Gelora Cinta Kedua (Novel)
Akur
Pov Iqdam
Aku datang bukan untuk mengungkit apa yang sudah lewat. Aku datang justru karena terlalu lama membiarkan luka itu terbuka.
Ruang tamu rumah itu terasa sama seperti dulu—rapi. Kursi tertata, meja yang bersih, dan udara yang terasa panas meski ruangan ini terdapat kipas angin.
Rika duduk dengan punggung lurus, wajahnya kaku. Mira bersandar di sandaran kursi, menatapku dengan ekspresi yang sudah sangat kukenal—setengah defensif, setengah merasa paling benar.
Aku awalnya tidak berniat duduk. Bahkan sebelum benar-benar menaruh tubuh di kursi, aku tahu aku tidak akan berlama-lama.
“Aku nggak lama,” kataku, suaraku rendah dan datar. “Aku cuma mau jelasin satu hal.”
Aku menarik napas pelan. Bukan karena gugup. Tapi karena kalimat yang akan keluar harus tepat—tidak berlebih, tidak juga lunak sehingga bisa digoyahkan Mira.
“Hana tahu aku ke sini,” lanjutku. “Dan ini bukan karena dia minta. Ini keputusanku.”
Mira tampak ingin menyela. Bibirnya terbuka sedikit. Tangannya bergerak. Aku mengangkat satu tangan, pelan tapi jelas. “Dengar dulu.”
Aku menatap mereka bergantian. Tidak menantang. Tidak juga menunduk. Aku hanya berdiri di tempat yang akhirnya kupilih sendiri.
“Kalian keluargaku,” kataku. “Aku tetap tanggung jawab. Tapi ada batas yang nggak bisa lagi dilewati.”
Rika menunduk. Bahunya turun sedikit. Mira terdiam, tapi rahangnya mengeras. Aku tau dia tidak suka dengan kalimatku barusan.
“Hana bukan orang yang datang tiba-tiba di hidupku,” lanjutku. “Dia istriku. Dunianya anakku. Tempat aku pulang.”
Aku tidak menaikkan suara. Tidak perlu. Kalimat itu sudah terdengar gagah.
“Kalau kalian masih belum bisa menghargai dia,” kataku lagi, lebih pelan, “lebih baik kita tidak sering bertemu dulu.”
Rika mengangkat kepala. “Dam—”
Aku menoleh padanya. Senyum tipis muncul, bukan untuk menenangkan, tapi untuk memberi tanda.
“Aku belum selesai,” kataku lembut, tapi tidak memberi celah.
“Hana tidak menuntut apa pun,” ucapku. “Bahkan saat aku salah. Bahkan saat aku gagal jaga keuangan keluarga dengan benar.”
Aku berhenti sebentar. Dadaku mengencang. Kalimat berikutnya lebih berat kuucapkan dari yang kupikirkan.
“Dia tidak menuntut cerai,” kataku akhirnya. “Padahal secara tidak langsung, aku sudah menyakitinya. Dengan uang. Dengan kelalaianku.”
Mira menarik napas tajam. Seperti baru menyadari ada sesuatu yang selama ini tidak ia hitung sebagai luka.
“Aku tidak minta kalian memilih siapa pun,” lanjutku. “Aku cuma minta satu hal—hormati keputusan kami.”
Aku berdiri. Kursi di belakangku bergeser pelan, suaranya mengisi jeda yang tidak ingin kuisi dengan kata-kata tambahan.
“Kalau suatu hari kami datang bersama,” kataku sambil merapikan jam tanganku, “itu karena kami siap. Bukan karena terpaksa.”
Aku menatap mereka sekali lagi. Tidak lama.
“Dan seharusnya,” tambahku sebelum berbalik, “kalian berterima kasih. Karena Hana memilih bertahan tanpa merendahkan siapa pun.”
Aku melangkah keluar tanpa menunggu jawaban. Karena ada batas yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Ini tidak butuh persetujuan, hanya perlu ditegakkan.
***
(POV Hana)
Notifikasi itu muncul lagi di layar ponselku. Nama Riz.
Aku tidak membukanya. Tidak sekarang. Tidak malam ini. Aku hanya melihat preview singkat di layar terkunci.
["Aku masih di sekitar sini. Kalau berubah pikiran, kabari."]
Aku mengunci ponsel. Meletakkannya terbalik di meja. Aku tahu dia tidak pergi. Aku tahu itu bentuk “menunggu” versinya.
Dan aku tahu—kalau kubaca sekarang, aku akan lelah lagi. Aku memilih tidur.
Beberapa jam kemudian, pagi datang dengan sunyi yang tenang. Hawa masih terlelap di sisiku. Rambutnya menempel di pipi, nafasnya teratur.
Baru setelah membuatkan sarapan dan memastikan Hawa duduk menggambar, aku membuka ponsel.
Pesan Riz kubaca betul-betul kali ini. Panjang. Rapi. Aku membaca tanpa emosi. Tanpa jantung berdebar.
Lalu menutup mata sebentar.
Aku membalas. Tidak panjang.
"Mohon pengertiannya, Pak Riz. Jika memang respect padaku, tolong hargai keputusan ini."
