Halal tapi Asing

Ngamuk

Perempuan itu langsung salah tingkah. “Nala…”

Sebelum aku bertanya lebih lanjut, suara laki-laki terdengar dari arah meja belakang.

“Anjir ternyata manggil ortu beneran.”

Aku menoleh. Tiga anak laki-laki duduk sambil tertawa dengan botol minuman berjejer di meja mereka. Salah satunya bersandar santai sambil memainkan korek api.

Sorot mata Nivean langsung berubah gelap. Aku bahkan bisa merasakan tubuh suamiku menegang di sampingku.

“Mas…” panggilku sambil memegang lengannya, takut emosinya meledak di tempat umum.

Namun salah satu dari mereka malah cengengesan, “Kita gak ngapa-ngapain kali, Om,” katanya enteng. “Dia aja yang panikan.”

Aku melihat rahang Nivean mengeras begitu kuat sampai pelipisnya berdenyut samar. Lalu perlahan… dia mendekat.

“Maaass…” sebutku lebih pelan karena mulai takut.

Tapi suamiku tetap melangkah ke arah meja mereka sambil membuka jam tangannya perlahan.

Aku menahan langkah Nivean dengan jantung berdegup keras. “Mas…” bisikku sambil menarik ujung lengannya. “Jangan…”

Namun, dia tetap berhenti tepat di depan meja mereka. Sorot matanya dingin sekali saat menatap mereka satu per satu.

Ketiga anak laki-laki tadi mulai saling melirik. Tawa mereka perlahan menghilang saat melihat sosok Nivean berdiri menjulang di depan meja.

“Om…” salah satu dari mereka berdeham kecil, mencoba terdengar santai. “Kita gak ngapa-ngapain kok.”

Nivean menatap botol-botol minuman di meja mereka satu per satu sebelum akhirnya mengangkat wajah.

“Umur kalian berapa?” tanyanya datar.

Tidak ada yang menjawab, malah salah satu dari mereka menunduk.

“Aku nanya.” Nada suara Nivean rendah, tapi intonasinya menusuk, tembus sampai ke tengkuk. “Umur kalian berapa?”

“Delapan belas…” gumam salah satunya lirih.

“Bohong.” 

Anak itu langsung diam. Tisya masih menangis sambil memeluk lenganku. Tubuhnya lemas sekali sampai aku harus menopang pundaknya.

“Ada yang nyuruh kalian bawa anak SMP bolos sekolah ke tempat beginian?” tanya Nivean lagi.

“Kita cuma nongkrong, Om,” sahut laki-laki berjaket hitam sambil mengangkat bahu. “Dia ikut sendiri.”

Jawaban bocah itu sukses membuat emosi Nivean makin naik. “Dia anak gue!” Jarinya menekan permukaan meja, matanya tak berkedip sama sekali.

Seluruh cafe langsung sunyi.

“Ada apa rame-rame ini?” Seorang pria dewasa berkaus hitam buru-buru datang dari arah kasir.

Aku menarik Tisya sedikit menjauh saat melihat napas Nivean mulai kasar.

“Pak, mohon tenang dulu,” ujar pria itu hati-hati.

Nivean menoleh padanya, sorot matanya masih kelam. “Tenang?” ulangnya sambil menunjuk Tisya yang masih gemetaran. “Anak saya dibawa bolos tiga hari. Entah dicekokin apa. Dikunci ketakutan di toilet.” Rahangnya mulai mengeras lagi. “Dan Anda minta saya tenang?”

Pria itu langsung pucat.

“Mas…” panggilku pelan sambil menyentuh punggung Nivean. “Pulang aja dulu…”l

Aku takut terjadi sesuatu. Tatapan suamiku benar-benar seperti orang yang tinggal selangkah lagi meledak.

Namun sebelum suasana tenang, tubuh Tisya mendadak limbung di sampingku.

“Ka!” seruku panik, sempoyongan memegangi Tisya.

“Aku…” wajah Tisya makin pucat, sambil memijit kepalanya. “Mual…”

Bruk!

“TISYA!” jeritku histeris.

Sebelum tubuh Tisya membentur lantai, lelaki itu langsung menangkap putrinya dengan kedua tangan. Kursi di dekat meja sampai bergeser keras karena gerakannya yang buru-buru.

“TI-SYA!” 

Aku ikut jongkok di samping mereka dengan napas memburu. Wajah Tisya pucat sekali. Bibirnya bahkan mulai kehilangan warna.

“Ka… sayang…” Jemariku menepuk pipinya pelan. “Liat Bunda… ayo buka mata…”

Tisya meringis kecil sambil memegang perutnya. “Mual…” gumamnya lemah.

