Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Cincin
"Loh, Deeekk!"
Langkahku terhenti di dekat pintu dapur. Dadaku naik turun. Aku sendiri kaget kenapa reaksiku secepat itu. Kesal. Takut. Campur aduk.
Arman segera menyusul. Tangannya tidak langsung menyentuhku. Dia berhenti satu langkah di belakang, memberi jarak.
“Aku tuh bukan gitu maksudnya,” katanya pelan. Nada suaranya hati-hati. “Aku cuma mau kamu berani hadapi masa lalumu.”
Aku menoleh. Mataku panas. “Nggak, tadi Mas gak bilang gitu. Mas pikir aku main-main?”
Arman menggeleng cepat. “Bukan.” Dia menghela napas, lalu akhirnya mendekat. Tangannya menyentuh lenganku. “Semalam itu buat aku penting. Tapi kalau masih ada sisa masa lalu ya aku temani.”
Aku terdiam. Ponselku masih bergetar di meja. Getarannya terdengar sampe di tempat kami berdiri.
“Itu dia?” tanya Arman lagi, lebih lembut.
Aku mengangguk kecil.
Sunyi sebentar. Lalu Arman berkata, “Aku nggak cemburu sama masa lalu, Dek. Aku cuma mau kamu bebas dari sana.”
Kalimat itu membuat mataku perih. Aku menunduk. “Aku takut,” ujarku jujur. “Takut Mas salah paham.”
Arman tersenyum kecil. “Makanya kita hadapi bareng.”
Dia meraih tanganku, menggenggamnya hangat. “Angkat. Aku di sini.”
Aku menarik napas panjang lalu menekan tombol hijau dengan tangan gemetar.
“Halo?” suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasa.
Suara Raka di seberang terdengar asing sekaligus akrab. Menanyakan kabar. Basa-basi yang tidak penting. Aku mendengarkan tanpa menyela. Lalu ketika dia mulai masuk ke hal-hal lama, aku memotong pelan.
“Maaf,” kataku. “Aku sudah menikah.”
Sunyi di seberang.
“Aku bahagia,” lanjutku. “Dan aku tidak ingin membuka lagi apa yang sudah selesai.”
Tanganku bergetar, tapi genggaman Arman menguat. Seolah mengalirkan keberanian.
“Saat di IGD, aku pernah bilang ~aku juga,” ujarku, menjeda pelan. “maksudku kala itu, aku juga sedang belajar. Belajar mengatakan bahwa aku sudah memilih, bertanggung jawab dan berbahagia. Semoga ... Kamu menemukan bahagimu, ya. Assalamualaikum.”
Aku menutup telepon. Menatap layar sebentar. Lalu meletakkan ponsel di meja.
Napas yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar.
Aku menoleh ke Arman. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya membuka lengannya.
Aku masuk ke pelukannya. Tanpa ragu. Wajahku kusembunyikan di dadanya. “Makasih,” bisikku.
Arman mengecup pucuk kepalaku. “Sama-sama, Sayang.”
Kami berdiri begitu beberapa saat. Bau kopi yang baru Arman tuang, menyeruak. Menyadarkan kami bahwa sarapan masih menunggu di meja makan.
“Kita sarapan lagi?” katanya ringan, mencoba mencairkan suasana.
Aku tertawa kecil, masih di pelukannya. “Udah keburu dingin.”
“Gampang,” katanya. “Aku panasin lagi.”
Aku menatapnya. “Mas…”
“Hm?”
“Aku ... pilih kamu.”
Arman terdiam. Lalu tersenyum. “Berarti,” katanya sambil menepuk punggungku pelan, “kita satu misi perjalanan hidup, Dek.”
Aku mengangguk. Di luar, matahari makin naik dan rumah ini sekarang terasa benar-benar seperti tempat pulang dari masa lalu yang berusaha memanggilku lagi.
Aku masuk kamar sebentar sebelum berangkat kerja. Duduk di depan meja rias dekat jendela, terbias cahaya pagi dari sela gorden.
Aku menarik laci dan mengambil sebuah kotak. Menaruhnya di atas meja lalu kubuka pelan, cincin dan gelang mahar dari Arman tergeletak rapi. Aku ambil cincin itu dulu. Mengusapnya pelan, senyum sendiri.
“Nyonya Arman,” kekehku lirih sambil nutup muka. Malu sendiri nyebutnya.
Cincinnya kupasang di jadi manis. Pas. Lalu gelang aku pakai di tangan kiri. Aku pandangi sesaat dan rasanya… bahagia.
“Sayaaang… ayo. Nanti telat, loh.” Suara Arman dari depan bikin aku refleks jawab, “Iya, bentar, Mas.”
Pas keluar kamar, Arman sudah berdiri sambil nenteng tasku.
“Laptop?”
“Di tas.”
“Charger udah masuk semua?"
“Udah.”
“Make up?”
“Ada.”
“Dompet?”
“Aman."
