Dua Hati Satu Cinta
Rahasia Amira
"Amira, Kamu di sini juga?"
"Iya, Mas. Mas Bagas ikut kajian ini juga? Emangnya nggak ke kantor?" tanya Amira dengan wajah kebingungan.
Bagas menghembuskan napas panjang, lalu menjelaskan bahwa dia memanfaatkan waktu istirahatnya dengan mengikuti kajian ini. Jika tidak ada meeting atau mendampingi bosnya makan siang dengan clien, ia selalu menghadiri kajian ini. Kebetulan jarak antara masjid ini dengan kantor hanya sepuluh menit perjalanan.
Ia juga sedang malas bertemu dengan bosnya yang akhir-akhir ini tampak berbeda. Terlebih setelah mendengar kalau Amira sudah ditalaknya, membuat pria berjenggot ini malas berlama-lama dekat dengan Arman. Kecuali masalah pekerjaan.
Sedangkan Amira, biasanya mengikuti kajian yang khusus akhwat. Namun karena hari ini ia habis ketemuan dengan sahabatnya, dan bingung mau ke mana, ia memilih datang ke masjid ini setelah melihat poster yang mengiklankan kajian ini di sebuah papan pengumuman di pinggir jalan.
Keduanya lalu menuju kendaraan masing-masing setelah berbincang sebentar. Sebenarnya banyak hal yang ingin Bagas tanyakan. Namun mengingat mereka hanya berdua saja, Bagas memutuskan untuk segera kembali ke kantor. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 13.00.
Benak Bagas dipenuhi dengan berbagai hal menyangkut Amira. Barusan ia melihat wajah itu dengan jelas, membuat pria kelahiran Jogja ini selalu memikirkannya. Wajah Amira tampak pucat dengan mata cekung. Sorot matanya redup seperti menyimpan beban yang sangat berat.
Dadanya bergemuruh mengingat sahabatnyalah yang menyebabkan hal itu. Beberapa rencana tersusun indah dalam orltaknya. Ya, ia akan bergerak jika waktunyansudah tepat.
***
Baru saja Amira masuk ke dalam rumah diikuti kedua putrinya saat tiba-tiba kepalanya serasa berputar. Dengan berpegangan pada tembok, Amira berusaha berjalan menuju sofa ruang tamu. Napasnya tersengal dan pandangan matanya kabur. Tepat saat tubuhnya hendak mendarat di sofa, ia sudah limbung. Untungnya tidak ke lantai.
Melihat mamanya tiba-tiba jatuh, kedua malaikat kecil itu langsung berlari menuju sang mama.
"Ma! Mama, Mama kenapa, Ma?" Teriak si sulung sambil mengguncang tangan mamanya. Sementara si bungsu sudah meraung di bawah kaki Amira.
"Mama ... Mama kenapa? Mama ... huaaaa ... bangun, Ma ...!"
Tangisan kedua anak kecil itu memenuhi ruangan. Tak ada seorang pun yang mendengar, mengingat rumah mereka dikelilingi pagar yang tinggi. Kedua bocah itu terus mengguncang badan Amira yang lemas di sofa.
"Dek, jaganin Mama. Kakak mau cari bantuan dulu!"
Dengan gerakan cepat, si sulung langsung berlari ke luar rumah. Namun sesaat ia kembali lagi dan mengambil tas mamanya yang tergeletak di lantai. Tangan mungilnya mengubek-ubek isi tas mencari benda pipih yang biasa digunakan untuk menelpon.
Otak encer anak ini mampu berpikir cepat meski sambil berurai air mata. Amira telah mengajarkan pada mereka untuk mencari bantuan dalam kondisi terdesak. Dan kini, situasi itu tengah mereka alami.
Dengan tangan gemetar, Kiara mencoba membuka kunci benda pipih itu. Namun gagal. Ia mengingat-ingat saat sang mama membukanya selalu menempelkan jarinya ke sensor sidik jari yang ada di layar. Lalu ia menempelkan salah satu jempol Amira hingga kunci terbuka.
Panggilan kepada papanya berulang kali tak dijawab.
"Papa, jawab telponnya, Pa!" jerit Kiara kesal. Dalam situasi seperti ini harusnya papa, sang pahlawan keluarga bisa dihubungi dengan cepat. Namun, sudah lima kali ia memanggil, tak juga diangkat.
Gadis kecil itu menyusuri riwayat panggilan. Entah dapat ide dari mana, bukannya kontak nama yang dibuka. Dari riwayat panggilan ada beberapa nama yang pernah dihubungi mamanya. Ia berpikir, pasti mereka orang yang sering berhubungan dengan mamanya sehingga bisa dimintai pertolongan.
Nama Emilia berada pada urutan kedua setelah papanya. Namun beberapa kali dipanggil, nomor itu sama tidak aktifnya dengan papa. Hanya tulisan "memanggil" yang terpampang di layar. Padahal seharusnya jika aktif tertulis "berdering".
Gadis kecil itu kembali mencoba peruntungannya dengan memanggil nama dengan urutan ke tiga. Berdering. Hatinya membuncah bahagia saat sebuah suara terdengar pada deringan ke tiga.
