Gelora Cinta Kedua (Novel)
Menjaga kepercayaan
Pagi itu aku sibuk membagi fokus—satu tangan mengetik laporan, satu lagi memastikan makan siang siap. Dapur dan meja kerja menyatu seperti hidupku belakangan ini: rapi di luar, tapi penuh simpul di dalam.
Iqdam sudah berangkat lebih awal. Katanya ada seseorang yang perlu ditemui, butuh bantuan mendesak. Aku mengangguk saat itu, tapi sejak semalam, ada perasaan ganjil yang belum juga pergi.
Semalam, aku melihat nama Rika muncul di layar ponselnya.
[“Kak, aku butuh bantuan lagi. Keadaan benar-benar mendesak.”]
Iqdam terdiam cukup lama di kursi makan. Tangannya menggenggam ponsel erat, seolah keputusan di dalam layar itu punya bobot lebih dari yang ingin ia akui. Aku mengenal raut itu—ragu, tapi merasa wajib.
Aku tahu, jika aku bertanya lebih jauh, jawabannya tak akan sederhana. Terlebih setelah semua usaha kami membangun ulang kepercayaan yang nyaris runtuh.
Bagi Iqdam, Rika bukan sekadar adik. Ada utang budi yang tak pernah selesai. Saat usahanya hampir tumbang, Rika yang berdiri paling depan, menahan badai bersamanya. Aku paham itu. Aku hanya tak tahu di mana posisiku ketika masa lalu kembali mengetuk.
“Mas, kamu nggak makan?” tegurku akhirnya, mencoba menariknya kembali ke pagi kami.
Ia tersentak kecil. “Eh, iya. Maaf,” jawabnya gugup, lalu cepat-cepat menyelipkan ponsel ke saku.
Aku memperhatikannya diam-diam. Ada jarak tipis yang terasa, meski secara fisik kami duduk bersebelahan. Belakangan ini, ia sering terlihat termenung—bukan dingin, tapi seperti menyimpan sesuatu sendirian. Dan entah kenapa, aku memilih tidak bertanya. Mungkin karena takut jawabannya akan merusak ketenangan yang baru kami bangun.
“Mas,” kataku lagi, kali ini berusaha terdengar ringan. “Sore ini aku ada rapat sama Nadira di komunitas. Aku ajak Hawa, boleh?”
Ia mengangguk tanpa banyak pikir. “Oke. Aku antar kalian kalau gitu.”
Aku tersenyum. Senyum yang kuharap terlihat tulus, meski kegelisahan itu masih menempel seperti bayangan.
Di pertemuan komunitas, aku mulai merasa lebih utuh. Nadira dan anggota lain menyambutku hangat, seolah aku sudah lama menjadi bagian dari mereka. Untuk sesaat, aku lupa pada rasa ganjil itu.
Riz, yang selama ini hanya hadir lewat pesan, muncul lewat panggilan streaming bersama Nadira.
“Mau bicara dengan beliau, Mbak Rachel?” tanya Nadira sambil menyodorkan ponsel.
Aku terkejut. Jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya. Namun aku menarik napas, mengingatkan diri untuk tetap tenang.
“Iya,” jawabku akhirnya, menerima ponsel itu dengan senyum profesional—meski di dalam dada, ada sesuatu yang mulai bergerak, pelan tapi pasti.
“Terima kasih sudah berbagi informasi ini, Pak Riz. Saya sangat terbantu,” ucapku tenang. Aku tetap memperkenalkan diri sebagai Rachel Althea. Nama itu bukan sekadar nama akun; itu batas. Cara paling aman agar orang-orang tak merasa berhak mengulik kehidupanku yang sebenarnya.
Namun, seiring panggilan berlangsung, arah percakapan mulai bergeser.
“Al,” suara Riz terdengar ramah, terlalu ramah menurutku. “Aku penasaran, apa yang sebenarnya mendorongmu fokus di bidang ini? Rasanya kamu nggak cuma sekadar ikut-ikutan. Kamu kayak punya visi besar.”
Dadaku mengencang.
Aku terdiam beberapa detik—bukan karena tak punya jawaban, tapi karena terlalu banyak jawaban yang tak ingin kubagi. Tentang Hawa. Tentang diriku yang merasa kecil di rumah sendiri. Tentang mimpi yang kupendam agar tak dianggap berlebihan.
“Aku cuma ingin membantu orang-orang yang kurang beruntung,” jawabku akhirnya, datar dan singkat. Sengaja kubuat sesederhana mungkin. Aku tak ingin percakapan ini berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.
Panggilan itu berakhir tak lama kemudian. Aku mengembalikan ponsel pada Nadira dengan senyum tipis.
