Gelora Cinta Kedua (Novel)
Masih ragu
Pagi datang dengan udara yang entah mengapa lebih segar, meski mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi keyakinan bahwa setiap pagi adalah hal baru, mulai kembali masuk logikaku.
Aku bangun tanpa rasa terkejut, tanpa jantung yang berdebar karena cemas yang tak jelas asalnya.
Iqdam sudah bangun lebih dulu. Kali ini bukan di dapur, tapi di kamar mandi. Suara air mengalir terdengar stabil—tidak tergesa, tidak ragu.
Aku duduk di tepi ranjang beberapa detik, membiarkan tubuhku mengenali rasa ini. Tenang yang belum sepenuhnya aman, tapi cukup untuk bernapas tanpa waspada berlebihan.
Kami gantian mandi, belum berani memulai salat berjamaah kembali, entah, masih canggung rasanya ketika harus mencium punggung tangan Iqdam selepas salam nanti.
Di dapur, ia sedang menyiapkan bekal Hawa. Roti dipotong rapi, buah disusun kecil-kecil. Gerakannya tidak sempurna, tapi terlihat sungguh-sungguh.
“Kamu nggak buru-buru?” tanyaku.
Ia menoleh. “Masih ada waktu.”
Kalimat sederhana. Tapi aku menangkap sesuatu yang berbeda, ia tidak sedang kabur dari rumahnya sendiri.
Kami sarapan bertiga. Hawa mengobrol tanpa jeda, memamerkan gambar yang ia buat semalam. Iqdam mendengarkan, benar-benar mendengarkan. Tidak sambil membuka ponsel. Tidak sambil mengangguk kosong.
Aku memperhatikan dari balik cangkir teh yang sedang kucecap. Bukan untuk mencari celah kesalahan. Tapi karena aku belum sepenuhnya percaya bahwa hal-hal baik bisa datang tanpa syarat tersembunyi.
Setelah mereka pergi, rumah kembali sunyi. Tapi sunyi yang tidak benar-benar kosong.
Aku membuka laptop, bekerja seperti biasa. Menyusun ulang ide-ide lama yang sempat tertunda. Tanganku bergerak lancar, pikiranku tidak melompat-lompat seperti minggu lalu. Sesekali, aku berhenti dan memandangi jendela—bukan karena bengong, tapi karena ingin memastikan, aku masih di sini.
Siang hari, Iqdam mengirim pesan.
[Aku mungkin pulang agak telat. Ada rapat mendadak.]
Aku membaca pesan itu tanpa gelombang panik. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada dorongan untuk memastikan detail. Aku membalas singkat.
[Oke. Hati-hati.]
Dan aku sadar—ini baru. Dulu, pesan seperti ini selalu memancing percabangan pikiran yang melelahkan. Overthinking.
Sore menjelang, aku menjemput Hawa. Ia menggenggam tanganku sambil melompat-lompat kecil.
“Ayah hari ini senyum pas pamit,” katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Oh ya?”
“Iya. Biasanya senyumnya pelit.”
Kami melanjutkan percakapan dalam perjalanan pulang.
“Bunda,” katanya sambil menggoyangkan kepalanya kanan kiri. “Apa sih yang Bunda suka?”
Aku menoleh. “Suka apa?”
Ia mengerutkan kening, berpikir keras. “Ya… suka-suka. Kayak… warna atau lagu atau jajan.”
Aku tersenyum kecil. “Kok nanya begitu?”
Hawa melihatku, matanya membulat. “Bingung jawabnya.”
Aku tertawa pelan. “Kalau menurut Hawa,” kataku, “Bunda suka apa?”
Ia langsung semangat. “Bunda suka teh panas. Tapi nggak panas banget.”
Aku mengangguk. “Iya.”
“Bunda juga suka duduk diem,” lanjutnya.
“Terus nyetel lagu.”
“Lagu apa?”
Hawa mengayun-ayunkan kakinya. “Lagu yang sedih-sedih dikit.”
Aku tertawa lagi, tak menduga pertanyaan Hawa bakal seperti ini. “Kenapa lagu sedih?”
Ia mengangkat bahu mungilnya. “Nggak tahu. Tapi Bunda kalau denger itu mukanya… gini.”
Ia memonyongkan bibir, lalu menatap kosong ke arah jendela, menirukan ekspresiku dengan versi anak-anak.
Dadaku mengencang.
“Itu namanya bengong,” lanjutnya serius.
“Tapi bukan bengong kesal.”
Ia mencondongkan badan mendekat. Suaranya diturunkan seperti orang mau bicara hal rahasia.
Ia berpikir sebentar. “Kenapa lagunya sedih?’”
Aku terdiam, memeluknya dengan satu tangan, mendadak. Hawa sedikit kaget, tapi langsung membalas pelukanku.
Benar, lagu sedih membawa energi negatif. Bahkan Hawa bisa menggambarkan ekspresiku. Putriku mencemaskanku.
“Hawa pintar,” bisikku.
Ia tertawa kecil. “Hawa cuma lihat.”
Aku mengusap rambutnya. “Terus, kenapa nanya gitu?”
Ia mendongak. Matanya bulat, jujur.
“Hawa nggak ngerti tapi cuma nggak mau Bunda sedih. Maunya liat Ayah sama Bunda duduk bareng.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dadaku seperti ditarik pelan ke dalam.
