Dua Hati Satu Cinta

Video Viral Calon Istri

Perempuan dengan rok pensil dan blus warna broken white itu melotot. Napasnya terengah-engah menatap Amira yang masih shock dengan kejadian itu. Sementara Emil yang menyaksikan kejadian itu segera mengamankan berkas kerjasama yang baru ditandatangani Amira agar tak basah. 

Tatapannya nyalang melihat perempuan yang tiba-tiba datang itu. Tanpa permisi, langsung menyiram kepala Amira dengan es jeruk. 

"Heh, apa-apaan ini? Dasar nggak ada akhlak, main siram aja!" ujar Emil seraya berdiri menantang perempuan itu. Namun sepertinya perempuan dengan riasan cetar itu tak terpengaruh. Ia menatap sinis pada Emil lalu tangannya merenggut kerudung yang dikenakan Amira. Karena tak siap, Amira hampir saja terjengkang kalau saja Emil tak segera menahan tangan perempuan itu. 

Amira, perempuan berhati lembut itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Ia tetap tersenyum menanggapi kemarahan perempuan yang ternyata Melly. Tangannya meraih tissue di hadapannya dan digunakan untuk mengelap wajahnya yang basah. 

"Ada apa, Mel? Ada masalah apa?" tanya wanita itu santai. Bibirnya tetap tersenyum meski hatinya panas. 'Wanita seperti inikah yang akan dinikahi suamiku? Bagaimana nasib anak-anakku nanti memiliki ibu tiri model begini?' Batin Amira.

Melly, perempuan yang mengusik rumah tangga Amira itu makin melotot. Menatap tak suka pada Amira. Tanpa mereka sadari beberapa pengunjung menatap mereka. Bahkan ada yang mengabadikan momen itu dengan video. 

Emil yang sudah terlanjur benci mendengar cerita sahabatnya barusan, semakin nggak suka melihat wujud asli perempuan yang membuat sahabatnya sakit hati. Tangannya hendak mengayun ke wajah perempuan itu, tapi dengan cepat dicegah oleh Amira. 

"Jangan kotori tanganmu dengan ini, Mil. Biarkan saja wanita ini berbuat sesukanya. Dia pikir tindakannya sudah benar, padahal justru semakin menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya." Amira menatap iba pada perempuan yang masih menatapnya nyalang itu. "Tak perlu ditanggapi, sayang waktu kita terbuang sia-sia. Ayok, kita pulang!" 

Amira menarik tangan sahabatnya. Meninggalkan wanita itu yang wajahnya semakin memerah. Dengan gerakan cepat, Melly menarik kerudung Amira lagi dari belakang hingga membuatnya mendongak. Satu tangannya lagi sudah melayang di udara hendak menampar wajah Amira. Sayang, ia kalah cepat. Amira segera memutar tubuhnya sambil memegangi penutup kepalanya sehingga tak terlepas.

Emosi perempuan itu makin tak terkendali karena merasa diabaikan. Ibarat duel, ia aktif menyerang sementara lawan hanya menghindar. Sungguh tak seimbang. Melihat sahabatnya tak melakukan apa-apa, dengan gerakan cepat, Emil yang mengetahui kejadian itu langsung memegang satu tangan Melly dan memutarnya ke belakang hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Otomatis kerudung Amira bisa terlepas dari tangannya.

Karena merasa kewalahan, perempuan seksi itu memohon untuk dilepaskan. Dia nggak tahu kalau Emil pernah menjuarai taekwondo. Sangat mudah bagi perempuan berkerudung biru itu untuk melumpuhkan lawan macam Melly yang hanya mengandalkan gertakan ini. 

"Mau kamu apa, sih sebenarnya? Dari tadi Amira diam saja, tapi kenapa kamu bar-bar gini, hah?" Perempuan dengan alis tebal alami itu sudah tak mampu lagi mengendalikan emosi. Perbuatan Melly memang benar-benar keterlaluan. Untung sahabatnya yang kalem itu sedang bersamanya sekarang. Jika tidak, mungkin sudah babak belur dicakar-cakar olehnya. 

"Kasih tahu sama temenmu yang sok alim ini, jangan menghalangi Mas Arman untuk bertemu denganku!" Melly mengibas-ngibaskan tangannya yang ngilu. Tatapannya tajam dengan bibir manyun beberapa centi. 

"Wah, gila ya? Jaman sudah edan. Pelakor kok berani mengancam istri sah. Dasar nggak ada ot*k! Makanya, otaknya sesekali dikasih nutrisi jangan wajahnya doang yang glowing. Tapi pikirannya picik!" 

Emil masih belum puas membuat perempuan itu malu. Kepalang tanggung, mumpung banyak yang menyaksikan juga, Emil sengaja membuat Melly semakin malu.

"Hai semua!" ucap Emilia pada para pengunjung yang entah sejak kapan sudah mengelilingi mereka. "Lihat wajah ini baik-baik! Dia ini adalah pelakor! Dia ingin merebut suami sahabatku yang alim ini. Tolong diclose up, biar dunia tahu siapa dia sebenarnya!" 

