Gelora Cinta Kedua (Novel)

Ghibah

Pagi itu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Aku dan Iqdam tidak terburu-buru bangun. Ada sisa kehangatan yang masih tinggal—bukan euforia, tapi rasa nyaman yang belum ingin dilepaskan.

Iqdam masih memeluk erat, katanya masih kangen. Tapi azan subuh memaksa kami bangkit, dan sedikit aktivitas kecil di kamar mandi, membuat pagi kami terasa makin lembut.

Iqdam menyeduh kopi, aku merapikan meja. Sesekali tubuh kami bersenggolan, saling melirik tersenyum malu-malu.

“Jangan lupa jaket,” kataku saat ia bersiap berangkat.

Iqdam menoleh, tersenyum kecil. “Kamu manis banget hari ini.”

“Dari dulu juga,” sahutku, setengah bercanda.

Ia mendekat, menarik pinggangku ringan sebelum keluar. Sentuhan singkat, seperti penanda, tunggu aku pulang di rumah.

Rumah kembali sunyi setelah Hawa berangkat sekolah. Aku duduk di ruang tamu, membuka buku, tapi mataku berhenti di satu halaman tanpa benar-benar membaca.

Ponselku bergetar. Bukan pesan. Panggilan masuk—dari nomor yang kukenal, tapi sempat aku arsipkan.

Aku mengangkatnya.

“Hana?” suara itu terdengar ragu. Suara Mbak Mira, kakak Iqdam.

“Iya, Mbak,” jawabku datar.

“Iqdam di rumah?” tanyanya, seolah itu hal paling biasa.

“Sudah berangkat kerja.”

“Oh,” katanya singkat. “Ya sudah.”

Aku mengira panggilan itu akan ditutup. Tapi tidak.

“Hana,” lanjutnya, nadanya berubah lebih rendah. “Aku sebenarnya mau ke rumah Rika hari ini. Dia lagi butuh ditemani.”

Aku terdiam. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Tapi ada sesuatu di cara ia mengucapkannya—seperti ingin memastikan aku tahu.

“Iya, Mbak,” jawabku. “Silakan.”

“Hm.” Mira berhenti sebentar. “Kamu nggak ikut?”

Aku menarik napas. “Nggak hari ini.”

“Ya,” katanya pelan, hampir seperti gumaman. “Kupikir mau juga.”

Aku tidak bertanya maksudnya apa. Tidak ingin memberi ruang lebih. "Nanti nyusul setelah jemput Hawa," kataku akhirnya mengalah.

Panggilan ditutup tanpa salam. Aku menatap layar ponsel beberapa detik. Lalu meletakkannya terbalik di meja.

Siang hari, aku menjemput Hawa lebih cepat. Kami mampir sebentar ke minimarket. Hawa memilih es krim, lalu bercerita panjang soal temannya yang menang lomba mewarnai.

Aku mendengarkan. Sunguh-sungguh. Karena mendengarkan anakku terasa lebih nyata daripada memikirkan hal-hal yang belum tentu perlu kupikirkan.

Aku mengajak Hawa ke rumah Rika. Bajunya ketinggalan di sana saat menginap. Akan aku jadikan alasan mampir sebentar.

Saat sampai di rumah, aku mendapati pintu tidak terkunci.

Dari dalam terdengar suara. Dua suara perempuan.

Aku berhenti di teras. Tidak berniat menguping. Tapi langkah kakiku tertahan ketika kudengar namaku disebut.

“Hana itu sebenarnya baik,” suara Mira terdengar jelas. “Cuma… ya gitu. Terlalu mikir. Takut rugi.”

Aku mematung.

“Padahal Iqdam itu dari dulu begini,” lanjutnya. “Kalau dia bantu, dia tulus. Nggak pernah hitung-hitungan.”

Suara Rika menyela pelan. “Mungkin Mbak Hana cuma lagi capek, Mbak…”

“Capek apa?” Mira tertawa kecil. “Semua istri capek. Tapi nggak semua istri begitu ... nahan suaminya berbuat kebaikan.”

