Halal tapi Asing

Kepanikan Melanda

Di seberang sana, napas Tisya terdengar memburu. Dentuman musik menghantam samar dari telepon, bercampur suara gelas beradu dan tawa beberapa orang yang membuat tengkukku meremang dingin.

“Ka…” panggilku lagi sambil berjalan mondar-mandir di dapur. Jemariku sampai gemetar menggenggam ponsel. “Jawab Bunda, kamu di mana?” tanyaku panik.

Terdengar bunyi grasak-grusuk, sepertinya Tisya menutup mikrofon sebentar. Samar-samar ada suara perempuan lain berkata padanya, “Udah ayo balik masuk.”

Beberapa detik kemudian, suara anakku kembali terdengar. 

“Aku… aku ikut temen,” ujarnya gemetar lirih disela isak.

“Temen siapa?” sela Nivean langsung mendekat ke ponsel di tanganku, wajahnya tampak pucat. “Kasih HP-nya ke orang dewasa di sana,” katanya tegas.

Bukannya menjawab, Tisya malah menangis makin jelas. “Papa jangan marah dulu…” isaknya terbata. “Aku takut…”

Dadaku seperti diremas, susah payah menelan ludah agar suaraku terdengar stabil, “Nobody’s gonna yell at you, Kak.” Aku buru-buru menenangkan sambil menahan panik. “Dengerin Bunda ya… sekarang bilang tempatnya di mana,” pintaku pelan.

Sunyi beberapa detik. Lalu suara Tisya kembali terdengar, “Cafe…” jawabnya lirih. “Aku gak tahu nama jalannya.”

Nivean langsung mengusap wajahnya kasar lalu mengambil napas panjang seolah sedang memaksa dirinya tetap tenang.

“Nih HP siapa yang kamu pakai?” tanyanya lagi.

“Punya Kak Nala…”

“Mana orang tuanya?” suara Nivean mulai berubah tegang.

“Gak ada…”

Deg.

Aku spontan menutup mulut, lututku langsung melemas.

Ya Allah…

“Tisya.” Nivean kini berdiri di sampingku. Rahangnya mengeras sampai urat di lehernya terlihat. “Kamu pergi sama siapa aja?” tanyanya pelan, aku tau dia sedang menahan emosi yang nyaris meledak.

Anakku sesenggukan di ujung sana sebelum menjawab dengan suara gemetar, “Aku… sama beberapa kakak SMA…”

Rasanya dunia di sekelilingku mendadak berputar cepat. Aku limbung sampai harus berpegangan pada sisi meja makan. Nivean sempat menahan siku lenganku dengan satu tangan, walau wajahnya sendiri sangat gelisah.

“Denger Papa baik-baik,” ujarnya tegas sambil meraih kunci mobil di meja dengan gerakan cepat. “Kamu jangan pergi ke mana-mana. Share lokasi sekarang.”

“Aku gak bisa…”

“Kenapa gak bisa?!” nada suara Nivean akhirnya meninggi.

Tisya langsung terisak lagi. “HPku mati…” katanya terbata. “Dan… dan aku gak tahu ini daerah mana…”

Suara gaduh mendadak terdengar makin dekat dari seberang telepon.

“Heh, masih nelepon mamanya?” suara laki-laki asing terdengar samar disusul tawa beberapa orang lain.

Tubuh Nivean langsung membeku. Sorot matanya berubah gelap dalam sekejap. Sementara darahku berdesir hebat saat mendengar Tisya menangis pelan lalu berbisik gemetar, “Bun…” napasnya tersendat-sendat, “Aku pengen pulang…”

“Yaudah pulang sana,” suara laki-laki tadi terdengar lagi di kejauhan. Disusul tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. “Nangis mulu.”

“Tisya!” sembur Nivean sampai aku ikut tersentak. “Denger Papa. Sekarang keluar dari tempat itu.”

Aku bisa mendengar napas Tisya memburu di ujung telepon. Seakan menahan panik sendirian di tengah keramaian yang asing.

“Aku takut…” cicitnya lagi.

“Liat sekitar kamu,” ujarku lugas. “Ada tulisan apa? Nama cafe? Banner? Apa aja, Kak.”

Terdengar suara kursi bergeser lalu langkah kaki tergesa. Musik di belakangnya perlahan mereda, Tisya mungkin berjalan menjauh.

Namun tiba-tiba... “Eh mau ke mana?”

Suara laki-laki lain terdengar, jantungku berdetak makin kencang sampai napas pun terasa berat.

