Faktanya bunyi pepatah jika mati satu tumbuh seribu itu, ternyata tidak berlaku untuk semua orang. Contohnya ibu ... kurasa walau sejuta orang yang datang di hidupnya, tidak dapat menggantikan satu orang yang telah pergi meninggalkan dia.
Andaikan ibu tahu, betapa lelaki yang ia puja sangat membenci dirinya. Apakah ibu masih mengharapkan lelaki itu kembali?
"Ra, apa udah bisa ngehubungin ayahmu?"
Tanya ibu yang membuatku reflek menoleh ke arahnya. Aku mengulum bibir bingung harus menjawabnya seperti apa. Tetapi, ibu malah semakin menatapku dengan mengerutkan dahinya.
"Ra?" panggil ibu untuk mendengar jawabanku.
"Bu, gimana kalau kita udah berusaha kayak mana pun. Tapi tetap saja takdir nggak ngebolehin ibu untuk bersama gimana?" tanyaku balik pada ibu dengan tatapan sendu.
"Ra, hidup itu tentang pilihan. Kita berhak meninggalkan semua hal yang membuat kita sedih dan kita wajib juga mempertahankan semua hal yang membuat kita bahagia." Ibu menatapku dengan tatapan berkaca, ia menatapku tajam seolah tidak mengizinkan kepalaku untuk berpaling memandangnya.
Aku menelan saliva setelah mendengar ucapannya, suasana berubah menjadi kaku di antara aku dan ibu. Sepertinya aku tahu siapa di hubungan ini yang egois. Siapa lagi jika bukan ibu?
Ibu lebih memilih menyakiti diri sendiri selama bertahun-tahun, sampai tersisa hanyalah hati yang mendidih untuk terus mencintai dan menunggu sang pemilik hidupnya.
Sedangkan, lelaki itu ... memilih untuk berhenti secara realistis! Mengubur segalanya sebab ia tahu jika cintanya salah.
"Bu ...."
Ia menoleh menatapku dengan serius.
"Jika dia mencintai ibu ... ibu tidak perlu mengemis untuk memintanya kembali. Tidak perlu memaksanya untuk menghargai perasaan ibu, sebab dia akan melakukan dengan sendirinya tanpa ibu minta."
Raut wajah ibu berubah menjadi kecewa, lalu kepalanya seketika menunduk. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan itu pada ibu. Tetapi, kurasa ibu harus kujelaskan jika dirinya bisa berharga atau menjadi sampah di setiap orang yang hadir dalam hidupnya.
"Ra ...." Kepala ibu tiba-tiba mengadah kembali memandangku. "Kamu pernah mendengar kata-kata dari Rahwana?" tanya ibu menitikkan satu bening air mata di pelupuknya.
Aku menggeleng sambil memandang ibu.
"Rahwana perna bilang pada Shinta, berapa kali pun dia terlahir kembali ... dia akan selalu memilih Shinta. Walaupun akhirnya tetap sama! Rahwana tidak akan pernah memiliki Shinta."
Aku menggeleng kembali, terjeda untuk menarik napas panjang. Bisa-bisanya ada kata-kata itu dari Rahwana! Di dengar pula dengan orang yang tidak tepat seperti ibu, ya sudah ... makin bucin lah dia! Percuma saja segala nasihatku sedari tadi, jika cerita Rahwana, Rama dan Shinta ternyata yang menjadi pedoman hidup ibu.
Bagai penonton yang muak dengan adegan romance tidak masuk akal, akhirnya aku meminta izin untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu yang kurasa masih memikirkan tentang percintaannya.
Agak risih memang mendengarkan seluruh isi hati ibu, secara bagiku ibu adalah seorang ibu yang seharusnya bukan lagi memikirkan tentang percintaan lagi. Melainkan seharusnya memikirkan tentang hidupku ... anaknya!
Namun, jika bukan aku yang mendengarkan seluruh isi hati ibu mau siapa lagi? Aku tidak ingin ia memendam sendiri lalu akhirnya frustasi sebab tidak ada yang mau mendengarkan atau pun mengerti sedikit saja tentang perasaan ibu.
Itulah yang kutakutkan ... jika bukan aku, lalu siapa lagi?
