Early Marriage

Perjodohan Aisyah 30

"Nadia!" 

"Tante!" ucap kami kompak. Bagi Bang Alfin, ini tidak mengejutkan karena dia sudah tahu kisahnya. Namun bagi Mama dan Papa mungkin bingung. 

"Eh, ada Om Bram dan Tante Salma, gimana kabarnya, Om, Tante?" Bang Alfin benar-benar penyelamat gue. Berkat dia, kami bisa keluar dari situasi yang kurang nyaman ini. Kami semua duduk di sofa. Tak ketinggalan ada Kak Ais dan pak Rafael mengekor di belakang mereka. 

"Wah, ada acara apa ini? Kok Alfin mencium bau-bau calon pengantin ya," celetuk suami gue yang diikuti derai tawa semuanya. Ekor mata gue melirik sosok pria yang pernah membuat Bang Alfin cemburu itu. Tampak ia salah tingkah di tempatnya. Sementara Kak Ais, menunduk seolah kotak-kotak marmer lebih menarik dibanding kami semua. 

"Iya, sayang. Sebentar lagi adekmu ini akan menikah dengan nak Rafa. Kamu kan juga sudah lama berteman dengan nak Rafa, jadi nggak perlu kagi pakai acara ta'aruf, ya kan, Pa?" Mama terlihat begitu bahagia menceritakan rencanya kepada kami. Dalam hati gue bersyukur, akhirnya pak Rafael mendapat jodoh yang tepat. 

Sebuah tangan menggenggam tangan gue. Jemarinya menyelip di sela-sela jari-jari gue yang leih kecil dibanding tangan itu. Gue tahu apa maksud Bang Alfin. Meski jelas pria di depannya akan menjadi suami adeknya, tapi kecemburuan di dalam dirinya masih sangat terasa. Apalagi saat ekor mata gue mangkap pria yang sebentar lagi akan jadi ipar gue itu menatap tajam ke arah tangan kami. 

Apa-apaan ini, harusnya dia bisa menjaga perasaan calonnya dong, kenapa sikapnya kentara sekali kalau dia justru cemburu pada kedekatan kami? 

Para orang tua sibuk membicarakan hari pernikahan mereka, sementara gue sibuk dengan pemikiran yang nggak jelas ini. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kalau gue analisa, ini sangat cepat. Mengingat apa yang baru saja terjadi diantara kami bertiga. Kesalahpahaman waktilu itu ... dan, apa Kak Ais dijadikan pelarian? Semoga saja tidak. 

Seperti gue dulu, meski awalnya nggak mau dijodohin, nyatanya kami bisa saling cinta. Ah, semoga saja. 

"Jadi pernikahannya akan dilakukan dua minggu lagi, dan kalian Al sama Nadia, sekalian kami nikahkan bareng mereka," ucap Papa membuat fokusku teralihkan. 

"Tapi kami kan sudah nikah, Pa," bantah Bang Alfin mewakili pertanyaan gue juga. 

"Baru akad nikah, sayang. Kalian kan belum resepsi. Jadi nanti sekalian saja dibarengkan adekmu. Resepsinya dua pasang berarti." Kami saling berpandangan. Begitupun dengan Rafael yang menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin mau protes, tapi tak cukup nyali. 

Saat itu juga Papi dan Mami diminta datang untuk membicarakan soal ini. Sementara kami berempat disuruh ke butik langganan Mama untuk memesan baju pengantin. Benar-benar diluar dugaan. Niat kami datang hanya untuk silaturahmi, malah jadi begini. 

Kami pergi mengendari mobil Bang Al dengan Pak Rafael sebagai drivernya. Disebelah driver duduk Bang Al, dan gue sama Kak Ais duduk di belakang. Cewek kalau sudah ketemu cewek, maka apap pun bisa jadi bahaan obrolan. Keseruan kami harus berakhir ketika mobil parkir di depan butik terkenal yang menyediakan baju-baju pengantin adat maupun muslim. 

Cukup lama kami memilih-milih gaun yang cocok. Bang Al selalu cerewet ketika gaun yang gue pilih kurang syar'i menurutnya. 

 "Pokoknya nggak boleh pres body, gak boleh nerawang, dan nggak boleh menjuntai seperti ekor. Panjangnya sebatas kaki saja," ucapnnya memperingatkan. 

Untungnya butik ini sangat lengkap. Gue dan Kak Ais memilih gaun yang berbahan sama dengan model sedikit berbeda. Warnanya sama-sama putih. Sementara pakaian prianya, Bang Al memilih setelan jas warna putih juga. Untuk Pak Rafael memilih yang sama juga, bedanya dia ditambah sarung. 

