Halal tapi Asing

Anakku Rapuh

Langit siang itu sedikit mendung saat aku tiba di hutan kota.

Pepohonan besar membuat area dekat danau buatan terasa lebih sejuk dan sunyi dibanding jalan raya di luar sana. Hanya terdengar suara burung sesekali dan gesekan daun tertiup angin.

“Ya Allah…”

Saff duduk memeluk lututnya di bangku kayu bawah pohon besar, menatap kosong ke permukaan danau. Tas sekolahnya masih tergantung di pundak, dasinya bahkan belum dilepas.

Sementara beberapa meter di belakangnya, Kahfiel berdiri diam sambil mengawasi dari jauh, seolah takut satu langkah saja bisa membuat anakku pergi lagi.

Aku berdiri beberapa meter dari putraku sambil menutup mulut, rasanya sakit melihat putraku termangu seorang diri seperti ini.

Dan tak jauh dari sana, Kahfiel berdiri bersandar di pohon Cemara. Lelaki itu menoleh saat melihatku datang.

“Dia dari tadi diem aja,” ujarnya, begitu aku mendekat. Kahfiel bergeser mundur perlahan, seakan takut memecah keheningan yang sedang dinikmati Saff. “Cuma duduk ngeliatin air.”

Aku mengangguk walau dadaku terasa sesak. “Makasih…” bisikku lirih.

Kahfiel menunduk, menjawab pelan, “Aku takut kalau disamperin malah dia pergi lagi.”

Kualihkan pandangan ke Saff. Bahunya luruh lesu sekali. Bahkan dari jauh saja, aku bisa merasakan bahwa anakku sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Langkahku terasa berat saat mulai mendekat.

“Saff…” panggilku hati-hati.

Tubuh Saff sedikit tersentak. Kepalanya menoleh perlahan ke arahku, dan detik itu juga mataku memanas. Sorot mata Saff sendu dan sembab.

“Bun…” suaranya serak.

Ya Allah. Aku langsung menghampiri lalu jongkok di depannya. Jemariku spontan merapikan rambut depan Saff yang berantakan terkena angin.

“Kamu bikin Bunda takut…” lirihku menatap wajahnya.

Saff cepat-cepat menunduk, bibirnya bergerak samar sebelum berkata pelan, “Maaf…”

Aku menggeleng berkali-kali. “Kenapa pergi sendirian begini?” tanyaku lembut.

Anakku diam, hanya memandangi sepatunya sendiri cukup lama sampai akhirnya berkata lirih, “Aku pengen ke makam Eyang.”

Deg.

“Aku pengen cerita…” lanjutnya sambil tersenyum tipis. “Tapi gak jadi.”

“Kenapa?”

Saff mengangkat bahu kecil. “Takut nyasar.”

Air mataku hampir jatuh saat mendengar jawabannya. Putraku ingin kabur dari rumah, tapi bahkan untuk pergi jauh pun dia takut sendirian.

Aku mengusap pipinya pelan. Kulitnya dingin lalu duduk di sampingnya, mencoba tidak langsung menghakimi bahwa tindakan Saff keliru.

“Kenapa gak cerita sama Bunda?” sambungku .

Saff terdiam lama sekali. Angin siang meniup dedaunan di atas kami hingga terdengar suara gemerisik lembut.

“Aku capek…” keluhnya parau, seakan tercekat di tenggorokan.

“Capek apa, sayang?”

Saff tertawa hambar, “Di rumah lagi sedih semua.” Matanya berkaca-kaca, “Papa sama Bunda berantem melulu. Kak Tisya juga berubah.” Napasnya bergetar. “Aku bingung harus gimana,” ungkapnya melirikku takut, seraya mengeratkan pelukan di lututnya.

Ya Allah… ternyata selama ini bukan cuma Tisya yang tenggelam.

“Aku takut bikin masalah,” lanjutnya lirih. “Makanya aku diem aja.”

Tanganku langsung meraih tubuhnya dan menarik Saff ke pelukanku erat-erat.

“Maafin Bunda…” cicitku, “Maafin Bunda ya…”

Tubuh Saff sempat kaku beberapa detik sebelum perlahan balas memelukku.

Tak lama kemudian, kulihat Kahfiel melangkah menjauh menyusuri jalan setapak hutan kota. Lelaki itu tak menoleh lagi, seolah sengaja memberi ruang untuk kami bicara sebagai ibu dan anak.

Sementara itu, di rumah sakit…

Nivean duduk sendirian di samping ranjang Tisya yang masih tertidur karena obat anti mual. Lampu ruang observasi redup, hanya suara monitor detak jantung yang terdengar pelan memenuhi ruangan.

Lelaki itu menunduk, kedua siku bertumpu di lututnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi tangannya perlahan bergerak mengusap jemari Tisya yang terpasang infus.

“Kamu marah sama Papa ya…” gumamnya lirih tanpa menatap siapa-siapa.

Hanya napas pelan Tisya yang terdengar.

Nivean tertawa getir, “Papa kira..." Rahangnya bergerak samar. “Papa kira kalau semua kebutuhan kalian ada… berarti semuanya baik-baik aja.”

Sunyi.