“Dia minum apa?” bentak Nivean menoleh tajam ke arah meja anak-anak tadi.

Ketiganya tergagap, saling pandang satu sama lain. “Cuma soda, Om!” jawab salah satu dari mereka cepat.

“BULLSHIT” amuk Nivean, suaranya menggelegar ke seisi cafe.

Pria dewasa dari kasir tadi buru-buru mendekat. “Pak, lebih baik dibawa ke rumah sakit dulu.”

“Iya!” seruku, sambil memegang bahu Tisya yang mulai lunglai. “Mas ayo…”

Namun sebelum kami berdiri, Tisya tiba-tiba mencengkeram kemeja Nivean dengan sorot mata memelas, “Papa…” napasnya terdengar berat dan matanya setengah terpejam. “Jangan marah…”

Suara lemah Tisya membuat ekspresi Nivean berubah total. Semua kemarahan yang tadi terlukis di wajahnya mendadak runtuh begitu saja.

“Papa gak marah,” ujarnya parau seraya mengusap rambut anak kami yang berantakan. “Papa cuma takut.”

Dan ya Allah… aku belum pernah melihat Nivean setakut ini.

Tisya berkaca-kaca menatap papanya. “Aku kira…” keluhnya melemah, “Papa udah gak peduli…”

Deg.

Napas kami tercekat. Aku menutup mulut, menahan tangis yang langsung naik ke tenggorokan. Sementara lelaki di depanku itu membeku memandang putri kami. Tatapannya hancur perlahan, seperti baru sadar seberapa dalam luka yang tertoreh tanpa kami sadari.

“Hey…” bisiknya tercekat sambil mengangkat tubuh Tisya perlahan ke pelukannya. “Jangan ngomong gitu.”

Tisya memejamkan mata lemah di dada papanya. “Aku capek…” lirihnya.

“Mas…” sebutku saat tubuh Tisya kian lunglai.

Suamiku bangkit sambil menggendong Tisya ke dalam pelukannya. Wajahnya pucat, tapi langkah Nivean cepat dan mantap.

“Rumah sakit. Sekarang.”

Aku buru-buru mengikuti mereka keluar cafe. Namun saat melewati meja anak-anak tadi, dia berhenti sepersekian detik. Ia menoleh pelan, diikuti sorot mata yang tajam dan dingin.

“Kalau sampai anak saya kenapa-kenapa…” ucapnya lirih, tapi cukup membuat ketiga anak itu menegang ketakutan, “kalian gak akan bisa sembunyi!”

Glek!

Dia tak menunggu jawaban, langkahnya panjang membawa putri kami yang mulai tak sadarkan diri.

Pintu mobil dibuka keras begitu kami sampai di depan IGD. 

“Permisi! Tolong!” seruku panik masuk ke ruangan.

Beberapa perawat buru-buru datang membawa kursi roda, tapi Nivean menggeleng cepat. “Dia lemes,” ujarnya tegang. “Tolong cek sekarang.”

“Tolong baringkan dulu, Pak,” ujar salah satu perawat.

Aku berdiri di samping ranjang dorong saat tubuh Tisya dipindahkan perlahan. Jemariku terus mengusap kakinya yang dingin.

“Tisya…” panggilku lirih sambil menahan tangis. “Bunda di sini…”

Kelopak mata anakku bergerak samar. Nivean berdiri tepat di sisi ranjang dengan napas berat. Tangannya masih mengepal sejak tadi, seolah menahan diri agar tidak kembali meledak.

Dokter muda mulai memeriksa Tisya sementara kami diminta menunggu di luar tirai pembatas.

Baru beberapa langkah menjauh, tubuhku langsung terasa limbung. Aku duduk lemas di kursi lorong IGD sambil menutup wajah.

Ya Allah… jangan sampai terjadi apa-apa sama anakku.

Nivean berdiri di depanku sambil mengacak rambutnya frustrasi. Kemeja kerjanya kusut, napasnya masih naik turun tak stabil.

“Aku harusnya sadar dari awal,” gumamnya serak. “Dia berubah, Rin… tapi aku malah sibuk sama diri sendiri.”

Aku menggeleng sambil menghapus air mata. “Aku juga salah…”

Sunyi sebentar.

Suara monitor medis dan langkah kaki perawat berlalu lalang memenuhi lorong rumah sakit yang dingin itu.

Lalu tiba-tiba… Ponselku bergetar.

Jantungku seakan berhenti sepersekian detik saat melihat nama itu muncul di tengah kekacauan hari ini.

Nivean yang berdiri di depanku langsung menyadarinya. Keningnya mengernyit melihat wajahku berubah pucat. “Siapa?” tanyanya curiga.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!