"Aku tidak sedang mencari ruang lain. Hanya sedang menjaga rumahku sendiri."
Kukirim.
Tidak kutunggu balasan. Nomornya kuhapus. Aku baru saja selesai membereskan sesuatu yang lama tertunda.
Aku menemani Hawa main, bergantian dengan ayah. Lepas Maghrib, Hawa sudah tidur. Aku pun ketiduran.
Aku terbangun sebab belum salat isya. Iqdam datang menjelang jam 10 malam, suara mobilnya terdengar saat memasuki teras.
Lampu rumah menyala temaram, seperti biasa. Rumah Ayah memang selalu begitu—tenang.
Aku membenarkan selimut Hawa ketika pintu depan dibuka. Hawa tidur nyenyak di kasur, bonekanya terpeluk erat. Napasnya teratur, pipinya sedikit merah.
Iqdam berdiri di ambang pintu. Tidak masuk meski pintu kamarku terbuka sedikit. Hanya melihat sebentar, lalu menyingkir pelan.
Aku pura-pura tidur lagi, tidak tahu.
Tak lama, kudengar suara ayah. Mungkin ayah keluar kamar begitu mendengar suara mobil Iqdam tadi.
Ayah bertanya apakah ia menginap. Iqdam menjawab iya. Suaranya terdengar lelah, tapi tidak runtuh.
Aku tetap di kamar. Tidak berniat menguping. Tapi rumah ini kecil, suara mereka lumayan terdengar jelas.
Aku mendengar nama itu disebut.
Rika.
Lalu Mira.
Tanganku berhenti membenarkan selimut. Aku diam.
Iqdam bercerita dengan suara rendah. Tidak emosional. Tidak membela diri berlebihan. Ia bilang itu keputusannya. Bukan karena aku minta.
Aku menelan ludah.
Ia bilang keluarganya penting. Tapi aku adalah istrinya. Dunia Hawa. Tempat ia pulang. Dadaku menghangat, bahagia. Ia bilang—kalau belum bisa menghargai aku, lebih baik tidak sering bertemu dulu.
Aku memejamkan mata.
Tidak ada namaku disebut dengan nada mengeluh. Tidak ada ceritaku dijadikan alasan. Ia tidak menjadikanku tameng. Ia berdiri sebagai dirinya sendiri.
Ayah menjawab singkat. Bijak. "Orang sering salah paham soal tanggung jawab.”
“Tanggung jawab itu bukan soal mengorbankan yang paling dekat,” lanjut ayahku, “Tapi menjaga yang paling utama." Nada orang tua yang tidak menggurui, hanya menguatkan.
Dan justru di situ aku tahu—ia melindungiku dengan caranya sendiri.
Malam itu aku hanya wudhu dan kembali ke kamar. Membiarkan mereka berbincang pelan di ruang tengah. Setelah salat aku menekuk lutut di tepi ranjang, menatap Hawa yang tidur tanpa tahu apa-apa.
Aku tidak tahu detail percakapan mereka.
Tapi aku tahu, aku tidak sendirian lagi berdiri di posisi ini. Dan aku merasa—dipilih.
Keesokan siang.
Aku duduk berhadapan dengan Iqdam di ruang tengah. Hawa bermain di lantai, menyusun balok warna-warni.
“Tawaran kerja itu ... Kuterima,” kataku pelan.
“Keluar kota. Beberapa hari, tapi bukan sekarang.”
Iqdam tidak langsung menjawab. Ia menatap Hawa sebentar. Lalu kembali padaku.
“Kalau kamu ambil,” katanya hati-hati,
“aku mau terlibat.”
Aku mengangkat wajah. “Maksudnya?”
“Aku atur kerjaanku. Aku jemput Hawa. Aku siapin makan. Kalau perlu aku WFH.” Ia tersenyum tipis. “Ini bukan bantu. Ini bagianku.”
Kalimat itu membuat dadaku runtuh pelan.
“Aku nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi,” lanjutnya. “Dan aku nggak mau kerjaanmu berhenti cuma karena kamu istri dan ibu.”
Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.
Iqdam terlihat ragu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi.
Ia menunggu.
Aku mendekat. Memeluknya. Tangannya akhirnya melingkar di punggungku. Pelan. Hati-hati. Seolah takut aku berubah pikiran. Dan di saat itulah—
“YEEEEEE!”nsuara Hawa meledak.
Kami terlonjak.
Hawa berdiri dengan wajah berseri-seri. Tawanya lebar, sampai giginya terlihat semua. Tangannya menutup mulut sendiri, malu-malu tapi tidak bisa menahan senyum.
“Ayah baikan sama Bunda?” tanyanya, suaranya kecil tapi matanya berbinar.
Aku dan Iqdam saling pandang.
Lalu tertawa bersamaan. Bukan tawa keras—tawa lega.
Iqdam jongkok, memeluk Hawa. “Maafin ayah sama Bunda, ya.”
Hawa mengangguk cepat. “Ok.” Tersenyum puas. Lalu kembali ke baloknya, seolah dunia sudah kembali ke tempat semestinya.
Aku bersandar di bahu Iqdam sebentar. Tidak lama. Sekarang, aku tidak merasa harus memilih antara diri sendiri dan keluarga.
.
.
TAMAT.