Gelora Cinta Kedua (Novel)
Figuran
Pagi menjelang.
Tidak ada firasat, tidak ada mimpi buruk, tidak ada langit yang tampak berbeda. Cahaya matahari jatuh biasa saja di halaman, membuat debu di teras terlihat berkilau sebentar sebelum mengendap kembali.
Aku berdiri di depan lemari, memilih baju yang tidak terlalu mencolok. Tidak ingin tampak berlebihan, tapi juga tidak ingin terlihat abai. Pilihan yang selalu membuatku berhenti lebih lama dari seharusnya.
Iqdam sudah siap. Ia menunggu di ruang tamu sambil menimang kunci mobil, sesekali melirik jam. Ketika aku keluar kamar, ia menatapku sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Kita mampir beli buah dulu ya,” katanya.
Aku mengangguk.
Di toko, aku memilih dengan hati-hati—buah segar, sedikit kue, sekadar tanda. Tanganku yang menyusun, pikiranku yang menimbang. Iqdam membayar, lalu menatapku sejenak.
Di perjalanan, angin pagi menyentuh wajahku pelan. Jalanan tidak terlalu ramai. Iqdam berkendara dengan hati-hati, seperti orang yang pikirannya sedang penuh. Sesekali ia menoleh, memastikan aku nyaman.
“Makasih ya, Han,” ucapnya tiba-tiba.
Kalimat itu sederhana. Tapi aku tahu, ia tidak sedang berterima kasih hanya karena aku ikut. Ia berterima kasih karena aku tidak menolak. Karena aku tidak membuatnya memilih.
Aku membalas dengan senyum tipis. Tidak mengatakan apa-apa.
Rumah Rika tidak jauh dari klinik. Ketika kami tiba, suasananya masih riuh kecil—suara anak-anak, televisi yang menyala, dan tangis yang sudah mereda tapi belum sepenuhnya hilang.
Rika menyambut Iqdam lebih dulu. Matanya sembap, wajahnya pucat.
“Kak…” suaranya bergetar. “Makasih… aku nggak tahu harus gimana kalau Kakak nggak angkat telepon semalam.”
Iqdam menepuk bahunya pelan. “Udah, sekarang gimana anakmu?”
“Masih sakit sedikit, tapi kata dokternya nggak apa-apa.”
Rika menarik napas panjang, lalu melirik ke arahku sekilas—cepat dan dingin—lalu mengalihkan pandangan. Seperti orang yang memilih tidak melihat sesuatu agar tak perlu menyapa. “Makasih juga ya, Mbak…”
Hanya itu. Tidak lebih.
"Ini buah sama sedikit kue,” kata Iqdam, menunjuk jinjingan kami. “Hana yang nyiapin.”
Rika mengangguk kecil. “Oh.”
Hanya itu. Tidak ada terima kasih. Tidak ada tatap mata.
Aku tersenyum. Membalas dengan anggukan kecil. Lalu bergerak membantu—meletakkan buah di meja, menuangkan air minum, mengelap tangan anaknya yang kotor.
Semua kulakukan tanpa suara.
Di ruang sempit itu, aku merasa seperti perabot tambahan. Dibutuhkan, tapi tidak benar-benar dilihat.
Beberapa orang datang menjenguk. Tetangga. Saudara jauh. Kalimat-kalimat simpati berseliweran, semuanya mengarah pada satu nama.
“Untung ada Nak Iqdam.”
“Mas Iqdam emang dari dulu sosok yang tanggung jawab.”
Aku berdiri di dekat pintu, menahan senyum agar tetap di tempatnya. Tidak ada yang berniat menyakitiku. Tapi setiap kalimat itu seperti menyingkirkan posisiku setapak demi setapak.
Seorang perempuan paruh baya—tetangga Rika—mendekat padaku. Tangannya mengusap lenganku pelan, terlalu akrab untuk orang yang baru bertemu.
“Mbak ini istrinya ya?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk.
“MasyaAllah,” katanya, suaranya dibuat lembut. “Makasih ya, Mbak. Sudah ridho, sudah ikhlas bantu Rika. Sesama ipar itu harus akur, saling menguatkan.”
Aku membalas senyum. Bibirku bergerak, tapi suaraku tertahan. Kata ridho dan ikhlas jatuh seperti palu kecil—cukup untuk membuat retak hatiku yang sudah banyak guratan.
Rika lewat di belakang kami, membawa gelas. Ia tidak menoleh. Tidak menyapa. Seolah aku bagian dari bayangan.
Iqdam sibuk mengurusi bengkel motor, berbicara dengan seseorang lewat telepon. Dari caranya menjawab, aku tahu ia sedang berusaha menenangkan banyak pihak sekaligus.
Tak lama, ponselnya berdering lagi. Ia melihat layar, lalu sedikit menjauh.
Aku tidak bermaksud mendengar. Tapi jarak seperti selalu memihakku.
“Iya, Mbak…”
“Sudah, sudah aku urus.”
Nada suaranya berubah—lebih lembut, lebih patuh.
Nggak ada lagi, itu Mira.
Aku tidak mendengar seluruhnya. Hanya potongan-potongan: niat baik, keluarga, jangan dipikirkan terlalu rumit.
