Gelora Cinta Kedua (Novel)

Aksi Iqdam

Pagi itu, aku bangun karena suara air mendidih.

Bukan alarm. Bukan langkah tergesa.

Suara ketel—pelan, sabar, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu.

Aku membuka mata perlahan. Jam di dinding menunjukkan pukul 5 lewat lima belas menit dari biasanya. Sisi ranjang di sampingku kosong, tapi tidak dingin. Artinya, Iqdam baru saja bangun.

Aku membuka selimut sedikit, bersiap salat subuh meski kesiangan. Sambil mendengarkan suara dari dapur. Ada bunyi sendok beradu dengan gelas. Laci dibuka, ditutup pelan. Tidak ada musik. Tidak ada ponsel yang berbunyi.

Hening yang berbeda.

Aku bangkit dan berjalan ke dapur. Iqdam berdiri membelakangi pintu, mengenakan kaus rumah, rambutnya masih sedikit berantakan. Ia sedang menuang air panas ke cangkir.

“Kamu bangun?” tanyanya tanpa menoleh.

“Iya,” jawabku.

Ia menoleh sebentar, tersenyum kecil. “Aku bikin teh.”

Aku mengangguk. Tidak mengatakan apa-apa. Tidak bertanya kenapa tiba-tiba. Tidak juga merasa perlu berkomentar.

Kami duduk berhadapan di meja makan kecil. Dua cangkir teh mengepulkan uap tipis. Hening kembali datang, tapi kali ini tidak menekan. Seperti ruang kosong yang belum diisi, bukan ruang yang ditinggalkan.

“Hari ini kamu di rumah?” tanyanya akhirnya.

“Iya.”

Ia mengangguk. “Aku pulang agak sore.”

“Oke.”

Percakapan yang sangat sederhana. Tapi justru karena itu, terasa jujur.

Setelah ia berangkat, aku berdiri cukup lama di dapur. Menatap cangkir yang sudah kosong. Menyadari satu hal kecil yang aneh: aku tidak merasa cemas ditinggal.

Biasanya, setelah pagi-pagi seperti ini, kepalaku akan mulai mengarang kemungkinan—apakah ini hanya sementara, apakah ini usaha yang lahir dari rasa bersalah, apakah ini akan hilang begitu saja.

Pagi ini tidak.

Aku menjemput Hawa seperti biasa. Ia berlari kecil ke arahku, rambutnya diikat setengah, pipinya kemerahan.

“Ayah bikin teh pagi ini,” katanya tiba-tiba sambil berjalan di sampingku.

Aku menoleh. “Kok tahu?”

“Kan aku lihat,” jawabnya santai. “Ayah bangun duluan.”

Aku tersenyum kecil. Anak ini mencatat hal-hal yang sering kami anggap remeh.

Di rumah, aku bekerja di meja kecil dekat jendela. Matahari masuk tidak terlalu terang. Aku sedang menyusun catatan ketika langkah kaki terdengar di belakangku.

Iqdam sudah pulang.

“Kok cepat?” tanyaku.

“Pekerjaan selesai,” jawabnya. “Aku nggak ada meeting sore.”

Ia tidak langsung duduk. Berdiri sebentar, lalu menarik kursi dan duduk di seberangku. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Kamu lagi ngerjain apa?” tanyanya.

“Proposal lama. Aku revisi sedikit.”

Ia mengangguk. “Perlu bantu?”

Pertanyaan itu membuatku berhenti mengetik.

“Bantu gimana?” tanyaku pelan.

“Entah,” jawabnya jujur. “Baca. Dengerin. Atau cuma duduk.”

Aku menatapnya beberapa detik, lalu menggeser laptop sedikit ke arahnya. “Baca aja. Aku pengin tahu pendapatmu.”

Ia membaca dengan serius. Alisnya berkerut sesekali. Aku memperhatikannya diam-diam—cara ia menahan diri untuk tidak langsung memberi solusi, cara ia menunggu sampai aku selesai bicara sebelum menanggapi.

Ini baru. Dan terasa… canggung.

“Aku nggak ngerti semua teknisnya,” katanya setelah beberapa saat. “Tapi idemu kelihatan jelas.”

“Jelas gimana?”

“Jelas kamu tahu kenapa kamu ngerjain ini.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dadaku menghangat.

