Dua Hati Satu Cinta
Suara Hati Amira
"Ma, sudah! Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, ayo cepat kita bawa Amira ke rumah sakit!" ucap Edo, papanya Arman.
Dibantu mamanya, Arman memakaikan baju untuk istrinya. Tak lupa kerudung instan untuk menutup auratnya bagian atas. Sedang mamanya memakaikan kaos kaki. Edo sudah keluar duluan untuk menyiapkan mobil. Dengan langkah panjang, Arman membopong sang istri yang sudah pucat dan dingin.
"Dok, tolongin istri saya!" teriak Arman sambil berlari menuju ruang IGD. Perawat yang hendak membantu dilewati begitu saja saking paniknya.
"Tidurkan di sini, Pak!" perintah perawat sambil menunjuk brankar kosong di IGD. "Bapak silahkan menunggu di luar. Biar kami periksa dulu istri bapak."
Arman keluar dengan langkah gontai. Tangannya menyugar rambut kasar. Tak menyangka istrinya yang begitu kuat bisa melakukan hal itu. Apa dia begitu tertekan dengan niatnya menikahi Melly? Jika ia, kenapa istrinya tidak menolak atau melarang?
Mamanya menatap Arman dengan tatapan yang sulit diartikan. Perempuan yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu memandang pintu bertuliskan "IGD" itu tanpa ekspresi.
Beberapa perawat yang lalu lalang di hadapannya tak dihiraukan. Pikirannya melayang pada menantu kesayangan. Amira adalah sosok istri dan ibu yang shalehah. Meski ia berpendidikan tinggi, ia tak berambisi untuk menjadi wanita karir seperti lainnya. Ia memilih untuk menjadi penulis juga atas izin Arman, suaminya. Karena pekerjaan itu tidak menyita banyak waktunya dan tetap bisa menjaga tumbuh kembang buah hatinya.
Bagi Amira, keluarga adalah yang utama. Dia sadar tugasnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummu wa rabbatul bait). Meski banyak yang menyayangkan, karena ijazahnya tak digunakan untuk mencari pekerjaan.
"Keluarga bu Amira!"
Panggilan dari perawat membuat ketiga orang itu langsung berdiri dan mendekati perempuan berbaju serba putih itu.
"Ya, Mbak. Bagaimana istri saya?" tanya Arman tak sabar.
"Tekanan darah bu Amira sangat rendah. Dia juga mengalami hipotermia."
"Apa itu berbahaya, sus? Bagaimana kondisinya sekarang?" Kali ini mamanya Arman yang bertanya. Raut kecemasan tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang teduh.
"Alhamdulillah sekarang sudah melewati masa kritisnya. Dia hanya butuh istirahat yang cukup. Setelah ini, akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Silahkan salah satu mengurus administrasi dulu di depan!"
Arman gegas menuju ke kasir. Sementara mamanya masuk diiringi oleh papanya. Pemandangan pertama kali yang dilihat adalah seorang perempuan dengan wajah pucat dan bibir kebiruan tergolek lemah di brankar.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Mama Endah menyentuh kening sang menantu. Lalu menggenggam tangan lembutnya yang terasa dingin.
Kedua mata Amira mengerjap-ngerjap indah. Meski masih lemah, tapi ia sudah bisa membuka mata. Lidahnya kelu. Tak mampu untuk bersuara. Hanya senyum tipis yang ditunjukkan kepada mertuanya sebagai tanda kalau dia baik-baik saja.
Netranya memindai ruangan, seperti mencari-cari seseorang. Namun hatinya nyeri kala orang yang dicari tak ada di sampingnya. Mama Endah yang paham hal itu langsung tersenyum.
"Suamimu sedang mengurus administrasi di depan. Supaya kamu bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan."
Amira mengangguk tipis. Ia ingin bicara sesuatu, bibirnya bergerak-gerak, tapi nggak ada yang keluar dari mulutnya. Suaranya seperti tertelan bersama udara yang masuk.
"Sudah, bicaranya nanti saja. Sekarang kamu istirahat lagi ya, Sayang. Jangan banyak pikiran. Kamu harus kuat demi anak-anak," ucap Mama Endah dengan mata berkaca-kaca. Mengingat kedua cucu dan nasib pernikahan putranya membuat hatinya ikut berdenyut seperti diremas-remas.
***
"Sayang, maafin aku, ya. Aku nggak bermaksud membuatmu begini. Tolong katakan sesuatu. Jangan diam saja," ucap Arman memohon. Kini tinggal mereka berdua di rumah sakit. Mama dan papanya pulang untuk menjaga anak-anak.