Emil hendak mendorong tubuh perempuan itu. Namun sekali lagi dicegah oleh Amira. Ia tak ingin kejadian ini sampai mengundang aparat. Bisa ribet urusannya kalau sudah sampai melibatkannya. Dengan setengah terpaksa, perempuan yang jarang sekali marah itu menyeret tangan sahabatnya menjauhi tempat itu. 

Masih terdengar dari telinga mereka berdua rutukan dan sumpah serapah dari cinta pertama Arman. Terdengar pula sorak-sorai gemuruh dari para pengunjung yang ikut menghujat Melly. Namun Amira sudah tak peduli. Yang penting saat ini ia harus segera pulang sebelum anak-anaknya sampai di rumah. 

***

Arman terlihat gelisah menatap ponselnya. Beberapa menit yang lalu ia mendapat kiriman video dari Bagas, sahabat serta asisten pribadinya. Dalam video berdurasi 15 menit itu, menampilkan kejadian di kafe yang melibatkan sang istri dan calon istri barunya. 

Dalam waktu singkat, HP-nya diserbu puluhan chat yang menanyakan soal kejadian itu. Mendadak kepalanya sangat pusing memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Melly begitu agresif dan bar-bar. Sementara Amira sangat lembut dan sabar. Dua sifat yang sangat bertolak belakang. Mampukah ia mendamaikan keduanya jika nanti sudah menikahi Melly? 

Pria dengan jas mahal itu tersentak mendengar dering telepon dari gawainya. Setelah diangkat, ternyata dari guru anaknya yang masih TK. Katanya sekarang sudah jam pulang, dan harus segera dijemput. Dalam hitungan detik, pria itu berdiri dan melangkah dengan tergesa. Mengabaikan sapaan para karyawan yang ia lewati. 

Namun saat sampai di loby, ia melihat beberapa orang sedang berkumpul membicarakan dirinya. Pasti sekarang mereka sedang menonton video pertikaian istrinya dengan Melly. Bukan. Lebih tepatnya penyerangan Melly terhadap istrinya. 

Mengetahui bosnya berjalan menuju pinta, kerumunan itu bubar. Mereka menundukkan kepala tanda hormat. Namun tatapan itu, tatapn iba yang membuat Arman semakin tersiksa. Langkahnya semakin cepat untuk menghindari orang-orang yang sok tahu itu. Sudah dipastikan dalam waktu dekat, rumor akibat video itu akan menjadi tranding topik. 

"Ayah ...." teriak si bungsu ketika melihat Arman turun dari mobil. Kedua putrinya sudah menunggu di sebuah kursi yang ada di taman sekolah. Di dekat mereka ada beberapa anak lain yang juga sedang menunggu jemputan. 

Pria bertubuh tinggi itu langsung merentangkan tangan membuat kedua putrinya langsung menghambur ke dalam pelukannya. 

"Anak ayah sudah lama menunggu?" 

Arman menggendong si bungsu dan menuntun si sulung di tangan kanannya menuju mobil. 

"Iya, Yah. Adek bosen nungguin Ayah." Anak kecil itu cemberut. Kedua pipinya menggembung membuat siapapun yang melihatnya pasti gemes dan ingin mencubit. "Biasanya Bunda selalu menunggu Adek sebelum Adek keluar." 

"Iya, Sayang. Maafin ayah, ya? Besok Ayah akan jemput Adek lebih cepat lagi." Arman mencoba merayu putrinya agar tak merajuk lagi. Namun gadis cilik itu makin cemberut. Kedua tangan mungilnya di silangkan ke dada. Kepalanya menggeleng-nggeleng tanda tak mau. 

"Bagaimana kalau sekarang kita beli es krim?" usul Arman berharap putrinya luluh. Di luar dugaan, kedua putrinya malah melotot. 

"Ayah jahat! Ayah mau buat kita sakit, ya? Kata Bunda, kita nggak boleh makan es krim. Banyak gulanya. Nggak sehat." 

Arman hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa jika istrinya sangat memperhatikan asupan makan untuk buah hatinya. Semua makanan yang masuk ke perut putrinya, hasil olahan tangan sang istri. Sejak kecil, Amira selalu membuatkan makanan untuk kedua putrinya. Bahkan jajanan yang biasa disukai anak-anak pun ia buatkan sendiri dengan berbahan dasar buah dan sayuran. Dan kedua putrinya ini sangat menyukai makanan buatan sang Bunda. 

Wajar jika mereka tak mau jajan di luar. Pemahaman yang ditanamkan sang Bunda tentang makanan sudah menancap kuat di otaknya. 

Perlahan, mobil yang dikendarai Arman melaju membelah jalanan beraspal. Kedua putrinya sudah tertidur di tempatnya masing-masing. Pikiran pria itu melayang ke video yang dilihatnya tadi. Dia bingung bagaimana menghadapi sang istri nanti. 

Sebuah mobil yang dikenalnya berhenti tepat disampingnya saat lampu merah menyala. Matanya melotot melihat siapa yang ada di dalamnya. Dadanya bergemuruh menatap seseorang yang ada di sana. Andai lampu hijau tidak menyala dan bunyi klakson bersahutan di belakangnya, ia pasti turun dan mengatakan sesuatu padanya. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!