Dua Belas Wasiat dari Ayah

Ibu

"Udah bangun, Bu? Tumben." 
 
Hari masih subuh, tidak biasanya ibu bangun lebih pagi. Biasanya ibu selalu bangun siang tidak pasti jam berapa itu. Terhidang pula nasi goreng salah satu makanan kesukaanku yang sungguh ini pertama kalinya ibu membuatkanku sarapan. 
 
Kepalaku maju mengendus nasi goreng yang sudah tersedia di meja makan. "Huwah ... wangi banget, Bu." 
 
Ibu memasang senyuman tipis di bibirnya, seolah ia pun senang aku mengapresiasi kerja kerasnya membuat nasi goreng. "Makan yuk, Ra. Kita kan nggak pernah sarapan bareng," ajak ibu mengambil kursi lalu duduk sambil memberi piring padaku.
 
Entah mengapa, hari ini ibu terasa begitu manis rasanya. Apa ini sebab efek 1000 kata manis yang kuberikan kemarin untuknya? Atau karena hal lain? Isi di kepalaku pun mulai bertanya-tanya, apa yang membuat ibu melakukan ini?
 
 
"Nih, Ra! Makan yang banyak." Ibu menyidukkan nasi goreng ke dalam piringku.
 
Aku hanya diam menikmati moment itu, tidak lagi bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ibu? Namun, sepertinya ibu selalu tahu isi di dalam kepalaku. 
 
Kemudian ia meletakkan sendoknya di atas piring lalu kepala ibu agak dicondongkan memandangku. "Ibu tahu apa yang kamu pikirkan, Ra." Wajah ibu nampak damai kali ini, raut wajah itu tidak pernah kulihat sebelumnya. Wajah itu seakan memiliki aura yang berbeda. 
 
Dia tersenyum, kembali menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya lalu tiba-tiba meneteskan air mata. "Ibu bingung sekarang harus gimana," ujar ibu sangat pelan hampir tidak terdengar sama sekali, bahkan ada perkataan selain itu yang tidak dapat kudengar lagi sangking pelannya ibu berbicara.
 
Padahal, selama ini ibu tidak pernah berbicara begitu pelan seperti ini apa lagi sambil menangis. Watak ibu sangatlah keras ia pantang menangisi suatu hal hanya untuk masalah yang remeh temeh baginya. Tetapi ... sekarang ... mengapa ibu seperti ini? Apa ada masalah besar yang ibu tutupi? 
 
Aku benar-benar bingung harus berbuat apa, aku hanya berani menggenggam jemari ibu sambil bertanya apa yang sebenarnya terjadi. "Bu ... ada apa? Apa ibu punya masalah? Cerita ke Dira, Bu." 
 
 
Ibu menggeleng. "Ndak ... ndak. Cuma akhir-akhir ini setelah kepergian ayahmu ibu sering memimpikan ayahmu, Ra." Perkataan ibu terhenti sebab bibirnya gemetar kecil.
 
Sedangkan aku masih diam, tidak berani bertanya ayah siapa yang ibu maksut? Kepergian ayah kandungku atau almarhum ayah? Aku pun lebih memilih diam dari pada menanyakan itu pada ibu.
 
Ibu balik menggenggam jemariku, "Ayahmu ... ayah yang hebat, Ra! Ibu ingin meminta maaf padanya ... ibu menyesal semenjak kematian ayahmu. Semenjak kematian itu, ayahmu sering datang di mimpi ibu membawa sejuta kata-kata manis dia sangat lucu seperti dirimu kemarin, Ra." 
 
Ibu menghentikan perkataanya lagi dan menatapku sendu. "Sekarang ... ibu bingung harus gimana? Harus berubah seperti apa, ibu juga nggak tahu." 
 
Tuhan .... 
 
Saat ini aku ingin bersujud syukur, mendengar perkataan ibu. Entah mengapa kali ini aku begitu ingin memeluknya, tetapi kuurungkan. Aku terlalu malu untuk melakukannya. 
 
 
Aku mengelus jemari ibu. "Bu, ibu berbuat seperti ini aja. Ibu sudah berubah menjadi lebih baik. Bu ... seandainya ayah mendengar apa yang ibu ucapkan sekarang, Dira yakin pasti ayah senang." 
 
Ibu mengangguk kemudian ia tersenyum menatapku, mengelus rambutku pelan. "Baru kali ini ibu sadar dirimu sudah dewasa, Ra. Maafkan ibu yaa ... ibu belum bisa bahagiain kamu. Maafkan ibu ... seandainya ibu tidak terlalu egois, pasti kamu bisa hidup dengan layak." Wajah ibu begitu manis, ia tersenyum sambil menangis memandangku.
 
