Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Gagal cemburu gegara Agya
Kami keluar hotel tanpa banyak bicara.
Tidak saling marah. Diam kami bukan cuek—lebih seperti dua orang yang sama-sama lelah buat bicara.
Di bandara, Arman terlihat berbeda.
Entah karena beban yang sedikit terangkat, atau bahagia akan bertemu pacarnya itu. Pagi ini dia tampak lebih segar. Kaos polos, jaket tipis, celana gelap. Casual tak berlebihan. Caranya berdiri itu tenang, percaya diri, yang membuatnya terlihat… berkharisma.
Aku menyadarinya saat dua orang bule menghampiri Arman.
Mereka ngobrol berbahasa Inggris. Arman menanggapi santai, sesekali tersenyum. Gesturnya ringan, tapi jelas mereka tertarik.
Eh, Arman bisa ngomong enggres? batinku sedikit meremehkannya.
Lama-lama aku jengah sendiri dan memilih memalingkan badan. Duduk menumpang kaki lalu mengeluarkan ponsel. Main game Cut the Rope.
Baru saja memulai level, seorang pria yang duduk di kursi seberangku, mungkin usianya sebaya. Penampilannya rapi, tiba-tiba tersenyum ramah padaku.
“Game kita sama,” katanya sambil menunjuk layar ponselku.
Aku melirik. Tersenyum kecil. “Iya.”
“Level berapa?” tanyanya lagi.
Aku menyebutkan level sekian. Ia tertawa. “Aku nyangkut di situ lama.”
Obrolan ringan. Receh. Soal strategi, soal karakter lucu di game itu. Tanpa sadar, aku ikut tertawa kecil. Kesal di dadaku mereda sedikit.
Lalu, tanganku ditarik. Erat.
“Boarding, Dek.” Suara Arman terdengar dekat.
Aku tersentak, refleks berdiri karena ditariknya. Tasku sudah ada di tangan Arman. Aku bahkan tidak sempat pamit pada pria tadi.
“Terus aja… terusin,” kata Arman datar.
“Apa sih,” balasku spontan.
“Apa sih… apa sih,” gumamnya lirih, seperti mengulang-ulang kata itu.
Aku tertawa kecil karena tidak menangkap jelas gumamannya. Tapi sebelum aku sempat melangkah bebas, Arman menarik tanganku ke dadanya.
Deg. Deg. Deg.
Punggung tanganku merasakan detak jantungnya cepat. Aku menoleh tapi dia tidak melihatku balik. Matanya fokus ke depan dan genggamannya tidak mengendur.
Kami pun masuk pesawat.
Saat pesawat mulai bergerak, Arman memejamkan mata. Bahunya turun perlahan, aku tau dia lelah. Kepalanya condong ke aku lalu bersandar di bahuku.
Aku menahan napas sejenak, kudekatkan bahuku sedikit. Membiarkannya lebih nyaman. Tanganku dibiarkan terkulai. Dia lelah jiwa raga.
Aku ikut memejamkan mata.
Beberapa detik berlalu. Lalu seseorang melintas di benakku. Mataku terbuka lagi.
Dia.
Sumber semua keheningan masa lalu ini. Berarti… dia tahu sejak awal.
Permintaan siapa nama itu sebenarnya?
Aku menoleh sedikit ke arah Arman. Ia masih terlelap. Nafasnya teratur. Tanganku kini menjadi penyangga bahuku agar tetap tegap.
***
Arman terbangun tepat lima belas menit sebelum pesawat mendarat di Jakarta.
Ia berkedip pelan, seperti sedang mengumpulkan nyawa. Ia menegakkan duduk, merapikan jaketnya, lalu diam.
Tidak ada obrolan. Hanya tatapan lurus ke depan. Aku melirik sekilas. Lalu pura-pura sibuk sendiri.
Begitu kami keluar bandara, Agya sudah berdiri sambil bersandar di mobil. Wajahnya cengengesan begitu melihatku.
“Ape lo,” kataku begitu masuk mobil dan pintu ditutup.
Mobil pun melaju pelan.
“Aneh banget sih, Kak,” kata Agya sambil melirikku dari spion dalam. “Kamu salah minum obat atau apa?”
“Aneh gimana?” Arman menoleh, heran. “Kenapa emang, Ag?”
“Itu, Bang,” Agya terkekeh. “Kan aku nelpon tadi. Kakak nyautinnya tuh… kek apa gitu. Jijik aku dengernya.”
Aku langsung memalingkan wajah ke jendela. Bahuku bergetar. Nahan ketawa.
“Nyautinnya gimana maksudnya?” Arman masih belum nyambung.
Agya langsung menirukan, lengkap dengan menirukan intonasiku.
“Iya… ini mau pulang… eh, maaf loh, bukan sama kamu… iya, boleh… hati-hati yaaa…”
Aku mengatupkan bibir. Nafasku tersedak. Mataku memejam rapat nahan tawa.
Mobil mendadak sunyi. Arman masih diam.
Agya lanjut cerita. Adikku memang tidak tahu diri. Dia menjelekkan kakaknya sendiri. Seolah sedang ngadu ke Arman.
“Biasanya kan, Bang. Kalau aku pinjem mobil, Kak Ayla tuh ribetnya minta ampun. Nanya nggak jelas—mau ngapain, ke mana, sama siapa, pulang jam berapa, awas lecet, kalau lecet gantiin servisnya—elaaahh. Padahal aku kadang cuma nongkrong doang. Pelit banget dia tuh.”
Aku sudah menyerah. Senyumku bocor. Suara kekehanku mulai muncul.
“Gitu, ya?” Arman akhirnya bersuara. Pelan. “Jadi kamu yang nelpon?”