Tatapannya jatuh pada wajah putrinya yang pucat. "Ternyata Papa keliru, ya, Kak.” Jemarinya bergetar sedikit saat membelai rambut Tisya yang menempel di dahi.

Di luar ruangan, suara langkah kaki perawat lalu lalang terdengar samar. Namun di dalam sana, semuanya terasa hening dan berat.

Beberapa menit setelahnya, Tisya bergerak kecil. Kelopak matanya terbuka sedikit sebelum menatap buram ke arah papanya.

“Pa…” suaranya serak.

Nivean memandangi wajah pucat itu, senyumnya muncul, “Hey…” bisiknya lega. “Papa di sini.”

Tisya memandangnya beberapa detik dengan mata sayu. “Bunda?”

“Bunda nyusul bentar lagi,” jawab Nivean cepat sambil membenarkan selimut putrinya. 

Tisya tampak ingin bertanya lagi, tapi obat yang mengalir lewat infus membuat matanya terasa sangat berat. Dan perlahan, napasnya mulai teratur kembali.

Nivean mengusap pucuk kepala anaknya sebelum bersandar lelah di kursi samping ranjang.

Baru beberapa detik suasana hening, ponselnya kembali bergetar di atas nakas.

Nama sekretaris perusahaan muncul di layar. Nivean memejamkan mata sejenak sebelum mengangkat panggilan itu dan berjalan sedikit menjauh ke dekat jendela ruangan.

“Ya?”

“Pak Nivean?” suara perempuan di seberang terdengar lembut. “Saya mau konfirmasi soal meeting malam ini sama revisi proposal investor. Karena beberapa file belum masuk.”

Nivean menunduk pelan, suaranya terhembus berat saat menjawab, “Pixy… Tisya masuk rumah sakit.”

“Astaga…” nada suara perempuan itu berubah kaget. “Dia kenapa, Pak?”

Nivean memandang samar ke arah putrinya di balik tirai observasi. “Kemungkinan minum sesuatu yang gak seharusnya.” Giginya mengetat menahan emosi lagi. “Masih pemeriksaan lanjutan.”

“Ya Tuhan… Kalau gitu pekerjaan bisa dialihkan dulu ke lainnya.”

Nivean mengusap wajahnya kasar. “File-nya nanti saya kerjain malam ini.”

“Pak," sebut Pixylia terdengar lebih tegas dari sebelumnya, “Istirahat dulu.”

Nivean diam.

“Seriously,” lanjutnya. “Tenangkan diri Bapak dulu.”

Nivean terdiam lebih lama. Pandnagannya tertuju kosong ke arah parkiran rumah sakit di luar jendela.

“Aku tutup dulu,” gumamnya.

“Baik, Pak.” Pixylia berhenti sejenak sebelum menambahkan lirih, “Semoga Tisya cepat membaik.”

Panggilan terputus.

Nivean menurunkan ponselnya. Namun bahkan setelah layar itu gelap, ucapan Pixylia masih tertinggal di kepalanya.

Istirahat dulu.

Kalimat sederhana yang justru terasa asing. Kepedulian yang lama tak dia peroleh.

Pintu ruang observasi terbuka pelan, Nivean langsung menoleh. Azarin masuk sambil menggandeng tangan Saff. Putranya terlihat pucat dan diam sejak tadi, sementara Azarin sendiri terlihat lebih kusut dibanding beberapa jam lalu.

Mata mereka bertemu sesaat, tapi tak saling bicara.

Saff mendekat pelan ke ranjang kakaknya. Bocah itu memandangi Tisya yang tertidur dengan infus di tangan, lalu bibirnya bergerak tipis, “Kak…”

Azarin membantu Saff duduk di sofa kecil dekat ranjang, lalu menarik selimut tipis rumah sakit untuk menutupi tubuh anaknya.

Ruangan itu mendadak penuh oleh hawa lelah satu keluarga.

Hari mulai berganti malam. Lampu kamar perawatan diredupkan. Saff akhirnya tertidur sambil menyandar di sisi sofa.

Beberapa jam setelahnya, layar laptop Nivean kembali menyala di sofa ruang rawat. Cahaya putih itu memantul di wajahnya saat jemari mengetik pelan sambil sesekali menjawab email kantor. 

Tubuhnya ada di rumah sakit… tapi pikirannya memaksa kembali bekerja.

Azarin berdiri di dekat ranjang Tisya sambil menatap cairan infus yang menetes perlahan.

Tes.

Tes.

Tes.

Matanya sembab sejak tadi, tapi dia terus diam. Jemarinya sibuk membenarkan selimut Tisya yang sebenarnya sudah rapi, seolah mencari sesuatu agar dirinya tenang.

Sementara di belakangnya, suara ketikan laptop Nivean masih terdengar pelan.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Azarin menutup mata sebentar. Saff hampir kabur, Tisya masuk IGD dan suaminya… bekerja.

Napasnya mulai bergetar, dia menoleh perlahan. “Mas…” lirihnya.

Namun Nivean hanya menggumam pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Hm?”

Dan di situlah sesuatu dalam diri Azarin berontak, wajahnya menegas dingin. “Ini semua gara-gara kamu, Mas.”

Dhuar.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!