Halal tapi Asing

Merasa Gagal

Dadaku langsung sesak. Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Karena lucunya… aku sendiri juga tidak tahu sebenarnya pernikahanku sedang rusak di bagian mana.

Tidak ada bentakan setiap hari. Kami tidak saling lempar piring ketika ribut, atau bahkan kedatangan perempuan yang terang-terangan mengaku selingkuhan.

Tapi ada sesuatu yang hilang perlahan. Dan aku tidak sadar kapan tepatnya semua ini mulai hampa.

Aku menunduk, jemariku saling memilin ujung cardigan sendiri.

“Mas cuma sibuk aja mungkin, Bu,” ucapku lirih, terdengar seperti sedang meyakinkan diri sendiri. “Belakangan sering pulang malam.”

Wardah mengembuskan napas pelan. “Lelaki memang begitu.”

Aku diam.

“Kalau lagi banyak pikiran, mereka lebih suka diam dan menghindar.”

“Tapi Mas sekarang bukan cuma diam.” Kalimat itu lolos begitu saja sebelum sempat kutahan. “Dia kayak… gak ada.”

Suasana langsung hening.

Aku buru-buru menggigit bibir sendiri, menyesal terlalu jujur ke mertuaku. Namun anehnya, setelah kalimat itu keluar, dadaku justru terasa semakin penuh. Bagai bendungan yang temboknya mulai retak sedikit demi sedikit.

“Ibu pernah gak…” suaraku mengecil, “ngerasa hidup serumah sama orang yang sama, tapi rasanya asing?”

Wardah memandangku cukup lama, hanya saja tatapannya tidak setajam sebelumnya.

“Semua rumah tangga pasti ada masanya begitu,” jawabnya pelan.

Aku tertawa kecil tanpa suara sambil menunduk. Jawaban paling klasik sedunia.

“Tapi kalau kelamaan kayak gini gimana, Bu?” tanyaku lirih. “Kalau cueknya ditumpuk terus?”

Tanganku mulai dingin lagi. Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa sebegini terbukanya pada mertuaku sendiri. Mungkin karena terlalu lama memendam semuanya sendirian.

“Atau…” aku menarik napas pendek, “kalau ternyata dia udah gak nyaman sama aku?” Kalimat terakhir barusan nyaris membuat suaraku pecah di tenggorokan.

Wardah tampak mengembuskan napas berat. Jemarinya merapikan ujung kerudung pelan sebelum berkata, “Rin… perempuan itu jangan terlalu pakai perasaan.”

Aku langsung terdiam.

“Terlalu mikir begini begitu malah bikin rumah tangga makin keruh.” Nada suaranya kembali terdengar menasihati. “Dulu ibu juga sering ditinggal bapak berbulan-bulan.”

“Iya, tapi—” sela ku cepat.

“Dan ibu tetap jalanin semuanya.”

Aku menelan ludah pelan. Lagi-lagi perasaanku terasa seperti sesuatu yang terlalu berlebihan untuk dipahami.

“Laki-laki kalau pulang capek jangan langsung ditanya macam-macam.” Wardah melanjutkan sambil menyandarkan punggung ke sofa. “Kadang mereka cuma butuh tenang," imbuhnya masih melihatku, seakan menimbang sesuatu di kepalanya.

Jeda.

“... kalau males pulang ke rumah…” ucapnya pelan, “biasanya karena rumahnya gak lagi nyaman.”

Deg.

Dadaku langsung sesak. Aku menunduk cepat sebelum rona wajahku berubah. Jemariku meremas ujung cardigan kuat-kuat di pangkuan. Padahal aku juga capek dan butuh ditenangkan. 

Iya, perempuan selalu diajarkan menjadi tempat pulang ... Tanpa pernah ditanya siapakah tempat pulang ternyamannya?

“Bunda…”

Suara kecil Saff memecah lamunanku. Aku cepat-cepat mengangkat wajah. Anak itu berdiri di dekat tangga sambil memegang perutnya pelan.

“Lapar.”

Aku langsung bangkit. “Iya, Sayang. Bunda bikinin makan.”

Begitulah seorang ibu. Semenit lalu hatinya mungkin sedang runtuh, tapi detik berikutnya tetap teguh berdiri begitu anaknya memanggil.

Aku berjalan cepat ke dapur sambil mengusap sudut mata diam-diam sebelum ada yang sadar air mataku hampir jatuh lagi.

Wardah menoleh dan tersenyum hangat kala melihat Saff. “Nah, cucu nenek," sapanya meminta Saff mendekat.

Saff menyalami sang nenek dan duduk di sebelahnya. Aku memperhatikan mereka beberapa detik dalam diam.

Hari ini sudah terlalu banyak kalimat yang menuduhku gagal secara halus. Sebagai istri, ibu dan juga perempuan.

