Halal tapi Asing
Nyaris
Ponsel di tanganku terus bergetar dan nama Kahfiel masih terpampang di layar.
Nivean menatapku lekat. “Siapa?” ulangnya, ada sedikit nada tegang di suaranya.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan lalu menggeser tombol hijau. “Halo?” cicitku ragu.
“Azarin?”
Napas pria di seberang terdengar sedikit terburu, membuatku berpikir yang tidak-tidak.
“Iya…”
“Maaf tiba-tiba nelepon.” Dia terdengar ragu beberapa detik sebelum lanjut bicara, “Aku tadi ngelihat Saff.”
“Apa, Saff?” lirihku diikuti mata yang membola.
Nivean yang berdiri di depanku langsung mengernyit tajam. “Saff kenapa?” tanyanya.
Aku sontak berdiri dari kursi, cemas mulai menggerogoti tubuhku yang sudah lemas.
“Saff kenapa?!” ulang Nivean kali ini lebih keras. Aku belum menjawab suamiku, kupusatkan telinga mendengar penjelasan Kahfiel.
Di ujung telepon, lelaki itu melanjutkan dengan nada hati-hati, “Dia naik angkot sendirian.”
“Na-ik… ang-kot?” gagapku karena suaraku tercekat di kerongkongan.
“Iya.” Terdengar suara klakson samar dari seberang sana, mungkin dia sedang di jalan. “Aku gak yakin dia sadar bahwa aku ngeliat dia. Saff duduk di belakang sambil bawa tas sekolah.”
Tanganku mulai dingin lagi. Ya Allah… “Mas…” bisikku sambil menatap suamiku yang wajahnya mulai berubah pucat.
“Ada apa sama Saff?!” Dia mendekat, duduk menempeliku.
Aku belum sempat menjawab karena suara di seberang kembali terdengar.
“Aku mau negur langsung tadi,” ujarnya pelan. “Tapi mukanya keliatan sedih, takutnya malah kabur kalau liat orang yang dia kenal," lanjutnya.
Napas Nivean mulai kasar melihat ekspresiku makin panik. “Rin, ngomong!”
Aku menutup mikrofon sebentar lalu menatapnya cemas. “Saff… katanya naik angkot sendirian.”
Deg.
Wajah Nivean mencelos beberapa detik. “Ke mana?” tanyanya lirih.
Aku menggeleng cepat lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga. “Dia turun di mana?” tanyaku buru-buru.
“Belum turun," lanjut Kahfiel. “Aku lagi ngikutin angkotnya dari belakang.”
Dadaku makin berdebar. "Ke arah mana?"
“Azarin…” panggilnya hati-hati. “Saff tertekan kah?"
Deg.
Di belakang kami, tirai ruang pemeriksaan mendadak terbuka bersamaan dengan suara dokter memanggil wali Tisya.
Kami menoleh bersamaan saat dokter muda itu keluar dari balik tirai sambil melepas sarung tangannya.
“Orang tua Tisya?” tanyanya cepat.
“Iya, Dok!” jawab kami hampir bersamaan.
Aku buru-buru menghampiri, sementara ponsel masih menempel di telinga. “Pak Kahfiel… tunggu bentar ya,” bisikku buru-buru sebelum menurunkan benda itu.
Dokter menatap kami bergantian, ekspresinya serius tapi masih tenang. “Untuk sementara tekanan darah Tisya turun, dan dia mengalami mual cukup berat. Kami juga sudah pasang infus.”
“Dia minum apa, Dok?” sela Nivean cepat. Wajahnya masih tegang sejak tadi.
Dokter mengembuskan napas pendek. “Kami belum bisa memastikan sebelum pemeriksaan lanjutan.” Tatapannya beralih padaku. “Tapi dari gejala awal, kemungkinan ada campuran zat tertentu di minumannya. Bisa alkohol, bisa juga zat lain.”
Tubuhku langsung melemas. Nivean membeku di sampingku. “Zat lain maksudnya apa?” tanyanya perlahan tapi nadanya terdengar cemas luar biasa.
“Kami belum bisa menyimpulkan.” Dokter buru-buru meluruskan. “Makanya kami sarankan agar melakukan pemeriksaan toksikologi sederhana dan observasi lebih lanjut.”
“Toksikologi…” ulangku pelan. Lidahku mendadak pahit.
“Iya, Bu.” Dokter mengangguk hati-hati. “Nanti dirujuk dulu ke poli anak dan kemungkinan konsultasi tambahan ke bagian psikiatri remaja kalau memang diperlukan.”
Deg.
Aku langsung menoleh ke arah Nivean.
Sorot mata suamiku berubah kosong beberapa detik. Seolah kata psikiatri remaja barusan menghantam sesuatu yang selama ini berusaha dia abaikan.
“Anak saya gak pake narkoba," selanya cepat, sorot matanya mulai menajam lagi.