“Kalau nggak?” tanyaku.
“Sepi,” jawabnya singkat.
Aku mencium keningnya. Lama.
“Bun, cewek tuh pengin dimengerti, kan?”
Aku terkejut. “Hah? Dari mana tahu?”
Ia mengangkat bahu. “Dari lagu Bunda.”
“Yang sering Bunda puter kalau bengong.”
Kami tiba di rumah. Hawa lalu turun pergi begitu saja, meninggalkan aku—dengan satu kalimat kecil yang entah kenapa terasa sangat dewasa.
Aku tertawa getir. Anak ini sering menyimpulkan hal-hal dengan caranya sendiri, tapi entah kenapa… sering tepat.
Di rumah, aku menyiapkan makan malam sambil mendengarkan playlist lama. Lagu-lagu yang dulu sering kuputar saat bekerja, sebelum semuanya terasa terlalu berat. Aku tidak sedang bengong. Aku hanya ingin mengisi rumah dengan suara yang akrab.
Iqdam pulang saat azan magrib hampir selesai. Ia terlihat lelah, tapi tidak membawa pulang keheningan seperti dulu.
“Capek?” tanyaku.
“Lumayan,” jawabnya. “Tapi aku excited buat segera pulang.”
Aku mengangguk. Tidak menanggapi berlebihan. Kami sedang belajar satu hal penting, tidak semua kalimat perlu dibuktikan dengan aksi langsung.
Kami makan malam sederhana. Hawa menguap lebih cepat dari biasanya. Setelah ia tidur, kami duduk di ruang tengah. Aku membaca, Iqdam membuka laptopnya. Tidak ada percakapan berat. Tidak ada pembahasan yang dihindari dengan tegang.
Sampai ponselnya bergetar.
Ia tidak langsung mengangkatnya. Hanya menoleh sekilas ke layar, lalu mematikan getarnya. Aku tidak bertanya. Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan di dadak. Bukan curiga, lebih seperti kesadaran yang terjaga.
“Ada kerjaan?” tanyaku akhirnya.
“Iya,” jawabnya jujur. “Nanti aku beresin bentar.”
Ia membuka laptop, mengetik cepat. Aku memperhatikan caranya fokus—tidak sembunyi-sembunyi, tidak memalingkan layar. Tapi saat ia bangkit ke dapur mengambil air, ponselnya tertinggal di sofa.
Layarnya menyala.
Bukan karena pesan masuk. Tapi karena notifikasi lama yang belum tertutup sepenuhnya.
Satu nama tertangkap sekilas.
Rika.
Tidak ada foto. Tidak ada emoji. Hanya nama, dan waktu pengiriman beberapa jam lalu.
Aku tidak bergerak. Tidak mengambil ponsel itu. Tidak membaca lebih jauh. Aku hanya duduk, mengamati perasaanku sendiri.
Tidak ada amarah. Tidak ada rasa dikhianati. Yang ada justru satu kalimat pelan di kepalaku:
Jadi ini belum sepenuhnya selesai.
Iqdam kembali, mengambil ponselnya tanpa sadar aku melihat. Ia duduk lagi, melanjutkan pekerjaannya. Aku menutup buku.
“Mas masih harus kerja malam ini?” tanyaku.
“Enggak,” jawabnya. “Sebentar lagi.”
Aku mengangguk. Tidak menyelipkan apa pun di antara kalimat itu.
Malam itu, kami tidur seperti semalam—berdekatan, tanpa jarak yang menyakitkan. Tapi aku terjaga lebih lama. Bukan karena takut, melainkan karena aku tahu: kepercayaan tidak berarti menutup mata.
Keesokan paginya, setelah Iqdam berangkat dan Hawa di sekolah, aku membuka email. Di antara pesan masuk, ada satu nama yang sudah lama tidak muncul di layar ponselku.
Riz.
Subjeknya singkat. Netral. Profesional.
[Follow up diskusi kemarin.]
Aku membaca isinya perlahan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada nada mendesak. Tapi aku tahu—ini adalah pintu yang dulu nyaris kubuka lebih lebar dari seharusnya.
Aku menutup email itu tanpa membalas.
Bukan karena takut. Tapi karena aku sedang belajar satu hal yang lebih sulit, menyelesaikan urusan dengan jujur, bukan dengan menghindar.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. Mengingat wajah Iqdam pagi tadi. Cara ia menyebut namaku sebelum berangkat. Cara ia tidak lagi diam tanpa sebab.
Aku tahu, aku tidak bisa menyimpan semuanya sendiri lebih lama.
Bukan karena aku bersalah. Tapi karena hubungan ini terlalu berharga untuk dibangun di atas setengah kebenaran.
Aku mengambil napas panjang.
Di luar, suara motor lewat, anak-anak tertawa, kehidupan berjalan seperti biasa. Tapi aku tahu—di dalam rumah ini, ada percakapan yang menunggu waktunya sendiri.
Dan kali ini, aku tidak ingin menundanya sampai terlambat.
Beberapa kebenaran tidak datang untuk menghancurkan. Hanya apakah kita cukup dewasa untuk membicarakannya tanpa saling melukai.
Dan aku tahu, nama Rika dan Riz tidak bisa terus menjadi bayangan.
.
.