Halal tapi Asing

Terasa Asing

Jam dinding di ruang makan sudah lewat pukul sebelas malam.

Rumah ini masih tampak megah dari luar, tapi dalamnya terasa dingin seperti bangunan kosong yang lupa dihuni.

Lampu gantung di ruang makan memantulkan cahaya kekuningan yang redup. Di meja, semangkuk sup yang aku hangatkan tiga kali mulai mengeluarkan lapisan minyak tipis di permukaannya.

Sepi. 

Hanya ada suara dengung kulkas dan sesekali motor lewat di jalanan komplek.

Aku duduk sendiri sambil bersedekap. Jemariku sesekali mengusap kulit lengan, seolah mencoba mengusir dingin yang sebenarnya bukan berasal dari udara malam.

"Lembur,” gumamku. “Selalu lembur.”

Ponsel tergeletak di samping gelas teh yang keburu dingin. Tidak ada kabar dari Nivean, suamiku, padahal dulu dia selalu mengabari dan bertanya ini itu. Bahkan tak tahan pulang telat barang sepuluh menit. 

Aku sampai bolak-balik menatap layar chat yang hanya berisi pesan singkat beberapa jam lalu.

["Pulang malam. Jangan tungguin."] 

Sesederhana itu pesannya belakangan ini. Tiada kata maaf apalagi penjelasan.

Belasan tahun menikah ternyata bisa mengubah hubungan suami istri menjadi interaksi searah, layaknya atasan dan bawahan atau bahkan mirip percakapan kaku formal pegawai kantor.

Aku menunduk pelan. Ujung kukuku menggaruk tipis permukaan meja tanpa sadar.

Kadang diriku bingung, kapan tepatnya semua berubah?

Padahal dulu Nivean selalu pulang membawa cerita. Pasti mencariku pertama kali begitu membuka pintu rumah. Bahkan, lelaki itu pernah bilang, “Rumah itu kamu.”

Dan Aku percaya.

Dulu, suamiku tidak bisa tidur kalau sedang marahan denganku. Nivean selalu menarik tubuhku ke pelukannya lebih dulu, meski gengsi masih tinggi.

Lelaki itu juga pernah rela kehujanan hanya demi membeli es krim dan martabak manis untukku, kala ngidam tengah malam saat hamil Scarletisya.

Padahal itu adalah hal-hal kecil dan sederhana, tapi justru itulah yang membuat perempuan merasa dicintai.

Sekarang… Aku merasa, rumah ini hanya tempat singgah sebelum tidur.

Suara pagar tiba-tiba terbuka membuatku spontan mengangkat kepala. Mobil Nivean terdengar masuk perlahan ke garasi.

Anehnya dadaku malah makin sesak, debarnya bergemuruh sampai aku kesulitan menarik napas.

Aku buru-buru berdiri, merapikan baju sendiri meski tahu mungkin suamiku bahkan tidak akan menyadari penampilanku malam ini.

Pintu rumah terbuka beberapa detik kemudian. Nivean masuk sambil melepas jam tangannya. Kemejanya sedikit kusut, dan wajahnya tampak lelah.

Namun yang paling membuatku sakit adalah ekspresi datar itu. Tidak ada senyum sama sekali ketika dia melihatku berdiri menantinya.

“Belum tidur?” tanya Nivean singkat sambil berjalan melewatiku.

“Aku nungguin Mas.”

“Hm.”

Lagi-lagi hanya suara itu, bosan aku mendengarnya.

Nivean menuju dispenser, mengambil air minum tanpa benar-benar melihatku. Sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, memperhatikan punggung lelaki itu diam-diam.

Aneh ya…

Dulu punggung itu terasa menenangkan, sekarang malah terasa asing.

“Supnya aku hangatin lagi,” ucapku pelan.

“Gak usah. Aku udah makan.”

Kalimat itu menohokku, membuat kering kerongkongan. Kupaksakan kepala ini mengangguk meski dada mendadak pengap.

“Di luar?” tanyaku hati-hati.

“Iya.”

Nivean menjawab singkat sambil sibuk membuka ponsel. Tidak ada penjelasan apalagi rasa bersalah.

Aku menelan ludah. Kesabaran yang beberapa bulan terakhir terkumpul rapi mulai retak sedikit demi sedikit. Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya bersuara lagi, “Tadi aku dipanggil guru Tisya.”

“Kenapa?”

“Nilainya turun.”

“Besok aja dibahas. Aku capek.”

Jawaban itu terdengar dingin. Seolah urusan rumah hanya gangguan tambahan setelah pekerjaan kantor.

Rahangku mengeras pelan menahan kecewa. “Akhir-akhir ini kamu sering banget pulang malam," ucapku pelan, memberanikan diri.

Nivean meminum airnya hingga habis. “Kerjaan.” Dia meletakkan gelas kosongnya di atas meja, lalu melangkah ke kamar, seraya mengurai simpul dasi.

