Halal tapi Asing
Cicitan Scarletisya
“Tisya mana?” tanya Nivean.
Aku menjawab lirih, “Berangkat sama temennya.”
Tatapan Nivean masih lurus ke arah pagar yang kini sudah sepi. Otot rahangnya bergerak samar, seperti menahan sesuatu yang ingin diucapkan.
“Dia gak pamit ke aku,” gumamnya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena kalau dipikir-pikir… bukankah beberapa bulan terakhir Nivean juga sering pergi tanpa pamit pada kami?
“Mas…” Aku menyentuh lengannya pelan. “Pelan-pelan aja, ya.”
Nivean mengangguk meski sorot matanya tampak kecewa. Setelah itu dia berangkat kerja dan aku mengantar Saff, karena keduanya berlawanan arah.
Sejak pagi dadaku terasa tidak tenang, seperti akan ada sesuatu yang terjadi tapi tak tahu apa.
Tiga hari terakhir, ada yang berubah dari kebiasaan pagi di rumah kami.
Tisya mulai jarang mau diantar. Hampir setiap pagi, mobil kecil berwarna putih itu datang menjemputnya tepat setelah sarapan. Kadang berisi dua teman perempuan yang ramai tertawa, atau satu orang di kursi depan sambil memainkan klakson pendek dari luar pagar.
Aku tak berpikir macam-macam sebab ada supir yang mengantar mereka. Setidaknya anak-anak itu dalam pengawasan orang dewasa.
Namun, setiap kali aku menawarkan bekal atau sekadar ingin mengusap rambutnya sebelum berangkat, Tisya selalu terburu-buru.
“Aku telat, Bun.”
“Aku jajan aja nanti.”
“Atau “udah ya.”
Aku sempat merasa lega karena setidaknya Tisya mulai punya teman cerita di luar rumah. Setelah berbulan-bulan melihat anakku lebih banyak diam dan mengurung diri, tawanya bersama teman-temannya terdengar seperti kabar baik.
Meski begitu… hatiku tetap gelisah karena semakin hari, anak perempuanku justru terasa makin jauh dari rengkuhanku.
Dan pagi di hari ketiga itu, kegelisahan kecil tersebut akhirnya berubah menjadi seperti kekuatiranku.
Ponselku bergetar saat aku sedang melipat cucian di ruang tengah.
Aku langsung mengangkatnya, “Halo?”
“Selamat siang, Ibu Azarin?” suara perempuan di seberang terdengar sopan.
“Iya, betul.”
“Saya wali kelas Tisya, Bu.” Nada suaranya terdengar hati-hati. “Mohon maaf mengganggu, saya ingin memastikan… apakah Tisya sedang sakit?”
Keningku langsung berkerut. “Enggak, Bu. Tadi dia berangkat sekolah,” jelasku mulai curiga.
Sunyi sepersekian detik di seberang sana.
“Oh…” suara wali kelasnya melemah sedikit. “Karena sampai jam pelajaran kedua, Tisya belum masuk kelas. Dan kami juga belum menerima izin dari orang tua.”
Rasanya darahku langsung melorot semua ke kaki membuat tubuhku berat.
“M-maaf. Gimana, Bu?” cicitku tak percaya.
“Mohon maaf Bu, Tisya hari ini tidak masuk sekolah. Tadi kami cek ke kelas, Tisya tidak ada sejak pagi.”
Tanganku langsung dingin. “Tapi… tadi dia berangkat,” gumamku bingung sambil berdiri cepat dari kursi.
“Apakah Tisya izin sakit atau ada keperluan lain?”
Aku memejamkan mata beberapa detik. Bayangan selama tiga hari ini berputar cepat di kepala. Honda Brio putih dan tawa teman-temannya.
Ya Allah.
“Bu?” panggil suara di seberang lagi.
“Iya…” napasku mulai tidak beraturan. “Sudah berapa hari?” tanyaku takut, jantung ikut berdebar kencang.
"Tiga hari, Bu," pungkas sang wali kelas.
Aku bingung harus menjawab apa. Sebelum telepon kututup, aku mengucapkan terima kasih dan berjanji akan bertanya baik-baik pada Tisya jika pulang nanti.
Tubuhku mematung di tengah dapur sambil menggenggam ponsel erat-erat. Kepalaku dipenuhi kemungkinan buruk dalam hitungan detik.
Pergi ke mana?
Kenapa bolos?
Tanganku gemetar saat buru-buru membuka kontak Tisya lalu menekan panggilan.
Tidak aktif.
Sekali lagi.
Tetap tidak aktif.