Ia mendekat, suaranya diturunkan. “Mbak Rachel, Pak Riz itu orang baik. Tapi… hati-hati, ya. Beliau kadang terlalu memperhatikan orang baru.”
Aku tertawa kecil, mencoba menepis rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. “Iya, Mbak. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Namun di dalam hati, pikiranku berputar. Apakah ini sekadar peringatan biasa? Atau ada sesuatu yang tak diucapkan?
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Angin yang masuk dari jendela mobil tak cukup mendinginkan kepalaku yang penuh tanya. Aku mulai bertanya-tanya—apakah interaksiku dengan Riz, sesederhana apa pun itu, suatu hari akan menjadi api baru di rumahku?
***
Saat aku sampai, Iqdam sudah duduk di ruang tamu. Wajahnya terlihat murung, pandangannya kosong menatap lantai.
Aku tak tahu bahwa pagi tadi ia sempat menemui Rika di sebuah kafe.
Aku tak tahu bagaimana Rika bercerita soal biaya kuliah anaknya yang semakin berat, tentang ketakutannya menjadi beban, tentang rencana nekat yang bahkan ditentang Iqdam sendiri.
Tanpa aku tahu, Iqdam akhirnya mentransfer sejumlah uang. Diam-diam.
“Mas,” panggilku saat aku masuk ruang tamu.
Ia tersentak kecil, cepat-cepat mematikan layar ponselnya. “Ya?”
“Hawa sudah tidur?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.
“Sudah,” jawabnya singkat.
Aku menoleh, mencoba membaca wajahnya. “Mas nggak biasanya diam begini. Ada apa?”
Ia mengembuskan napas berat. “Aku cuma lelah. Banyak yang harus kupikirkan.”
Aku memilih tidak mengejar. Sebagai gantinya, aku bercerita tentang kegiatan di komunitas—tentang anak-anak, tentang rencana kecil yang terasa berarti bagiku.
Iqdam mendengarkan, tapi aku bisa merasakan jaraknya. Seperti ada dinding tipis yang berdiri di antara kami.
Saat aku meninggalkan ponsel di meja dan masuk ke kamar Hawa sebentar, aku tak tahu bahwa tangannya bergerak hampir tanpa sadar. Ia membuka layar ponselku.
Sebuah pesan dari Riz muncul.
]“Al, kalau ada waktu, kita bisa bicara lebih lanjut soal program ini. Aku rasa kamu punya potensi besar.”]
Aku tak melihat raut wajah Iqdam saat itu. Tak melihat dadanya yang terasa sesak. Tak mendengar gumamannya, “Jadi ini orangnya…”
Saat aku kembali, ponsel itu sudah tergeletak seperti semula.
Malam itu, aku bersandar di bahunya. Ada lelah yang tak bisa kusembunyikan.
“Mas,” ucapku pelan. “Aku tahu kamu masih bantu Rika. Aku cuma mau satu hal… bisakah kita saling terbuka?”
Tubuhnya menegang.
Aku bisa merasakan ia menelan ludah, napasnya sedikit berubah. Namun tak ada jawaban. Ia hanya menarik selimut dan memelukku erat—pelukan yang hangat, tapi menyimpan sesuatu yang tak diucapkan.
Keesokan paginya, Hawa tiba-tiba menangis saat sarapan.
“Bunda nggak pernah temenin aku main lagi,” katanya lirih, tapi cukup untuk menusukku.
Dadaku terasa diremas. Iqdam hanya menatap kami, diam.
“Astaghfirullah…” bisikku. “Maaf, Sayang.”
Aku berjanji akan meluangkan waktu sore itu.
Saat Iqdam bersiap mengantar Hawa ke sekolah, aku berbisik pelan, “Aku nggak mau Hawa jadi korban kalau kita terus begini.”
Ia terdiam lama, lalu berkata ragu, “Aku juga… penasaran. Kamu tambah sibuk akhir-akhir ini. Apa—”
Aku menarik napas dalam. “Kalau kamu nggak percaya, aku nggak tahu harus gimana lagi.”
Ia menunduk. “Maaf. Aku cuma—”
Aku mengangguk. Maafnya kuterima, meski belum sepenuhnya mengobati.
Menjelang malam, sebuah pesan masuk dari Nadira.
“Mbak Rachel, Pak Riz ingin bertemu langsung untuk membicarakan ide besar. Kami bisa atur jadwal kalau Anda setuju.”
Aku menatap layar itu lama.
Aku tahu, keputusan ini bukan sekadar soal komunitas atau mimpi. Ini soal kepercayaan. Soal rumah yang sedang kami bangun ulang, bata demi bata—dengan tangan yang masih gemetar.
.
.