Halal tapi Asing
Ketakutan Nivean
“Nobody’s gonna hurt you, Kak. Denger Papa,” ujarnya berubah jauh lebih tenang sekarang. Tatapannya lurus ke jalan, rahangnya masih kaku. “Kunci pintunya. Jangan buka buat siapa pun selain Bunda atau Papa.”
Aku buru-buru mengusap air mata sambil menggenggam ponsel erat-erat. “Tarik napas dulu, sayang… tarik napas pelan,” sambungku, berusaha tetap stabil walau dadaku sendiri nyeri.
Di seberang sana, suara Tisya terdengar kacau. Napasnya pendek-pendek seperti habis berlari.
“A-aku pusing…” gumamnya.
“Jangan tidur!” sela Nivean cepat sampai aku ikut menoleh. Jemarinya mencengkeram setir makin kuat. “Tisya, liat Papa... eh, denger Papa,” katanya buru-buru membetulkan ucapan karena terlalu panik. “Tetap sadar. Ngobrol sama Papa.”
Aku membuka maps lagi sambil menggigit bibir kuat-kuat. Ada tiga cabang Lunara muncul di layar. Tanganku sampai berkeringat dingin.
“Ka,” panggilku hati-hati. “Kamu lihat apa dari toilet? Ada tulisan? Mall? Ruko? Apa aja?”
Jeda.
Lalu, “Aku… aku lihat neon ungu…”
“Apalagi?” tanyaku cepat.
“Sebelahnya…” napasnya tersendat lagi. “Kayak tempat billiard…”
Nivean langsung melirik sekilas ke arah layar ponselku. “Yang daerah pusat kota,” gumamnya. “Lunara yang deket Arcade Nine.”
Aku mengangguk, dan Nivean langsung membelokkan mobil tajam sampai tubuhku ikut terdorong ke samping.
Ciiittt.
“Mas pelan!” seruku refleks sambil berpegangan di dashboard.
“Gak bisa pelan!” balasnya tegang. Ada nada takut ketakutan di suaranya kali ini.
Di ujung telepon, suara Tisya mendadak menurun. “Bun…”
“Iya sayang?” jawabku cepat.
“Maaf…”l
Dadaku langsung mencelos.
“Aku cuma…” isaknya muncul lagi. “Aku cuma pengen pergi bentar aja…”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. “Kenapa gak cerita sama Bunda?” lirihku menyesal.
Tisya terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab ragu-ragu, “Karena di rumah…” napasnya bergetar, “semuanya lagi sibuk sedih masing-masing.”
Kalimat itu menghantam telak kami berdua. Kulirik tangan Nivean di atas setir langsung melemah sepersekian detik sebelum kembali kaku. Sorot matanya kosong, tertampar sesuatu yang sangat menyakitkan.
Ya Allah. Anakku merasa sendirian… padahal kami serumah.
Tiba-tiba terdengar suara gedoran dari ujung telepon.
“Woy! Tisya!” suara laki-laki itu terdengar dari luar toilet. “Keluar lah. Drama banget.”
Tubuhku disergap rasa dingin, apalagi mendengar tangisan Tisya. “Papa…”
“Denger Papa," ucapnya tegas dan dalam, dia sedang mati-matian menahan amarah. “Jangan buka pintunya.”
Gedoran itu terdengar lagi. Brak. Brak.
“Keluar bentar doang napa!”
Aku sampai refleks memegang lengan Nivean kuat-kuat.
Mobil melesat memotong jalan raya. Lampu merah nyaris diterobos kalau saja Nivean tidak menginjak rem mendadak dengan napas kasar.
“Kita hampir sampai,” ujarnya cepat sambil kembali menekan gas.
Di seberang sana, suara Tisya makin kacau.
“Papa…” isaknya histeris. “Aku takut mereka marah…”
“Mereka gak akan nyentuh kamu.” Rahang Nivean mengeras, giginya ikut mengerat. “Papa yang bakal hadapin," pungkasnya geram.
Setelah sekian lama, aku mendengar lagi nada protektif itu darinya, intonasi yang dulu selalu membuatku merasa aman.
Namun, sebelum kami sempat bernapas lega, suara Tisya mendadak berubah panik.
“Papa…”
“Apa?”
“Pintunya…” napasnya memburu cepat.
Gedoran keras kembali terdengar. BRAK!
Lalu suara seseorang mengumpat kasar dari luar. “Kuncinya rusak anjir. Bisa dibuka.”
"PAPAAAAAAAAA!"
“MAAASS CEPEEETTTT!” jeritku sambil menggoyangkan lengan Nivean lalu pegangan pada tuas di atas kepala.
