Early Marriage
Hati yang Luka
Gue mulai waspada. Kenop pintu itu terus berputar. Suara kunci berbunyi, membuat dada ini berdegub kencang. Siapa lagi yang pegang kunci kamar ini selain gue dan lelaki tak peka itu. Sebelum pelakunya masuk, gue langsung berbaring memungggungi pintu dan menutup tubuh dengan selimut hingga ke pundak. Harap-harap cemas menanti apa yang akan terjadi setelah ini.
Pintu terbuka, jantung gue memompa darah lebih cepat. Pura-pura tidur adalah hal terbaik yang bisa gue lakuin saat ini. Kasur sebelah tidur gue bergerak, seperti ada orang yang duduk di sana. Namun gue tetap merem dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Hitungan mundur dari 10 gue rapalkan dalam hati. Tepat pada hitungan ke tiga, seseorang yang gue yakin itu suami gue berbaring di belakang gue. Napasnya terdengar kasar. Seperti sedang berusaha mengeluarkan beban berat dari dadanya.
Tubuh gue menegang saat sebuah tangan melingkar di perut gue. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelusup dalam dada.
"Andai kamu tahu, Nadia," lirihnya yang masih bisa gue tangkap jelas di telinga. Apa yang nggak gue tahu? Sebenarnya dia sedang menyembunyikan apa dari gue? Apa tentang wanita itu? Apa dia pikir gue nggak tahu? Ah, gue malas berpikir tentangnya. Sayang otak gue yang encer jadi tersumbat gara-gara dijajah olehnya.
Tiga hari lagi jadwal kuliah gue muncul. Setelah libur panjang paska UAS, saatnya kembali ke rutinitas semula. Mungkin dengan kembali ke kampus, pikiran gue yang mulai buthek bisa jernih kembali. Kebebasan yang hilang bisa gue dapatkan lagi. Ah, senangnya. Rasanya sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.
Kumandang adzan subuh mengembalikan kesadaran jiwa-jiwa yang terlelap. Gue buka mata dan melihat ke samping. Kosong. Pasti dia sudah ke masjid. Atau yang terjadi semalam cuma mimpi? Ah, nggak mungkin. Jelas-jelas gue belum tidur semalam. Dengan pikiran berkelana, gue bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Tak ada bekas orang menggunakan kamar mandi ini sebelumnya. Jika benar dia semalam tidur di samping gue, harusnya ada bekas air di sini.
Gue menepuk-nepuk jidat berharap bayangan tentang pria kaku itu hilang. Apa mungkin gue sudah mulai tertarik padanya? Rasanya nggak mungkin secepat ini, kan? lagi pula, dia bukan tipe gue.
***
"Assalamu'alaikum, pagi sayang," ucap lelaki itu pada wanita dewasa berbalut gamis cokelat yang sedang menata sarapan di meja makan.
"Wa'alaikumsalam. Pagi juga abang sayang." Perempuan itu menerima kecupan mesra dari pria pemilik mata elang itu. Keduanya duduk saling berdampingan. Melempar senyum satu sama lain.
Lihatlah betapa mesranya mereka. Bahagia sekali dua sejoli itu hingga tak menyadari keberadaan gue. Dengan memutar bola mata malas, gue berjalan melewati mereka menuju pantry. Mengambil sebutir telur, menuangkan pada teflon panas dan menunggu matang. Lalu meletakkan telur mata sapi itu di atas roti tawar. Memberinya Selada, potongan tomat, mayonaise dan menutupnya dengan sehelai roti tawar lagi. Gue merasa dua pasang mata itu memerhatikan gerak-gerik ini. Bodo amat lah. Setelah menyeduh susu hangat, lalu membawa sarapan ini ke gazebo. Tak lupa membawa sebuah novel yang gue kempit di ketiak.
Cukup lama gue menghabiskan waktu di gazebo ini. Menikmati bacaan novel yang sialnya ceritanya begitu melow dan menguras air mata. Bukannya terhibur, justru semakin baper. Ah, bahkan novel saja seakan mengutip kisah hidup gue. Setelah menghabiskan sepertiga halaman novel, gue beranjak dari sini. Menuju rumah utama yang sudah sepi. Lagi, gue ditinggal sendirian di sini.
Biasanya wanita itu rajin membersihkan rumah sebelum berangkat. Tapi kali ini rumah ditinggal dalam kondisi berantakan. Niat hati ingin keluar mencari udara segar, akhirnya gue menjalankan tugas beberes ini. Entah mengapa, timbul dalam hati untuk melakukan tugas gue sebagai istri. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, dan tugas lainnya. Kecuali satu hal.
