Halal tapi Asing
Intinya tuh Ibu
Pesan itu langsung centang dua. Aku bahkan belum sempat meletakkan ponsel ketika balasannya masuk.
[“Maaf. Saya cari nomor Mbak di grup wali murid kelas 5B.”]
Aku langsung terdiam. “Oh,” lirihku tanpa sadar sambil menurunkan ponsel pelan ke pangkuan.
Benar juga.
Aku dan Kahfiel memang ada di grup kelas yang sama. Hanya saja selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikan nama wali murid lain selain yang aktif bertanya soal PR atau jadwal ulangan.
Dan lelaki itu… ternyata mencariku lebih dulu dari sana.
Ponselku kembali bergetar kecil di tangan.
[“Tadi wajah Mbak pucat sekali. Saya takut kenapa-kenapa apalagi harus nyetir sendiri sambil bawa Saff.”]
Deg.
Aku menatap pesan itu cukup lama sampai pantulan layar membuat mataku sedikit buram.
Sesederhana itu sebenarnya perhatian yang dibutuhkan perempuan. Ditanya sudah sampai rumah saja bisa membuat hati yang retak terasa sedikit hangat.
Aku menarik bantal sofa ke paha tanpa sadar, lalu menggigit bibir pelan sebelum mulai mengetik hati-hati.
“Sudah sampai kok. Makasih ya tadi udah bantuin.” Jempolku sempat menggantung beberapa detik di atas layar sebelum akhirnya mengirim pesan itu.
Beberapa detik. Centang dua, lalu status mengetik muncul. Entah kenapa napasku malah ikut tertahan menunggunya.
[“Sama-sama.”]
Aku mengembuskan napas kecil. Kupikir percakapannya akan selesai sampai di sana. Namun satu pesan lagi muncul.
[“Dan soal tadi… gak usah terlalu dipikirkan.”]
Keningku langsung berkerut kecil. Jemariku tanpa sadar mengetik satu pertanyaan, “Soal Saff dan Ero?”
[“Iya.”]
Aku menunduk makin dalam. Rasa bersalah perlahan naik lagi memenuhi dada. Bayangan wajah Saff di mobil tadi kembali terlintas.
~Dia cuma iri karena gak punya ibu.
Ya Allah.
Aku memejamkan mata sebentar lalu mengusap wajah pelan sebelum membalas, "Saya tetap gak enak hati. Omongan Saff keterlaluan.”
Balasan Kahfiel cukup lama kali ini, seolah lelaki itu sedang memilah kata agar tak menyinggungku.
Aku sampai bisa mendengar detik jam dinding berdetak pelan di ruang tamu yang sepi.
[“Anak laki-laki kadang kalau marah memang nyerangnya ke harga diri.”]
Aku membaca pesan itu perlahan.
[“Saff cuma lagi emosi.”]
Masih ada satu lagi pesan yang sedang diketiknya, dan tak lama muncul.
[“Dan Ero juga mulai duluan.”]
Aku mengembuskan napas kecil sambil menyandarkan kepala ke sofa. Entah kenapa cara Kahfiel bicara terasa menenangkan. Tidak menyalahkan anakku mentah-mentah, tapi juga tidak membenarkan semuanya.
“Tetap aja saya malu. Dikira nggak ngajarin Saff sopan santun," tulisku, ada perasaan malu menyelinap masuk ke dalam kalimat itu.
Dan balasan darinya datang cukup cepat kali ini. [“Jangan.”]
Dadaku langsung berdegup pelan. Aku menegakkan duduk tanpa sadar.
[“Dampingi anak laki memang beda sama anak perempuan, Mbak.”]
Aku membaca lanjutannya perlahan sambil menggulir layar.
[“Kadang mereka gengsinya tinggi. Sedikit tersinggung langsung pasang badan.”]
Tanpa sadar sudut bibirku bergerak tipis. Rasanya sudah lama aku tidak tersenyum setenang ini setelah bicara dengan seseorang.
Entah terakhir kapan, tapi hari ini aku merasa diajak bicara senormal itu. Bukan disalahkan atau dianggap drama. Hanya… diajak memahami.
[“Soal Ero, biar saya yang netralisir.”]
Aku menatap kalimat itu cukup lama. Jemariku diam di atas keyboard tanpa tahu harus membalas apa.
Ada sesuatu dari cara Kahfiel mengetik yang terasa hangat tapi tidak berlebihan atau membuatku risih. Dia juga tak terkesan mengasihani Saff.
Aku merasakan naluri berbahaya, karena perempuan yang terlalu lama sendirian kadang bisa goyah hanya karena menemukan tempat bicara yang nyaman.
Kugelengkan kepala pekan, berusaha mengusir setan-setan di pikiranku sendiri sambil mengusap tengkuk yang tiba-tiba terasa panas.
"Astaga, Azarin, jangan aneh-aneh," gumamku, seraya memijat lembut pangkal leher.
Aku baru saja hendak membalas ketika terdengar suara mobil masuk ke halaman. Kutolehkan kepala ke arah jendela ruang tamu. Lampu mobil itu menyorot samar menembus tirai tipis.
Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. “Siapa ya?” gumamku pelan sambil berdiri dari sofa, melangkah menuju pintu depan dengan perasaan sedikit heran. Tidak biasanya ada tamu sore-sore begini tanpa kabar lebih dulu.
Namun begitu pintu kubuka, tubuhku langsung menegang. “Ibu?”
