Dua Hati Satu Cinta

Beban Pikiran

"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Endah --mamanya Arman-- setelah dokter memeriksa kondisi Amira. Perempuan itu tampak khawatir dengan kondisi menantunya. 

"Mari kita bicara di luar saja," ajak dokter seraya keluar meninggalkan Amira yang masih pulas dalam tidurnya. 

"Kondisinya lemah. Tolong jangan dibebani dengan pikiran yang memberatkan kinerja otaknya. Karena sepertinya saat ini kondisi psikisnya tidak stabil." Pria bertubuh tegap dengan kaca mata bertengger di hidungnya yang mancung itu, menghela napas. Menatap Arman yang juga sahabatnya sejak kuliah dulu. 

"Ini saya resepkan obat dan vitamin untuk ditebus. Kalau tidak ada perubahan, bawa ke rumah sakit saja." 

Setelah menyerahkan resep pada Arman, pria itu pamit diantarkan Arman sampai teras. Sebelum berbalik, dia menepuk pundak Arman untuk menguatkan. Tatapannya penuh arti. Sedikit banyak, ia tahu kemelut rumah tangga yang menimpa sahabatnya ini. Karena dia tahu, hubungan Arman dengan Melly. 

"Jangan turuti hawa nafsu jika kamu nggak ingin menyesal!" 

Ucapan dokter Bian membuat jantung Arman berdetak lebih cepat. Rasa bersalah seketika menyergap relung hatinya. Amira, istri yang tak pernah membuatanya kecewa. Kini terbaring lemah karena perbuatannya. 

Dengan langkah gontai Arman menjejakkan kakinya ke ruang tamu. Di sana kedua orang tuanya sudah memandang dengan tatapan membunuh. Meski nyalinya mulai ciut, ia tetap memberanikan diri melangkah menuju sofa di dekat mereka. 

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada menantu kesayangan mama, kamu orang pertama yang mama salahin, Ar." Perempuan yang biasanya lembut itu menatap tajam putra bungsunya. 

Arman semakin merasa bersalah dengan keadaan ini. Perasaannya juga sakit melihat belahan jiwanya terbaring lemah. Ia tak ada maksud untuk menyakiti bidadarinya sedikit pun. Namun keadaanlah yang membuat begini. Ia terjebak pada sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Dan ia tak bisa mengatakan itu pada keluarganya. 

”Maafin Arman, Ma. Arman gak bermaksud menyatikinya," ucap Arman lesu. Bagaimana ia harus menjelaskan pada kedua orang tuanya kalau semua itu hanya terpaksa? Meski tak dipungkiri hatinya ikut bergetar tiap kali melihat Melly. Namun kalau disuruh memilih dari hatinya yang terdalam ia akan memilih sang bidadari hati, Amira. 

Sayangnya itu bukan pilihan. Ia sudah terlanjur berjanji pada Melly. Ini semua demi kebaikan keluarganya. Sungguh, bukan kemauan Arman semata. Ia yang terlalu ceroboh. Hingga akhirnya membuat semuanya semakin rumit begini. 

"Papa, Mama mana, Pa?" Kiara, anak sulungnya tiba-tiba duduk di pangkuannya. Rupanya ia sudah terbangun dari tidurnya. 

"Mama bobok, Sayang," jawab Arman sambil mengelus rambut lurus putrinya yang mirip seperti Amira. Kiara mewarisi wajah cantik istrinya. Mata, bibir, rambut, dan warna kulitnya merupakan foto copy-an sang istri. Sementara hidung dan alisnya lebih mirip dirinya. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. 

"Kok tumben, Pa. Biasanya Mama nggak pernah tidur jam segini. Mama selalu membantu Kakak dan Adek buat PR kalau jam segini." 

Ucapan si sulung membuat ketiga orang itu mencelos. Mereka tak bisa membayangkan seandainya Amira memilih pergi dari sini karena tak rela melihat Arman menikah lagi. 

"Sini, buat PR-nya sama papa aja, ya," bujuk Arman. Awalnya anak itu nggak mau. Namun akhirnya menurut kala mengingat ucapan mamanya. 

