Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Kekonyolan Ayla
“Aaaaaaaa!”
Aku yang lagi menyeruput wedang jahe langsung berdiri. Meja tersenggol kaki, membuat cangkir ikut bergetar.
“Dek?!”
Aku masuk ke kamarnya nyaris berlari. Pemandangan pertama yang kulihat, Ayla berdiri di atas karpet, wajahnya pucat, jari telunjuk gemetar menunjuk lemari.
“Kecoa,” katanya parau. “Kecoa terbang.”
Aku mendesah. Baru mau ambil sandal, Ayla sudah lari dan bersembunyi di belakangku. Tangannya refleks mencengkeram kaosku dari belakang.
“Dek, lepasin dulu,” kataku menahan tawa. “Kan mau mukul kecoanya.”
“Nggak mau!” katanya cepat. “Takut. Itu kurma terbang. Bau!”
Aku terkekeh. “Kurma terbang?” ada saja istilah Ayla.
“Kamu nggak ngerti, bentuknya mirip kurma. Tapi bahaya kalau kena kulit dan mata,” katanya nyelip di punggungku. “Itu bisa nyasar ke rambut juga. Ih.”
Aku melirik ke belakang. “Dek. Lepasin dulu. Gimana mau usir kecoanya kalau kamu nempel gini?”
“Takut, ih. Takuuuttt.”
Aku maju setengah langkah, setengah ditarik mundur olehnya. Posisi yang konyol. Akhirnya aku menggerakkan tangan sebisanya, menepuk-nepuk udara ke arah lemari.
Kecoa itu terbang rendah.
“Ya Allah—aaaaaaaa.” Ayla menjerit lagi.
Aku refleks mengayun sandal. Plak. Jatuh.
Kecoa itu akhirnya terkapar di lantai.
Ayla langsung menjauh dariku. “Ih, jijik.” Dia berlari keluar kamar dan masuk ke kamarku. Aku dengar suara kasur berderit. Sepertinya dia duduk sambil memeluk bantal.
Aku membereskan bangkai itu, menyemprot lantai, lalu mengambil pel. Aku ngepel kamar Ayla pelan-pelan, sampai baunya terganti wangi cairan pembersih.
Setelah selesai, aku buka pintu kamarnya sedikit. “Udah aman.”
Ayla keluar, wajahnya masih waspada. Dia masuk kamar, melongok ke sekeliling.
“Makasih,” katanya singkat, lalu menutup pintu.
Aku baru berbalik—
“Aaaaaaaa!”
Aku langsung membuka pintu lagi. Ayla menabrakku.
“Cicak!” katanya panik. “Cicak kecil!”
Tangannya mengibas-ngibas rambutnya yang masih basah. “Tadi kayak jatuh dari atas.”
Aku ikut menunduk, melihat ke sudut-sudut lantai. “Kecil itu. Paling lari ke balik lemari.”
“Buntutnya patah?” tanyanya cemas.
Isengku muncul. “Kayaknya iya.”
Ayla nyaris menangis. “Jangan bercanda. Cariin, dong.” Dia bergidik geli sambil mengibas rambutnya.
Dia menunduk, mencari-cari. Rambut panjangnya menjuntai ke depan, masih basah, wangi sampo menyeruak. Aku berdiri terlalu dekat tanpa sadar.
Aku masuk ke kamarnya, ambil hair dryer dari meja rias lalu menyalakannya. Udara hangat menyapu rambutnya pelan.
Ayla terdiam sesaat, lalu mendongak. Tatapan kami bertemu. “Stop,” katanya sambil berdiri tegak. “Modus.”
Aku mematikan hair dryer dan tertawa renyah. “Dek, loh, katanya minta dicarikan buntut cicak?" godaku di sisa senyum.
Ayla mendecak, tapi sudut bibirnya naik tipis. “Omes.”
Aku mengikutinya dan menepuk lemari pelan. “Udah nggak ada. Cicaknya kabur.”
Dia masih berdiri di tempat, ragu. Lalu melangkah menjauh sedikit dariku. Mulutnya mengerucut lucu.
“Kalau ada apa-apa lagi,” kataku santai, “abang siap rescue,” lanjutku menepuk dada pelan.
Ayla melirikku. “Nggak bakalan!" sungutnya saat menutup pintu.
Aku tersenyum. Membawa cangkir ke dapur lalu duduk di teras depan sebentar, menikmati malam setelah hujan.
*
(Pov Ayla lagi)
Aku menutup pintu kamar pelan, lalu bersandar sebentar di baliknya.
Bodoh.
Jantungku masih berdenyut. Bukan karena cicak apalagi kecoa yang kusebut kurma terbang itu. Tapi karena Arman berdiri terlalu dekat. Karena wangi sabunnya tercium olehku. Karena suara tawanya barusan… bikin dada ini aneh.
Aku menghela napas, lalu berjalan ke ranjang. Duduk sambil memeluk lutut. Kenapa jadi begini, sih.
