Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Mass

Si Bapak menarik napas panjang. Arman ke warung sebelah, entah pesan apa, aku sedang fokus mendengar cerita si Bapak.

"Taunya… habis semua. Utang ke mana-mana.”

Aku menelan ludah. 

“Balik lagi ke sini,” lanjutnya. “Kelola bareng Akang Arman. Dia nggak banyak ngomel apalagi nuduh Bapak macam-macam. Cuma bilang, jalanin aja lagi dari awal.”

Benar, Arman memang irit bicara. Yang sudah ya sudah, setidaknya aku tau sedikit watak suamiku.

Eh ... Suamiku. Tanpa sadar aku menunduk, menyembunyikan senyum.

Bapak itu menghela napas, lalu tersenyum.

“Akang juga sengaja nggak sedia minuman di sini, Teh. Biar warung sebelah yang jual es rame," terangnya.

"Eh, iya ya. Aku baru sadar kalau pesan es pasti dari sebelah," jawabku menoleh ke sebelah.

Warung tenda ini berdiri di depan toko material. Kata si Bapak, anaknya pemilik toko, ikut jualan es. Awalnya toko ini sepi, tapi karena warung rame, si anak pemiliknya suka bukain gerbang buat parkiran kendaraan agar tidak ganggu bahu jalan.

Lama kelamaan, orang-orang tahu kalau di sini ada toko material. Letak tokonya agak menjorok ke dalam jadi kadang tidak terlihat dari jalan.

"Katanya, kalau satu rame, yang lain ikut kebawa.” 

Aku mencuri pandang ke Arman. Dia berdiri sedikit menjauh, pura-pura sibuk, seolah tak mendengar cerita si bapak tentang dirinya.

“Kang Arman selalu bilang,” lanjut si bapak, “jangan ubah rasa. Jangan mainin bahan. Biar untung tipis asal langganan nambah.”

Ia tersenyum, kali ini lebih lebar. “Alhamdulillah… anak saya bisa sekolah. Rumah di kampung kebangun. Keluarga ikut kebantu. Termasuk Siti, dia jaga stand Akang.”

Dadaku menghangat. Sekaligus terasa sesak.

“Kapok, Teh,” katanya lagi sambil terkekeh. “Kata ustadz mah bener. Bersyukur bikin rezeki terasa lapang dan cukup.”

Ia menunjuk pria muda yang sedang melayani pelanggan lain. “Itu anak bapak. Dulu pengen kerja kantoran. Tapi jaga warung sama bapak, bayarannya udah kaya UMK.” Ia tertawa ringan.

Si Bapak menatapku lebih serius. “Teteh… suaminya ulet begini ... Jangan minder ya, kan Teteh mah udah ASN," ucapnya.

Deg.

Kalimat itu seperti menamparku pelan.

Aku ... yang sempat meremehkan Arman.

Aku ... yang diam-diam meragukannya.

"Nggak kok, Pak," kataku canggung. "Bapak tau banyak soal aku, Arman cerita?"

Bapak hanya terkekeh-kekeh. "Gimana ya," ujarnya. "Yang diliat Akang cuma satu sih, dari dulu. Jadi Bapak juga penasaran... Eh, baru sekarang ketemu Teh Ayla," bebernya panjang sambil angkat 2 jempolnya untukku.

"Eh... Gimana gimana," balasku balik penasaran.

Bapak tertawa renyah. "Samawa ya, Teh, Akang," pungkasnya sambil berdiri.

Aku menoleh. Arman juga melihat ke arahku. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum kecil.

Tak lama kami pamit.

Di jalan, tanpa sadar, tanganku menggenggam jaket Arman. Tubuhku condong lebih dekat. Angin sore menyelinap, tapi rasanya hangat.

Siti, Bapak itu, ternyata hanya bagian kecil dari lingkaran orang-orang yang benar-benar tahu siapa Arman.

Sedangkan aku—istrinya—justru sempat meragukannya.

Aku menatap bahunya yang kini sangat dekat. Pantas tadi siang dia bicara soal ~menunggu terlihat dan mendapatkan karena beruntung.

Apakah itu soal menikahi aku?

Aku menunduk, menyentuhkan kening ke bahunya. Arman langsung menggenggam tanganku.

“Ngantuk?” tanyanya lembut. “Bentar lagi sampai, Dek.”

Aku tidak menjawab. Hanya makin menyandarkan kepala di punggungnya. Jika dekat dengan Arman, aku merasa benar-benar dijaga.

***

Motor berhenti di halaman rumah. Arman mematikan mesin, lalu menoleh.

“Pelan,” katanya sambil memegangi tanganku saat aku turun. Mungkin dikiranya aku ngantuk. Atau takut aku jatuh. Tapi anehnya aku tidak menolak.