***

Amira membuka matanya. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Seketika ia teringat bahwa ia belum salat asar. Dengan gerakan tiba-tiba ia bangun. Namun hal itu justru membuat kepalanya pusing. 

"Ah, ada apa denganku?" gumam Amira pelan. Tangannya memijit kepala yang semakin berdenyut. Kilasan memory tadi pagi membuat hatinya seperti disayat selapis demi selapis. Sakit. Sangat sakit. Perempuan itu sudah berani berbuat bar-bar di depan umum, apalagi kalau sampai menikah dengan suaminya. 

Astaghfirullah. Kenapa mantan temannya bisa senekat itu. Apa dia tidak berpikir efek yang ditimbulkannya? Atau memang ia sengaja biar terkenal dengan cara kontoversial seperti para artis yang ingin mendongkrak namanya? 

Setelah beberapa saat, ia memaksakan diri untuk bangkit. Kakinya melantai secara perlahan. Dinginnya lantai menusuk hingga ke tulang. 

"Sudah sadar, Sayang?" Suara pria yang membuat pikirannya terjajah akhir-akhir ini mengagetkan Amira. Namun ia hanya mengangguk sekilas dan berdiri. Melangkah menuju kamar mandi untuk berwudlu. 

"Mau ke mana? Sini, biar kubantu." Arman segera merangkul bahu istrinya. Namun ditepis halus olehnya. Hal itu tentu saja membuat lelaki yang memakai kaos oblong dan celana pendek selutut itu membeku. 

Dadanya berdenyut nyeri mendapat penolakan dari istrinya. Perempuan itu lebih memilih berjalan tertatih sendirian daripada menerima bantuan suaminya. Sorot mata pria itu nanar menatap punggung sang istri hingga hilang ditelan pintu kamar mandi. 

Cukup lama Arman terpekur di atas ranjang sambil menunggu sang istri keluar. Namun hingga dua puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda Amira keluar. Dengan gusar, Arman bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali. Tak ada sahutan dari dalam. Tak ada pula bunyi gemericik air di sana. Ia mencoba menempelkan telinganya ke daun pintu. Senyap. 

Dadanya bergemuruh hebat membayangkan istrinya melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Dengan tekad yang bulat, ia mencoba untuk mendobrak pintu itu. Bahkan ia lupa kalau di laci ada kunci cadangan. Pikirannya yang kalut membuatnya tak mampu menelaah apa yang terjadi. Ia juga tak mampu berpikir jernih. 

"Amira! Amira! Buka pintunya, atau kudobrak sekarang!" teriak Arman sambil terus menggedor papan persegi yang menghalanginya dengan sang istri. Namun tetap tak ada jawaban dari dalam. 

Dengan kekuatan penuh, pria itu benar-benar mendobraknya. Kedua matanya membola melihat sang istri sudah terpejam di dalam bathtub. Tangannya terulur ke luar dangan kepala bersandar pada sandaran bathtub. 

Dengan gerakan cepat, pria itu langsung berjongkok di depan istrinya dan menepuk-nepuk pipinya. Namun belahan jiwanya tetap bergeming. Tubuh perempuan itu sudah dingin. Bibirnya biru dengan wajah pucat. Mungkin karena terlalu lama berendam di dalamnya. 

Dengan air mata berlinang, pria itu menyambar handuk yang tergantung di sana dan menutupkan pada tubuh istrinya. Lalu mengangkat tubuh lemah itu dan membawanya ke kamar. 

"Maa! Mama ... tolong ke sini, Ma!" teriak Arman sambil menutup tubuh istrinya dengan selimut. Dengan tangan gemetar ia mencoba membalurkan minyak kayu putih pada tangan dingin istrinya. 

"Ada ap-- astaghfirullah, Amira! Ada apa dengannya, Ar?" teriak Endah setelah masuk ke kamar. Di belakangnya sang suami mengikuti. 

"Tad--tadi Dia--" 

Endah memotong ucapan Arman dengan sebuah tamparan. Ia sangat kecewa dengan putranya yang sangat ceroboh. 

"Ini semua gara-gara kamu, Ar!" 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!