Biasanya, jika kondisi sakit begini, Amira akan bersikap lebih manja padanya. Namun kali ini berbeda. Seperti ada jurang menganga yang memisahkan mereka. Meski bersanding, tapi seolah mereka seperti orang asing. Sejak permintaannya untuk menikah lagi, Amira seperti menjaga jarak darinya. Apalagi dengan syarat yang diajukannya, ia seolah menjadi single father. Mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Mengurus anak-anak juga sendiri.
Bukannya ia keberatan melakukan itu. Namun jika akhirnya Amira akan semakin menjauhi dirinya, untuk apa ia melakukan ini semua. Padahal tujuannya menjalani syarat itu supaya Amira terkesan padanya.
"Sudahlah, Mas. Aku ngantuk, mau tidur. Jangan lupa dengan kesepakatan kita." Setelah mengatakan itu, Amira memejamkan mata. Membiarkan suaminya menjalankan rutinitasnya sebelum tidur.
Dengan perasaan tak menentu, Arman menuruti perkataan sang istri. Setelah berwudlu, ia membuka Al-Qur'an digital yang telah terinstall di smartphone-nya. Suara merdunya mampu menggetarkan dada Amira. Tanpa sepengetahuan sang imam, butiran bening menetes di sudut-sudut matanya. Menghayati setiap ayat-ayat yang dibaca lelaki itu dengan khusu'. Selang oksigen yang menempel di hidungnya ia tarik.
Napas Amira sedikit tersengal. Dadanya sesak memikirkan nasib rumah tangganya ke depan. Ia diam karena tak ingin bertengkar dengan suaminya. Sebenarnya ia tak rela suaminya menikah dengan Melly. Kalau perempuan lain yang paham terhadap agama, mungkin ia masih bisa meridloinya. Namun ini Melly. Perempuan sosialita yang ambisius dan bebas.
Semakin ia memikirkan hal itu, napasnya semakin memburu. Tubuhnya bergetar hebat. Menyadari hal itu, Arman menghentikan tadarusnya. Lalu berdiri dan meneliti keadaan istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Kedua mata Arman membola. Tangannya meraih tombol darurat yang ada di atas kepala Amira dan memencetnya. Lalu menggenggam tangan dingin itu.
"Sayang, tolong, jangan begini. Katakan, kamu kenapa?"
"Bapak tolong minggir dulu. Biar kami periksa!" ucap seorang perawat, lalu memberi akses pada dokter untuk memeriksa perempuan itu.
Arman mengusap wajahnya kasar. Tatapannya nanar. Tak menyangka akan seperti ini jadinya. Ia terus saja merutuki kebodohannya. Berkali-kali ia mengucap istighfar. Bibirnya komat-kamit melafadzkan kalimat itu. Cukup lama dokter memeriksa sang istri. Tentu saja hal itu semakin membuatnya gusar.
"Bapak, tolong selang oksigennya jangan dilepas dulu, dan jaga agar suhu tubuhnya tetap hangat. Baluri dengan minyak kayu putih, ya. Saat ini suhu tubuhnya masih dingin. Napasnya juga belum stabil. Tolong jangan diajak bicara dulu. Apalagi menyangkut hal-hal yang membuatnya sedih." Setelah mengucapkan itu, dokter dan perawat keluar ruangan.
Arman kembali duduk di samping ranjang sang istri. Menuangkan minyak kayu putih pada telapak tangannya lalu membalurkan pada kedua tangan dan kaki Amira. Meski awalnya menolak, tapi Arman tetap memaksa. Tenaga Amira yang lemah, tidak mampu melawan tangan kekar sang imam.
"Tolong, jangan menghindariku, Sayang. Aku tak bisa hidup tanpamu," lirih Arman dengan tatapan sendu.
Dalam hati Amira menertawakan ucapan suaminya. Seolah-olah kalimat itu seperti candaan untuk menghiburnya.
Beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Arman tak ingin mengusik istrinya lagi. Kejadian barusan cukup menjadi pelajaran berharga baginya.
Tiba-tiba tayangan televisi menarik perhatian keduanya. Video yang melibatkan Melly dan istrinya kemarin masuk TV dalam acara "viral".
Dada Arman berdetak kencang melihat berita itu. Ekor matanya melirik Amira yang terpejam di sampingnya. Ia tahu, Amira hanya pura-pura tidur. Karena tadi sekilas ia melihat bidadarinya juga menyaksikan TV itu tanpa minat. Meski sudah melihatnya, tapi sekali lagi video itu mampu merontokkan keberaniannya. Ia meraih remot dan hendak mematikannya.
"Biarkan saja. Lihat sampai selesai agar kamu tahu siapa perempuan yang kamu perjuangkan!" ucap Amira dingin.