Lampung, 29 Mei 2023.
Terima kasih, Ethan ....
Berkat dirimu aku mulai perlahan menaikkan kepala tidak lagi menunduk sambil berjalan. Dirimu bagai matahari dengan ikhlas menyinariku yang sudah terlanjur gelap, bahkan dulu untuk mencari cahaya baru pun diri ini enggan sebab malu akan terang.
Kumohon, bersinarlah sampai di titik cahaya tertertinggimu, jika ingin redup ... maka terbenamlah dengan cara yang begitu indah dan ingat aku selalu mengagumimu selamanya, Ethan ....
Wajahku mengukir senyum sepanjang perjalanan, keyakinan pada Ethan meningkat beribu-ribu kali lipat setelah makan siang bersamanya. Dia sama sekali tidak keberatan atau malu saat aku membungkus mie ayam untuk ibu, Ethan malah sempat memujiku. Ia bilang aku adalah gadis yang berbakti pada ibu lalu dia pun memuji ibu yang telah hebat melahirkan anak baik sepertiku.
Aku terngiang dan terus membayangkan kejadian tadi, suara, perhatiannya ... seperti melekat di dalam kepalaku. Ethan juga berniat untuk mengantarku pulang ke rumah meski ajakan itu selalu terlihat memaksa. Tetapi, aku setujui sebab diri ini yakin jika ibu sedang tidak melakukan kecerobohan apa pun seperti kemarin! Bisa kupastikan itu ... ibu sudah berjanji padaku tadi pagi.
Ethan menuntunku untuk masuk ke dalam mobilnya, mobil mewah yang sebelumnya hanya bisa kupandangi dari jauh. Sekarang ... siapa yang menyangka aku bisa duduk berdampingan pada pemilik mobil mewah itu. Ini persis seperti cerita sinetron ftv kan? Jika di film itu cerita selanjutnya aku akan berpacaran pada Ethan, menikahi sang pemilik mobil lalu happy ending.
Aku terkekeh kecil memikirkannya, sambil menatap ke arah jendela dengan jantung yang masih berdegup sejak tadi. Sambil beberapa kali mencuri pandang memandang wajah pria yang disebut papa oleh Ethan dari kaca mobil.
"Ra, di mana alamat rumahmu?" tanya Ethan sambil menyenderkan kepalanya di bahuku, aku tidak menolak senderan itu sebab aku merasa nyaman.
"Jalur Enam, Gang Penyempit no 87 ...," jawabku tanpa menoleh aku takut jika aku menoleh maka wajahku dan Ethan akan saling bertatapan sangat dekat.
"Ah, ya, ya. Pa ... denger kan tadi Dira bilang apa?" ujar Ethan pada sang papa yang hanya di balas dengan anggukkan. Kurasa pria itu tidak senang berbicara pada siapa pun atau karena ada aku?
Argh ... entahlah, aku hanya terus melihat ke jalan semakin aku merasa perjalanan sebentar lagi akan tiba, semakin aku merasa bimbang. Bagaimana jika Ethan tidak menerimaku kali ini? Sebab melihat lingkungan rumahku yang begitu buruk.
Gang yang sempit hanya bisa dilewati satu mobil, berbau pesing di setiap jalannya akibat got yang terbuka dan tidak terawat! Lalu belum lagi jika nanti sampai di rumah ibu tidak menepati janjinya?! Huh ... hancurlah aku, jika Ethan melihat ibu tergelepar di jalanan dalam keadaan mabuk. Mau ditaruh mana wajahku nanti?
"Than, kita sudah sampai di no rumah 87. Apakah salah?" pertanyaan pria yang memakai kemeja berwarna silver lengkap dengan jas mahalnya itu seketika membuyarkan lamunanku.
"Ahh ... ahh ... iya. Maaf, Om." Aku tergelagap dan langsung turun dari mobil sambil menenteng satu bungkus mie ayam.
Huh, syukurlah aku sampai di depan rumah tanpa ada adegan drama sedikit pun. Ibu pun tidak nampak tanda-tanda sedang mabuk di luaran rumah.
Aku turun dari mobil dengan sumringah bernapas lega. "Terima kasih, Om. Terima kasih, Ethan. Sudah mengantarku pulang ... hati-hati ya," ucapku menampilkan senyuman gigi dengan kesalah tingkahan.
