Early Marriage
Ada yang Berubah
Bang Alfin mengerikan ternyata kalau sedang cemburu. Pribadinya yang kaku berubah jadi lebih garang seperti emak-emak nggak dikasih uang jatah sebulan. Apa pun yang gue katakan tak mampu membuatnya langsung percaya begitu saja.
Baru tahu kan rasanya terbakar api cemburu? Ya begitu, Bang rasanya. Sakit. Namun tak berdarah. Ini baru lihat istri disukai pria lain, belum pernah melihat bermesraan atau berduaan di depan matanya sendiri. Bayangkan apa yang gue rasakan saat Abang tiba-tiba membawa perempuan lain ke rumah. Lalu mengabaikan keberadaan gue dan selalu memujinya di depan gue. Apa itu tidak menyakitkan, Bang? Sayangnya semua itu hanya gue katakan dalam hati.
Gue tak mau menambah masalah dengan membandingkan dua kasus ini. Terpenting sekarang adalah bagaimana caranya supaya lelaki yang telah berhasil mencuri hati gue ini percaya kalau gue nggak main api seperti apa katanya.
"Buktikan pada Abang kalau kamu benar-benar nggak ada hubungan sama dia," ucapnya penuh penekanan. Tatapannya tak mau fokus pada gue. Seolah jijik jika melihat istrinya yang cantik seperti artis korea nyasar ini.
"Abang mau bukti apa biar percaya?" Gue mencoba meyakinkan hatinya supaya tak lagi curiga. Namun ternyata keputusan gue untuk menantangnya membuat gue terjebak pada permintaannya yang sulit gue kabulkan.
"Yakin bisa melakukannya?" Gue mengangguk perlahan. Ragu-ragu apakah gue bisa atau tidak. Namun gue sudah terlanjur mengiyakan, apapun resikonya gue harus bisa menanggung. "Jadilah istriku seutuhnya mulai malam ini."
Gue hanya bisa melongo mendengar permintaannya. Bukankah gue sudah menjadi istrinya seutuhnya? Bahkan sejak di rumah mami waktu itu, gue sudah meyerahkan seluruh hati gue padanya.
Dia yang tadinya cuek, kini menatap mata gue intens. Memupus jarak di antara kami secara perlahan hingga deru napasnya terasa hangat menerpa wajah gue. Tiba-tiba keringat dingin membanjiri seluruh permukaan kulit ini. Jantung gue berdentam-dentam menghantam dada. Gue hirup udara kamar ini sebanyak-banyaknya agar tidak megap-megap akibat ulah pria ini.
Tanpa sadar kepala gue mundur seiring dengan semakin dekatnya wajah tampan pria itu ke gue. "Layani Abang seperti layaknya istri yang melayani suaminya," bisik pria ini yang hampir saja membuat gue pingsan karena terkena serangan jantung.
***
Mentari pagi sudah mulai bersinar terang saat gue melangkahkan kaki menuju garasi. Dengan santai gue naik ke motor matic kesayangan gue. Namun tiba-tiba tangan suami gue mengambil kunci motor ini.
"Aku antar," ucapnya tak terbantahkan. Terpaksa gue turun dari motor dan masuk mobil. Sepanjang jalan Bang Alfin memberi wejangan agar gue menurut padanya.
Kali ini gue tak bisa menolak saat mobil sudah memasuki pintu gerbang dan terus melaju hingga tempat parkir. Bang Alfin seperti sengaja melakukannya agar pada tahu gue sudah ada yang punya.
Mobil berhenti dan gue masih sibuk dengan pikiran yang berkecamuk. Hingga tak menyadari jika Bang Alfin sudah tak ada di tempat. Ia turun dan membukakan pintu untuk gue.
Beberapa pasang mata sudah menuju kami, seolah menunggu siapa yang turun dari mobil ini. Sesaat gue pejamkan dan menarik napas dalam-dalam, lalu keluar setelah mencoba menetralkan hati ini yang gugup.
Perlahan gue keluar, mendukkan kepala agar tak melihat mata-mata kepo itu. Gue lirik pria ini yang tersenyum lembut. Menyodorkan tangannya untuk gue cium. Mau tak mau gue melakukan itu dengan cepat dan segera berlalu. Bang Alfin terkekeh melihat tingkah konyol gue.
Gue tetap berjalan dengan penuh percaya diri melewati para mahasiswa yang saling berbisik. Ah bodo amat, kalau mereka akan tahu. Toh tidak haram juga kuliah sudah bersuami. Langkah gue mengayun menuju ke ruangan dosen untuk menyerahkan tugas Pak Rafael berupa revisi proposal yang sudah dipresentasikan kemarin.
