Gelora Cinta Kedua (Novel)
Mira
Pagi datang seperti biasa. Cahaya masuk dari sela gorden, tipis dan jinak. Tidak membawa janji akan berjalan baik, tidak juga terasa beban. Hanya hari baru yang mau dimulai.
Aku terbangun oleh suara langkah di dapur. Bukan langkah tergesa, bukan pula sembunyi-sembunyi. Iqdam sudah bangun.
Aku belum langsung bangkit. Ada jeda kecil yang ingin kunikmati—rasa aman saat tahu seseorang ada di rumah dan tidak sedang menjauh.
Tak lama, pintu kamar terbuka sedikit. Iqdam muncul membawa dua cangkir.
“Bangun?” tanyanya pelan.
“Baru, masih ngantuk,” jawabku, masih berbaring.
Ia mendekat, meletakkan satu cangkir di nakas. Tehku. Tanpa ditanya. Ia duduk di tepi ranjang, lalu—seperti kebiasaan lama yang sempat hilang—menyibakkan sedikit rambutku dari dahi.
“Kamu keliatan pucet, tapi cantik,” katanya.
Aku membuka mata. “Itu pujian?”
“Kerinduan,” katanya sambil tersenyum.
Sebelum berdiri, ia membungkuk sedikit dan mengecup keningku cepat—secepat orang yang takut mengganggu tidur orang lain. Tapi cukup untuk membuat dadaku hangat.
“Curang,” gumamku.
Ia tertawa kecil. “Biar kamu semangat.”
Di dapur, aku menyiapkan sarapan. Iqdam membantu tanpa banyak bicara—mengambilkan piring, menyusun sendok. Sesekali bahunya menyenggol bahuku, seperti tak sengaja tapi tidak benar-benar menghindar.
Saat aku berhenti sebentar, menatap panci yang mendidih, pikiranku melayang. Aku bahkan tidak sadar Iqdam sudah berdiri tepat di belakangku.
Tiba-tiba, lengannya melingkar cepat di pinggangku. Bukan pelukan penuh. Hanya singgah sebentar.
“Kok bengong,” katanya di dekat telingaku.
Aku tersentak kecil. Buku kudukku meremang. “Mas!”
Ia tertawa pelan. “Masak kok sambil mikir.”
Aku menoleh setengah, dan ia mencuri satu kecupan singkat di pipiku—ringan, nyaris main-main.
“Mas!” protesku lagi, kali ini sambil tersenyum.
“Udah lama, nggak boleh gitu?” godanya.
Aku menggeleng, menahan senyum. “Boleh. Tapi jangan kagetin.”
Ia melepaskan pelukannya, tapi tangannya sempat menyentuh perutku sebentar—sentuhan kecil yang tertinggal lebih lama dari yang terlihat.
Siang itu, setelah rumah kembali sunyi, aku duduk dengan ponsel di tangan. Ikon aplikasi Why masih ada.
Aku masuk tanpa degup berlebih. Menulis pengumuman kecil—bukan pamitan dramatis, bukan pembenaran. Hanya kejujuran yang rapi. Aku tekan kirim, lalu keluar.
Selesai.
Perasaan itu seperti menutup pintu dengan kunci yang pas. Tidak perlu dibanting.
Sore hari, Iqdam pulang lebih awal. Hawa menyambutnya dengan cerita yang berloncatan. Aku memperhatikan dari dapur, sambil memotong buah.
Iqdam menoleh padaku, mengangkat alis sedikit—isyarat kecil yang dulu sering ia pakai. Aku tahu artinya: nanti.
Malam datang pelan. Setelah Hawa tidur, kami duduk di ruang tengah. Ia menyodorkan piring buah, lalu duduk di sebelahku. Kali ini lebih dekat.
“Kamu nggak kerja,” katanya.
Aku mengangguk. “Aku menutup satu ruang hari ini.”
Ia tidak bertanya. Hanya menggeser sedikit jarak, lalu—tanpa menatap—tangannya mencari tanganku. Jemari kami bertaut pelan.
Beberapa hari kemudian, pesan dari Mira masuk.
Beberapa hari kemudian, pesan dari Mira masuk.
Namanya muncul di layar, dengan nada yang—bahkan sebelum kubaca—sudah terasa seperti hendak mengajari.
Nadanya rapi, isinya menyelip. Tentang membantu tanpa banyak bicara. Tentang menghitung bantuan. Tentang perempuan yang terlalu banyak pertimbangan.
Aku membuka pesannya perlahan.
"Han, aku cuma mau ngingetin. Jangan terlalu perhitungan sama suami sendiri.
Iqdam itu laki-laki, rezekinya luas. Jangan kamu tutup-tutup karena rasa takut."
Aku menarik napas. Tidak langsung membalas. Kubaca lagi. Lalu akhirnya mengetik.
"Mbak Mira, kalau Mbak di posisiku…
punya rumah, anak, dan pengeluaran yang harus dijaga bareng-bareng,
apa Mbak juga akan tetap diam dan nggak tanya apa-apa?"
Pesan terkirim. Titik-titik muncul sebentar. Lalu balasan datang, lebih panjang.
"Hana, jangan dibalik-balik begitu.
