Dua Hati Satu Cinta
Mengemis Restu
Arman kembali tancap gas. Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya. Untuk apa pria itu kembali? Belum lagi masalah video viral itu. Kalau sampai keluarga besarnya tahu tentang hal itu, bisa disidang tiga hari tiga malam dia. Kenapa Melly begitu nelat menemui Amira dan berani mengusiknya. Setelah kejadian ini, Arman nggak yakin istrinya nggak berubah pikiran.
Sambil mengusap wajah kasar dengan satu tangan, pria itu teriak tertahan. Ia melupakan keberadaan sang buah hati yang sedang terlelap di jok belakang. Memasuki pelataran rumah, jantung Arman serasa berlompatan di dalam dadanya. Ia sandarkan kepalanya di atas setir untuk memilih kata apa nanti yang akan ia ucapkan pada Amira seraya menetralkan degub jantungnya yang menggila.
Wanita cantik dengan tatapan lembut sudah menunggu di teras. Menanti kedua buah hatinya turun dan menghambur ke pelukannya. Baru beberapa jam saja tidak bersama, rasanya sudah bertahun-tahun. Entah, apakah Amira bisa kuat bertahan selama sebulan tidak mengurusi kedua buah hatinya.
"Tidur semua, Mas?" tanya Amira melihat si sulung berada dalam gendongan suaminya. Sementara si bungsu belum juga meluar. Ia berjalan mendekati mobil untuk mengambil putri bontotnya, namun dicegah Arman.
"Biar aku saja nanti. Kutidurkan dulu kakak di kamar." Pria itu melangkah sambil membopong Akira ke kamarnya. Sementara Amira hanya menatap punggung suaminya yang makin menjauh.
Setelah menidurkan kedua buah hatinya, Arman mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai. Lalu duduk di samping Amira yang sedang asik membaca buku. Diperhatikan wanita yang masih menjadi penghuni hatinya itu dengan perasaan campur aduk. Ada sesal yang tiba-tiba menyergap ketika mengingat video tadi. Pasti istrinya sangat tertekan memikirkan masalah ini.
Tapi dia sudah nggak bisa mundur lagi. Meski sebagian sudut hatinya menentang kehadiran Melly kembali, tapi sebagian yang lain sangat menginginkannya. Ia sadar kalau dirinya serakah. Ingin memiliki dua wanita sekaligus. Cintanya pada sang istri sangat besar. Ia tak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya. Namun perasaannya pada Melly juga sama besarnya sekarang. Bertemu dengannya lagi, serasa kembali pada masa-masa pacaran dulu. Dan saat perempuan itu menawarkan diri menjadi istri kedua, hatinya berbunga-bunga. Kesempatan itu tak disia-siakan. Ia akan berusaha untuk memiliki keduanya. Meraih Melly tapi tak akan melepaskan Amira dari genggamannya.
Apakah Arman sudah gila? Mungkin. Ia tak lagi mampu berpikir jernih setelah bertemu Melly kembali. Ia merasa seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta, untuk yang kedua.
"Amira, video itu ..." Arman menggantung kalimatnya. Melihat respon sang istri melalui ekor mata. Perempuan cantik itu menutup buku yang dibacanya. Lalu menoleh ke samping hingga tatapan mereka beradu.
"Apa yang ingin Mas tahu? Aku tidak melukainya. Bahkan menyentuhnya seujung kuku pun tidak."
Ada nyeri yang menyusup dalam hati saat mengatakan itu. Seolah dia tengah diintimidasi oleh sang suami. Padahal dia tidak salah. Bukan ia yang memulai. Bahkan ia memilih diam dan tak melakukan perlawanan meski dirinya yang jadi korban. Ia khawatir ini hanya pancingan supaya dirinya melawan dan menimbulkan kekacauan. Dengan begitu, mantan temannya itu akan lebih mudah menguasai suaminya sendirian.
Amira sedikit banyak paham trik murahan para pelakor. Mencoba memancing keributan, lalu dia akan berlakon seolah-olah sebagai korban untuk menarik simpati calon targetnya. Sayangnya Amira bukan orang bodoh dan temperamen yang mudah terpancing oleh trik murahan macam itu.
Sebagai penulis novel, perempuan berhati lembut ini paham betul tentang dunia perselingkuhan. Ia telah memiliki banyak referensi tentang itu. Dan dia tak mau menjadi pesakitan seperti cerita-cerita yang ada di novel. Ini hidupnya. Dia berhak menentukan alur dan endingnya. Meski ada campur tangan Allah di dalamnya, ikhtiar tetap dilakukan sebisanya. Tak lupa melangitkan doa' agar tidak salah langkah.
