Early Marriage

Nasehat untuk Istri

"Eh, maaf, Pak. Saya buru-buru. Permisi," ucap gue langsung meninggalkan Pak Rafael dan ketiga teman gue. Supaya tak terlihat oleh dosen ganteng itu, gue berusaha menyusup di antara para mahasiswa yang berjalan menuju gerbang.

Sebelum masuk mobil, sekali lagi gue memastikan mereka tak melihat gue. Secepat kilat gue langsung masuk dan duduk di samping bang Alfin. Gue menekan dada untuk menetralkan degup jantung yang berdentam-dentam ini. 

"Kenapa, sih?"

"Astaghfirullah, Bang. Bikin kaget aja, deh!" 

Bang Alfin menatap gue curiga. Matanya menelisik menjadikan jantung ini semakin berdebar. 

"Kamu kenapa, sih? Kayak maling aja ngumpet-ngumpet." 

"Udah, ah. Jalan yuk, Bang!" 

Akhirnya mobil melaju meninggalkan kampus. Sepanjang jalan Bang Alfin terus melirik gue. Sementara pikiran gue fokus pada pada kejadian tadi. Hampir saja Pak Rafael tahu kalau gue dijemput. 

"Bang, em ... besok lagi nggak usah diantar ya. Seperti biasanya aja, Nadia berangkat sendiri." 

Lelaki di samping gue ini menoleh. Lalu menghela napas pasrah. Namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. 

"Nggak papa kan, Bang?" Gue mencoba mencari kepastian. Diantar jemput begini membuat gue nggak bisa bebas bermain setelah kuliah. Belum lagi kalau teman-teman pada tahu gue dah nikah. Bisa geger jagad kampus. 

Bang Alfin bergeming. Ia tetap fokus pada jalanan. Namun sepertinya ada yang beda dari sikapnya. Ah, bodo amat lah. 

Makan malam ini kami lalui dalam keheningan. Hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang mendominasi acara makan malam ini. Sepertinya Bang Alfin marah, deh. Tapi karena apa? Perasaan gue nggak ngelakuin kesalahan. Tadi aja saat Pak Rafael mencoba mengantar pulang, gue sudah menghindar. Lalu, apa yang membuatnya marah?

Hingga makan malam selesai, lelaki itu masih bungkam. Ia pergi meninggalkan gue yang masih berkutat dengan bekas makan di dapur. 

"Bang," ucap gue memastikan jika ia belum tidur. Nggak mungkin kan, baru beberapa menit sudah langsung tidur aja. 

"Hem."

"Sudah tidur?"

"Hem."

"Abang marah, ya?" lirih gue mencoba menarik perhatian darinya. Ranjang sebelah gue duduk bergerak. Pria berstatus imam gue ini duduk dan bersandar di kepala ranjang. 

"Sebenarnya kamu menganggap Abang ini apa, sih?"

"Hah, ya suami lah, Bang!" Heran deh. Kenapa tiba-tiba jadi melow gini, sih. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan lelaki ini?

"Kalau gitu, kenapa malu katahuan? Apa Abang sejelek itu sampai kamu malu mengakui Abang sebagai suami?" ucapnya sendu. Mati gue, sepertinya lelaki pemilik hati gue ini--mulai sekarang--sedang baper. 

"Bu--bukan gitu, Bang. Nadia kan kemarin sudah bilang kalau Nadia belum mau ada yang tahu kalau Nadia sudah nikah. Nadi--"

"Oke. Abang tahu. Kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu, kan?" 

"Nah, itu tahu."

"Abang pikir, Abang bisa berharap banyak dari pernikahan ini. Setelah tahu kalau ternyata cinta Abang nggak bertepuk sebelah tangan, Abang pikir kita bisa mulai menjalani pernikahan ini layaknya pernikahan normal lainnya. Ternyata mimpi Abang ketinggian." 

Pria berjanggut ini menengadahkan kepala. Menutup mata sejenak lalu menghela napas panjang. Seperti ada beban berat yang hendak dibuang dari dalam dadanya. 

"Abang baru sadar, kalau istri Abang ini masih belia."

Gue kehilangan kata-kata. Nggak menyangka dia akan berpikir seperti itu. Padahal gue hanya belum ingin pernikahan ini diketahu teman-teman kampus saja. Bukan tak mengakuinya sebagai suami. Ah, kenapa pemikiran orang dewasa itu ribet banget. Bukankah yang penting ketika di rumah kita bisa sama-sama menjalani kehidupan seperti yang diinginkan tadi? 