Hawa masuk ke ruangan membawa krayon. Ia berhenti melihat kami duduk berhadapan.

“Kok Ayah di sini?” tanyanya.

Iqdam tersenyum. “Ayah nemenin Bunda.”

Hawa mendengus kecil, lalu menyeret kursi dan duduk di antara kami. “Nemenin tuh duduknya dekat,” katanya sambil mendorong kursi ayahnya sedikit ke arahku.

Aku tertawa kecil. Iqdam menurut tanpa protes.

Kami bekerja—atau berpura-pura bekerja—dengan Hawa menggambar di lantai. Sesekali ia mengomentari warna, sesekali meminta pendapat.

Sore itu berjalan tanpa percakapan berat. Tanpa pembahasan yang kami hindari selama berminggu-minggu.

Saat senja datang, kami duduk di teras. Iqdam menuang teh lagi, seperti pagi tadi.

“Gulanya kebanyakan, manis,” kataku.

Ia tersenyum. “Maaf. Besok dikurangin.”

Kalimat “besok” itu menggantung di udara. Bukan janji. Tapi harapan kecil.

Malamnya, aku tidak tahu jika terjadi obrolan antara Iqdam dan Hawa di kamar. Hanya suara samar, sesekali terdengar tawa lalu hening lagi.

Iqdam sedang menutup laptop. Hawa duduk di karpet, menyusun balok.

“Ayah sekarang nggak diem lagi,” kata Hawa tiba-tiba, tanpa menoleh.

Iqdam tersenyum kecil. “Oh ya?”

“Iya,” jawabnya santai. “Ayah dengerin.”

Iqdam mengernyit. “Dengerin apa?”

Hawa berpikir sebentar. “Dengerin Bunda ngomong. Walaupun Ayah nggak jawab banyak.”

Ia berhenti menyusun balok, lalu menatap ayahnya.

“Bunda juga suka lagu sedih.”

Iqdam terdiam. “Lagu apa?”

“Yang Bunda puter kalau bengong,” katanya.

“Katanya… cewek tuh pengin dimengerti.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Hawa nggak ngerti artinya. Tapi kayak… sedih sedih begitu,” jelasnya sambil memonyongkan bibir.

Iqdam menelan ludah.

“Terus?” tanyanya pelan.

Hawa tersenyum.

“Sekarang Ayah udah dengerin. Jadi Bunda nggak bengong lagi.”

"Oh ya? Ayah sudah benar?" 

Hawa mengangguk, mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.

Tak lama, iqdam keluar kamar Hawa, membawa laptopnya lalu diletakkan di meja depanku.

Rupanya Hawa sudah tidur. Kami duduk di ruang tengah. Tidak ada televisi. Tidak ada ponsel.

“Aku kepikiran sesuatu,” kataku pelan.

Ia menoleh. “Apa?”

“Aku capek,” jawabku jujur. “Bukan capek kerja. Capek mikir harus selalu kuat.”

Ia diam. Tidak memotong. Tidak menyela.

“Aku takut salah langkah,” lanjutku. “Takut kalau aku terlalu jujur, malah bikin jarak. Tapi kalau aku diam, jaraknya juga tetap ada.”

Ia menghela napas pelan. “Aku juga.”

Kami saling menatap. Tidak ada air mata. Tidak ada nada tinggi.

“Aku nggak mau kehilangan kamu,” katanya akhirnya. Bukan sebagai tuduhan. Bukan sebagai tuntutan.

“Aku juga nggak mau kehilangan rumah,” jawabku.

Ia mengangguk. Lama.

“Kita nggak harus beresin semua kekacauan ini sekarang,” katanya. “Tapi… aku pengin kita tetap di ruang yang sama.”

Aku menutup mata sebentar. Lalu mengangguk.

Malam itu, kami tidur tanpa saling membelakangi. Tidak berpelukan juga. Tapi jarak di antara kami cukup untuk membuatku merasa—aku tidak sendirian.

Sebelum terlelap, aku memikirkan satu hal:

Kepercayaan mungkin tidak pulih lewat satu percakapan besar.

Tapi lewat pagi-pagi kecil yang konsisten.

Lewat duduk diam tanpa pergi.

Lewat teh yang dibuatkan tanpa diminta.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak merasa perlu buru-buru ke mana-mana.

Aku masih di sini.

Dan ia juga.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!