Aku langsung masuk ke rumah. Adzan Maghrib berkumandang dari masjid ujung gang, menggema lembut. 

Namun, bukannya bersiap, aku malah duduk di depan TV, selonjoran, punggung bersandar malas di sofa panjang. Mataku terpejam, tapi pikiranku tidak.

"Yang dilihat satu dari dulu." Kalimat si Bapak terus terulang di kepalaku.

Aku juga teringat ucapan Arman waktu di hotel Surabaya : “Ya emang mataku cuma lihat satu yang cantik dari dulu.”

Lalu kalimatnya kemarin di stand : “Nunggu terlihat sejak dulu. Dapetinnya karena beruntung.”

Aku menghembus napas, menutup mataku dengan lengan. Dia… sudah suka aku sejak dulu?

Lamunanku buyar saat telapak kakiku yang masih berkaus kaki terasa hangat. Arman duduk di ujung sofa, memijat perlahan.

“Capek, ya?” tanyanya.

Aku refleks membuka mata dan menarik kakiku. “Nggak… nggak apa-apa.”

Arman menahan, menariknya kembali pelan. “Bentar,” katanya santai. “Aku lagi bangun kebiasaan kecil.”

Aku terdiam. Tidak protes lagi.

Ruang tengah sunyi. Hanya suara TV yang lupa kumatikan dan pijatan Arman yang bergantian di telapak kakiku. Lima menit berlalu tanpa kata. Anehnya, aku tidak ingin memutuskan hening itu.

Arman bangkit, menepuk kakiku ringan. “Maghriban, Dek. Keburu habis waktunya.”

Aku mengangguk cepat, bangun tergesa. Tasku kutinggal di sofa. Aku masuk ke kamar mandi, berwudu dengan pikiran yang masih berkelebat soal Arman.

Tak lama, Arman menyusul. Aku keluar lebih dulu, mengambil mukena lalu berdiri menunggu di ambang pintu kamar.

Saat Arman keluar, dia berhenti. Menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Seolah memastikan sesuatu.

“Ikut salat,” kataku pelan, sudah memakai mukena. Menunduk, lalu ragu menatapnya kembali.

Arman mengangguk. Ada senyum kecil yang dia sembunyikan. Dan entah kenapa, melihat itu… aku ikut tersenyum.

Arman menggelar sajadah di ruang tengah. Aku mengikutinya, berdiri di belakangnya.

Kami salat berjamaah untuk pertama kali. Bukan di kamarku. Bukan di kamarnya. Tapi di ruang tengah rumah yang selama ini hanya jadi tempat lewat dan duduk sebentar.

Saat Arman mulai membaca Al-Fatihah, suaranya tenang. Jelas. Entah kenapa dadaku bergetar.

Begini rasanya… Mataku mengembun tanpa bisa kutahan. Saat sujud, air itu luruh begitu saja.

'Terima kasih, ya Allah.'

Aku sendiri tidak tahu untuk apa. Untuk siapa. Tapi rasanya kalimat itu memang harus kuucapkan.

Di depanku, Arman masih dzikir. Suaranya lirih.

Aku baru paham satu hal sederhana. Arman tidak pernah minta dihormati. Tidak pernah menuntut diperlakukan istimewa sebagai suami.

Dia hanya melakukan hal-hal kecil. Bekerja tanpa banyak mengeluh. Menepati janji dan menjaga tanpa perlu dipuji. Dan justru dari situ… aku merasa dihargai. 

Selama ini aku kira, menghormati suami itu soal posisi. Padahal ternyata soal sikap, mau percaya, mau melihat usahanya dan tidak meremehkan hal-hal yang terlihat sepele.

'Aku ingin berubah pelan-pelan, Ya Allah.'

Diawali tindakan kecil, tidak mudah curiga dan merasa paling benar.

Jika Arman sudah belajar bertanggung jawab dengan caranya, maka tugasku sekarang adalah belajar menghargainya—dengan caraku.

Aku masih duduk di belakangnya. Ingin menyodorkan tangan tapi kutahan. Tidak ingin mengganggu.

Tak lama, Arman menengadahkan tangan. Berdoa. Suaranya samar, hampir tak terdengar. Aku hanya menangkap potongan-potongan doa soal kecukupan, sehat, diampuni dosa juga keselamatan dunia akhirat.

"Aamiin," lirihku nyaris tanpa suara.

Saat ia menurunkan tangan dan hendak bangkit, refleks aku menyodorkan tanganku.

“Mas.”

Satu kata itu keluar begitu saja.

Arman berhenti. Menoleh setengah badan ke arahku. Wajahnya tenang, tapi matanya tak berkedip.

Aku menelan ludah. Tanganku masih terulur, sedikit gemetar. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!