Dia mengangguk puas. Kayak checklist hidupku ada di kepalanya semua.
Di mobil, aku beberapa kali melirik ke arahnya. Nggak lama-lama, tapi sering. Bayangan semalam muncul sebentar-sebentar. Bikin dadaku hangat dan pipiku panas.
“Apa sih,” katanya akhirnya. “Dari tadi lihatinnya gitu.”
Aku tersipu. “Nggak apa-apa.”
“Kenapa senyum sendiri?”
“Nggak tahu.”
Arman ketawa kecil. Tangannya mengusap pucuk kepalaku pelan. Perjalanan kami diisi obrolan ringan.
Tentang makan siang. Tentang hujan semalam dan rencana masa depan.
“Nanti pulang, antar ke mall ya, Mas,” kataku.
“Beli apa?”
Aku senyum tipis. “Ada deh.”
Arman nggak maksa nanya. “Oke.”
Pas turun di puskesmas, dia sempat nengok ke tanganku. "Cincinnya dipakai, Dek?”
Aku mengangguk. Senyumnya berubah lebih lembut. Ada kebanggaan terpancar dari sorot matanya.
“Cocok.”
Aku menjulurkan tangan, salim dan masuk sambil nahan senyum.
Hari itu kerjaku terasa lebih ringan. Sore hari, Arman benar-benar jemput tepat waktu.
Di mall, kami jalan berdampingan, bergandengan sampai kami berhenti di satu tenant.
“Di sini,” kataku.
Arman membaca tulisan brand aksesoris di depan etalase, lalu menoleh ke aku. “Serius?”
Aku mengangguk. “Serius.”
Ada mbak penjaga yang menghampiri, aku memintanya mengambil satu model untukku coba.
“Buat apa?” tanyanya.
Aku belum menjawabnya. Tanganku masih digenggam Arman. Bahkan saat aku melangkah masuk, tangannya otomatis pindah ke pinggangku.
Aku menatap etalase berisi model cincin cukup lama. Arman diam saja di sampingku.
“Yang ini, Mbak,” kataku akhirnya sambil menunjuk satu cincin.
Petugasnya mendekat, mengambilkan. “Buat siapa, Mbak?”
Aku menoleh ke Arman. Tersenyum kecil. “Buat Mas-nya aku.”
Aku bisa merasakan tubuh Arman agak kaku. “Buat aku?” katanya pelan.
Aku mengangguk. Cincin itu kupasangkan ke jarinya. Aku memperhatikan dari dekat. Pas. Entah kenapa dadaku terasa hangat melihatnya.
“Yang ini aja,” kataku. Arman menatap tangannya sendiri, lalu menoleh ke aku.
“Yakin, Dek?”
“Iya,” jawabku cepat. "Mas suka nggak?"
Dia terkekeh kecil. “Iya. Biar istriku tenang.”
Aku langsung senyum malu. Tanganku menggenggam jarinya, yang sekarang sudah bercincin. Bukan emas atau perak, hanya cincin titanium biasa berwarna silver kehitaman.
Saat di kasir, Arman sempat berbisik, "Harusnya aku yang beliin.”
Aku menggeleng. “Kali ini aku yang mau.”
Keluar dari tenant, Arman berhenti sebentar.
Dia mengangkat tangannya, memperhatikan cincin itu lagi.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gini ya, rasanya dipilihin,” katanya jujur, melirikku. “Makasih, Sayang."
Aku terdiam sebentar. Lalu mendekat, memeluk lengannya. “Kan kita saling milih, Mas.”
Arman menghela napas pelan. Tangannya merangkul bahuku. “Iya.”
Kami jalan lagi ke parkiran, tangannya masih di bahuku. Cincin ini bukan cuma soal perhiasan tapi perasaan aman yang akhirnya aku miliki.
Mobil melaju pelan meninggalkan area mall. Lampu sore mulai menyala satu-satu. Jalanan agak padat, tapi tidak macet. Aku duduk menyandar, membuka sedikit jendela.
Arman menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya santai di tuas persneling. Sesekali dia melirik spion, sesekali ke arahku.
“Kapan kamu bisa cuti?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Cuti?”
“Iya.”
Aku mengerutkan dahi. “Mau ke mana emangnya, Mas?”
Arman tersenyum kecil. Tatapannya tetap ke jalan. “Nengok keluargaku di sana.”
Aku diam sebentar. “Di mana?”
Dia menarik napas, lalu melirikku sekilas. Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Suasana di dalam mobil mendadak terasa lebih sunyi.
“Kapan?” tanyaku lagi, kali ini lebih pelan.
“Kalau kamu siap,” jawabnya. “Makanya aku nanya cuti.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali jalan.
Aku memainkan ujung jariku sendiri lalu menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat santai, tapi rahangnya sedikit menegang.
"Berapa lama? Jauh ya?" tanyaku lagi.
Arman melirikku. "Sudah punya paspor kan, Dek?"
"Pasport?"
.
.