Aku yang tidak sanggup lagi menahan ingin memeluk ibu, seketika aku bangkit lalu memeluk tubuh ibu. Menyingikirkan segala rasa ego Inilah yang selama ini aku tunggu Tuhan! Perkataan seperti ini yang aku inginkan keluar dari dalam mulut ibu. 
 
Dulu aku memang dendam pada ibu, ibulah yang membuatku seperti ini! Tetapi ... setelah aku tahu, jiwa ibu terganggu. Aku tidak lagi memiliki perasaan dendam itu, aku hanya berpikir akan ada masanya ibu bisa tersadar sendiri lewat jiwanya yang sudah rusak.
 
Dan sekarang ....
 
Perilaku ibu memiliki kemajuan, ia menyesal dan mengucap ucapan yang selama ini kutunggu darinya. 
 
Begitu erat kupeluk tubuh wanita yang sudah nampak kerutan di wajahnya, tetapi masih kelihatan cantik itu. "Bu ... sudah, nggak ada yang percuma atas hari kemarin. Sekarang kita mulai hidup baru yaa, Bu ...," ujarku mencoba menenangkan.
 
Ibu mengangguk erat, ia menatap wajahku kembali. Sekarang ibu memegang wajahku lalu ia tersenyum. "Makan dulu, Ra. Nanti kamu telat." 
 
Beberapa saat setelah aku menyelesaikan sarapan, aku berpamitan pada ibu ....
 
Berpamitan dengan cara yang belum pernah sebelumnya aku lakukan. Aku mengambil tangan ibu, menyalaminya lalu mencium punggung tangan ibu. "Bu ... Dira berangkat sekolah dulu ya ... Assalamualaikum," ujarku hampir menangis sangking terharunya. 
 
"Walaikumsalam." 
 
"Ra ... ini uang saku dan ongkos untukmu ke sekolah." Ibu mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna coklat agak kekuningan.
 
Aku terdiam dalam beberapa detik, sebelum mengambil uang itu dari tangan ibu. Sungguh ... ini rasanya seperti mimpi, bahkan aku tidak pernah membayangkan hal ini sebelummnya ini terlalu manis untukku.
 
Dengan langkah hampir sempoyongan disebabkan oleh sikap ibu aku melangkah tatih untuk keluar. Sesampainya aku keluar dari rumah. 
 
Aku melihat uang yang ibu berikan, memandangnya haru. Lalu menangis tidak tertahan. Pokoknyaa uang saku pertama dari ibu ini akan kusimpan, kalo perlu akan kulaminating agar tidak sobek! 
 
Kemudian aku tersenyum sambil menghapus air mata di pipi. "Nangis bahagia nih!" batinku meledek diri sendiri sambil berjalan sambil menunduk, tetapi kali ini aku menunduk sambil tersenyum membayangkan betapa manisnya ibu pagi ini. 
 
***
 
Sudah sekitar tiga puluh menit kurang lebih, akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah dan lagi hal mengejutkanku di pagi ini sepertinya belum berhenti. 
 
 
Dari kejauhan Ethan berdiri dengan menyender di pagar sambil menaikkan kaki kanannya menempel pada sisi tembok. Setelah ia melihatku seketika tangannya melambai, aku melangkah ke arah Ethan pelan ia langsung merubah posisinya lalu wajah itu sumringah sangat manis. 
 
"Ra, lama banget! Jalan lagi? Kukira nggak sekolah!" ujarnya sambil mencebik menggemaskan. Lagi pula mengapa ia yang marah jik aku telat datang? 
 
"Maaf," jawabku singkat lalu kulanjutkan langkah untuk masuk ke dalam sekolah. 
 
Namun, tiba-tiba Ethan menarik lenganku. "Ra! Bareng ... tapi nanti dulu, nunggu papa dia lagi ke sebrang sebentar katanya, aku mau ngenalin papa ke kamu. Aku nyeritain banyak hal tentangmu, Ra! Dan papa penasaran sebab kubilang wajahku dan kamu sangat mirip!" ujar Ethan menyeru ia kelihatan semangat dan menggebu.
 
Sedangkan aku ... jangan tanya bagaimana lagi, jantungku hampir meletup ingin keluar. Aku takut ... jika ternyata dia adalah ayah kandungku. Aku belum siap bertemu dengannya.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!