Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Peduli
Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena alarm. Bukan juga karena mimpi buruk. Aku terbangun begitu saja.
Aku duduk sebentar, menatap kamar yang masih setengah gelap.
Arman pasti sudah bangun. Selalu begitu.
Saat keluar kamar, dapur sudah bersih. Tapi hari ini tidak terdengar suara air di dapur. Tidak ada aroma kopi yang biasanya menyusup pelan.
Tapi di atas meja, ada piring tertutup tudung saji. Aku mengangkatnya pelan. Nasi hangat. Telur dadar. Tumis sayur sederhana.
Bukan masakan istimewa. Tapi tertata rapi.
Di samping piring itu, ada secarik kertas kecil.
["Sarapan dulu. Aku berangkat agak pagi.
Hati-hati kalau berangkat kerja."] Tulisan tangannya tegak, rapi.
Aku membaca dua kali. Lalu melipat kertas itu kembali. Entah kenapa, ada rasa hangat menjalari dadaku.
Aku duduk. Makan pelan.
Dan baru kusadari—sarapan di rumah ini sendirian tapi tidak terasa sepi.
Di tempat kerja, aku masih melamun. Tapi bukan gelisah seperti kemarin. Bukan juga cemburu. Lebih seperti pikiran yang sedang membaca ulang setiap kejadian kecil sejak kami tinggal bersama.
Tangannya yang memijat kakiku semalam. Nada suaranya yang tenang. Dan caranya yang tidak memaksa.
“Heh, kamu bengong lagi,” tegur temanku.
Aku tersentak. “Hah? Enggak.”
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini, Ay?”
Aku mengangkat bahu. “Biasa aja kok” Padahal tidak biasa sama sekali. Sebab tiba-tiba saja otakku dipenuhi Arman.
Siang menjelang, ponselku bergetar.
["Hujan di sini. Kalau pulang jangan ngebut."]
Aku menatap layar lebih lama dari seharusnya. Pesan itu singkat. Tidak romantis. Tidak berlebihan.
Tapi aku membalas juga. "Iya."
Satu kata.
Dan anehnya, itu cukup membuat senyum di wajahku muncul.
Sore hari aku pulang sedikit lebih lambat. Kepalaku masih penuh teka-teki soal Arman, tapi hatiku tidak sekesal kemarin.
Begitu membuka pintu, rumah masih sepi. Lampu ruang tengah padam. Arman belum pulang.
Aku menaruh tas, mengganti baju, lalu duduk di sofa.
Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan rumah lama keluargaku. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi rapi. Terawat.
Di kulkas, tadi aku melihat kertas kecil lain tertempel magnet. Belanja sayur : Wortel, Selada, Tomat, Telur. Tulisan tangan yang sama.
Aku tersenyum kecil tanpa sadar. Tapi buru-buru kutepis. “Ngapain sih,” gumamku sendiri.
Menjelang magrib, pintu terbuka. Arman masuk dengan jaket tipis, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Bahunya sedikit turun. Rambutnya agak basah.
“Hujan?” tanyaku spontan.
“Iya,” jawabnya singkat. “Sudah makan, Dek?"
“Belum.”
“Aku bikin sesuatu sebentar,” katanya sambil melepas sepatu.
Aku mengangguk, lalu menyesal karena jawabanku terdengar terlalu patuh.
Kami makan berhadapan. Tidak banyak bicara.Tapi tidak canggung. Saat itu aku memperhatikan detail-detail kecil. Tangannya agak kasar. Ada bekas kapalan di jari. Matanya menyimpan lelah yang bukan karena satu hari kerja saja.
“Kamu capek?” tanyaku, akhirnya.
Ia menoleh, sedikit kaget. “Lumayan.”
“Banyak kerjaan?”
“Iya,” jawabnya. Tidak menambah kalimat apa-apa lagi.
Aku mengangguk. Tidak mendesak dan tidak merasa diabaikan.
Malam itu kami duduk di ruang tengah. Aku membuka laptop, pura-pura bekerja. Arman membaca sesuatu di ponselnya.
Aku mencuri pandang. Ada notifikasi masuk. Nama kota itu lagi. Surabaya.
Dadaku berdenyut.
Tapi aku menahan diri. Tidak bertanya. Tidak menyindir.
Beberapa detik kemudian, Arman berdiri. “Aku mau mandi dulu.”
“Iya.”
Saat ia pergi, aku menutup laptop. Menarik napas panjang. Aku masih penasaran. Masih curiga. Tapi tidak lagi segarang kemarin.
Apa mungkin yang membuatku gelisah bukan karena takut diselingkuhi. Tapi karena aku mulai berharap. Dan berharap pada seseorang yang belum sepenuhnya kubaca itu menakutkan.
Arman kembali, rambutnya masih lembap.
Ia berhenti sebentar di ambang pintu kamar. “Masih kerja, Dek?”