Aku memijat pelipis, napasku baik turun mulai sesak. Kugigit bibir bawah, “Ya Allah…” lirihku sambil meraih hijab instan di kursi. Jemariku sampai salah menusukkan peniti karena terlalu panik. "Awh!"
Kuabaikan perih tertusuk jarum, jariku pun lincah menggulir layar ponsel menelpon Nivean.
Baru dering kedua, terdengar suara Nivean dari ujung sana, “Halo?”
“Mas…” bisikku parau, suaraku terdengar panik. “Tisya gak masuk sekolah.”
Sunyi sepersekian detik.
“Apa?"
“Tadi sekolah nelepon.” Napasku memburu sekarang. “Dia bolos sudah 3 hari.”
“Rin, maksudnya gimana?” suara Nivean berubah tegang.
“Aku gak tahu…” Mataku mulai berkaca-kaca. “Dia selalu berangkat sama temennya setiap pagi,” sesalku baru menyadari kenapa aku tak bertanya soal mereka ke Tisya.
“Temen siapa?”
“Aku gak kenal.”
“Kenapa kamu lepas gitu aja?!” bentaknya, menggelegar di telinga.
Aku terdiam, rasanya bagai disentak Nivean di depan muka. Namun sebelum tangisku pecah, suara Nivean melembut.
“…sorry. Aku panik.”
Aku menggigit bibir kuat-kuat sambil memegang meja dapur agar tubuhku tidak limbung. “Aku takut, Mas.”
Nivean terdengar mengembuskan napas berat. “Aku pulang sekarang.”
Telepon terputus.
Aku masih membeku beberapa detik sambil menatap lantai dapur. Rasanya rumah mendadak menghimpitku dari segala arah.
Ya Allah… anakku ke mana?
Tanganku bergerak cepat mengambil tas, dompet dan kunci mobil, lalu mencoba menghubungi Tisya lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
“Jangan bikin Bunda takut…” bisikku gemetar karena Tisya terakhir online tadi pagi.
Foto profilnya masih gambar siluet Tisya memandangi langit senja yang diambil Saff dari balkon rumah beberapa bulan lalu.
"Kak, jawab Bunda ya." Kuketik pesan untuknya.
Centang satu.
Aku mencoba mengingat-ingat wajah teman-teman yang menjemputnya tiga hari ini. Tapi semuanya samar karena aku terlalu menganggap itu hal biasa.
Ya Tuhan kenapa aku gak lebih perhatian?
Suara pagar depan terbuka membuatku tersentak. Brak.
“Rin!” Nivean masuk tergesa-gesa dengan napas memburu. Kemeja kerjanya masih rapi, tapi wajahnya sudah kacau karena benar-benar panik.
“Mana HPmu?” tanyanya menyodorkan tangan meminta ponselku.
Aku menyerahkannya. Nivean menekan nomor Tisya lagi, dan sepertinya masih belum aktif.
“Temennya siapa aja?”
“Aku gak tahu namanya…” jawabku lirih sambil mengusap air mata cepat-cepat. “Aku pikir mereka teman sekolah biasa.”
Nivean memejamkan mata sebentar lalu mengusap wajahnya kasar. “Aku goblok,” gumamnya.
“Mas…”
“Aku terlalu sibuk sampai gak sadar anak kita pergi entah ke mana.”
Dadaku langsung makin sesak melihat mata Nivean yang mulai memerah menahan cemas.
Namun belum sempat aku bicara lagi, ponselku tiba-tiba bergetar. Nama Tisya muncul di layar.
“Mas…” bisikku panik.
“Angkat!”
Aku buru-buru menggeser tombol hijau. “Halo?! Tisya?!”
Suara di seberang tidak langsung menjawab.
Yang terdengar justru musik keras samar bercampur suara orang-orang tertawa.
Lalu…
“Bun…” suara Tisya terdengar serak dan… menangis.
“Tisya kamu di mana?!”
Anakku terisak pelan di ujung telepon. “Bunda…” napasnya gemetar. “Aku takut…”
Aku menekan tombol loud speaker sehingga Nivean mendengar percakapan kami. Sontak, wjah Nivean langsung berubah pucat.
“Tisya?” suara Nivean meninggi sambil mendekat ke ponsel di tanganku. “Kamu di mana sekarang?”
Namun Tisya justru menangis makin keras di seberang sana. Suara musik berdentum samar seperti da
ri kafe atau tempat karaoke bercampur gelak tawa beberapa remaja lain membuat tengkukku meremang dingin.
“Tisya, jawab Bunda… kamu sama siapa?” tanyaku gemetar campur geram.
.
.