[Halo, Assalamu'alaikum. Ada apa, Amira?]
"Wa'alaikumsalam, Om. Ini Kiara, tolongin Mama, Om. Kiara sudah menelpon papa tapi HP-nya nggak aktif," ucap Kiara tanpa basa-basi. Isakan tangisnya masih terdengar di sela-sela ucapannya.
[Kiara, ada apa? kamu tenang dulu ya, sayang. Ceritakan pada Om, ada apa?]
"Mama, Om. Mama pingsan. Tolongin Mama sekarang, Om," rengek Kiara pada seseorang yang dipanggil Om itu.
[Ok, sayang. Kiara diam dulu jagain Mama ya. Om akan segera ke sana. Sekarang posisinya di mana?]
"Di rumah, Om."
Sambungan telepon itu langsung ditutup tanpa salam. Karena gugup, Bagas langsung keluar meninggalkan kantor setelah berpesan pada sekertaris Han. Hari ini Arman ke Singapura dengan beberapa staf manager. Biasanya Bagas selalu ikut jika sedang ada acara di luar. Namun karena di Singapura sekitar seminggu, Bagas ditugaskan di kantor untuk menghendel semuanya.
Mungkin saat ini Arman masih dalam perjalanan, sehingga HP-nya tak bisa dihubungi. Memang pria itu tak pamit pada Amira. Semenjak kata talak yang diucapkan kemarin, hubungan mereka semakin dingin. Arman tak lagi menyapa Amira. Tugas menyiapkan keperluannya tak lagi dibebankan pada perempuan itu.
Suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Kiara langsung berlari menuju teras untuk menyongsong kedatangan Bagas.
"Om, ayo cepat! Tolongin Mama, Om!" teriak Kiara saat melihat Bagas baru saja turun dari mobilnya.
Pria itu membuka pintu belakang lebar-lebar lalu melangkah menuju Kiara berada. Tangan mungil gadis itu langsung menarik tangan Bagas. Darahnya menghangat merasakan sentuhan gadis kecil itu. Tak bisa dipungkiri, hatinya ikut menghangat mengingat dirinyalah yang pertama kali diingat putri Amira setelah papanya. Ia merasa dibutuhkan sekarang. Dan itu, membuatnya melayang. Setidaknya, kedua anak ini menerima keberadaan.
Seharusnya Bagas tak memikirkan hal itu dalam situasi seperti ini. Namun entah mengapa, mendengar Arman telah menjatuhkan talak pada Amira, hatinya dipenuhi harapan.
"Ayo, Sayang, kunci pintunya!"
Arman membopong tubuh ringkih Amira diikuti kedua gadis kecil itu. Setelah memastikan semuanya aman, Bagas menghidupkan mesin dan meninggalkan rumah itu.
Bagas mondar-mandir di depan pintu UGD. Sesekali tatapannya tertuju pada pintu yang masih tertutup itu. Hatinya mencelos memikirkan wanita yang ada di dalam sana. Sementara kedua putri Amira duduk di kursi tunggu saling berpelukan. Tangisannya sudah reda. Namun pandangan mata mereka kosong. Entah apa yang ada dalam benak kedua gadis kecil itu.
Melihat pemandangan yang menyayat hati, Bagas melangkah mendekati keduanya. Lalu membawa dua hadis itu dalam pelukaannya.
"Mama kenapa, Om? Kenapa Mama nggak bangun-bangun," tanya Kiara dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Sabar, ya, Sayang. Dokter sedang menyembuhkan Mama. Kita do'akan Mama segera sembuh, ya," ucap Arman sambil mengelus puncak kepala gadis itu bergantian.
"Papa kemana, Om? Kenapa nggak bisa dihubungi?"
"Papamu sedang ada kerjaan di Singapura. Tapi tenang aja, ada Om yang akan menemani kalian."
"Keluarga Bu Amira!"
Bagas melepaskan pelukannya dan bangkit mendekati perawat itu. Setelah mengucapkan sesuatu, Bagas diminta ke ruang dokter untuk menerima beberapa penjelasan.
"Kalian jaga mama dulu di dalam, ya! Om mau ketemu dokter dulu."
Kedua anak itu kompak mengangguk dengan mata berbinar. Lalu berlari menuju ruang UGD tempat Amira dirawat. Perawat sudah mengizinkan keduanya masuk.
Dokter menarik napas dalam sebelum menjelaskan pada Bagas. Tatapannya beradu dengan netra Bagas yang jernih seperti madu.
"Dari hasil pemeriksaan, ginjal Bu Amira sudah tak mampu bekerja dengan optimal. Dia harus menjalani HD seminggu sekali."
"Apa?!"
"Apa Anda tidak tahu? Bu Amira sudah menjalani perawatan selama beberapa bulan. Di sini, Bu Amira sedang terdaftar menjadi salah satu pasien yang ikut antri mendapatkan donor ginjal. Itu berarti, beliau sudah tahu dengan kondisinya. Apa Anda tidak tahu?"
Bagas termenung. Tak menyangka perempuan itu menyembunyikan penyakit seserius ini sendirian. Dia yakin kalau Arman dan keluarganya pun juga tak mengetahui hal ini.
"Apa masih ada jalan lain, Dok?"