Dua Hati Satu Cinta

Kebersamaan

"Apa yang kamu sembunyikan dariku, sayang?"

Kedua wanita itu membeku. Tak mengira tiba-tiba Arman datang. Emilia langsung pamit setelah kedatangan Arman. Amira hanya mengangguk dengan senyum mengembang. Berkat Emil, ia tidak bosan sendirian di rumah sakit ini. 

Arman menduduki kursi yang sebelumnya di duduki Emilia. Mengecup kening Amira sayang lalu menegakkan tubuh. 

"Gimana keadaanmu, Sayang?"

Ditatap dengan seintens itu, Amira jadi kikuk. Meski sudah bertahun lamanya ia menjadi istri Arman, sikap malu-malunya masih belum bisa hilang. 

"Aku baik, Mas. Gimana anak-anak?" 

Rasa rindu Amira pada kedua buah hatinya sudah mencapai ubun-ubun. Biasanya jam segini ia menghabiskan waktu bersamanya sambil menunggu Arman pulang kantor. Kini, ia harus mulai terbiasa untuk tidak terlalu dekat dengan mereka selama sebulan ini. 

"Anak-anak baik. Dia lagi sama Mama di rumah."

"Jadi Mama masih belum pulang?"

Amira tak mengira kalau mertuanya itu masih belum pulang. Dia pikir anak-anak yang dibawa ke rumah mertuanya selama ia di rumah sakit. Jarak rumahnya dengan rumah mertua tidak begitu jauh. Hanya sekitar 5 km saja sebenarnya. Jadi tidak masalah sebenarnya kalau anak-anak di bawa dulu sementara. 

"Mama nggak mau pulang sebelum kamu sehat katanya." 

Dada Amira menghangat mendengarnya. Memang mertuanya itu sangat sayang padanya melebihi anak kandung sendiri. Amira yang yatim piatu sejak Kuliah, mendapatkan kasih sayang orang tua dari mertuanya itu. Awalnya dia mau diangkat anak oleh Mama Endah, tapi takdir berkata lain. 

Karena Arman gagal menikah dengan Melly, akhirnya Amira yang dijodohkan dengannya. Awalnya Arman menolak. Namun setelah melihat ketukusan Amira dan sikapnya yang begitu baik, lama-lama luluh juga. Bahkan cinta pada Amira makin hari kian dalam. Luka yang ditorehkan Melly bisa sembuh akibat kasing sayang tulus dari perempuan yang sedang terbaring ini. 

"Ya udah, Mas, kalau gitu Amira minta pulang hari ini aja. Kasihan Mama jagain anak-anak. Dia kan harus banyak istirahat." Amira menatap manik kelam Arman dengan mengiba. Hal itu membuat hati Arman berdesir. Tak tega melihat tatapn itu. 

"Lagipula Amira sudah sehat kok, Mas." 

Arman menghembuskan napas lelah. Bukan ini yang ia minta. Ia hanya ingin memastikan sitrinya pulang dalam keadaan benar-benar sehat. 

"Kita tanya dokter aja ya, nanti. Siapa tahu masih ada beberapa pemeriksaan lanjutan." Arman menggenggam tangan Amira. Hangat. "Aku nggak mau ambil resiko. Kamu sabar dulu ya, Sayang?" 

Amira bergeming. Dia pikir suaminya akan mengabulkannya. Mengingat ia sudah melihat sendiri kondisi istrinya yang tampak jaih lebih bugar dibandingkan pertama masuk rumah sakit. 

Sebuah gesekan pintu yang beradu dengan lantai terdengar nyaring saat papan kayu berbentuk persegi panjang itu dibuka seseorang. Amira tak mampu melihat kedatangan pria itu karena posisi tidurnya membelakangi pintu. 

"Bagaimana kabarnya, Bu Amira?" tanya dokter seumuran Arman itu. "Apa sudah tidak pusing lagi?" 

Dokter itu segera mendekat dan memeriksa Amira. Arman menggeser tubuhnya memberi akses kepada dokter itu agar leluasa memeriksa kondisi istrinya. 

"Sudah nggak, Dok. Apa hari ini saya sudah boleh pulang?" tanya Amira lirih. Tatapannya tidak memandang pada lawan bicara. Itulah yang dilakukan Amira ketika berbicara dengan lawan jenis selain dengan suaminya. 

Ia adalah perempuan yang selalu menjaga pandangan dan kehormatannya. Tak pernah sekalipun terlihat ia berinteraksi dengan laki-laki lain berduaan saja. Kecuali pada aktivitas yang diperbolehkan oleh hukum syara', seperti dalam hal muamalah, pendidikan dan kesehatan. 

Dan ketika terpaksa dalam tiga hal itu dia harus berinteraksi dengan laki-laki, maka dia akan menjaga pandangan dan sebisa mungkin tidak berduaan saja. 