Mobil langsung melesat brutal begitu lampu berubah hijau. Mesin meraung keras membelah jalan raya, sementara Nivean menatap lurus ke depan dengan wajah panik bercampur takut kehilangan.
“Tisya!” panggilnya keras ke arah speaker ponsel. “Denger Papa! Cari apa aja buat ganjel pintunya!”
Di ujung sana terdengar suara barang bergeser disusul isak tangis anakku yang makin kacau.
“Aku gak kuat…” ucapnya kelelahan. “Mereka gedor terus…”
“KAK!” seruku dengan napas yang tersengal. “Masuk ke bilik paling ujung. Kunci lagi kalau bisa.”
Brak! Suara hantaman lain terdengar dari seberang telepon.
“Heh buka lah! Kita cuma becanda!”
“Becanda pala lu!” sembur Nivean tiba-tiba sampai aku ikut tersentak. Tangannya menghantam klakson keras-keras saat menyalip mobil di depan. “TISYA, JANGAN JAWAB MEREKA!”
Aku bisa mendengar napas Tisya tercekat-cekat di sela tangis.
“Papa…” suaranya lemah sekali. “Aku mau pulang…”
Kakiku lemas sudah, pikiran semrawut, belum lagi kami seolah sedang menantang maut, ngebut ugal-ugalan.
“Iya,” ucap Nivean tercekat, “Papa jem-put. Pa-pa jemput sek-arang.”
Mobil membelok tajam memasuki jalan pusat kota. Lampu neon mulai ramai di kanan kiri. Aku buru-buru melihat maps lagi sambil gemetar.
“Mas lurus… habis itu kiri,” ujarku, menoleh cemas padanya.
Nivean tidak menjawab. Fokusnya penuh ke jalan, sampai urat di lehernya menegang keras.
Di seberang sana tiba-tiba terdengar suara ceklek.
“WOI KEBUKA!”
Tubuhku langsung dingin.
“TISYA!” teriakku.
Anakku menjerit, tepat saat mendengar suara langkah kaki mendekat dan bunyi pintu dibanting memenuhi speaker.
“Mas…” racauku memegang dadaku sendiri. "Mas, nggak boleh, nggak boleh. Tisya!"
“Mana cafenya?!” bentaknya frustrasi mendengar ocehan ngawurku.
“Itu!” tunjukku ke deretan ruko dengan neon ungu menyala terang di kejauhan.
Tulisan LUNARA tampak berkedip samar di lantai dua bangunan. Nivean langsung membanting setir ke kiri sampai ban mobil berdecit kasar.
Ciiittt!
Mobil berhenti miring di depan cafe. Belum sempat mesin mati sempurna, Nivean sudah membuka pintu keras-keras lalu berlari keluar.
Brak!
“MAS!” seruku panik buru-buru menyusul.
Musik berdentum dari dalam cafe begitu pintu terbuka. Aroma asap rokok dan alkohol langsung menusuk hidungku sampai mual.
Beberapa remaja menoleh malas ke arah kami.
“TISYA MANA?!” suara Nivean menggelegar memenuhi ruangan sampai musik pun terasa kalah keras.
Dari lorong samping dekat toilet, muncul Tisya dengan hoodie berantakan dan wajah sembab penuh air mata. Anakku berlari ke arah kami, tubuhnya gemetar hebat.
“PAPA!”
“TISYA!”
Nivean langsung menangkap tubuh putri kami yang nyaris jatuh itu ke dalam pelukannya. Tangannya melingkar cepat, erat sekali, seolah takut anaknya bakal lenyap.
Tisya menangis tersedu di dada papanya. Bahunya berguncang hebat sampai aku ikut gemetar melihatnya.
“Papa…” isaknya patah-patah. “Papa maaf…”
“Shh…” Nivean mengusap belakang kepala anak kami berkali-kali. Napasnya sendiri masih belum stabil karena ketakutannya tadi. “Udah… udah… Papa di sini.”
Aku buru-buru mendekat lalu memegang pipi Tisya yang dingin. Wajahnya pucat sekali.
“Ya Allah…” bisikku lirih sambil menyeka air matanya cepat-cepat. “Kamu diapain, Kak?
Tisya menggeleng sambil tetap memegangi kemeja Nivean kuat-kuat seperti anak kecil yang ketakutan.
“Dia muntah tadi,” suara perempuan terdengar dari belakang.
Aku menoleh.
Seorang perempuan berambut pendek berdiri canggung dekat lorong toilet. Usianya mungkin sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Wajahnya tampak panik melihat Tisya dipeluk erat ayahnya.
“Tadi dia pucet banget,” lanjutnya pelan. “Makanya aku pinjemin HP…”
“Kamu siapa?” tanya Nivean datar tanpa melepas pelukan dari Tisya.
.
.