Dua Hati Satu Cinta
Terungkap, Cinta Pertama y
"Kalau gitu, izinkan aku menggantikan posisimu," ucap Bagas membuat Arman melotot.
"Posisi apa maksudmu? Kamu mau menggantikanku sebagai CEO?" tanya Arman dengan tawa sumbang. Ia rela menceraikan Amira demi perusahaan dan keluarga. Tidak mudah baginya untuk bisa mencapai posisi ini. Kini ketika dia sudah berada di puncak, haruskah menyerahkannya pada orang lain?
Hatinya tergelitik mendengar permintaan sahabat sekaligus asistennya. Tak menyangka jika selama ini Bagas mengincar posisinya.
"Bukan sebagai CEO. Aku nggak gila jabatan sepertimu hingga rela membuang perempuan yang menemanimu berjuang dari nol. Otakku masih cukup waras untuk membedakan mana yang harus diperjuangkan dan mana yang harus direlakan."
Arman bangkit. Berjalan menuju sofa dan duduk bersandar di sana. Kaki kirinya dinaikkan ke atas kaki kanan dengan dua tangan telentang di sandaran sofa. Bagas memilih duduk di single sofa yang berhadapan dengan bosnya.
"Kalau bukan sebagai CEO, lalu mau menggantikan posisiku yang mana?"
"Menjadi pemimpin rumah tangga bagi Amira. Sudah saatnya aku memperjuangkan apa yang telah kurelakan padamu. Andai saja kau tak menyia-nyiakannya, maka aku tak akan menginginkan dia lagi."
Mendengar nama Amira disebut, tubuh Arman menegang. Ia tak menyangka asistennya menyimpan perasaan pada belahan jiwanya. Hampir saja ia tersedak ludahnya sendiri kalau tak segera meneguk air putih yang ada di meja.
"Jadi selama ini kamu mengincar istriku?"
"Bukan mengincar. Lebih tepatnya aku telah merelakannya untukmu!"
"Apa kamu bilang? Bukannya kamu dulu naksir teman seangkatan kita? Dan karena perempuan yang kamu incar dijodohkan sama orang tuanya, kamu memilih mundur? Kenapa sekarang ngaku-ngaku memperjuangkan Amira?"
Tiba-tiba Arman terkesiap mencerna pengakuan Bagas. Mana mungkin apa yang dikatakan sahabatnya itu benar? Jika benar Amira orang yang diincar, berarti yang dimaksud Bagas dulu adalah istrinya? Berarti dialah yang merebut Amira dari Bagas demi menutupi aib keluarganya. Tapi kenapa Bagas sendiri tak pernah cerita tentang itu?
"Apa gadis yang kamu perjuangkan dulu itu ... Amira?" tanya Arman lirih. Hatinya berharap jawaban Bagas adalah "bukan", sehingga ia tak perlu menanggung rasa bersalah yang berkepanjangan.
"Ya. Kamu benar. Gadis itu adalah Amira. Istrimu."
Seketika darah di tubuh Arman berhenti mengalir. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Jantungnya berpacu lebih cepat untuk memompa darah agar tetap mengalir ke seluruh tubuh. 'Amira, kenapa harus Amira? Relakah aku melihat Amira bahagia bersama Bagas?' batin Arman terus berkecamuk.
Melihat perubahan mimik Arman, Bagas menarik sudut bibirnya. Batinnya puas melihat wajah pucat sahabatnya. Biar tahu rasa! Suruh siapa dia menyia-nyiakan wanita sebaik Amira? Bukan maksudnya bahagia di atas derita bosnya. Namun ia perlu memberi pelajaran pada pria plin-plan itu biar sadar dan membuka mata.
Suara gaduh di luar ruangan membuat kedua pria tampan itu saling pandang. Lalu dua pasang netra kelam itu tertuju pada pintu yang tiba-tiba didorong dari luar. Sosok wanita yang menjadi sumber masalah muncul dengan pakaian seksi dan make up tebal.
Bagas menilai penampilan wanita itu yang lebih mirip penghuni club malam dibanding wanita terhormat. Baju kurang bahan yang menampakkan lekuk tubuh dan sebagian kulit putihnya. Serta make up super tebal yang lebih mirip topeng daripada wajah aslinya. Belum lagi rambut ombre yang dibiarkan tergerai membuat para lelaki terpaksa menanggung dosa akibat melihat auratnya.
Bagas memalingkan wajahnya segera setelah melihat siapa yang masuk tanpa sopan santun. Bahkan sekertaris Na dibuat kewalahan akibat sikap arogan wanita tak tahu malu ini. Sudah dilarang masuk, masih saja memaksa.
