Dua Hati Satu Cinta

Izin Menikah Lagi

"Melly telah kembali," ucap Arman pada Amira, istrinya. Gerakan perempuan yang sudah mendampingi hidupnya delapan tahun ini terhenti. Jemarinya yang sibuk menekan tuts-tuts keyboard laptop mengambang di udara. Pikirannya ambyar, membuat ide-ide yang telah rumpah ruah di otak tiba-tiba nyungsep. 

"Kapan?" 

"Seminggu lalu," ucap pria berhidung mancung itu semangat. Ia lupa jika perempuan di hadapannya ini memiliki hati yang perlu dijaga agar tak terluka. 

"Lalu?" Amira mencoba menguatkan hatinya sebelum mendengar jawaban sang suami. Ia tahu, saat ini akan tiba. Saat dimana cinta pertama suaminya hadir kembali menagih janji. Bodohnya Amira selalu menutup mata akan hal itu. 

"Kami sudah sepakat akan segera menikah," ucap pria itu enteng. Senyumnya mengembang mengatakan hal itu. Binar-binar bahagia tampak jelas di matanya. 

Amira mematikan laptopnya. Kegiatan menulis yang dilakukannya terpaksa terhenti. Kehangatan yang tercipta selama berdua seolah lenyap bersama pengakuan sang suami akan cinta pertamanya. Ya, tadinya Arman menemani sang istri yang sedang menuntaskan karyanya. Namun tetiba teringat akan janjinya dengan Melly, cinta pertamanya. 

Arman menjatuhkan tubuhnya di hadapan perempuan cantik yang menjadi ibu dari anak-anaknya itu. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, ia meraih kedua tangan sang istri dan menggenggamnya erat. Netranya menatap lembut pada sang istri yang sudah tampak berkaca-kaca. 

"Tenang saja, aku akan bersikap adil pada kalian berdua," ucapnya tanpa beban.

Meski hati sudah gerimis dan jantung serasa teriris, Amira tetap tersenyum manis. Jiwanya menolak tapi logikanya tak bisa. Ia hanyalah istri pengganti. Dan ketika pemilik hati yang asli sudah hadir kembali, maka dia sudah berjanji untuk undur diri. Ya, itu janjinya dalam hati, tanpa seorang pun yang mengetahui. Termasuk sang penjajah hati. 

"Apa kebersamaan kita delapan tahun ini belum cukup membuatmu bahagia, Mas? Harusnya Mas kembali padanya?" ucap Amira lirih. Dadanya bergemuruh menahan sakit akibat kalimat suaminya. 

"Kamu sangat berarti buatku, Sayang. Apalagi anak-anak. Tapi ... aku sudah berjanji pada Melly kalau kami akan segera menikah. Tolong mengertilah," ucap pria itu penuh harap. Sorot matanya jelas menggambarkan pengharapan yang sangat besar. Amira pikir, waktu 8 tahun yang mereka lalui bersama cukup untuk menutup ruang hatinya untuk cinta pertama yang hilang entah kemana. Ditambah lagi dua buah hati yang lucu-lucu. Namun nyatanya, semua itu hanya selingan sambil menunggu menu utama. 

"Apa Mas lupa, dialah yang meninggalkan Mas saat pernikahan tinggal menghitung hari? Dan sekarang Mas begitu mudah akan menerimanya kembali?" 

"Amira, dengarkan aku baik-baik. Melly punya alasan kuat waktu itu. Dia sudah menjelaskan semuanya kemarin. Dan rasanya nggak adil jika aku tak bisa menerimanya. Dia tidak sepenuhnya salah, Sayang."

Amira menarik napas panjang. Memejamkan mata untuk menguatkan hatinya yang mulai retak. Tidak adil katanya? Lalu dengan menyakiti hatiku dan mengabaikan kenangan delapan tahun ini apakah adil? Namun Amira nggak boleh egois. Bukankah sebulan terakhir ini dia juga sudah menyiapkan diri? Dan saat waktu itu datang, haruskah ia mundur? Meski hatinya sangat perih, seperti disayat-sayat pisau tajam, tapi ia berusaha menutupinya. Toh, suaminya sudah memutuskan. Ia tak perlu izin untuk menikah lagi. Karena nyatanya, meski Amira melarang, ia tetap nekat bukan? 

Mungkin inilah saat yang tepat. Ia bisa mempercayakan anak-anak pada suaminya, sehingga kelak jika sampai waktunya ia harus pergi, perempuan itu tak akan merasa berat menitipkan buah hatinya pada sang suami.