Di depanku, berdiri perempuan paruh baya dengan gamis cokelat susu dan tas tangan besar yang menggantung di lengan. Wajahnya masih terlihat cantik di usia setengah abad lebih, hanya saja sorot matanya selalu membuatku merasa seperti murid yang sedang diperiksa guru BP.
Wardah tersenyum tipis. “Loh, baru dibukain?”
Aku buru-buru membuka pintu lebih lebar. “Masuk, Bu.”
Mertuaku melangkah masuk, matanya menyapu sekeliling rumah seperti biasa. Menilai kondisi kami dalam diam.
“Anak-anak mana?”
“Saff di atas. Tisya juga baru pulang sekolah," jawabku saat mengekorinya.
“Ish…” Ibu Wardah melepas sandal lalu mengibaskan ujung gamisnya pelan. “Rumah kok sepi amat.”
Aku hanya tersenyum kecil sambil menahan napas. Suasana langsung berubah tegang begitu saja.
Entah bagaimana menjelaskannya. Tapi beberapa orang memang punya kemampuan membuat rumah yang tadinya sunyi menjadi terasa sesak hanya dengan kedatangannya.
“Ayo duduk, Bu. Aku bikinin teh," kataku mengusir gugup.
“Ibu gak lama.”
Halah basa-basi. Biasanya juga beliau tetap duduk di sofa sambil meletakkan tasnya di samping paha. Aku hafal sedikit banyak kebiasaan mertuaku ini.
Aku berjalan ke dapur dengan langkah sedikit cepat. Jemariku refleks merapikan pashmina yang mulai berantakan. Entah kenapa setiap bertemu ibu mertua, aku selalu merasa seperti istri yang kurang becus. Padahal aku sudah berusaha.
Saat air dispenser memenuhi gelas, samar kudengar suara Ibu Wardah memanggil dari ruang tamu.
“Nivean belum pulang?”
“Belum, Bu,” jawabku sedikit keras dari dapur.
“Tumben.”
Deg.
Tanganku berhenti sesaat di udara, langkah pun ikut tertahan. Aku lantas menarik napas pelan sebelum membawa teh ke ruang tamu.
Ibu Wardah menerima cangkirnya lalu menatapku lekat-lekat. “Akhir-akhir ini Nivean jarang ke rumah ibu.”
Aku duduk perlahan di sofa tunggal seberangnya, menjawab asal, “Oh ya?”
“Iya.” Beliau mengaduk teh pelan. “Biasanya seminggu sekali minimal datang.”
Aku hanya mengangguk kecil, bingung mau menjelaskan apa.
“Dia sakit atau kenapa?”
“Enggak kok, Bu. Mungkin lagi sibuk kerja.”
“Kerja mulu.” Nada suara Ibu Wardah terdengar mulai tidak suka. “Kamu juga jangan terlalu ngebebasin laki.”
Aku langsung diam. Jari-jariku saling menggenggam di pangkuan, meremat samar.
“Laki kalau dilepas terus ya nyaman di luar rumah.” Beliau menyeruput teh sebentar lalu melanjutkan, “Dulu situasi ibu lebih berat dari kamu.”
Glek.
Aku langsung tahu kemana arahnya. Kalimat itu, langganan keluar dari bibir mertuaku. Pembuka andalan kisah heroik ibu di masa lalu.
“Bapak dulu tugas luar kota berbulan-bulan. Gak ada video call, gak ada chat. Telepon aja susah.” Tatapannya mulai lurus ke arahku. “Tapi pas bapak pulang, semua kerjaan di rumah tetap beres.”
Aku menunduk pelan, dadaku mulai berdenyut tipis.
“Anak empat ibu urus sendiri.” Suara beliau mulai meninggi sedikit karena semangat bercerita. “Gaji bapak pas-pasan, tapi semua tercukupi.”
Aku diam, mengangkat wajah pun sungkan. Bukan tak berani, ini hanya sikap manut agar sindiran itu tak panjang.
“Anak-anak juga sehat, gembul.” Tatapan Ibu Wardah kini mulai menyapu tubuhku samar. “Lah ini Saff sama Tisya kayak rombongan pengungsi.”
Deg.
Rahangku langsung mengeras pelan, satu tanganku di bawah genggaman, mengepal. Namun aku tetap menahan diri.
“Maaf, Bu…” ucapku lirih.
“Makanya jadi perempuan tuh harus kuat.” Beliau menggeleng kecil. “Jangan dikit-dikit ngeluh. Rumah itu pusatnya di istri.”
Kalimat terakhir itu entah kenapa menghantamku telak hari ini. Padahal aku sudah terbiasa mendengarnya. Mungkin benar, aku sedang lelah sekali.
Aku menunduk sambil mengusap jemari sendiri pelan. “Iya, Bu.”
“Tisya juga sekarang kurusan, perempuan kok ceking begitu padahal lagi masa pertumbuhan," imbuh ibu masih menatapku tajam.
Aku menarik napas pelan. “Anak-anak lagi banyak kegiatan sekolah,” belaku apa adanya.
“Alasan.”
Huft.
Aku tak menjawab lagi, apapun yang kuucapkan pasti salah di mata ibu.
Hanya suara sendok beradu pelan dengan dinding cangkir.
Aku menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri bicara pelan, “Bu…” suaraku nyaris seperti bisikan. “Kalau rumah tangganya lagi gak baik-baik aja… perempuan harus gimana?”
Pertanyaan itu membuat Ibu Wardah terdiam sesaat. Pandangannya perlahan naik lagi menatapku. Wajah beliau terlihat sedikit berubah. “Memangnya kalian kenapa?”
Glek.
"Enggh...."
.
.