Bagas jadi berpikir, sisi mana yang membuat Arman bisa tergila-gila padanya dulu. Jelas-jelas Amira jauh lebih cantik dan terhormat daripada perempuan ini. Sebagai lelaki normal saja, Bagas tak tertarik sedikit pun padanya. Mungkin karena dia paham bahwa wanita itu harus menjaga kehormatannya dengan bersikap lembut dan menutup aurat.
Senantiasa terikat dengan hukum syara' yang telah ditetapkan Allah. Dan Amira, adalah sosok sempurna di mata para pria yang paham agama. Selain cerdas secara akademik, Amira juga cerdas dalam penguasaan tsaqafah Islam. Memahami hukum-hukum Allah dan menjalankannya dalam kehidupan. Kurang apa lagi dia?
Sebagai istri Amira tak pernah membantah suami selama masih di jalan yang benar. Ia juag rela menjadi ibu rumah tangga demi mendidik kedua malaikat kecilnya.
"Maaf, Pak, perempuan ini memaksa untuk masuk, padahal saya sudah melarangnya," lirih sekertaris Na sambil menundukkan kepala. "Apa perlu saya panghilkan security, Pak?"
"Tidak perlu. Ya sudah, kembalilah belerja," perintah Arman pada seksrtarisnya.
Tanpa malu, Melly duduk didekat Arman dengan sengaja menempelkan aset berharganya pada tubuh Arman. Melihat kejadian itu, perut Bagas seperti diaduk-aduk karena mual. Entah kenapa, melihat perilaku wanita itu lebih mirip pada penjaja tubuh.
"Ada apa kamu kemari? Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengusikku dulu. Apa kamu benar-benar tak punya hati bermain-main dengan keutuhan rumah tanggaku?"
"Apa? Mengusik rumah tanggamu, kamu bilang? Kamulah yang menghancurkan rumah tanggamu sendiri!"
Tak ingin mendengarkan drama itu, Bagas memilih beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar. Namun Arman tak membiarkan hal itu terjadi. Pengalaman sudah membuktikan dua kali. Berdua saja dengan wanita ini bisa-bisa masalahnya makin rumit. Karena sudah bisa dipastikan perempuan ini akan melakukan sesuatu di luar nalar manusia normal.
"Sudahlah, Mel. Tolong jangan mengancamku lagi dengan foto-foto lucnut itu. Aku sudah menjatuhkan talak pada Amira. Jadi, tak ada alasan bagimu untuk mengancamku lagi!"
Kedua sudut bibir merah darah Melly melengkung ke atas. Hatinya berbunga-bunga. Namun ia tetap menahan diri untuk tidak mengeluarkan sifat aslinya. Bisa-bisa rencanaya gagal kali ini.
"Heh, benarkah? Apa ada bukti?"
Arman merogoh saku kemejanya. Benda pipih berukuran 6 inchi tampak mewah ditangan CEO muda itu. Dengan gerakan lincah ia menggerakkan jemarinya. Lalu terdengar rekaman dirinya saat mengucap kata talak pada Amira.
Dadanya bergemuruh ketika mengingat saat itu. Amira diam saja tanpa mau membantah atau marah dengan memukul dirinya. Perempuan yang telah menjadi tempatnya melepas lelah itu hanya menanggapi dengan dingin. Sedikit shock memang. Tapi nggak sampai meledak-ledak. Mungkin jika wanita lain, sudah berbuat bar-bar pada suaminya.
Juatru sikap diamnya itulah yang membuatnya seperti seorang putri bangsawan yang diajari tentang kepribadian mulia.
Bagas meremas dadanya mendengar rekaman suara rekaman Arman. Hatinya tercabik-cabik membayangkan wanita yang dirindukannya terluka.
"Bagus. Terimakasih, Sayang," ucap Melly antusias. Sengaja ia semakin menempelkan tubuhnya pada Arman untuk memancing syahwat lelaki itu. Bahkan ia tak malu-malu meski ada Bagas di ruang yang sama.
"Kalau gitu, ayo secepatnya kita menikah," ucap Melly.
"Tidak. Sebelum kamu menghapus semua foto-foto itu. Maka aku tak akan dengan mudah menikahimu."
"Baiklah, nih hapus sendiri saja!" ucapnya enteng. Melly menyodorkan gawai miliknya pada Arman.
Sepasang netra Arman membola melihat wallpaper di HP Melly. Namun setelah masuk ke penyimpanan, dada Arman semakin berdetak kencang. Tak menyangka dengan apa yang dilihatnya kini.