“Ke toilet,” jawab Tisya dengan suara gemetar.

Aku dan Nivean saling menatap. Wajah suamiku sudah benar-benar pucat sekarang.

“Bagus. Tetap jalan,” bisik Nivean cepat ke arah speaker ponsel. “Cari tempat terang, tanya siapapun di sana.”

Aku buru-buru mengambil tas, tanganku bergetar hebat sampai kunci mobil jatuh dua kali ke lantai.

“Ya Allah…” lirihku frustrasi sambil jongkok memungutnya.

Nivean langsung merebut kunci itu dari tanganku. “Aku yang nyetir,” sambarnya.

Di seberang sana, suara Tisya terdengar tersengal. “Bun…” isaknya, “Aku gak enak badan…”

Deg.

“Kenapa?!” tanyaku panik.

“Aku pusing…”

Nivean langsung meraih ponsel lebih dekat. “Tisya.” Suaranya mulai serak. “Kamu minum apa?”

Suara napas Tisya mulai memburu.

“Nak,” panggilku pelan, kali ini suaraku ikut parau karena mulai takut dengan kemungkinan yang tergambar di kepala kami. “Kamu minum apa?”

“Cuma soda…” jawabnya lirih. “Katanya soda…”

Kulihat jemari Nivean langsung mengepal keras sampai buku-buku jarinya memutih. Dan sebelum kami sempat bicara lagi, suara Tisya mendadak terdengar panik.

“Bun…” napasnya memburu cepat. “Mereka nyariin aku…”

“Tisya, jangan tutup teleponnya!” seruku gegas mengikuti Nivean ke garasi. Kakiku terasa lemas sendiri sampai beberapa kali hampir tersandung sandal.

Di depan, Nivean membuka pintu mobil begitu keras sampai membentur tembok garasi.

Brak!

“Mas…” sebutku panik.

“Masuk,” ujarnya cepat sambil menyalakan mesin mobil dengan tangan gemetar.

Aku buru-buru masuk ke kursi penumpang sambil tetap menempelkan ponsel ke telinga. Dadaku berdebar keras bagai digedor-gedor.

“Tisya…” panggilku lebih lembut. “Denger Bunda ya, jangan balik ke meja mereka.”

Suara anakku terdengar tersengal di ujung sana, seperti sedang berjalan cepat.

“Aku di lorong…” bisiknya serak.

“Bagus.” Nivean langsung menekan gas, mobil mundur kilat dari garasi. Wajahnya masih tegang penuh konsentrasi. “Cari pintu keluar.”

“Tapi…” cicitnya. “Aku takut sendirian…"

“Kamu gak sendirian.” Aku buru-buru menenangkan meski air mataku mulai menggenang di pelupuk. “Papa sama Bunda lagi jemput kamu sekarang.”

Mobil melaju lebih cepat keluar komplek. Jemari Nivean mencengkeram setir begitu kuat sampai urat di tangannya terlihat jelas.

“Tanya nama tempatnya ke orang-orang,” ujar Nivean tegas tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Siapa aja. Kasir. Satpam. Siapa pun.”

Terdengar suara langkah dan napas Tisya yang terengah-engah.

“Maaf…” suaranya terdengar mengecil, mungkin sedang bertanya pada seseorang. “Ini cafe apa ya?”

Kemudian suara perempuan asing menjawab samar, “Lunara.”

Nivean langsung menoleh cepat ke arahku. “Lunara mana?” tanyaku panik.

“Cari di maps!” sergah Nivean, menatap tajam padaku.

Tanganku gemetar hebat saat membuka ponselnya. Jemariku bahkan salah mengetik dua kali karena terlalu panik.

Cafe Lunara, dan muncul beberapa cabang.

“Yang mana?!” bisikku frustrasi.

Di seberang sana, suara gaduh mendadak mendekati Tisya.

“Heh!” suara laki-laki tadi terdengar kasar. “Ngapain lama banget?”

Aku langsung merinding.

“Kak,” ujar Nivean cepat, kali ini nadanya berubah sangat tenang. “Denger Papa baik-baik. Kamu sekarang masuk toilet perempuan. Kunci pintunya.”

“Tapi—”

“SEKARANG, TISYA!”

Aku tersentak mendengar bentakan itu. Dan di ujung sana terdengar suara bedebum lalu pintu dibanting cepat.

Brak!

Beberapa detik kemudian, isakan Tisya yang putus asa memenuhi mobil kami.

“Aku takut…” rintihnya dalam tangis. “Papa… aku takut…”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!