Setelah mendapatkan apa yang kami butuhkan, kami mampir rumah makan untuk makan siang bersama. Sebuah warung lesehan yang menawarkan menu ikan bakar dan sea food lainnya menjadi pilihan kami. 

Bang Al sengaja memilih tempat paling ujung. Sebuah saung berbentuk panggung terbuat dari kayu dengan atap jerami. Di bawahnya terdapat kolam ikan besar yang akan diambil untuk dimasak. Jadi setiap menu yang dimasak selalu dalam bentuk fresh. 

Selama makan tak ada banyak percakapan. Suasananya begitu canggung. Tak mau larut dalam kesunyian, sesekali gue ajak Bang Al untuk ngobrol. 

"Aduh!" Tangan gue tertusuk duri ikan gurame yang lumayan tajam. Biasanya kalau di rumah, Mami selalu membantu membuang durinya sebelum gue makan. 

Dua pria yang sedang fokus dengan makanannya menatap gue serempak. Bahkan mereka juga kompak bertanya. 

"Kenapa, Nad?" 

"Kenapa, Sayang?" 

Kini semua mata fokus ke gue. Sumpah, rasanya gue pengen tabok nih mulut. Pasalnya, Kak Ais jadi memandang gue dan calon suaminya bingung. Apalagi saat pria itu spontan menyodorkan selembar tisu untuk megelap setitik darah yang keluar dari bekas duri yang menancap itu. 

Gue menatapnya dan Bang Al bergantian. Ada api yang mulai membara di mata suami gue. Aduh, bahaya ini. Bisa berabe kalau gue nggak segera mengalihkan suasana ini. 

"Nadia nggak papa kok, Bang. Cuma luka kecil aja," ucap gue menenangkan pria berstatus suami ini. Gue sodorkan jemari ini ke depan mukanya agar bisa dilihat. Tak disangka, dia justru menghisap darah itu dengan mulutnya. 

Muka gue pasti sudah memerah sekarang. Dengan ekor mata, gue lirik Kak Ais yang tersenyum. Lalu calon suaminya yang mematung dengan tangan masih di udara memegang selembar tisu. 

"Lain kali hati-hati. Durinya besar dan tajam." Bang Al mengalihkan tatapannya, lalu kembali fokus pada ikan yang belum separuh termakan. Dengan telaten ia membuang duri-duri dari ikannya, lalu disodorkan ke gue. Sementara ikan gue diambil dan dimakan olehnya. 

Adegan ini tak luput dari tatapan Pak Rafael yang tiba-tiba menyudahi makannya. 

"Aku ke toilet dulu," ucapnya dan berlalu begitu saja. Entah mengapa gue merasa ada yang nggak beres dengannya. Seperti sedang cemburu? Ah, tidak mungkin. Dia kan sudah mau menikah. Mungkin perasaan hue saja yang ke-GR-an. 

***

Pukul 8 malam kami sampai di rumah. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan. Lelah fisik dan lelah hati. Apalagi setelah acara makan siang tadi, sikap Pak Rafael berubah dingin. Bang Al sendiri juga jadi pendiam. Seperti perang tak kasat mata antara mereka berdua. 

"Sayang, apa kamu tahu kalau Rafa mau menikah dengan Ais sebelumnya?" Gue yang lagi mengeringkan rambut menoleh padanya. 

"Nggak tahu, Bang. Nadia pikir Bang Al sudah tahu duluan." Gue selesai acara pengeringan rambut ini, lalu berjalan menuju ranjang. Duduk berhadapan dengan posisi yang sama dengan suami gue ini. 

"Abang ... khawatir Ais cuma buat pelarian aja," lirihnya. 

"Maksudnya, Bang?" 

"Nadia, Abang yakin kamu tahu maksud Abang. Bukankah sangat jelas sikap Rafa tadi? Abang tahu arti tatapannya padamu. Kekhawatirannya saat kamu tertusuk duri tadi. Lalu tiba-tiba pergi, padahal makannya belum selesai. Abang laki-laki, Sayang. Abang tahu dia masih menyimpan rasa untukmu. Kasihan Ais!" 

Benar. Gue tahu itu semua, Bang. Gue juga tahu itu. Bagaimana cara ia menatap gue. Bagaimana cara dia memperlakukan Kak Ais, sangat berbeda dengan caranya memperlakukan gue. Tapi gue masih cukup waras untuk tak mengatakan itu pada lelaki posesif ini. Ya, semenjak hubungan kami membaik, dia berubah jadi posesif. Dan gue suka. 

Bunyi notifikasi HP mengalihkan kami yang sedang bersitegang. Tatapan kami beradu ketika nama yang sedang kami bicarakan muncul di layar android gue.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!