"Aku belum ingin pulang, Ra! Aku masih ingin bertemu ibumu, aku penasaran dengan sosok ibu yang melahirkan gadis secantikmu."
Aku tersipu malu, pasti wajahku sekarang sudah pasti terlihat merah menahan sejuta kegelian yang menggelitik penuh cinta di seluruh tubuh.
Aku belum menolak, apa lagi mengiyakan. Ethan sudah terlanjur keluar dari dalam mobilnya. Ia menatap ke arah rumah selama beberapa detik lalu kembali menatapku. "Ra?!" panggilnya pelan.
"Hah? Iya ... iya ...."
Aku gelagapan, berjalan dengan beribu-ribu kecemasan. Takut jika ibu melakukan hal yang sama seperti kemarin tergelepar di lantai. Sebab ibu bisa dimana saja tergelepar jika ia sedang mabuk.
"Assalamualaikum," panggilku sambil mengetuk.
Padahal aku tahu pasti pintu itu tidak terkunci, tetapi aku sengaja mengetuknya agar bisa memastikan diri ibu sadarkah di dalam? Atau jika ibu tidak menjawab ada kemungkinan ibu meminum alkohol kembali di dalam rumah dan aku bisa berjaga-jaga untuk mengatakan pada Ethan jika ibu sedang tidak ada di rumah, aku bisa beralasan untuk menyuruhnya pulang.
"Assalamualaikum," panggilku lagi.
Kemudian tidak lama ada suara langkah kaki berjalan. "Walaikumsalam," ibu menjawab! Itu artinya ibu sedang dalam keadaan normal dan baik-baik saja! Kenapa bisa kupastikan begitu? Sebab jika meski ibu tidak mabuk, tetapi mental ibu sedang tidak baik. Ibu tidak akan menjawab salamku.
Namun, hari ini sepertinya aku sedang di timpa kebahagiaan. Terima kasih, Tuhan.
Gagang pedal pintu terlihat berputar, semakin jantung berdegup ingin mengenalkan Ethan pada ibu. Ini pertama kalinya aku membawa teman sebayaku ke rumah, aku tidak tahu ekspresi apa yang ibu beri saat bertemu Ethan nanti.
Yang jelas saat ini ibu keluar dari balik pintu membuat diriku sangat terpukau, "Subhannallah," aku tidak sengaja mengucap itu saat aku memandang ibu menggunakan hijab pashmina berwarnah cream coklat susu.
Dia ibuku ... yah! Dia benar-benar ibuku!
Wanita yang selama ini dijuluki dengan sampah masyarakat oleh warga sekitar, sekarang di hadapanku untuk pertama kalinya aku melihatnya menggunakan hijab. Masya Allah ... sungguh kecantikan ibu semakin luar biasa di mataku.
"Ra? Ada apa ini?" tanya ibu membuyarkan pandanganku menatap dirinya.
Aku mengerjap gugup lalu mengenalkan Ethan pada ibu. "Ini teman Dira, Buk. Namanya Ethan."
"Ethan Tante salam kenal ...," Ethan menyalami ibu penuh kelembutan.
Aku berbisik ke arah ibu. "Bu? Apa kita sehati? Ibu berdandan seperti ini sebab temanku mau dateng kan?" tanyaku serius.
Ibu terkekeh. "Ibu membaca diary ayahmu yang kamu taruh di atas ranjang. Ada wasiat yang menyuruh ibu menggunakan hijab."
Aku mengangguk pelan meski sebenarnya aku pun juga terkejut.
Tak lama suara bantingan pintu mobil terdengar keras dibarengi dengan keluarnya orang tua Ethan, ia berdiri kaku di depan mobil dengan pandangan kosong menatap ke arah kami.
Ibu pun juga sama, dirinya langsung terpaku membalas tatapan itu. Mulutnya menganga dan sekarang air mata ibu menetes.
Mereka berdua saling menatap tidak mengedip, hingga pada akhirnya Ethan bertepuk tangan dengan landai.
Prak ....
Prak ....
Prak ....
"Ternyata benar! Sangat menjijikkan sekali!" ujar Ethan kencang penuh tekanan sekaligus ada nada benci di dalam sana.