Dua Hati Satu Cinta
Ditampar Kenyataan
"Ra, aku tahu kesalahanku tak termaafkan. Tapi, tolong mengertilah. Ayo kita mulai lagi dari awal. Aku akan membahagiakanmu."
"Hatiku sudah terlanjur hancur, Mas. Kaca yang pecah tak bisa kembali utuh seperti semula. Begitupun dengan hatiku."
"Aku tahu, Ra. Tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Demi anak-anak," ujarnya lirih dengan tatapan mengiba.
Tanpa ia sadari Bagas yang masih ada di sana mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahang lelaki itu mengetat dengan mulut terkatup rapat menahan gejolak emosi yang tiba-tiba merambat memenuhi ruang hatinya. Harga diri sebagai suami terinjak-injak oleh sahabatnya yang dengan seenaknya merayu istrinya.
"Kamu lupa kalau saya sudah menikah, Mas? Apa perlu saya ingatkan tentang status saya saat ini?"
"Aku tak peduli, Ra! Kamu bisa minta cerai darinya dan kembali rujuk denganku. Kasihan anak-anak kalau harus menjadi korban perceraian kita. Please, Ra ... pikirkan masa depan mereka," lirihnya.
Lelaki itu maju selangkah lagi untuk memupus jarak dengan Amira. Spontan wanita itu mundur hingga punggungnya menabrak dada bidang suaminya. Seketika, kedua tangan pria yang berstatus suami sah Amira itu langsung memeluknya dari belakang. Tentu hal itu tak luput dari tatapan Arman. Selanjutnya, darah pria dengan dua anak itu mendidih melihat betapa dekatnya pasangan halal di hadapannya itu. Melupakan statusnya yang hanya seorang "mantan".
"Lepaskan tanganmu darinya, Gas! Kamu telah menodai--" Ucapannya terputus kala sosok malaikat kecil tiba-tiba datang menatapnya penuh kebencian.
"Kiara sayang, sini ... ayah kangen, Nak!"
Kedua netra pria bertubuh tinggi itu tampak berkaca-kaca melihat kilat amarah di mata bening putrinya. Hatinya seperti teriris melihat putrinya tak lagi respect padanya.
"Ayah jahat! Ayah sudah menyakiti mama! Karena Ayah, mama harus masuk rumah sakit dan kehilangan ginjalnya!"
Gadis sekecil itu seolah paham dengan situasi keluarganya. Ia mengutarakan kekecewaan yang selama ini terpendam. Bahkan Amira dan Bagas ikut terkesiap mendengar ucapan putrinya. Tak menyangka putri kecilnya tahu dengan apa yang terjadi.
Sementara itu, Arman menatap pasangan yang membuatnya cemburu setengah mati dengan penuh tanda tanya.
"A--apa itu benar, Ra?"
"Apa kamu peduli, Mas?"
Jantung Arman seolah hendak melompat dari sarangnya. Jawaban itu telah menghentak kesadarannya. Menamparnya dengan fakta bahwa ia memang tak perhatian dengan keluarga kecilnya selama ini.
Belum juga ia mendapat jawaban, putrinya kembali bersuara lantang hingga membuat kedua lututnya lemas. Ia merasa seolah tulang belulangnya dilolosi dari tubuh satu per satu.
"Selama ini Ayah nggak pernah tahu, kan kalau mama sakit? Mama mengalami gagal ginjal hingga harus melakukan cuci darah? Papa jahat! Papa nggak pernah perhatian sama kami!"
Gadis sekecil itu sudah mampu membeberkan keadaan mamanya dengan sangat gamblang. Amira pikir Kiara sama dengan bocah-bocah lainnya. Ternyata ia salah. Malaikat kecilnya ini memiliki kelebihan yang luar biasa. Di usianya yang baru menginjak kelas satu SD, sudah bisa memahami kondisi keluarganya. Entah dari mana ia belajar hal itu.
"Papa tahu? Selama papa pergi Kiara dan adek tidur di rumah sakit setiap hari demi menunggui mama? Tapi untungnya ada papa Bagas yang mengurus kami. Papa Bagas sangat sayang sama kami. Kalau nggak ada papa Bagas, pasti mama masih kesakitan sampai sekarang."
Semua orang terdiam mendengarkan Kiara. Air mata Amira sudah jatuh sejak tadi. Ia tak menyangka putrinya memendam kecewa yang begitu dalam terhadap ayahnya. Selama ini anak itu begitu ceria dan tak pernah terlihat menangis. Siapa sangka gadis sekecil itu mampu mengelola emosi hingga orang lain tak mampu membacanya.