Ini soal keikhlasan.
Kalau istri pelit, rezeki suami bisa ikut sempit. Itu bukan cuma omongan, ada dalilnya."
Dadaku mengeras. Jari-jariku berhenti mengetik di layar.
Pesan berikutnya menyusul.
"Sebagai kakak, aku wajib ngingetin kamu.
Iqdam itu adikku. Dari dulu dia nurut sama aku."
"Aku tahu caranya mikir. Dia nggak enakan, dan kamu harusnya ngerti itu."
Aku hanya membaca sampai situ. Tidak sampai akhir.
Ada beberapa pesan lain masuk setelahnya. Aku bisa melihat pratinjau kalimatnya saja—kata ikhlas, istri yang baik, rezeki—berderet seperti ceramah yang tidak memintaku duduk, tapi memaksaku berlutut.
Aku tidak membalas.
Tidak karena kehabisan kata. Tapi karena aku tahu, apa pun yang kuketik setelah ini, tidak akan dibaca sebagai dialog—melainkan pembangkangan.
Aku menutup ruang chat itu.
Beberapa pesan masih menggantung di sana. Belum terbaca seluruhnya. Tidak kuhapus. Tidak kubuka lagi.
Bukan karena kalah.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku memilih berhenti menjelaskan diriku kepada seseorang yang tidak sedang ingin memahami—hanya ingin menang.
Aku meletakkan ponsel, lalu menghembuskan napas panjang.
Dari dapur, terdengar suara gelas diletakkan pelan. Iqdam baru selesai mencuci gelas.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu membawa semua ini ke meja pembuktian. Ada ruang yang cukup aman untukku diam—tanpa merasa bersalah.
Ia menoleh.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Nanti aku cerita,” jawabku.
Ia mendekat, menyentuh bahuku ringan. “Oke.”
Sentuhan itu bukan solusi. Tapi penanda: aku di sini.
Malamnya, di kamar, lampu temaram. Aku sudah berbaring, membaca. Iqdam masuk, mengunci pintu, lalu duduk di tepi ranjang.
Ia mencondongkan badan, mencium ujung hidungku cepat—lucu, hampir seperti iseng.
Aku tertawa kecil. “Apaan sih.”
“Kangen,” katanya singkat.
Aku menutup buku. “Mau itu? Bilang aja.”
Ia tak menjawab, hanya berbaring di sampingku. Tangannya menyusuri lenganku, pelan. Aku menggeser sedikit, mendekat.
“Kalau nanti ada yang bikin kamu ragu-aku,” katanya, “aku pengin kamu ceritanya ke aku dulu.”
Aku menoleh, menatap manik matanya lembut. “Iya, Mas.”
Ia tersenyum. “Apa aku harus memulainya duluan?"
Kami saling mendekat, hampir berciuman—lalu berhenti bersamaan. Hening satu detik. Lalu tertawa kecil, sama-sama malu.
“Kenapa berhenti?” tanyaku.
“Takut kebablasan,” katanya jujur. "takut kamu masih setengah hati," lirihnya melihat bibirku, seperti ada keinginan mengecup tapi ditahan.
Aku tertawa. “Kan gapapa, asal pelan-pelan.”
Ia menarikku ke dadanya. Pelukan itu utuh—hangat, menenangkan. Daguku bersandar di bahunya, napasku mengikuti napasnya.
Dadanya naik-turun teratur, lalu perlahan ritmenya berubah—lebih dalam, lebih berat.
Tangannya tidak lagi sekadar mengusap punggungku. Kini ia berhenti sebentar di sana, ragu—lalu melanjutkan dengan sentuhan yang membuatku merasa ingin dijamah lebih intens.
Aku mengangkat wajahku sedikit. Hidung kami hampir bersentuhan. Napas kami saling bercampur, hangat, tidak terburu-buru.
“Maaaassss…” bisikku. Suaraku sendiri terdengar berbeda—seksi.
Ia menghela napas panjang. Seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dikunci.
“Aku kangen,” katanya lirih.
Tangannya menyusuri sisi tubuhku.
Ada suara napas, jeda-jeda kecil—helaan tertahan, lenguhan samar—bukan karena nafsu semata, tapi karena rindu yang akhirnya diberi tempat.
Keningnya menempel di pelipisku. Aku bisa merasakan getaran napasnya di sana.
“Saa yangg…”
Aku memejamkan mata. Tanganku mencengkeram kain bajunya pelan, refleks.
Dua tubuh akhirnya saling mengakui, aku masih diinginkan, dan dia masih kubutuhkan.
Kami bergerak perlahan, mengikuti irama yang sama—napas yang saling menyesuaikan, sentuhan sensual yang sedikit liar.
Daan ....ada kelegaan yang mengalir diam-diam.
Aku merasakan dirinya kembali utuh di sisiku. Bukan hanya sebagai laki-laki, tapi sebagai suami.
Dan aku tahu—aku masih mencintainya.
Di antara napas yang semakin berat dan tubuh yan
g saling mendekap, aku tersenyum kecil. Di balik bahunya, aku membiarkan diriku lepas, melenguh manja.
"Masss!"
Malam itu, kami masih saling memilih—
dan rindu itu, kembali.
.
.