"Bu--bukan begitu. Apa kamu tidak apa-apa?"
Tiba-tiba Arman menjadi gagu. Berhadapan dengan Amira membuat tubuhnya panas dingin. Lebih baik menghadapi clien daripada perempuan ini. Seumur pernikahannya, ia belum pernah melihat sang istri marah atau merajuk. Dia wanita yang kuat dan cerdas. Keteguhannya dalam agama tak bisa diragukan. Sehingga wanita ini pandai memposisikan diri sebagai istri.
"Alhamdulillah, seperti yang Mas lihat. Aku nggak papa, Mas. Emang ada apa?"
"Oh, ti--tidak apa-apa. Apa ... tadi kamu keluar?"
"Ya. Ketemu Emil di kafe." Wanita ini tersenyum. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Ia yakin suaminya sudah melihat video itu. "Tenang saja, Mas. Aku bukan anak kecil. Nggak akan melakukan perbuatan bodoh di depan umum."
Tenggorokan Arman tercekat. Susah payah ia menelan lidahnya yang tiba-tiba seperti berduri. Harusnya dia biasa saja dengan pernyataan istrinya itu. Namun karena ini menyangkut Melly, ia jadi merasa sangat bersalah pada sang istri.
Cukup lama ia berdiam. Meninggu reaksi Amira selanjutnya. Namun dia juga enggan membuak mulut. Keadaan keduanya menjadi sangat kaku seperti orang yang tidak saling kenal.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan kedua orang tua Arman. Wajah mereka menyiratkan ketidaksukaan terhadap putranya.
Tanpa disuruh, mereka langsung duduk di hadapan kedua pasangan ini. Amira langsung berdiri dan mencium tangan kedua orang ini takzim. Kedua pasang mata itu mengamati semua gerak geriknya. Lalu berpundah pada putranya. Mereka khawatir habis terjadi pertengkaran di antara keduanya. Namun sepertinya tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa, Pa, Ma, kok kesini tanpa kabar dulu?" tanya Arman gelisah. Ia tak bisa menyembunyikan gejolak hatinya yang diliputi was-was.
"Kenapa, kamu takut, Ar? Kami sudah tahu semuanya. Barusan perempuan itu datang kerumah."
Arman terbelalak. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Jantungnya semakin cepat berdetak. Bulu kuduknya berdiri, bukan karena takut ada hantu, tapi merinding membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Orang tuanya sangat menyayangi Amira. Mereka juga termasuk orang terpandang di daerahnya. Tentu saja apa yang terjadi, akan mencorenh namanya. Apalagi kalau sampai Arman beneran menikah lagi dengan seseorang yang telah melukai harga diri keluarganya.
"Ma, Pa, ... maafin Arman. Arman punya alasan un--"
"Dengan mengorbankan rumah tanggamu? Demi perempuan nggak berakhlak itu kamu rela mengorbankan rumah tanggamu yang sudah nyaman?" Wanita setengah baya yang masih cantik itu memotong ucapan Arman.
Lelaki di samping Amira ini menunduk. Dia tahu, berhadapan dengan mamanya tidak akan pernah menang.
"Kamu tahu, perempuan itu yang telah membuat keluarga kita malu, dan kini kamu akan mengulangi hal yang sama?" Wanita penyayang itu meradang. Biasanya ia selalu bersikap lembut pada siapa pun.
"Mama rasa, kamu sudah melihat video itu. Kamu bisa melihat kelakuannya bukan? Dan istrimu ini, dia begitu elegan. Dari video itu saja harusnya kamu bisa membuka mata, siapa jati diri perempuan itu sebenarnya! Dia nggak layak masuk dalam keluarga kita!"
Arman tersungkur di bawah kaki Mamanya. Ia menangis dan memohon padanya agar merestui keinginannya. Amira yang menyaksikan itu hanya tersenyum miris. Demi perempuan model Melly, suaminya rela merendehakan dirinya.
Amira merasa hatinya hancur. Sakit. Sangat sakit. Mungkin inilah yang dikatan sakit tapi tak berdarah. Matanya nanar menyaksikan suaminya mengemis restu pada orang tuanya.
Dadanya sesak membuat napasnya tersengal. Tiba-tiba matanya memburam. Lalu gelap menyelimuti. Dan semuanya tak lagi ia rasakan. Terakhir kali uang bisa ia dengar adalah seseorang yang menyebut namanya. Lalu hilang.