Dua Hati Satu Cinta
Rahasia Hati Bagas
"Berat, Bro. Ini benar-benar berat."
Bagas menggeleng-nggelengkan kepalanya. Merasa prihatin dengan masalah yang menimpa sahabatnya.
"Apaan, sih. Mending bantu selesaikan masalah ini kalau kamu nggak ingin lihat temanmu menderita."
Bagas terbahak-bahak mendengar keluhan sahabatnya. Seorang pemimpin perusahaan yang biasa tegas menghadapi clien, kini tak berkutik hanya karena wanita. Memang Bagas akui, pria di sampingnya ini payah soal perempuan. Hatinya mudah luluh hanya dengan rayuan sang mantan.
Ia jadi kasihan sama Amira. Perempuan yang diam-diam pernah disematkan dalam doanya tanpa sepengetahuan Arman. Dulu, ia jatuh cinta pada perempuan shalehah itu. Namun karena takut ditolak, ia hanya meminta pada Sang Pemilik Cinta untuk disatukan sembari memantaskan diri.
Dan mungkin itulah jawaban Allah atas do'a-do'anya. Selang beberapa bulan, terdengar kabar Arman menikahi wanita pujaannya. Tentu saja ia sangat terpukul mendengarnya. Karena yang dia tahu Arman sudah mau menikah dengan Melly, perempuan yang beberapa menit lalu pergi meninggalkan kantor ini.
Lama ia menjauhi sahabatnya, hingga ia menyadari jika Armanlah jodoh yang dipilihkan Allah untuk gadis pujaannya. Sepuluh tahun ia memilih untuk memendam perasaannya. Terlebih melihat kebahagiaan perempuan itu.
Namun, sekarang ... ketika melihat Arman telah menyakiti perempuan yang masih tersemat rapi namanya di dalam hatinya, Bagas tak rela. Ia bertekad, jika Arman benar-benar menikahi Melly, ia akan merebut kembali apa yang pernah ia perjuangkan. Dan itu, hanya dia dan Allah yang tahu. Bahkan hingga detik ini, Arman tak pernah tahu jika sahabat sekaligus partner kerjanya telah menyimpan nama istrinya.
Jam makan siang, Arman memilih untuk menjemput kedua anaknya. Ia tak ingin kejadian dua hari lalu terulang lagi. Dimana anaknya ngambek karena telat menjemput. Bahkan ia rela melewatkan makan siangnya demi menjemput buah cintanya.
Tepat saat mobilnya parkir di depan gerbang sekolah, terlihat anak-anak berhamburan mencari jemputan masing-masing. Arman menajamkan penglihatannya supaya dapat menemukan kedua putrinya. Tak sabar menunggu, ia memutuskan untuk mencari ke dalam sekolah.
Penampilannya yang sangat mencolok, membuat semua mata memandang padanya. Bahkan beberapa ibu-ibu muda memekik tertahan melihatnya berjalan menuju area sekolah. Jas mahal dan sepatu mengkiilat yang menjadi ciri khasnya sudah menunjukkan siapa dirinya.
"Bapak mencari siapa?" sapa ibu-ibu yang sedang menggandeng anaknya. Penampilannya mirip seperti Amira. Kerudung lebar, gamis lebar dan kaos kaki untuk menyempurnakan penampilannya agar auratnya tidak terlihat.
"Oh, saya mau menjemput putri saya. Kiara sama Kaira."
"Maaf, jadi Bapak suaminya mbak Amira?"
"Ya." Arman hanya menanggapi ucapan itu seadanya. Netranya fokus mencari keberadaan kedua putrinya yang belum juga nongol.
"Emang mbak Amira kemana? Beberapa hari ini kok nggak terlihat," tanya seorang lagi yang entah sejak kapan sudah nimbrung di sini.
"Dia sedang sakit. Jadi saya yang menggantikan tugasnya mengantar jemput anak-anak. Maaf, saya permisi dulu," ucap Arman sambil sedikit membungkukkan badannya tanda hormat.
Ia segera mengelilingi sekolah. Karena tidak tahu letak kelas kedua putrinya. Sampai zemua murid hampir habis, kedua putrinya belum ditemukan. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke ruang guru.
Mendadak cemas melanda. Takut kedua putrinya hilang. Tapi tidak mungkin, ia datang tepat saat jam pulang. Harusnya ia melihat jika kedua putrinya pulang duluan. Arman terus berjalan dengan langkah lebar menuju sebuah ruangan yang bertuliskan "Ruang Guru".