Dadaku mengeras.

Aku bisa masuk. Bisa menyapa. Bisa memotong percakapan itu. Tapi kakiku tidak bergerak.

Aku menatap Hawa. Ia menatapku balik, bingung. Aku mengangkat telunjuk ke bibir. Hawa mengangguk, patuh.

Beberapa detik kemudian, suara di dalam mereda. Aku menarik napas, lalu mengetuk pintu seperti biasa.

“Assalamualaikum,” sapaku.

Rika membuka pintu. Mira menoleh. Senyumnya langsung terpasang—rapi, hangat, nyaris sempurna.

“Hana! Sudah jemput Hawa?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

Rika terlihat canggung. Ia berdiri, menghampiriku. “Maaf ya, Mbak. Aku kira Mbak nggak jadi datang.”

“Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku tenang. Bahkan bagiku sendiri.

Aku duduk. Tidak lama. Tidak ingin berlama-lama di ruang yang udara emosinya berubah.

“Kami cuma mau ambil barang Hawa yang ketinggalan ... mampir aja sebentar,” kataku. “Habis itu pulang, Hawa ada les ngaji.”

Mira menatapku sejenak, lalu tersenyum lagi. “Kapan-kapan kita ngobrol, Han. Perempuan ke perempuan.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Tapi dalam hatiku, aku tahu, tidak semua obrolan perlu dibuka. Paling bakal menyudutkan aku seperti kemarin.

Malamnya, Iqdam pulang lebih lambat.

Aku sedang di dapur ketika ia masuk. Ia langsung menghampiriku, mencium puncak kepalaku singkat.

“Capek?” tanyanya.

“Lumayan,” jawabku.

Ia membuka kulkas, lalu berhenti. Menatapku dari balik pintu yang terbuka.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.”

Ia menutup kulkas. Mendekat. Menyentuh pergelangan tanganku, lembut tapi pasti.

“Kamu nggak pernah ‘nggak apa-apa’ kalau memang nggak apa-apa.”

Aku menghela napas. Lalu berkata jujur, tanpa emosi berlebih.

“Aku ke rumah Rika tadi. Mbak Mira juga di sana.”

Ia terdiam.

“Aku dengar sedikit obrolan,” lanjutku. “Bukan sengaja.”

Iqdam tidak langsung bereaksi. Ia hanya menarik kursi dan duduk, seolah butuh tempat berkonsentrasi untuk menaruh kalimat yang akan keluar dariku.

“Apa yang kamu dengar?” tanyanya akhirnya.

Aku menatapnya. Tidak ingin memelintir ucapan Mira. Tidak ingin mengadu.

“Bahwa aku terlalu mikir. Bahwa aku ngerem Mas. Bahwa aku hitung-hitungan.”

Iqdam menunduk. Mengusap wajahnya pelan.

“Dan kamu?” tanyanya.

“Aku langsung pulang,” jawabku. “Karena aku nggak mau membela diriku di tempat yang memang nggak mau dengar.”

Ia menatapku lama. Ada sesuatu yang bergerak di matanya—bukan marah, tapi sadar.

“Maaf,” katanya akhirnya. Bukan pada Mira. Pada situasi.

Aku menggeleng. “Aku nggak butuh Mas membelaku di sana.”

Ia menatapku lebih tajam. “Terus apa yang kamu butuhkan?”

Aku mendekat. Meletakkan tanganku di pundaknya.

“Aku butuh Mas berdiri di sini. Sama aku.”

Iqdam mengangguk pelan. Tangannya meraih tanganku. Menggenggam.

“Kita belum selesai diuji,” katanya lirih.

Aku tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Kami berdiri di dapur yang sama. Tidak ada solusi malam itu. Tidak ada kemenangan.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian menghadapi suara-suara dari luar.

Karena yang paling penting bukan lagi siapa yang benar—melainkan siapa yang dipilih untuk didengarkan.

Dan malam itu, Iqdam memilih ada di sisiku.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!