Iqdam kembali dengan wajah yang berusaha biasa saja.
“Mbak Mira nanyain kabar,” katanya singkat.
Sesuai dugaan. Aku mengangguk. “Oh.”
Tidak ada lanjutan. Tapi aku tahu—aku sedang dibicarakan tanpa hadir di ruang percakapan itu.
Kami pamit menjelang siang. Rika kembali berterima kasih, kali ini sambil memegang tangan Iqdam lebih lama.
“Hati-hati ya, Kak.”
Aku berdiri di samping, menunggu. Tidak Rika salami ataupun memberiku senyum meski itu kepuraan.
Di perjalanan pulang, suasana lebih sunyi. Iqdam tidak banyak bicara. Aku menatap jalan yang berlalu lalang, mencoba merapikan pikiranku sendiri.
“Aku tahu ini nggak nyaman buat kamu,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.
Aku tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Ia diam. Mungkin mendengar ketidakyakinan di suaraku. Mungkin juga tidak tahu harus berkata apa lagi.
Di rumah, aku langsung ke kamar, mengganti baju. Di depan cermin, aku menatap diriku sendiri—wajah yang sama, mata yang sama, tapi rasanya seperti sedang berdiri di dua dunia yang saling tarik-menarik.
Ponselku bergetar.
Nama Mira muncul lagi.
Aku tidak langsung membuka. Tanganku dingin. Jantungku berdebar lebih cepat dari seharusnya. Akhirnya, aku membaca lewat pratinjau saja.
[“Han, aku harap kamu bisa lebih lapang. Jangan bikin Iqdam merasa sendirian saat dia berbuat baik untuk keluarganya.”]
Aku tidak membuka percakapan itu. Tidak membalas. Tidak ingin membaca lanjutan yang sudah bisa kutebak arahnya.
Aku mengunci layar.
Sore berlalu dengan tenang. Iqdam beberapa kali mendekat, menyentuh tanganku, mengecup keningku singkat—usaha kecil yang ingin mengatakan aku di pihakmu, meski ia sendiri belum sepenuhnya tahu caranya.
Malam pun datang.
Setelah Hawa tidur, aku duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. Lelahku bukan fisik. Lebih seperti beban yang menumpuk tanpa tempat ditaruh.
Ponselku bergetar lagi.
Kali ini, bukan Mira.
Nama itu muncul pelan, seperti mengetuk pintu lama yang belum sepenuhnya kututup.
Why.
Pesannya singkat.
[“Aku tahu kamu mungkin lagi nggak pengin ngobrol. Tapi aku cuma mau bilang—aku masih di sini. Kalau kamu butuh.”]
Aku menatap layar lama. Tidak membalas. Tidak menghapus.
Di luar, malam terasa semakin sunyi. Sementara di sini, kamar atau entah hatiku yang mulai dingin kembali.
Aku sadar—kunjungan hari ini bukan akhir dari apa pun. Ia hanya membuka pintu pada konflik yang lebih dalam, lebih personal, dan lebih sulit dijelaskan pada siapa pun. Termasuk pada diriku sendiri.
Dan aku tahu—hari ini bukan akhir. Dan yang paling melelahkan bukan memberi, tapi terlihat memberi—lalu tetap dianggap kurang.
Iqdam masuk ke kamar.
Ponselnya berdering lagi. Iqdam melirik layar. Sekilas. Lalu melangkah menjauh ke dekat jendela.
“Ya, Mbak…” suaranya diturunkan.
Aku diam mendengarkan.
“Iya… iya, aku ngerti.”
Jeda.
“Soal motor itu… ya, nanti aku bantu cicilannya. Nggak banyak kok.”
Aku melongo memandang punggung iqdam.
“Iya. Besok aku sempatin ke sana lagi,” lanjutnya. “Cuma bentar.”
Kalimat-kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Seolah keputusan kecil yang tidak perlu ditimbang.
Aku duduk mematung. Bukan karena marah. Tapi karena menyadari sesuatu yang familiar—aku tidak diajak masuk ke percakapan itu.
Telepon ditutup. Iqdam berbalik.
Tatapan kami bertemu sepersekian detik. Ia seperti baru ingat aku ada di sana.
“Cuma sebentar,” katanya, nada menjelaskan tapi tidak benar-benar bertanya.
“Soal motor Rika. Nggak besar.”
Aku mengangguk. Refleks. Gerakan yang sudah terlalu terlatih. “Iya,” jawabku. Satu kata.
Ia tampak lega.
Aku tersenyum tipis. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang mengendap pelan.
Bukan soal cicilan.
Bukan soal besok.
Tapi tentang bagaimana sebuah keputusan bisa lahir tanpa perlu kehadiranku—padahal aku yang bersamanya paling dekat.
Aku berjalan ke dapur, menuang air minum. Tanganku gemetar. Satu pikiran yang berulang, pelan tapi jelas:
Aku diajak datang sebagai istri.
Tapi ditinggal saat keputusan dibuat.
Dan entah kenapa, yang paling menyakitkan bukan keputusannya—melainkan betapa mudahnya hal itu terjadi.
.
.