Dengan jantung berdegub kencang, gue ketuk pintu ruangan bertuliskan ruang dosen. Setelah ada perintah masuk, gue melangkah dengan hati-hati. Netra gue memindai seluruh ruangan ini. Sepi. Hanya ada Pak Rafael seorang diri. Mungkin dosen yang lain sudah pada di kelas atau belum datang.
Letak meja kerja Pak Rafael yang berada di pojok belakang membuat langkah ini serasa lama. Pria itu hanya menatap gue sekilas lalu kembali fokus pada kerjaannya. Gue merasa ada aura berbeda yang tercium darinya. Sikapnya tak lagi humble dan ramah seperti sebelumnya.
"Permisi, Pak. Saya mau menyerahkan revisian proposal ini."
"Hem, taruh saja di sini," ucapnya tanpa melihat gue. Entah mengapa gue merasa pria ini sedang menghindari bertatap mata dengan gue. Ada apa sebenarnya?
"Tidak dilihat dulu, Pak? Barangkali ada yang masih salah," ucap gue hati-hati. Pria itu menghentikan aktivitasnya. Lalu memandang sekeliling yang sepi.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau sudah menikah?"
"Hah? Bapak tahu da--dari mana?" Bibir ini rasanya kelu. Nggak menyangka justru pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Bahkan dia mengabaikan proposal gue.
Pria ini terkekeh. Namun seperti menyembunyikan luka yang sengaja ditutupi dengan tawa. "Lucu ya, ternyata saya bisa tertipu oleh gadis kecil sepertimu."
"Maksud Bapak apa? Saya tidak pernah menipu siapa pun. Bapak yang menyimpulkan sendiri tentang status saya." Nada bicara gue agak meninggi. Nggak terima dibilang penipu olehnya. Enak saja, bukankah dari awal gue sudah bilang kalau gue dijodohkan? Lagian, dia juga tak pernah bila bilang suka kan sama gue?
"Saya sudah berharap banyak padamu, Nadia. Saya pikir kita berjodoh. Bahkan mama sudah sangat setuju dengan hubungan kita."
"Hu--hubungan? Tapi kita selama ini kan nggak ada hubungan apa-apa, Pak?"
"Ya. Benar. Saya yang terlalu ngarep. Bodohnya saya tak menyelidiki dulu status kamu. Saya pikir kamu masih singgle mengingat usiamu masih sangat muda. Ah, sudahlah Nadia. Percuma disesali, toh faktanya kamu sudah menjadi istri sahabat karib saya."
Tak ingin berlama-lama ngobrol dengan dosen satu ini, gue memilih segera undur diri dan melangkah keluar.
Namun baru beberapa langkah, pria itu memanggil. "Nadia!"
Gue berbalik dan menatapnya. "Ya?"
"Apa kamu bahagia?"
Gue tak mampu menjawab. Pikiran ini menelisik kedalaman hati gue untuk memastikan apa gue bahagia hidup bersama Bang Alfin atau tidak. Ada getaran aneh ketika mengingat wajah pria yang menjadi imam gue itu. Dengan senyum tulus, gue mengangguk mantap pada pria yang menajdi sahabat suami gue ini. Lalu kembali berbalik dan benar-benar keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa panas ini.
Gue terperanjat saat tiba-tiba ketiga sahabat gue langsung meyerbu. Rupanya mereka sudah menunguu gue di depan ruang dosen.
"Gimana, Nad, apa proposal Lo dah beres?"
Gue mengangguk tanpa berniat menjawab. Lalu berjalan denagn gontai diikuti ketiga gadis jomblo ini. Obrolannya gue abaikan seperti angin lalu.
"Nad, Lo kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi pendiem gini?" Jeni yang peka menghentikan langkah gue. Setelah memastikan tak ada mahasiswa yang memperhatikan kami, gue menepi.
"Pak Rafel kemarin main ke rumah."
"Wah, asik dong," sela Chika tanpa tahu situasi. Ia begitu semangat mendengarkan cerita gue.
"Dan ternyata dia sabahat Bang Alfin," lirih gue.
Ketiga gadis ini menutup mulut mereka dengan tangan. Ekspresi terkejut tak mampu disembunyikan.
"Terus?" tanya mereka kompak.
"Tadi dia ngomong banyak hal. Ternyata ... dia selama ini su--suka sama gue."