Halal tapi Asing
Disalahkan melulu
Nivean akhirnya berhenti mengetik. Lelaki itu mengembuskan napas pelan sebelum menurunkan layar laptopnya sedikit. “Rin…” panggilnya lesu, seolah tenaganya habis hanya untuk sekadar bicara.
“Jangan panggil aku kayak gak ada apa-apa,” potongku cepat dengan nada dingin. “Saff hampir kabur dari rumah, Mas.”
Sunyi.
Monitor jantung Tisya berbunyi pelan di tengah ruang rawat yang redup.
Bip.
Bip.
Bip.
Nivean mengusap wajahnya kasar lalu mendongak sebentar, menghembuskan napas berat ke langit-langit kamar. “Aku tahu.”
“Enggak.” Aku tertawa hambar sambil menggeleng. “Kamu gak tahu.”
Tatapan Nivean akhirnya beralih kepadaku. Kutunjuk ranjang Tisya dengan tangan gemetar. “Kamu lihat anakmu?” kataku sambil mengeratkan rahang, lalu menoleh ke arah sofa tempat Saff tertidur. “Dan dia takut pulang ke rumahnya sendiri.”
Dhuar.
Nivean diam, sementara aku terus bicara, meluapkan semua sesak yang sejak tadi menumpuk di dada.
“Tisya nyari perhatian di luar. Saff mau kabur ke makam eyangnya karena dia gak tahu harus cerita ke siapa.” Napasku mulai memburu. “Dan kamu masih buka laptop?!”
Brak. Refleks, Nivean langsung menutup laptopnya keras.
Saff bergerak kecil di sofa karena suara itu, tapi tidak benar-benar bangun. Sementara Nivean menunduk beberapa detik. Rahangnya bergerak samar, seperti sedang menelan sesuatu yang pahit.
“Aku kerja buat kalian,” dalihnya lirih.
Aku tertawa getir sampai tenggorokanku terasa sakit. “Tapi kamu gak pernah ada buat kami.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut jahayku. Dan setelahnya, ruangan mendadak terasa makin dingin.
Nivean membeku di tempat duduknya, sementara dadaku naik turun cepat. Bayangan Tisya yang berkata Papa udah gak peduli terus berputar di kepala. Disusul wajah Saff yang duduk sendirian di terminal sambil memeluk tas sekolahnya.
Aku benar-benar capek. Tanganku sampai gemetar saat mengusap wajah sendiri. “Aku…” cicitku kian parau. “Aku capek, Mas…”
Nivean menatapku lama sekali, lelaki itu rupanya sedang benar-benar melihatku. Bukan cuma sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi perempuan yang juga ikut hancur pelan-pelan bersama rumah tangga ini.
Mataku bengkak. Bajuku kusut sejak siang. Dan dibalik hijabku yang mencong, ada rambut yang berantakan karena terus kugelung asal.
Tatapan Nivean perlahan berubah… seperti baru sadar kalau selama ini aku memikul semuanya sambil tetap berdiri.
Samar-samar aku melihat jemari Nivean terlepas dari laptopnya. Aku berharap Nivean mulai sadar, yang kelelahan bukan cuma dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah ranjang. “Jangan berantem…”
Aku dan Nivean langsung menoleh bersamaan. Tisya sudah membuka mata sedikit. Wajahnya masih pucat, bibirnya kering, tapi matanya berkaca-kaca menatap kami berdua.
“Aku pusing…” bisiknya lemah.
Dan saat itu juga, seluruh amarah di dadaku runtuh begitu saja.
“Ka…” Aku buru-buru menghampiri ranjangnya sambil menggenggam tangan anakku hati-hati. “Maaf… maaf, sayang…”
Tisya meringis kecil sambil memejamkan mata lagi.
Di sampingku, Nivean ikut berdiri mendekat tapi tidak bicara apa-apa. Dia hanya menatap putrinya lama.
~PoV Nivean
Aku hanya menatap wajah pucat Tisya tanpa mampu berkata apa-apa.
Jemari kecil anakku masih berada dalam genggaman Azarin. Sementara monitor di samping ranjang terus berbunyi stabil, seperti mengingatkanku bahwa semalam nyaris saja kehilangan banyak hal sekaligus.
Tisya. Saff. Dan mungkin… keluarga kecilku. Dadaku langsung terasa penuh.
Aku duduk perlahan di kursi samping ranjang sambil mengusap wajah kasar. Kepalaku berdenyut sejak tadi malam, tapi yang paling mengganggu justru bukan pekerjaan atau angka-angka sialan itu.
Melainkan ucapan Azarin.
[“Ini semua gara-gara kamu, Mas!”] Kalimat itu terus terngiang seperti gema di kepalaku.
Aku memandang layar laptop yang sudah tertutup di atas meja. Padahal biasanya, benda itu selalu jadi tempat pelarianku.