"Boleh aku minta syarat?" ucap Amira akhinya. Ia akan menyetujui permintaan suaminya jika mampu memenuhi syarat darinya. Satu bulan waktu yang cukup untuk mengukir kenangan indah bersamanya. Ya. Dia hanya memiliki waktu sebulan, dan ia ingin pergi meninggalkan kenangan yang indah bersama keluarga kecilnya. Tak ada seorang pun yang tahu, jika Amira sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. 

"Tentu. Tentu saja boleh. Apapun syaratnya pasti akan aku penuhi. Katakan!" Pria ini tampak sangat bersemangat. Seolah sedang mendapatkan hadiah istimewa karena kenangannya. Ia benar-benar melupakan masa-masa bahagianya delapan taun terakhir ini bersama keluarga kecil yang dibangunnya dengan penuh kesadaran. Ya, waktu itu mereka tidak menikah secara paksa. Meski Amira sebagai pengganti kekasihnya yang tiba-tiba menghilang, namun ia sendiri yang datang melamar bersama keluarganya. Dia yang melihat Amira memiliki keistimewaan yang tak dimiliki wanita lain, bahkan kekasihnya. Amira, wanita shalihah yang menjaga akhlak dan kehormatannya. Itulah sebabnya ia memilih wanita ini karena yakin akan mampu membantunya meraih surga. Meski ia tahu, ia bukan lelaki religius seperti Amira. 

Kini, saat kekasih pertamanya kembali dan memintanya menikahi, dengan entengnya mengiyakan. Karena ia yakin, Amira akan memberi izin. Ia tahu istrinya paham bahwa seorang lelaki boleh beristri lebih dari satu. Tapi ia lupa, bahwa hati wanita itu sangat lembut dan mudah retak. 

"Beri waktu satu bulan," lirih Amira. Kepalanya mendongak. Tanpa disadari sang imam, setetes air mata jatuh. 

"Tentu. Apa yang kau inginkan dalam waktu satu bulan itu?" 

Amira menunduk. Sudut bibirnya melengkung. "Dalam waktu satu bulan ini, tolong jangan bertemu dengannya. Jangan berhubungan meski hanya lewat telepon atau chat." Wanita berhati lembut ini menarik napas, mengurai sesak yang mulai menghimpit dadanya. "Setiap hari, Mas harus menjalankan semua tugas rumah tangga yang biasa kulakukan. Mengurus rumah, dan mengurus anak." 

Lelaki berjambang tipis ini melonggarkan genggamannya. Jidatnya terlipat, jelas sekali ia sedang berpikir keras. Mengurus rumah baginya nggak sulit, karena ia juga sering membantu istrinya untuk itu. Namun tak berkomunikasi dengan kekasihnya selama sebulan, bisakah?" 

"Bagaimana? Apa Mas bersedia?" Ucapan lembut wanita yang telah melahirkan dua buah hatinya ini menyadarkan lamunannya. 

"I--iya, Mas sanggup." 

"Satu lagi."

"Apa?"

"Sebelum tidur, Mas harus membacakan Al-Qur'an untukku." 

Pria itu mengembangkan senyumnya. Lalu menciumi tangan yang berlumur kasih sayang itu bertubi-tubi. 

"Trimakasih, Sayang. Trimaksih. Kamu memang istri yang shalehah. Tidak salah aku memilihmu dulu," ucap pria itu semangat. 

Namun dia tak tahu. Dibalik senyum manis wanita ini, ada hati yang koyak akibat permintaannya. Tatapan mereka saling beradu. Bukan tatapan cinta seperti awal-awal pernikahan dulu. Namun, entah keduanya memiliki arti yang berbeda. 

Saat mereka larut dalam keheningan, HP Arman berdering nyaring. Sebuah nama yang menjadi mood booster Arman akhir-akhir ini terpampang jelas di sana. Ia ragu untuk mengangkatnya, karena sudah berjanji tidak akan berkomunikasi selama sebulan ini. Namun anggukan kepala Amira, memberinya izin untuk mengangkat. Saat akan berdiri, Amira melarang. Ia ingin suaminya bicara di hadapannya. 

"Katakan, untuk tidak menghubungimu selama sebulan," perintah Amira lirih. 

"Kalau dia nggak mau gimana?" bisik suaminya.

"Syaratnya gagal."

Pria itu melotot. Kalau gagal, artinya hubungannya dengan perempuan di seberang sana juga akan berakhir. Maka dengan terbata, ia mengatakan itu.

****

Jika suka cerita ini, jangan lupa kasih love dan bintang lima ya, Kak. Makasih sudah mau mampir.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!