Harusnya Arman beruntung memiliki istri yang shalehah dan menjaga iffah (kehormatan) sepert Amira. Dia juga menutup auratnya dengan sempurna sehingga mata-mata pria asing yang tidak halal tak bisa melihat keindahan tubuhnya. 

"Melihat perkembangan ibu yang begitu baik, nggak masalah kalau mau pulang. Tapi tetap harus rawat jalan ya, Bu. Rutin kontrol." 

Ucapan dokter membuat Amira lega. Senyumnya mengembang sempurna menampilkan deretan gigi putih nan rapi miliknya. 

Setelah dokter berlalu, Arman segera mengurus administrasi ke kasir. Tak lama berselang, seorang perawat datang untuk melepas selang infus yang masih menancap di pergelangan tangannya. 

"Nanti, jangan langsung pulang ya, Bu. Tunggu satu atau dua jam lagi untuk penyesuaian," ucap perawat yang ber-name tag Susi itu. Tangannya begitu cekatan melepas jarum itu dan membalutnya dengan plester agar darah tak mengalir keluar. 

"Ia, Sus. Makasih." 

Amira bersandar menggunakan bantal sebagai penyangga. Wajahnya sudah tak sepucat waktu awal datang. Bibirnya juva sudah kembali merah. 

Sambil menunggu suaminya, ia mengambil gadget yang ada di nakas dan membukanya. Beberapa chat terlewat baru bisa ia baca. Ada puluhan chat yang masih menunggu ia buka. Semntara di beberapa group menampilkan anggka ribuan. 

Ada satu chat yang membuatnya penasaran. Dengan gemetar, ia membukanya. Matanya melotot menyaksikan foto-foto itu. Dadanya panas seperti terbakar. Namun ia tak mau percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya. Ia harus memastikan apa yang ada di foto itu bukan fitnah atau rekayasa. 

Kini jemarinya lincah bergerak untuk memindahkan foto-foto itu ke folder tersembunyi yang sudah ia kunci. Untuk mengantisipasi kalau HP-nya dibuka suami. Lalu menghapus chat itu. 

Sambil sesekali matanya melirik ke arah pintu, ia mencoba menghubungi seseorang. Sahabatnya waktu kuliah yang sekarang berprofesi sebagai detektif swasta. Ia meminta untuk menyelidiki kebenaran foto-foto itu. 

Tepat saat ia menutup pembicaraan dengan seseorang di seberang sana, pintu dibuka menampilkan suaminya yang membawa beberapa berkas dan obat. Amira jadi salah tingkah seperti maling yang sedang ketangkap basah. 

Arman masuk dengan menampilkan deretan giginya yang rapi. Lalu mengambil travel bag yang ada di samping nakas dan membereskan baju-baju Amira. Tidak butuh waktu lama karena barang-barangnya juga tak banyak. 

"Sudah siap?" tanya Arman antusias. 

"Iya, Mas." 

Amira menurunkan kakinya perlahan. Dengan sigap Arman membantu dan menyiapkan sendalnya. 

"Hati-hati, Sayang. Masih pusing nggak?" 

Perempuan yang selalu cantik meski tidak memakai make up itu tersenyum. Lalu menggelengkan kepalanya. Perlahan ia berdiri dan melangkah ke pintu. Arman merangkul pundaknya supaya tidak oleng. Tangan kanannya digunakan untuk membawa travel bag. 

Arman menawarkan untuk menggunakan kursi roda agar Amira tak kecapekan. Namun wanita itu menolak dengan alasan untuk membiasakan diri. Tiga hari berbaring terus membuat otot-ototnya kaku dan tegang. Perjalanan dari ruang rawat menuju parkiran terasa sangat lama bagi Amira yang baru sembuh dari sakit. 

Mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan langkah yang sangat pelan. Meski begitu, Arman tetap membimbing istrinya dengan sabar. Senyumnya tak pernah pudar mendapati istrinya begitu patuh padanya. Bahkan ia tidak mengungkit masalahnya sedkit pun. 

Suatu kebahagiaan bagi pria itu bisa sedekat ini dengan sang bidadari setelah beberapa hari terjadi perang dingin diantara mereka. Seolah semua persoalan menguap begitu saja. Dalam hati ia berdoa semoga Allah senantiasa melindungi rumah tangganya. 

Tak jauh darinya seseorang yang dikenal baru saja memasuki poly kandungan. Entah Amira juga melihatnya atau tidak. Namun keberadaan wanita itu di tempat ini membuat kepalanya dipenuhi tanda tanya. 

Satu sisi ia yakin itu adalah dia. Namun sisi lain iya juga ragu kalau itu dia. Karena tadi ia hanya melihat dari samping dan sekilas saja. Andai dia tak bersama Amira sekarang, sudah pasti ia menerobos masuk atau menunggu di luar untuk memastikan penglihatannya masih normal. 

 

"Mas?" 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!