Kalau lelah, kerja.
Kalau marah, kerja.
Kalau rumah terasa sesak, kerja lagi. Dan bodohnya… aku kira itu cukup.
Aku menunduk sambil mengusap tengkuk. Dan tiba-tiba suara Pixylia kembali muncul di kepala.
~Istirahat dulu.
Tidak ada nada menyalahkan dalam suaranya kemarin, apalagi tatapan kecewa seperti yang terus kuterima akhir-akhir ini dari rumah.
Dia hanya… mendengarkan. Dan aku baru sadar betapa lamanya aku tidak benar-benar didengarkan.
Keesokan paginya aku tetap datang ke kantor. Meski semalaman hampir tidak tidur.
Ruangan meeting terasa terlalu terang untuk kepalaku yang berat. Presentasi investor berjalan lancar, suara orang-orang saling bergantian membahas target kuartal, angka penjualan, revisi strategi.
Aku menjawab semuanya seperti mesin, tanggapan datar terstruktur, sampai meeting selesai dan satu per satu orang mulai keluar ruangan.
Aku baru saja membuka kembali laptop saat pintu kaca diketuk pelan.
“Pak?”
Aku mendongak.
Pixylia berdiri di ambang pintu sambil membawa tablet dan beberapa map tipis di dadanya. Rambut panjangnya diikat rapi hari ini, tapi sorot matanya terlihat penuh hati-hati saat memandangku.
“Masuk aja,” gumamku lemah.
Dia melangkah masuk lalu berhenti di depan meja. Dahinya sedikit berkerut. “Bapak keliatan kuyu banget.”
Aku tertawa tipis sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Segitu kelihatannya?”
“Banget.”
Jawabannya spontan sampai membuatku mengembuskan napas tipis. Pixylia meletakkan map di meja lalu menatapku beberapa detik. “Tisya gimana sekarang?”
“Masih observasi," beberku dengan suara serak. “Kemarin sempat masuk IGD.”
Ekspresi perempuan itu langsung berubah cemas. “Karena minuman itu?”
Aku mengangguk pelan. Dan entah kenapa… setelah pertanyaan itu, semuanya keluar begitu saja.
Tentang Tisya yang bolos tiga hari dan nongkrong dengan anak-anak laki-laki di cafe. Saff yang hampir naik bus luar kota sendirian. Juga soal Azarin yang menangis di ruang rawat sambil bilang aku gak pernah ada buat mereka.
Aku bahkan gak sadar sudah bicara selama itu sampai ruangan mendadak hening.
Pixylia tidak memotong ceritaku sama sekali. Dia hanya duduk di kursi depan meja sambil mendengarkan dengan tenang. Tatapannya lembut, tanpa rasa ingin tahu berlebihan.
Dan setelah sekian lama… aku merasa lega saat selesai bicara. Seolah ada sesuatu yang akhirnya keluar dari dada.
Pixylia mengembuskan napas pelan sebelum berkata lirih, “Berat ya, Pak…”
Aku tertawa hambar sambil menunduk. “Aku bahkan gak sadar kapan rumahku mulai berantakan.”
“Bukan berarti semuanya terlambat.”
Aku terdiam.
Pixylia melanjutkan hati-hati, “Kadang anak dan perempuan cuma pengen didengerin, bukan nyari solusinya," jelas si sekretaris.
Kalimat itu menancap aneh di kepalaku. Benar, mereka cuma ingin didengar.
Aku memandangi meja beberapa saat sebelum akhirnya bersandar lelah, “Gue gagal jadi bapak ya?” tanyaku lirih tanpa sadar.
Pixylia langsung menggeleng pelan. “Kalau Bapak gagal, mungkin Bapak gak akan kepikiran sejauh ini," jelasnya lembut, “Orang yang benar-benar acuh biasanya gak sekacau ini."
Aku memejamkan mata sebentar sambil menyandarkan kepala ke kursi. Entah kenapa, duduk di ruangan ini bersama Pixylia terasa jauh lebih ringan dibanding pulang ke rumah yang sekarang dipenuhi tatapan kecewa.
Pixylia berdiri pelan sambil merapikan map di tangannya. Perempuan itu tersenyum hangat lalu perlahan dia mundur selangkah. “Saya keluar dulu ya, Pak. Biar Bapak istirahat bentar.”
Tanganku refleks bergerak sebelum dia benar-benar pergi. “Pixy.”
Perempuan itu berhenti lalu menoleh. Aku menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Makasih ya.”
Sorot matanya tampak sedikit terkejut. Namun beberapa detik kemudian, senyumnya muncul lagi.
“Kapan pun Bapak butuh cerita…” ucapnya lembut sambil menggenggam tablet di dadanya, “aku dengerin kok.”
Deg.
.
.