang merasa risih dengan kelakuan Numayra itu.
“Suwun yo, Cak,” kata Numayra dengan tulus sambil melepaskan pelukannya.
“Makanya Num, lebih baik kamu keluar saja dari sini, Num,” ujar Ripin menasehati.
“Masih banyak kerjaan di luaran sana yang jauh lebih aman.”
Numayra mendesah kesal. Selalu seperti ini. Ripin akan selalu menasehatinya panjang lebar jika sesuatu terjadi pada dirinya akibat pekerjaan yang dilakoni gadis itu.
“Wis ta, Cak. Nggak usah dibahas lagi. Bosen aku,” ujar Numayra kesal.
“Lha kamu apa nggak bosen setiap kali kena masalah seperti ini to, Num?” tanya Ripin dengan sabar. Dia menatap gadis cantik yang cemberut di sebelahnya itu dengan pandangan nelangsa.
“Jadi kamu sudah bosen bantuin aku ta, Cak? Iya? Nggak apa-apa kok Cak. Aku nggak akan minta bantuan kamu lagi kalau ada masalah,” ujar Numayra sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Ripin di sana. Ripin hanya bisa menghela napas dalam dan menatap kepergian gadis itu sambil menggelengkan kepalanya.
Toh meskipun begitu Ripin tetap menjemput kepulangan Numayra dini harinya. Sepanjang perjalanan mereka diam saja tanpa banyak bicara. Bukan karena masih marah dengan ucapan Ripin tadi sore, tetapi sebuah ancaman yang dilontarkan oleh Tante Lisa membuat gadis itu terdiam di sepanjang perjalanan pulang.