Padahal cuma minta tolong, takut binatang kecil. Tapi rasanya kok kayak ada rasa yang mulai tumbuh, sementara aku sendiri belum sepenuhnya siap.
Aku mengusap rambutku yang masih setengah lembap. Hangat hair dryer tadi masih terasa di kulit kepala.
Modus, kataku.
Aku bangkit, meraih selimut tipis, lalu merebahkan diri. Dari balik jendela, hawa malam terasa tenang. Hujan sudah benar-benar pergi, menyisakan udara dingin dan bau tanah basah.
Aku melirik pintu kamar sekali lagi.
Dia ada. Nggak maksa masuk atau pun nanya macam-macam. Dan itu justru bikin dadaku menghangat.
Mungkin… Aku cuma belum berani mengakuinya dengan jujur. Aku menarik selimut sampai dagu. “Bodoh,” gumamku pelan, sambil tersenyum kecil.
***
Paginya Arman duduk di depanku, masih pakai kaos rumah, rambutnya belum sepenuhnya kering. Aku sedang mengaduk teh hangat saat ponselnya bergetar di atas meja.
Nama itu muncul sekilas di layar.
Siti.
Tanganku berhenti bergerak.
Arman melirik layar, lalu mengangkat ponselnya. “Iya,” katanya santai. “Nanti ke sana siangan ya.”
Aku pura-pura fokus ke teh ku. Menyesap pelan. Padahal telingaku siaga penuh.
“Iya. Iya, nanti aku kabarin.”
Telepon ditutup. Arman meletakkan ponselnya lagi.
Gawai itu terlihat baru. Lebih bagus dari punyaku. Layarnya masih kinclong, casing-nya belum ada lecet sama sekali.
Aku melirik sekilas. Siti siapa lagi?
Dan sejak kapan ponselnya jadi sebagus itu? Emang gaji di pabrik ayah berapa, sih?
Arman berdiri, meletakkan gelas kotor di cucian piring. “Aku siap-siap dulu ya.”
Aku yang sudah rapi sejak tadi, mengangguk. “Iya.”
Siti.
Hari itu aku pulang lebih cepat. Besok jadwal penyuluhan langsung ke rumah warga, jadi beberapa laporan diselesaikan lebih awal. Entah kenapa, kakiku malah belok ke pabrik ayah.
Pabrik masih ramai. Suara mesin berdengung seperti biasa. Aku menyapa beberapa karyawan yang kukenal, lalu masuk ke ruang ayah.
“Arman mana, Yah?” tanyaku.
Ayah mendongak. “Barusan keluar.”
Keluar. Ke mana dia? Sampai lupa jemput aku. Rutukku.
“Keluar ke mana?” desakku sambil duduk di sofa.
Ayah mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. “Ketemu orang.”
“Siti?” tebakku.
“Siti. Siapa? Ayah nggak punya pelanggan bernama Siti," beber Ayah melepas kacamatanya.
“Oh,” kataku singkat. "Siti siapa dong?"
Ayah kembali memeriksa nota. "Tanya aja, Ay. Jangan overload," saran ayah padaku.
"Overload? Overweight, Yah." Aku kesal, mendengus sambil menopang kaki.
Ayah terkekeh. "Kebiasaan perempuan tuh gitu, overthinking."
Aku langsung berdiri, terpaku beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Yaudah.”
Aku keluar ruangan dengan langkah yang rasanya makin kesal, gegara Ayah menyepelekan aduanku.
Awas aja kamu, Arman!
Aku berdiri di depan pabrik, menatap jalan. Panas siang menyengat, tapi dadaku lebih panas.
Aku lupa satu hal, bahwa pulang cepat hari ini. Dan aku nggak ngabarin Arman.
Beberapa menit kemudian, mobilku masuk ke halaman pabrik. Dia turun dengan wajah semringah. Senyum yang—entah kenapa—bikin kesalku naik dua kali lipat.
Enak aja pakai mobilku buat apel dengan Siti.
Aku melangkah cepat ke arahnya. Arman kelihatan kaget, lalu tersenyum lebih lebar, mengira aku menghampirinya dengan rindu.
“Siti oohh Sitiiiiii…” kataku nyaring, berhenti tepat di depannya. “Sampai lupa istri.”
Aku melengos, langsung melangkah pergi melewatinya. Arman bengong.
Dia menoleh ke arah ayah di dalam. Ayah mengangkat bahu, jelas-jelas nggak paham apa yang baru saja terjadi.
“Dek!” Arman mengejarku. “Kenapa sih?”
Aku tetap jalan. Langkahku cepat, sengaja.
“Kenapa kenapa,” jawabku ketus. “Sana urusin Siti."
Aku bisa mendengar napasnya di belakangku. Lebih cepat dari biasanya.
“Deeekkk,” panggilnya tetap lembut, menahan lenganku. “Tunggu dulu.”
Aku menepis tangannya. “Ngapain?”
“Ya aku jelasin—”
“Jelasin apa?” aku memotong. “Jelasin kenapa pagi-pagi nelpon Siti?"
.
.