Dengan semangat membara, gue mulai dengan membersihkan dapur. Dulu ini daerah kekuasaan gue sebelum wanita itu datang. Sekarang gue harus merebut kembali wilayah ini. Jangan sampai wanita yang baru beberapa hari di sini menjajahnya. Lalu menyapu dan mengepel semua lantai. Memebersihkan kamar mandi hingga mencuci. Pukul 12 siang, semua kerjaan sudah beres. Lantai kinclong, pakaian tercuci bersih semua. Dan kini gue terkapar tak berdaya di sofa depan TV dengan tangan masih memegang kemoceng.
Terdengar suara derap langkah mendekati ruangan ini. Samar-samar orang berbicara masuk ke indra pendengaran. Tapi mata ini rasanya sudah lengket. Tubuh juga lemas. Mungkin kecapekan mengerjakan semua pekerjaan ini.
Beberapa menit kemudian suara-suara itu hilang. Lalu tubuh ini terasa melayang. Berayun-ayun laksana naik kora-kora. Tapi kenapa hidung ini mencium aroma wangi? Ah, rasanya nyaman sekali. Hingga akhirnya gue merasa seperti terhempas di awan yang lembut. Woah, ini beneran nyaman.
Mata ini terbuka. Silau cahaya dari jendela menerobos masuk ke lensa mata membuat gue terpaksa harus menutupnya kembali. Lalu kembali membuka dan ... betapa terkejutnya gue. Sekarang gue sudah tertidur di kamar, gaes. Siapa yang mindahin gue? Mata ini membelalak tatkala melihat baju yang gue pakai sudah berubah. Apa tadi gue mimpi sedang bersih-bersih rumah? Ya ampun Nadia, bahkan kamu sekarang sudah mulai halu.
Kaki ini melangkah menuju ruang makan. Perut melilit memaksa gue datang ke sini untuk memenuhi hak tubuh ini. Lagi, gue melongo menatap hidangan di atas meja yang sama persis dengan apa yang ada dalam mimpi gue tadi. Bedanya makannya sudah berkurang. Untuk memastikan nggak mimpi, gue berlari ke kamar mandi. Kinclong. Lalu ke dapur. Bersih. Masih kurang puas, berlari ke jemuran, banyak pakaian di sana. Berarti gue nggak mimpi. Lalu siapa yang mindahin gue ke kamar? Trus baju ini, siapa juga yang gantiin? Tiba-tiba bulu kuduk gue meremang. Mengambil langkah seribu menuju teras. Di sini gue merasa aman.
Napas gue masih tersengal. Niat untuk mengisi perut batal gegara kejadian ganjil ini. Berulang kali gue ketok-ketok kepala, berharap mengingat kejadian yang sebenarnya. Ah, bisa gila gue lama-lama.
Dengan membaca ayat kursi, dan ayat-ayat pendek yang gue hafal, kaki ini melangkah masuk kembali. Mengambil ponsel yang sudah beberapa hari gue lupakan. Sengaja gue off-kan supaya tak ada yang bisa ngubungi gue. Lalu menuju ke ruang makan untuk mengambil makanan.
Pukul empat sore sebuah mobil yang gue kenal memasuki halaman rumah yang luas. Gue yang masih setia di teras sambil bermain HP pura-pura tak mendengar. Fokus pada beberapa chat temen-temen yang heboh karena gue kembali menghilang.
Tepat ketika dua pasangan itu sampai di depan gue, sebuah panggilan masuk ke benda pipih yang gue pegang. Nomor tak dikenal. Terpaksa gue angkat untuk menghindari bertegur sapa dengan mereka.
"Ya, benar. Siapa ya?"
[Kamu nggak ingat aku?]
"Siapa, Rafael? Rafael yang nolongin gue waktu itu? Hei, apa kabar?" Sengaja gue keraskan suara supaya lelaki yang itu mendengar. Benar. Tiba-tiba langkahnya berhenti saat gue menyebut nama Rafael. Samar bibir ini tertarik ke atas.
[Aku lagi di taman, nih. Bisa ketemuan, nggak?]
"Sekarang?" Gue melirik pria itu yang mematung di depan pintu. "Tapi kayaknya nggak bisa deh."
[Ayolah, Nadia. Sebentar aja]
"Penting banget, ya? Oke, deh. Tunggu sebentar ya."
Gue langsung melangkah melewati pria yang sedari tadi mematung di ambang pintu. Beberapa menit kemudian kembali keluar memakai jaket. Masih pura-pura tak melihat, gue melangkah menuju gerbang.
"Nadia, mau kemana?" Gue berhenti tanpa menoleh. Menyembunyikan senyum agar tak terlihat olehnya. Hati ini menghangat mendengar panggilannya. Setelah beberapa hari, akhirnya dia menganggap gue ada. Kaki ini kembali melangkah tanpa memedulikan dia.
"Nadia, kamu nggak denger ucapan saya?"