Dokter itu mengangguk tenang. “Kami belum bilang begitu, Pak," jelasnya dengan nada tenang. “Tapi anak seusia remaja yang mengalami tekanan emosional cukup berat kadang rentan mencoba sesuatu tanpa tahu risikonya.”
Aku menunduk, tekanan emosional, katanya. Aku bagai ditampar menggunakan telapak tangan Tisya langsung. Perih.
Ponsel di tanganku masih tersambung. Samar-samar aku bahkan bisa mendengar suara mesin motor dari seberang.
“Mbak Azarin?” panggil Kahfiel pelan. “Kamu masih di sana?”
Aku tersentak cepat lalu kembali mengangkat ponsel ke telinga. “Iya…”
“Angkotnya belok ke arah terminal lama. Dan… Saff turun.”
Jantungku langsung berdetak keras lagi. “Turun?” bisikku panik.
“Iya.” Terdengar suara pintu mobil dibuka dari seberang sana. “Dia jalan sendirian.”
Nivean langsung menoleh tajam begitu mendengar bisikan panikku. “Saff ke mana?!” tanyanya, mencengkram lenganku.
Aku belum sempat menjawab karena suara Kahfiel mendadak menghilang, seperti sedang memperhatikan sesuatu dari jauh.
“…Mbak Azarin,” ujarnya perlahan, suara yang sudah berat itu bercampur cemas, bulu kudukku sontak berdiri.
“Saff sekarang menuju loket bus luar kota.”
Dhuar!
Aku langsung membeku.
“Luar kota?” ulangku lirih tak percaya. Aku celingukan mencari tasku, ingin segera pergi menyusulnya.
Nivean yang berdiri di sampingku langsung meraih bahuku. “Saff di mana?!” tanyanya makin panik.
Di ujung telepon, suara Kahfiel terdengar naik turun, seperti sedang mengejar Saff agar tak kehilangan jejak. “Eh bentar…” selanya, "kayaknya gak bisa naik bus, ditanya identitas," sambung Kahfiel.
Aku mengembuskan napas seraya mengusap wajah, meski jantungku masih berdetak kacau.
“Tolong ikutin terus, tolong…” pintaku lirih.
“Iya.”
Aku bisa mendengar suara riuh terminal, percakapan orang-orang di sana, klakson bus juga seruan dari speaker soal keberangkatan armada di lajur-lajur sesuai rute.
Lelaki itu kembali bicara, “Kayaknya dia bingung mau ke mana.”
“Dia ngomong sesuatu?” tanyaku cepat.
“Enggak.” Kahfiel menghela napas. “Dia duduk di kursi tunggu depan loket, sambil meluk tasnya,” jelasnya.
Deg.
“Mas…” sebutku lemah, apalagi melihat wajah Nivean yang berubah pucat dalam sekejap.
“Aku rasa…” Kahfiel terdengar ragu melanjutkan kalimatnya, “dia mau pergi keluar kota tadi.”
Rasanya darahku langsung surut dari kepala. Kosong, membuatku merasa pusing hebat. Ya Allah…
“Tapi gak jadi naik,” lanjutnya cepat. “karena masih di bawah umur, harus dengan izin wali," tebak Kahfiel.
Nivean terduduk lemas, menunduk sambil mengusap wajahnya kasar. Aku bahkan bisa melihat jemarinya sedikit gemetar.
“Sekarang dia di mana?” tanyaku serak.
“Masih di terminal.”
“Aku ke sana. Jagain dia sampai aku datang,” pintaku sambil bangkit dan mengeluarkan kunci mobil dari tas.
Panggilan itu aku akhiri, lalu Kahfiel mengirim foto dimana anakku duduk. Terlihat jelas bahwa posisi Kahfiel tepat di belakang Saff.
Aku mengusap layar melihat Saff yang terduduk bingung di sana, air mataku jatuh membasahi ponsel. Putraku yang ini memang perasa sekali, dia pasti ingin curhat ke makam neneknya, almarhum mama.
Kuputuskan menyusul Saff, meski seharusnya Nivean yang pergi. Tapi formulir pemeriksaan lanjutan Tisya membutuhkan persetujuannya di rumah sakit.
Kupacu mobil sekencang yang kubisa, hingga beberapa menit kemudian aku tiba di sana. Namun, tak kutemukan keduanya di lokasi foto terakhir Kahfiel.
Aku meraih ponsel, ternyata ada beberapa pesan Kahfiel yang belum terbaca. Dahiku berkerut saat membaca, ["Naik angkot lagi. Ke arah hutan kota."]
Aku gegas ke parkiran, berjalan cepat sambil membaca pesan lainnya.
Sesampainya di sana. Aku menelpon Kahfiel, kuikuti arahannya hingga tiba di satu titik.
"Ya Allah...."
Saff duduk memeluk lututnya di bawah pohon besar, menatap kosong ke permukaan danau. Sementara di kejauhan, Kahfiel berdiri beberapa meter darinya, tak berani mendekat.
.
.