Kurebahkan tubuh di atas ranjang yang sudah tidak lagi terasa empuk. Kepalaku mulai memutar kembali kejadian tadi, kemudian memikirkan Nyonya Lee ... mengapa ada wanita setegar dirinya bahkan sempat menyebut seandainya jika aku adalah anaknya sambil tersenyum mengelus anak rambutku.
Bahkan dia meminta maaf sebab tidak bisa mengantarku pulang, padahal itu bukan salahnya. Dan dia memberiku ongkos pulang dengan nominal yang lebih sepuluh kali lipat biaya angkutan umum dari rumahnya sampai desaku.
Masih kuingat bagaimana Nyonya Lee membela aku dan ibu, terutama tentang hubungan ibu dan suaminya. Dia bagai bidadari yang tetap terbang meski sayapnya dikoyak habis-habissan oleh tuannya sendiri.
Kasihan sekali bukan?
Kurasa lima belas tahun itu bukanlah waktu yang singkat, Nyonya Lee harus menjalani pernikahan begitu terjal. Belum lagi terus dibayang-bayangi oleh adanya ibu ... termasuk aku!
Jika memikirkan itu, aku merasa bagaikan penjahat yang hadir mengacaukan bahtera rumah tangga Nyonya Lee. Padahal dia sebaik itu padaku.
Oh Tuhan ....
Semakin bingung aku harus bagaimana menyikapi hubungan ibu dengan lelaki sial itu.
Aku mengehela napas panjang lalu menoleh pada buku saku berwarna merah milik ayah. Hampir saja aku lupa membaca wasiat ayah yang selanjutnya.
Seketika aku mencari bagian halaman yang tertera tulisan wasiat ke lima di depannya.
[Assalamualaikum, putriku satu-satunya yang cantik.]
"Walaikumsalam ayah ... aku rindu." Reflek menyahuti tulisan salam ayah dengan senyuman.
[Bagaimana ... apa ada petunjuk untuk menemui ayah kandungmu, Sayang? Atau malah sekarang dirimu sudah bertemu dengannya? Wah ... ayah rasa sepertinya sudah ya! Sebab ayah yakin putri ayah ini pintar.]
[Gimana ... tampan dan gagah kan ayah kandungmu? Kaya raya ... sebab dia salah satu CEO perusahaan terbesar di kota kita, Nak! Ayah yakin kamu tidak menyesal menemuinya!]
[Nak, jika kamu sudah menemui ayah kandungmu. Tolong sampaikan padanya, ayah menitipkan ibu dan dirimu ya ... ayah tahu dia pasti bisa! Sebab ayah tahu dia punya segalanya dibandingkan ayah!]
Aku terpegun sebentar, seandainya ayah tahu ... tidak ada yang bisa menggantikan sosok dirinya di hidupku dan seandainya ayah tahu ... pasti ayah akan sedih melihat respon ayah kandungku yang malah tidak mengakui aku sebagai anaknya!
Tiba-tiba air mataku menetes, dadaku sesak terlalu merindukan sosok itu. Ya Tuhan ... harus bagaimana lagi agar aku bisa memeluknya meski hanya sekali saja?
Aku menghapus air mata yang lolos dari pipiku, lalu melanjutkan kembali membaca tulisan dari ayah.
[Nak, wasiat yang ke lima dari ayah adalah ... ayah ingin dirimu masih berhubungan baik dengan keluarga besar ayah. Sebab keluarga besar ayah juga sangat mencintaimu, Dira kan sudah besar ... sudah bisa untuk pergi ke rumah ayah sekedar untuk berkunjung sebentar menengok paman dan bibimu. Jangan karena ayah telah tiada Dira langsung memutuskan kontak hubungan dengan mereka, itu nggak boleh ya, Nak ... inget!]
Aku tersenyum kecil malu melihat wasiat ayah yang ke lima, jika dipikir ada benarnya juga aku malah melupakan hal kecil seperti ini ... padahal sebenarnya ini juga penting untuk ikatan hubunganku pada almarhum ayah.
Namun, apa ibu mengizinkan aku untuk berhubungan baik kembali pada keluarga besar ayah? Mengingat jika terakhir kalinya ibu menjemputku ada perkataan yang tidak mengenakkan yang keluar dari mulut ibu pada paman waktu itu.