Aku kembali membalik badan menuju dapur sebelum pikiranku makin berisik sendiri.

Suara televisi mulai terdengar pelan dari ruang tamu. Wardah mungkin sengaja menyalakannya agar suasana tidak terlalu canggung. Sementara aku berdiri di depan kompor sambil menghangatkan lauk.

Tanganku bekerja tapi tidak dengan kepalaku. Isi pikiranku masih tertinggal pada kalimat barusan.

[“… biasanya karena rumahnya gak lagi nyaman.”]

Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat sambil menunduk menatap api kompor yang menyala kecil.

Jadi sekarang salahku?

Karena aku mulai bertanya macam-macam? Atau mulai menuntut ditemani? Atau karena aku tidak lagi bisa pura-pura baik-baik saja?

Panci kecil di depanku mulai mengeluarkan bunyi mendidih pelan. Aku buru-buru mengaduk sup agar tidak meluap.

“Bun…”

Aku menoleh. Saff berdiri menyandarkan bahunya di ambang dapur. 

“Kenapa gak makan di depan? Ini sudah siap bunda antarkan,” ujarku lembut.

Anak itu mengangkat bahu kecil. “Mau sama Bunda.”

Dadaku langsung dirambati perasaan hangat. Aku menarik kursi kecil di dapur lalu menepuk pelan dudukannya. “Sini.”

Saff duduk tanpa banyak bicara. Tangannya menopang dagu sambil memperhatikanku menuang sup ke mangkuk.

“Kamu masih kepikiran tadi?” tanyaku hati-hati.

Saff diam sebentar sebelum mengangguk kecil.

Aku mengembuskan napas pelan lalu menunduk di depannya agar sejajar. “Lain kali kalau marah jangan ngatain orang pakai hal yang paling menyakitkan di hidupnya, Sayang," pesanku sambil mengusap pipi Saff.

Anak itu menunduk, suaranya mulai serak. “Aku nyesel.”

“Iya, Bunda tahu.” Saff memang pendiam, hatinya lembut, sehingga mudah kepikiran jika berbuat salah.

“Saff juga kesel sama Papa…” gumamnya tiba-tiba lirih sekali.

Tanganku langsung berhenti di udara. “Maksudnya?”

Anak itu memainkan ujung sendok di atas meja. “Papa sekarang jarang ngobrol sama aku," keluhnya takut-takut melirik ke arahku.

Deg.

Aku buru-buru memalingkan wajah pura-pura mengambil mangkok lain karena mataku mulai panas lagi.

Bahkan anak kelas lima SD saja bisa merasakan kehilangan yang sama denganku.

“Papa cuma sibuk kerja,” jawabku pelan, meski kalimat itu mulai terdengar seperti kebohongan yang kuulang untuk menenangkan diri sendiri.

Saff tidak membalas perkataanku. Anak itu hanya menerima mangkuk sup dariku lalu makan pelan-pelan.

Aku memperhatikannya cukup lama sebelum akhirnya kembali berdiri. Baru saja ingin mengambil minum, terdengar suara pintu depan terbuka.

Jantungku langsung berdegup cepat kala melihat jam dinding. Apakah itu Nivean?

Bahkan langkah kakinya saja sekarang bisa membuat suasana rumah berubah tegang seperti ini.

Kulihat, ibu Wardah langsung bangkit dari sofa. “Nah, akhirnya pulang juga," gumamnya.

Aku spontan merapikan baju sendiri lalu keluar dari dapur dengan langkah pelan.

Nivean berdiri di dekat pintu sambil melepas sepatu. Kemeja kerjanya sedikit kusut, wajahnya tampak lelah seperti biasa.

Namun begitu melihat ibunya datang, ekspresinya berubah sedikit terkejut. “Ibu?”

“Kamu masih inget punya rumah selain kantor ternyata," sindir sang mama.

Nivean mengembuskan napas kecil sambil mencium tangan ibunya. “Maaf, Bu. Lagi banyak kerjaan.”

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka. Tapi Nivean bahkan belum menoleh padaku sejak masuk rumah. Boro-boro bertanya apakah aku sehat, apalagi membahas pertemuan sekolah tadi.

“Anak istrimu kurusan semua,” celetuk Wardah lagi sambil menepuk lengan putranya. “Kamu perhatiin gak sih?”

Baru kali ini Nivean menoleh ke arahku. Tatapan kami bertemu sepersekian detik. Namun lagi-lagi rasanya kosong.

“Iya nanti aku perhatiin,” jawabnya singkat.

Huft. Nanti. Semua selalu nanti.

Aku menunduk cepat sebelum ekspresi kecewaku terlukis jelas di wajah. Namun tepat saat itu, ponsel di genggamanku kembali bergetar kecil.

Ting. Refleks mataku turun ke layar.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!