Setelah menanyakan keberadaan kedua putrinya, ia pamit dan menemui kedua buah hatinya yang ternyata ada di ruang UKS. Langkahnya semakin lebar dengan dada berdegub kencang. Ia tak tahu, siapa yang sakit. Karena guru tidak menjelaskannya.
"Kiara!" panggil Arman setelah mencapai pintu UKS. Seorang petugas menunjukkan keberadaan putrinya setelah bertanya siapa dirinya.
"Adeknya sakit. Badannya panas, makanya Kiara menunggui adeknya di sini," jelas petugas itu dengan tenang. Melihat aura Arman yang menggelap nyalinya sedikit ciut. Melihat dari penampilannya, ia bisa menebak bahwa pria ini bukan orang sembarangan.
"Apa sudah diberi obat?" tanya Arman sebelum masuk ke bilik yang tertutup korden putih di ujung ruangan.
"Sudah saya beri obat penurun panas. Dan sekarang dia sedang tidur."
Pria berjas itu menyingkap korden dengan sekali gerakan. Matanya membola melihat pemandangan yang ada di depannya. Kiara, sang kakak duduk bersandar di tembok sambil terpejam, sedangkan si bungsu tidur dipangkuannya sambil memeluk perut sang kakak.
Sekilas melihat pemandangan itu, hatinya pilu. Seperti anak jalanan yang tidak memiliki orang tua. Bedanya, kedua putrinya berpenampilan bersih dan berada di atas kasur. Bukan gembel di emper toko.
Ia duduk di bibir ranjang dengan hati-hati. Tangannya mengelus kepala si sulung yang tertutup kerudung. Dadanya sesak membayangkan dia akan memiliki mama tiri yang belum diketahui bisa menyayangi mereka seperti dirinya atau tidak.
Dia juga belum mempersiapkan mereka jika kelak ia benar-benar harus menikahi wanita itu. Matanya terpejam sambil menengadahkan kepala. Seolah ingin menghilangkan sekua beban yang saat ini sedang melanda.
Cukup lama ia memandangi wajah cantik kedua putrinya. Mereka sangat mirip dengan Amira. Lagi, dadanya seperti diremas mengingat Amira juga sakit karena dirinya. Dan kini anaknya juga sakit. Apa dia merasakan apa yang dirasakan mamanya?
Tanpa membangunkan dua malaikat kecil itu, Arman mengangkat si bungsu dan meminta bantuan pada petugas UKS untuk mengangkatkan si sulung. Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah.
"Terimaksih, Pak. Anda sudah membantu menjaga putri saya," ucap Arman sambil menjabat tangan pria itu.
Mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin mengusik ketenangan dua malaikat kecilnya. Matanya sesekali menatap wajah damai itu sambil tersenyum. Ia tak bosan-bosan memandang kedua anak itu. Wajahnya meneduhkan. Melihatnya sedikit mengurangi beban pikiran yang mulai mengganggu.
Lagi. Di lampu merah yang sama, ia kembali melihat pria yang bernama Vender, mantan suami Melly. Entah apa benar sudah menjadi mantan. Mengingat pria itu bukan asli warga Indonesia, dan tidak memiliki pekerjaan di negeri ini, rasanya tidak mungkin ia di sini tanpa tujuan.
Lebih mengherankan lagi, keberadaan pria itu bersamaan dengan kepulangan Melly. Dia terus saja menduga-duga. Apa benar Melly sudah bercerai dengan pria itu. Tapi kalau belum, mengapa dia minta dinikahi?
Kepalanya menoleh ke arah mobil itu. Posisi mobilnya berada di sebelah kanan mobil pria itu. Sehingga dengan jelas Arman bisa melihat wajahnya. Namun ia baru menyedari bahwa pria itu tak sendiri. Ada orang lain di sebelahnya. Arman berusaha untuk mengintip. Memiringkan kepala agar bisa melihat. Sayang, belum sampai terlihat, lampu berubah jadi hijau. Terpaksa ia melaju dengan kepala dipenuhi tanda tanya.
Andai dia tak sedang membawa putrinya, ia pasti akan membuntuti mobil itu biar nggak penasaran. Tapi rasa penasaran itu harus ia kubur dalam mengingat putrinya sedang bersamanya.
Sebuah notifikasi muncul dari benda pipih berukuran 5'7 inchi-nya. Dengan satu tangan, ia menggeser layar touchscreen itu, lalu menekan nama orang kepercayaannya.
Ada beberapa foto yang masih terlihat masih samar. Di bagian tengahnya menampakkan lingkaran bergerak memutar yang membuat Arman harus menunggu.