Perlahan Kiara berbalik dan merangkul kaki Bagas. Serta merta ayah sambungnya itu meraih tubuh mungil Kiara dalam gendongannya.
Arman sudah tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Hatinya nyeri.
"Maaf," ucapnya lirih.
Tak ada lagi yang bisa ia perbuat. Sepertinya ia harus menyerah. Bahkan anaknya sendiri telah membenci dan tak menginginkannya lagi. Inilah karma yang harus dibayarnya. Terlalu mahal ternyata.
Tanpa pamit lagi, dia berjalan gontai menuju pintu. Meninggalkan keluarga bahagia itu dengan dada sesak dan mata memerah akibat menangis. Iya, benar kata mereka. Ia sudah tak pantas lagi meminta Amira kembali. Mantan istri dan putri kecilnya sudah menemukan kebahagiaan sendiri.
Dia memang tak layak untuk mendapat kesempatan kedua. Kesalahannya terlalu fatal untuk dimaafkan. Kenapa penyesalan selalu hafir di saat semuanya sudah tak lagi sama. Dikala semua tak lagi bisa diperbaiki lagi?
***
Arman menyusuri jalan tanpa tahu arah. Ia tak tahu lagi apa yang akan diperbuat setelah ini. Bahkan ia meninggalkan mobilnya masih terparkir di depan rumah Bagas. Tadi, setelah ia pergi dari rumah itu, kakinya terus melangkah tak tentu arah.
Pikirannya kacau. Rasa bersalah yang begitu besar merajai hatinya. Kilasan masa-masa awal pernikahan dengab Amira membayang di pelupuk mata. Lahirnya dua putri buah cinta mereka semakin menguatkan jalinan pernikahan yang awalnya hanya terpaksa.
Arman tak sadar jika ia berjalan tanpa arah. Bahkan kakinya sudah turun dari trotoar hingga sedikit ke tengah jalan.
Jalanan yang sedikit lengang membuat pengendara bebas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga tanpa disadari, Arman telah tertabrak sebuah minibus yang melaju begitu kencang dari arah belakang.
Suara benturan antara dirinya dengan mobil dan terlempar sajauh beberapa meter, membuat pria itu tak merasakan apapun, lalu semuanya gelap.
Amira dan Bagas berjalan tergesa menuju rumah sakit. Beberapa waktu lalu ia mendapat telepon dari rumah sakit bahwa Arman kecelakaan dan kondisinya kritis. Ternyata Arman masih menyimpan nomor Amira dengan nama "My Wife". Tentu saja karena itu, pihak rumah sakit menelponnya dan bukan orang tuanya.
Meski ia bukan lagi istrinya, rasa kemanusiaan dalam dirinya menggerakkan ia untuk datang ke sini bersama suaminya. Ia mondar-mandir di depan pintu UGD. Sementara Bagas terlihat sibuk menghubungi orang tua Arman.
Cukup lama kedua pasangan itu menunggu kabar dari dalam ruangan tertutup itu. Hingga kedatangan Endah dan Edo mengalihkan perhatian mereka.
"Amira, apa yang terjadi, Nak?" tanya Endah, mantan mertua Amira.
Dengan gugup Amira menjelaskan kenapa mantan suaminya bisa ada di sini. Saat mereka sedang bicara, pintu UGD terbuka. Seorang dokter memanggil keluarga Arman.
"Gimana keadaan putra saya, Dok?" cecar Endah langsung.
"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi ... pak Arman tak mampu diselamatkan."
"Apa?!"
Keempat orang dewasa beda generasi itu bertanya kompak. Rasa tak percaya saat mendengar perkataan sang dokter begitu mendominasi.
"Maaf, Pak Arman telah menghembuskan napas terakhirnya beberapa menit yang lalu. Sabar ya, Pak, Bu," ucap dokter lalu meninggalkan mereka yang mematung.
Setelah kepergian dokter itu, Endah seolah sadar dari lamunannya. Ia langsung berlari menuju ruang UGD menemui putranya.
Tampak seorang pria terlelap damai di atas brankar. Beberapa luka telah dibebat. Namun yang membuat hati wanita paruh baya itu sakit, pria itu begitu dingin. Tak ada lagi napas yang berhembus dari hidungnya. Arman telah pergi untuk selamanya.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un."