Tuan Feliks mengangkat kakinya, kemudian ia menggeleng. "Tidak bisa."
Pandangan pria itu lurus kedepan tanpa melihatku, dagunya terangkat tegas lalu melangkah pergi meninggalkanku yang sedang terpuruk runtuh di lantai.
Aku menghela napas panjang, menghapus semua noda tangisan di wajahku. Aku harus kuat! Aku harus nekat! Demi ibu! Demi ibu! Ya ... demi ibu!
Tubuhku berdiri, meski sebenarnya aku terhuyung pusing ke dua bola mataku terasa berkunang dan berputar-putar, entahlah ... sepertinya beban di kepalaku sudah benar-benar di luar batas kendali kepalaku.
"Bisakah aku melihat CCTV di rumah ini, Pak?" tanyaku yang terkesan menggebu pada security yang mengantar diriku tadi.
"Hah?" raut wajah pria berbadan tegap dan besar itu seolah terkejut mendengar permintaanku. "Untuk apa? CCTV di rumah ini tidak sembarang orang bisa melihatnya, apa lagi kamu!" jawab pria itu ketus.
Aku menatap wajahnya, mulutku bungkam beberapa detik. Lalu menyatukan telapak tangan yang lagi-lagi memohon padanya. "Aku mohon, Pak! Aku ingin melihat kejadian saat Nyonya Lee pergi dari rumah ini. Aku ingin mendengar perkataan yang mereka ucapkan saat terakhir kalinya bertengkar!" ujarku penuh penakanan yang yakin CCTV itu pasti juga bisa merekam pembicaraan mereka.
"Beri aku alasan, mengapa aku harus menuruti perintahmu? Sedangkan jabatanku disini sedang dipertaruhkan karena ulahmu, anak kecil."
Security berkata dengan wajah yang mengarah ke sisi lain, dia bahkan iba hanya untuk menatap wajahku sebentar saja.
Beberapa detik aku menatap wajahnya tanpa balasan, lalu aku memberanikan diri mengambil lengan pria itu. Meminta sedikit belas kasihan sebab aku yakin dia pria baik meski wajahnya seram.
"Demi keharmonisan keluarga ini, aku yakin dirimu pun juga ingin mereka cepat kembali dan berkumpul bersama bukan? Jadi tolonglah aku ... untuk menyatukan mereka kembali ...," ucapku penuh dengan keyakinan tanpa ragu membicarakam hal yang sebenarnya aku pun tidak yakin ini berhasil.
"Cih! Bagaimana bisa? Yang menyebabkan mereka bertengkar bukannya kamu? Lalu sekarang kau ingin bertingkah apa lagi?" balas pria berseragam security itu dengan mimik wajah yang mencebik meremehkan.
"Terserah, jika dirimu tidak yakin! Aku bisa dengan mudah masuk dan mengacak-ngacak rumah itu hanya karena ingin melihat tempat persembunyian dimana monitor rumah berada? Sebab aku yakin monitor CCTV rumah ini bukan hanya satu melainkan dua bukan? Dan aku juga yakin tempatnya bukan hanya di posmu melainkan di ruang pribadi mereka?" balasku yang terkesan mengancamnya.
Pria itu menghela napas panjang, sehingga mengharuskan dirinya mengalah membuat jalanku masuk ke ruang pos untuk mengecek CCTV pada jam kejadian. "Baiklah, kuizinkan ... tapi kumohon kerja samanya! Kumohon dirimu bersembunyi jika Tuanku keluar."
Aku mengangguk, obrolan kami berhenti dan langsung berfokus pada layar monitor di depan kami. Pria berbadan tegap itu tanpa suara mengotak ngatik keyboard dan akhirnya ia berhasil menemukan rekaman gambar sekaligus suara kejadian saat Tuan Feliks bertengkar pada istrinya.
Di dalam rekaman itu terlihat Tuan Feliks menampar Ethan dengan kuat, hingga membuat Ethan terhuyung menabrak anak tangga dan menyebabkan pendarahan hebat di kepala Ethan.
Melihat Ethan tergeletak tidak berdaya Nyonya Lee membalas dengan tamparan yang tidak kalah kuat dari tamparan yang dilayangkam Tuan Feliks tadi. Akhirnya mereka berdua bertengkar di tengah Ethan yang sudah tidak sadarkan diri.