“Iya, Bang,” jawab Agya santai. “Kenapa emang?”
Arman melirik ke arahku. Sekilas. Lalu kembali menatap keluar jendela.
“Nggak apa-apa,” katanya datar.
Detik itu juga, aku tak tahan lagi. “Hahahahaha!”
Tawaku pecah. Kakiku sampai naik ke kursi menahan perut yang kram karena terlalu lepas tertawa.
Agya tertawa ikut-ikutan. “Nah kan! Aneh emang si Ayla.”
Arman masih diam. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, dia gengsi mengakui kalau dirinya cemburu dan sekarang malu, sebab tuduhannya padaku keliru.
Dan entah kenapa, ada rasa senang, aku berhasil membuatnya cemburu.
***
Saat mobil berhenti di depan rumah, Arman turun lebih dulu. Tangannya sempat terulur, seperti ingin mengatakan sesuatu, entah minta maaf, atau apa.
Aku menghindar.
Langkahku dipercepat. Kamar kututup dari dalam. Aku putar penguncinya dua kali.
Klik.
Arman berhenti di luar. Aku tahu itu, bisa merasakan kegelisahannya yang tak berani mengetuk.
Di ruang tengah, Ayah memperhatikan Arman yang berdiri canggung di depan pintu kamarku.
“Dek,” Ayah memanggil Agya yang sedang selonjoran di depan TV. “Kakakmu kenapa?”
Agya mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Entah. Tadi sih dieman sama Abang pas kujemput. Kayaknya Abang punya salah deh sama si Kakak.”
"Apa?" Suara Ayah masih terdengar.
Agya mendesah. “Entah, Ayaaaahhh. Tanya aja atuh sana. Lagian si Ayla kan emang aneh. Sian Abang noh,” katanya santai, lalu kembali fokus main game.
Beberapa detik berlalu. Dari dalam kamar, aku mendengar Agya berteriak.
“Bang,” teriak Agya tanpa menoleh, “pake kamarku aja kalau mau istirahat.”
Arman menoleh. Ragu. Lalu mengangguk kecil. Ia hanya ingin mandi dan ganti baju. Menyegarkan badan sebelum berbicara dengan Ayahku.
Suara mereka masih bersahutan jelas di telinga. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah Arman saat ini, keheranan ayah bahkan kebiasaan adikku bila di rumah.
Satu jam kemudian.
Aku keluar kamar, rumah terasa lengang. Aku ke dapur dan melihat merek sedang duduk di teras samping. Di meja kecil itu ada dua cangkir kopi dan sepiring kacang rebus yang masih mengepul.
Arman duduk berhadapan dengan Ayah.
“Yah…” Arman membuka suara, pelan. “Sebelum Ayah meninggal… apa ada pesan?”
Ayahku menggeleng. “Nggak ada, Bang. Ayah nggak kontak sejak kamu diantar ke sini sama Velozigra.”
Arman menunduk.
“Zenix bahkan nggak tahu aku tinggal di mana saat itu. Kita nggak pernah ketemuan langsung.”
Arman mengangguk pelan. Seolah menyusun potongan yang selama ini terlewat. “Maafin aku, Yah,” katanya lirih. “Aku diam-diam cari tahu.”
Ayah tersenyum tipis. “Ayah ngerti. Sekarang Ayah biarin kamu tahu, karena Ayah percaya… kamu mampu bertindak bijak kalau ada risiko ke depan.”
Arman diam. Aku melangkah ke pintu samping.
Ayah melanjutkan, suaranya tenang tapi berat. “Ayah cuma nitip Ayla bentar. Kalau kamu memang berat buat nerusin… dan Ayla juga sepakat… ya terserah kalian mau gimana.”
Arman mendongak.
Dan di saat yang sama, “Ayah!” Suaraku meninggi, berdiri di ambang pintu. Tanganku gemetar sebab mendengar semuanya sejak tadi.
Ayah menoleh. Diam.
“Berarti Ayah tahu sejak awal,” kataku, napasku pendek. “Kenapa nggak bilang ke aku?”
Tak ada jawaban.
“Dek,” Arman berdiri. Menggeleng pelan. “Jangan—”
Aku menoleh ke Arman lalu ke Ayah. “Siapa yang ngasih nama Armani Yaris, Yah?” suaraku bergetar. “Siapa?”
“Ayla—” sebut Ayah pelan, menenangkanku.
“Dek, nggak sopan sama Ayah.”
Aku tertawa pahit. “Biarin. Ayah lebih nggak sopan sama aku.” Diam melihat Ayah yang juga menatapku. “Nikahin anaknya tapi aku nggak tahu apa-apa. Panteskah orang tua begitu?”
“Ayla Al Phardia Livin,” suara Arman meninggi. “Istighfar.” Ia melangkah mendekat, ingin menarikku masuk.
Tapi aku mendorongnya. “Gak mau,” kataku. “Belum kelar.”
Aku menunjuk Ayah. “Ayah jawab. Kok diem? Ayah nutupin nasab dia namanya. Ayah jahat.”
“Ayah bukan cuma ngatur hidup aku,” suaraku pecah, lalu jariku beralih ke Arman. “Tapi diaaa juga!”
Ayahku masih diam.
“Dek, cukup,” kata Arman. Suaranya rendah, menahan. “Aku nggak apa-apa. Nggak apa.”
Aku menatapnya. Mataku panas. “Kamu nggak apa.” Dadaku naik turun. “Aku.” Isakanku muncul. “Akuuuuuu—!”
Sunyi.
Lalu Arman menatapku. Suaranya parau. “Terus… kamu nyesel?”
.
.