“Sedikit.”
Ia mengangguk, melihat jam di tangan kirinya. “Jangan dipaksain.”
Kalimat sederhana. Tidak mengatur apalagi menuntut. Aku mengangguk pelan.
Saat lampu kamar dimatikan, aku berbaring menatap langit-langit. Kemarin saat akan menikah, aku bertanya, siapa dia sebenarnya? Dan sekarang, kenapa aku mulai peduli?
***
Hujan turun sejak sore, makin malam makin besar. Angin mengguncang jendela, petir sesekali membelah langit, menggelegar.
Jam di dinding sudah lewat isya, tapi Arman belum pulang.
Aku mondar-mandir sebentar, lalu mati lampu. "Aah!" Aku takut, kalau hujan petir disertai mati lampu.
Aku meraba dinding, membawa selimut dari kamar. Duduk meringkuk di sofa, dikelilingi bantal—kebiasaan lama yang selalu muncul saat hujan dan gelap bertemu.
Kupaksa pejamkan mata, menutup telinga. Petir lagi-lagi menyambar keras.
Entah sejak kapan aku tertidur. Aku terlempar ke dalam mimpi yang tidak kuinginkan.
Raka berdiri di depanku. Memakai kemeja putih, wajahnya tenang seperti tidak pernah meninggalkanku. “Kita sampai di sini aja,” katanya datar.
“Kenapa?” suaraku gemetar. “Salahku apa?”
Raka menghela napas pendek, seperti bosan menjelaskan. “Kamu terlalu ribet, Ay.”
Dadaku nyeri. “Aku cuma minta penjelasan.”
“Aku nggak bisa,” jawabnya cepat. “Jangan maksa.”
“Kamu lari,” aku menangis. “Kalau kamu cinta aku, kamu nggak akan pergi gitu aja!”
Raka menatapku lama, lalu berkata pelan tapi dingin, “Cinta aja nggak cukup. Maaf!"
Kalimat itu mematahkan sesuatu di dadaku. “Kamu nyakitin aku,” kataku terisak. “Kamu nyakitin ayahku juga.”
“Aku nggak pernah minta kamu nunggu,” katanya ringan, lalu berbalik. “Kamu yang terlalu berharap.”
“Pengecut!” aku berteriak. “Kalau memang selesai, bilang di depanku, jangan hilang!”
Raka berhenti sebentar, tanpa menoleh.
“Jangan cari aku lagi.”
Ia pergi.
Aku jatuh terduduk. Tangisku pecah. "RAKAAAAAAA!"
Di dunia nyata, tubuhku terguncang. Aku mengigau, menyebut namanya, napasku terputus-putus. Air mata membasahi pipi.
Tanpa kusadari, pintu rumah sudah terbuka sejak tadi. Lampu tidak menyala. Arman masuk, napasnya tertahan saat melihatku meringkuk di sofa.
Ia melangkah pelan. Kata-kataku keluar tak beraturan di sela tangis. Tentang Raka. Tentang sakit. Tentang cinta yang tidak pergi meski ditinggal.
"Jahat!"
"Bodoh Ayla! RAKA sialaaann!"
"Tapi kenapa aku masih cinta kamu?” tanyaku ke ruang kosong.
Arman berhenti, duduk perlahan di lantai, dekat kepalaku. Ia tidak menyentuhku. Hanya mendengar. Wajahnya tenang, tapi matanya redup.
Tangisku akhirnya melemah. Napasku kembali teratur. Mataku terbuka perlahan.
Hal pertama yang kulihat adalah Arman.
Aku terkejut. “Kamu—”
“Bangun?” suaranya rendah. Hati-hati.
Aku mengangguk, masih setengah sadar. Tanganku refleks mengusap pipi yang basah. “Aku mimpi?”
“Iya, teriak...” katanya jujur. "dan nangis."
Petir menggelegar lagi. Aku meringkuk, refleks menarik selimut.
“Masih takut petir dan gelap, Dek?” tanyanya lirih.
Aku mengangguk.
“Maaf ya,” katanya. “Aku pulang telat banget.”
Aku duduk. Pindah sedikit mendekatinya, nyaris bersentuhan. Aku menarik selimut sampai ke bahu dan mengusap wajahku lagi, menghapus sisa air mata.
Beberapa detik kami diam.
Lalu Arman menatapku sendu, seperti orang yang baru tahu sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar, tapi tak bisa ia abaikan.
“Dek ... Kamu…” ia berhenti sebentar, mencari nada yang tidak melukai. “cinta banget sama dia, ya?”
Pertanyaan itu jatuh pelan. Aku menunduk. Tak berani menatapnya. Takut melihat sesuatu di wajah Arman—kecewa, iba, atau lebih buruk lagi, pengertian.
Tenggorokanku kering. “A-aku… ngingau apa saja?”
.
.