Terlihat Nyonya Lee memarahi, menunjuk dan mencaci Tuan Feliks sambil menghubungi ambulance. Kemudian dengan melangkahi Ethan, Nyonya Lee berjalan ke atas lalu kembali membawa koper dan duduk di samping Ethan menangis sambil memangku kepala Ethan.
Melihat Nyonya Lee yang sudah menenteng sebuah koper, sepertinya hal itu membuat emosi Tuan Feliks naik dan tidak terkendali. Dia berusaha menarik koper itu dari genggaman Nyonya Lee, tetapi tenaga Nyonya Lee sepertinya tidak kalah hebat dari Tuan Feliks yang membuat suaminya tidak berhasil mendapati koper itu dari genggamannya.
Sehingga disitulah kekerasan terjadi ... dengan tangan yang menarik koper, kaki Tuan Feliks menendang Nyonya Lee ... tetapi, koper itu tetap terpegang kuat oleh Nyonya Lee. Tuan Feliks meninju dada Nyonya Lee, menendangnya lagi hingga membuat Nyonya Lee terpental kesana kemari, tetapi ... koper itu tetap dipegang oleh Nyonya Lee.
Tuan Feliks terus memohon sambil terus pula merebut koper Nyonya Lee, tetapi tetap juga koper Nyonya Lee tidak terebut. Hingga akhirnya satu tinjuan yang kuat melayang di dada Nyonya Lee yang sepertinya membuat Nyonya sedikit melemah sambil memegang dadanya.
Namun, pertahanan Nyonya Lee tetaplah kuat. Koper itu tidak bisa Tuan Feliks rebut. Sehingga membuat Tuan Feliks akhirnya menyerah, dirinya memilih duduk sambil menangis menutup wajahnya.
Kemudian tidak lama, selang bebera menit ... para petugas medis datang menjemput Ethan lalu memasukkannya ke dalam mobil dan Nyonya Lee juga pergi membawa koper yang tidak tahu pasti isi di dalamnya apa.
Sebelum ia pergi, ada satu ucapan yang sebenarnya membuatku cukup terkejut. Nyonya Lee berkata dengan wajah yang begitu tenang. "Jadikan Sarni istri keduamu, maka rumah tangga kita akan bahagia."
Perkataan itu membuatku tidak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Nyonya Lee ... mengapa dia sebaik itu? Apa ada rencana dibalik kebaikannya?
Argh! Tidak! Nyonya Lee memang begitu sangat baik padaku, aku bisa melihat kebaikannya meski kami baru saja bertemu.
Aku melamun melihat rekaman itu sedari tadi, ada rasa kasihan yang melintas pada keluarga ini! Sebab karena aku! Rumah tangga mereka sehancur ini!
Sedangkan Tuan Feliks terlihat hanya bisa meratapi, memaki dirinya sendiri di dalam rumah megah penuh dengan kesunyian di dalam layar monitor itu.
"Sudah! Silahkan keluar."
Pria tegap itu menyuruhku keluar sambil menarik lenganku kuat, aku tahu posisinya dan aku mengerti hal itu.
"Sudah puas kan? Apa perasaanmu setelah membuat mereka bertengkar seperti itu? Apa lagi ada kekerasan di dalamnya? Senang kau?" tanyanya kuat sembari ke dua bola matanya membulat.
Aku hanya terdiam dan menunduk tidak bisa menjawab apa pun, pada kenyataannya memang akulah yang menjadi penyebab semuanya.
"Oh ... iya, aku baru ingat ada kata-kata S-A-R-N-I di rekaman CCTV tadi, apa Sarni itu ibumu?" ujar pria itu mengeja nama ibuku sekaligus bertanya.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.
"Apa kamu begitu inginnya? Masuk ke dalam rumah istana ini? Menjadi satu bagian dari keluarga konglomerat yang sangat kaya dengan cara seperti ini? Apa itu tidak begitu rendah?" tanya pria itu yang mulai mencemoohku.
Aku menatapnya dengan linangan air mata. "Sumpah tidak pernah terlintas di kepalaku seperti itu, Pak! Sungguh! Aku melakukan ini hanya karena ibu! Itu saja."
"SUDAH! CUKUP!" bentaknya keras, "CUKUP UNTUK MENGATAKAN SEMUANYA KARENA IBUMU!"