"Nadia ... Nadia hanya belum siap menerima fakta kalau Nadia sudah nggak single lagi. Nadia butuh waktu, Bang. Tolong ngertiin Nadia," ucap gue mengiba. Pria ini hanya menatap sekilas, lalu menerawang. 

"Ya, Abang tahu. Kamu masih ingin bebas. Tapi asal kamu tahu, seorang perempuan ketika sudah menjadi istri, tanggung jawabnya berubah." 

Bang Alfin mengubah posisi duduknya menjadi menghadap gue. Tatapannya lurus, tepat mengenai manik gue. Tangannya menggenggam tangan gue. Mau tak mau gue ikut memposisikan diri sepertinya. 

"Tolong bantu Abang. Ringankan beban Abang di hadapan Allah kelak," ucapnya lirih. Seketika degup jantung ini semakin cepat. Jika sudah membawa akherat, gue yang badung ini tetap tak kuat. 

"Apa kamu mau membantu meringankan hisab Abang di hadapan Allah kelak, Sayang?" Pipi ini memanas mendengarnya memanggil sayang. Kaca mana kaca. Pasti sekarang wajah gue sudah seperti tomat matang. Ah, sesederhana ini membuat hati gue berbunga-bunga. 

"Gimana caranya, Bang?" tanya gue penasaran.

"Nurut sama Abang."

"Maksudnya?"

"Jika seorang istri patuh sama suaminya, dia telah membantu meringankan azab suami di akherat. Apalagi jika istri mau menjaga kepercayaan suami," Bang Alfin menjeda kalimatnya. Lalu mencium tangan gue dengan penuh penghayatan. Membuat darah gue berdesir. "Maukah kamu menjadi istri yang shalehah, Sayang?"

Tentu saja gue mau. Semua wanita beriman pasti ingin jadi shalehah. Karena istri shaleha sebaik-baiknya perhiasan dunia. Dan gue ... meski masoh suka pecicilan, tapi memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari perhiasan dunia itu. Gue juga mau masuk surga lewat pintu mana saja yang gue mau sesuai yang dijanjikan Allah. 

Tapi ... rasanya berat untuk jadi wanita shalihah. Gue masih sering semaunya. Nggak amanah dengan pesan suami. Bahkan sering pergi tanpa izin. Ditambah lagi, gue belum bisa melayani suami jika ia meminta. 

Tiba-tiba diri ini merasa kerdil di hadapan Allah. Merasa banyak dosa dan lemah. Gue tatap netra hitam itu dalam. Harapan besar terlihat jelas darinya. Perlahan gue mengangguk. 

"Makasih, Sayang. Makasih," ucapnya sambil merengkuh tubuh gue. Ia mencium kening ini bertubi-tubi membuat tubuh semakin tegang. Apa dia tak tahu perbuatannya membuat darah gue berhenti mengalir? Apa dia tak paham jika sikapnya yang manis begini bisa membuat gue diabetes? Ah, tanpa gula pun, hidup gue sudah semanis ini. Nyesel gue sempat menolak perjodohan ini. Coba dari awal gak perlu ada drama segala, mungkin hubungan kami sudah jauh lebih berkembang dari ini. 

Setelah tenggelam dalam lautan cinta yang baru saja bersemi, suami gue yang gantengnya kebangetan ini meminta gue belajar banyak dari Kak Aisyah. Belajar bagaimana menjadi perempuan yang sesungguhnya. Dalam artian perempuan yang sesuai dengan tuntunan Islam. 

Meski awalnya ragu, tapi gue mengiyakan saja. Toh ini semua demi kebaikan dunia dan akhirat kami kelak. 

"Tapi pelan-pelan saja ya, Bang, belajarnya. Nadia butuh proses untuk bisa berubah seperti Kak Ais."

"Tentu saja, Sayang." Pria ini menoel hidung gue yang mancung, menggetarkan segumpal daging di dalam sana yang sudah mulai tenang. Debar-debar cinta mulai menghantam dinding pertahanan gue yang kokoh. Sedikit demi sedikit merontokkan ego yang yang menjulang. 

"Iih, rese, deh," ucap gue dengan bibir mengerucut. Bukannya berhenti menggoda, pria ini justru semakin membuat gue tak bisa berkutik. Satu fakta yang gue temukan

hari ini, suami gue ini hobi membuat iatri tersipu dan salting.

"Sayang, kamu cantik!" 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!