“Kamu bahkan udah jarang ngobrol sama aku," cecarku, mulai mengikutinya.

“Aku kerja buat keluarga.”

Kalimat itu membuatku ingin tertawa, sepertinya hampir semua suami yang mulai menjauh selalu punya jawaban yang sama.

“Aku juga bagian dari keluarga itu, Mas,” kekehku getir.

Suamiku tampak mulai malas menanggapi. Ia mengambil tas kerjanya lalu berjalan menuju kamar.

Langkahku sedikit tertahan karena dada ini terasa kian sempit. Namun, malam itu aku terlalu lelah untuk memendam semuanya sendirian.

Suara langkah kami menggema pelan di lorong rumah yang sunyi.

“Mas…”

“Udah malam, Rin.”

“Aku cuma mau ngobrol.”

“Besok.”

“Kamu selalu bilang besok.”

Nivean berhenti tepat di depan pintu kamar. Tangannya memijat pelipis seolah percakapan ini lebih melelahkan daripada pekerjaannya.

“Aku capek.”

Aku menatap wajahnya lama. Lelaki yang kini lebih sering sibuk dengan pikirannya sendiri. Dulu ... Aku hafal wajah itu sebagai tempat ternyaman untuk pulang. Dan sekarang rasanya seperti sedang bicara dengan tembok.

“Aku juga capek,” balasku lirih. “Capek nunggu kamu yang bahkan udah gak pernah benar-benar ada di rumah.”

Nivean mengembuskan napas kasar. “Kamu mulai lagi.”

“Aku mulai apa?” suaraku naik sedikit tanpa sadar, saking kesal menumpuk menunggu meledak. “Aku cuma pengen diperhatikan sama suami aku sendiri.”

“Kamu terlalu sensitif, baperan.”

Kalimat itu menusuk tepat di bagian diriku yang paling rapuh. Aku terkekeh kecil, pahit. Lalu mengangguk pelan sambil melipat kedua tangan di depan dada, berusaha menahan diri sendiri agar tidak menangis duluan.

“Iya ya… mungkin aku sensitif karena suamiku lebih sering ngobrol sama layar ponselnya daripada sama aku.”

Tatapan Nivean berubah tajam sesaat. “Jangan cari ribut malam-malam.”

“Malam-malam?” Aku mendekat satu langkah. “Kapan lagi aku bisa ngomong sama Mas? Mas pulang selalu larut, terus besok pergi lagi.” Suaraku mulai bergetar di akhir kalimat. Aku tak marah, hanya saja terlalu lama memendam kecewa.

Nivean membuka pintu kamar dengan gerakan cepat. Namun sebelum masuk, aku kembali bicara, “Mas masih nyaman gak sih sama aku?”

Pertanyaanku membuat suasana mendadak hening. Nivean tidak langsung menjawab. Dan jeda kecil itu justru terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Aku merasakan mataku panas. Kadang perempuan bisa tahu dirinya sudah tidak dicintai hanya dari cara seseorang mulai malas menjawab pertanyaan sederhana.

“Mas,” suaraku mengecil, “aku akhir-akhir ini ngerasa hidup sendiri.”

Suamiku memejam sebentar lalu berkata pelan dan dingin, “Aku gak punya tenaga buat drama begini.”

Deg.

Tes. Air mataku akhirnya jatuh. Kuusap cepat-cepat dengan punggung tangan karena harga diriku masih terlalu besar untuk menangis di depan lelaki yang sekarang terasa asing.

Padahal dulu, satu air mataku saja bisa membuat Nivean panik setengah mati. Sekarang? Bahkan tangisku pun dianggap gangguan.

“Aku tuh istrimu, Mas…” bisikku lirih. “Kenapa rasanya aku kayak orang asing di rumah sendiri?”

Nivean diam beberapa detik. Tatapannya sempat bergeser pada wajahku yang basah kena air mata. Namun, dia bergeming, tidak mendekat apalagi memeluk, tiada usaha untuk menenangkanku seperti dulu.

Dia masuk ke kamar kami, membiarkan aku mematung di depan pintu kamar yang menutup pelan.

Tubuhku sontak terasa lelah sekali, bahuku luruh. Lampu di sudut dinding memantulkan bayangan tubuhku yang tampak kecil dan kesepian.

Rumah ini masih ideal dalam pandangan orang luar. Foto keluarga pun terpajang rapi di ruang tamu. Senyum kami di sana terlihat bahagia sekali sampai terasa bagai keluarga sempurna.

Tapi malam ini aku sadar. Pernikahan tidak selalu hancur karena hadirnya orang ketiga.

Kadang, yang menghancurkannya justru dua orang yang terlalu lama saling mengabaikan.

Perkataan salah satu temanku beberapa hari lalu tiba-tiba terngiang di kepala.

["Rin, jangan-jangan dia selingkuh!"]

Deg. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!